Berikut adalah teks yang telah diformat menjadi Markdown:
Makna Ayat
Mungkin akan ada yang menduga bahwa konteks ayat tersebut berulang untuk taukid (kata penegasan), namun tidak seperti itu, karena bentuk kalimatnya berbeda: لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ " aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah." Berupa fi'il (أَعْبُدُ) sedangkan وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ " Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah." عَابِدٌ ['Aabidun] dan عَابِدُونَ ['Aabiduuna] Isim, sedangkan taukid kalimat kedua harus sama persis bentuknya seperti kalimat sebelumnya, dengan demikian maka pendapat yang mengatakan bahwa itu berfungsi sebagai taukid adalah pendapat yang lemah.
Maka apa tujuan pengulangan ini?
Pendapat Pertama
Sebagian ulama mengatakan: لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ " aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah." Maknanya: Sekarang (aku tidak akan menyembah) sedangkan وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ " Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah." Waktu yang akan datang, maka makna لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ " aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah." Adalah saat ini dan وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ " Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah." Maksudnya adalah di waktu yang akan datang. Karena fi'il mudhari' menunjukkan perbuatan yang sedang diperbuat, sedangkan isim fail menunjukkan perbuatan yang diperbuat mendatang dengan bukti bahwa isim fa'il ini beramal (seperti fi'il), dan isim fa'il tidak beramal kecuali jika ia menunjukkan perbuatan yang akan datang
Pendapat Kedua
Lalu ada yang mengatakan bahwa لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ " aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah." Maknanya: Sekarang (aku tidak akan menyembah) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ " Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah." Yakni: Sekarang وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ " Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah." Maksudnya adalah di waktu yang akan datang. وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ " Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah." Maksudnya di waktu yang akan datang.
Pendapat Ketiga
Akan tetapi pendapat ini menimbulkan pertanyaan, Allah berfirman وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ " Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah." Padahal mereka bisa saja menjadi beriman lalu menyembah Allah?! Dengan demikian pendapat ini ada kelemahannya.
Pendapat Keempat
Para ulama menjawab pernyataan ini: Bahwa firman Allah وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ " Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah." Berinteraksi dengan orang-orang musyrik yang Allah mengetahui bahwa mereka tidak akan beriman, maka konteks ayat ini tidak umum, dan ini sedikit melemahkan pendapat ini.
Pendapat Kelima
Kita di sini mendapatkan dua pendapat: Pertama: Mengatakan untuk taukid Kedua: Ini untuk menejalaskan di waktu yang akan datang. Pendapat yang ke empat: لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ " aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah." Maknanya: Aku tidak menyembah patung-patung yang kalian sembah وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ " Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah." Maknanya: Kalian tidak menyembah Allah. وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ " Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah." Maknanya: Dalam peribadatan. Maksudnya adalah ibadahku tidak seperti ibadah kalian, dan ibadah kalian tidak sama seperti ibadahku, sehingga peniadaan di sini adalah peniadan fi'il (yaitu ibadah) bukan maf'ul bihnya (yang diibadahi). Yaitu ini bukan peniadaan yang disembah (diibadahi) tetapi ini adalah peniadaan ibadah. Maknyanya: Aku tidak beribadah seperti ibadahnya kalian dan kalian tidak beribadah seperti ibadahku. Karena ibadahku murni untuk Allah sedangkan ibadah kalian ibadah syirik (menyekutukan Allah).
Pendapat Keenam
Pendapat yang ke empat: Yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah bahwa firman Allah: لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ " aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah." Adalah fi'il (beribadah), maka ini berkesusuaian dengan pendapat pertama dalam penggalan dua ayat ini: وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ " Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah." Maknanya: Dalam penerimaan, yaitu dan aku tidak akan menerima selain ibadahku dan tidak akan pernah menerima ibadah kalian, kalian pun demikian, tidak akan pernah menerima ibadahku. Maka dua ayat pertama (ayat 2-3) kembali kepada fi'il (perbuatan ibadah) sedangkan dua ayat berikutnya (ayat 4-5) kembali pada penerimaan dan kerelaan (terhadap ibadah itu) yaitu: Aku tidak akan menyembahnya dan aku tidak meridhainya, kalian pun demikian, kalian tidak akan menyembah Allah dan kalian tidak akan ridha terhadap ibadah kepada-Nya saja.
Kesimpulan
Jika kita mencermati pendapat ini, maka kita akan dapati bahwa pendapat ini tidak tersanggah dengan sanggahan-sanggahan yang disebutkan pada pendapat-pendapat sebelumnya. Maka pendapat ini adalah pendapat yang bagus dan baik`. Dari sini kita mengambil faedah bahwa al-Quran al-Karim tidak terdapat sesuatu yang berulang tanpa faedah sama sekali. Tidak ada satu pun yang berulang kecuali terdapat faedah, karena jika kita katakan: Bahwa dalam al-Quran terdapat yang diulang tanpa faedah, maka konsekuansinya dalah di al-Quran terdapat sesuatu yang sia-sia, sedangkan Al-Quran suci dari ini, dengan demikian maka pengulangan yang terdapat pada surat Ar-Rahman: فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ " Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"(Ar-Rahman) dan dalam surat al-Mursalat: وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan." adalah pengulangan yang mengandung faedah yang besar, yaitu bahwa di setiap ayat yang terletak pada ayat-ayat yang berulang ini, mencakup nikmat-nikmat yang besar dan melimpah, kemudian di antara faedah tertulis adalah memberikan peringatan kepada lawan bicara, dengan pengulangan kalimat padanya: فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ " Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" dan "Kecelakaan yang besarlah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan."