Keutamaan Surat Al-Ikhlas
Surat Al-Ikhlas
Surat Al-Ikhlas adalah surat Makiyyah yang diturunkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam sebelum berhijrah ke kota Madinah. Telah dibahas pada tafsir surat Al-Kafirun bahwasanya surat Al-Kafirun juga disebut dengan Al-Ikhlas. Kedua surat tersebut dinamakan Al-Ikhlas, karena kedua surat tersebut menunjukkan bara’ah minas syirk (berlepas diri dari kesyirikan).
Keutamaan Surat Al-Ikhlas
Diantara keutamaan Al-Ikhlas adalah semisal sepertiga Al-Quran. Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits:
Dari Abi Sa’id al-Khudri, bahwasanya ada orang mendengar seseorang membaca “qul huwallahu Ahad”, dan diulang-ulang. Pada keesokan harinya, ia mendatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaporkannya, seakan ia menganggap remeh. Maka Rasulullah bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, ia sebanding dengan sepertiga Al-Qur`an”. (HR Bukhari, no. 5013)
Dan dalam hadits yang lain,
Dari Abi Sa’id, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada para sahabatnya, ‘Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu untuk membaca sepertiga Al-Quran dalam satu malam?’ maka hal ini memberatkan mereka, dan (mereka) bertanya: ‘Siapakah di antara kami yang mampu, wahai Rasulullah?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda: “Allahul-wahidus shamad adalah sepertiga Al-Quran”. (HR Bukhari no. 5015)
Para ulama menjelaskan maksud dari sepertiga Al-Quran. Bukan berarti jika ada orang yang membaca Al-Ikhlas tiga kali berarti telah membaca satu Al-Quran. Tetapi karena Al-Quran mengandung tiga perkara sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi (Tafsir al-Qurthubi 20/247 dan 1/111). Pertama, masalah-masalah hukum; Kedua, janji dan ancaman (Surga dan Neraka); Ketiga, tentang nama-nama dan Sifat-sifat Allah. Dan Al-Ikhlas seluruhnya adalah berisi tentang sifat-sifat Allah, sehingga orang yang membaca seluruhnya maka seakan-akan dia sudah membaca sepertiga bagian dari Al-Quran.
Keutamaan Lainnya
Dalam hadits yang lain di dalam Shahih Bukhari, suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seorang lelaki dalam suatu sariyyah (pasukan khusus yang ditugaskan untuk operasi tertentu). Laki-laki tersebut ketika menjadi imam shalat bagi para sahabatnya selalu mengakhiri bacaan suratnya dengan membaca surat al-Ikhlash. Ketika mereka pulang, disampaikan berita tersebut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka beliau bersabda:
“Tanyakanlah kepadanya kenapa ia melakukan hal itu?” Lalu mereka pun menanyakan kepadanya. Ia menjawab,
“Karena didalamnya terdapat sifat Ar Rahman, dan aku senang untuk selalu membacanya.” Mendengar itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah Ta’ala juga mencintainya.” (HR Bukhari no. 7375 dan Muslim no. 813)
Dan dalam hadits yang lain dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :
“Seseorang (sahabat) dari Anshar mengimami (shalat) mereka (para shahabat lainnya) di Masjid Quba. Setiap ia membuka bacaan (di dalam shalatnya), ia membaca sebuah surat dari surat-surat (lainnya) yang ia (selalu) membacanya. Ia membuka bacaan surat di dalam shalatnya dengan قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ, sampai ia selesai membacanya, kemudian ia lanjutkan dengan membaca surat lainnya bersamanya. Ia pun melakukan hal demikan itu di setiap raka’at (shalat)nya. (Akhirnya) para sahabat lainnya berbicara kepadanya, mereka berkata: “Sesungguhnya engkau membuka bacaanmu dengan surat ini, kemudian engkau tidak menganggap hal itu telah cukup bagimu sampai (engkau pun) membaca surat lainnya. Maka, (jika engkau ingin membacanya) bacalah surat itu (saja), atau engkau tidak membacanya dan engkau (hanya boleh) membaca surat lainnya”. Ia berkata: “Aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian suka untuk aku imami kalian dengannya, maka aku lakukan. Namun, jika kalian tidak suka, aku tinggalkan kalian,” dan mereka telah menganggapnya orang yang paling utama di antara mereka, sehingga mereka pun tidak suka jika yang mengimami (shalat) mereka adalah orang selainnya. Sehingga tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi mereka, maka mereka pun menceritakan kabar (tentang itu), lalu ia (Nabi) bersabda: “Wahai fulan, apa yang menghalangimu untuk melakukan sesuatu yang telah diperintahkan para sahabatmu? Dan apa pula yang membuatmu selalu membaca surat ini di setiap raka’at (shalat)?” Dia menjawab,”Sesungguhnya aku mencintai surat ini,” lalu Rasulullah bersabda: “Cintamu kepadanya memasukkanmu ke dalam surga.” (HR Bukhari no. 741)
Keutamaan Surat Al-Ikhlas
Hadits-hadits di atas menunjukkan atas keutamaan surat Al-Ikhlas. Dan ternyata benar jika surat ini dikatakan surat Al-Ikhlas karena memang murni diturunkan oleh Allah untuk menjelaskan tentang sifat-sifat-Nya. Sebagaimana para ahli tafsir menyebutkan tentang sebab turunnya surat ini yaitu ketika orang-orang musyrikin datang menemui Nabi lalu bertanya:
“Sebutkan nasab atau sifat Rabbmu pada kami?”
Maka turunlah firman Allah surat Al-Ikhlas kepada Nabi untuk menjawab orang tadi. (HR Tirmidzi no. 3287)
Keutamaan Lainnya
Dalam hadits qudsi Allah berkata :
“Dan siapakah yang lebih dzolim dari orang yang hendak menciptakan seperti ciptaanKu. Hendaknya mereka menciptakan semut, atau hendaknya mereka menciptakan biji atau gandum” (HR Al-Bukhari no 7559 dan Muslim no 2111)
Ketika yang menciptakan hanya Allah, maka demikian pula dalam pengaturan. Barangsiapa yang meyakini adanya yang mengatur alam semesta selain Allah atau diberi hak otonomi oleh Allah untuk mengatur sebagiannya, maka dia telah terjerumus dalam kesyirikan.