Makna Isra dan Mi'raj
Perjalanan Isra
Allah SWT memulai surat ini dengan mengagungkan diri-Nya dan menggambarkan kebesaran peran-Nya, karena kekuasaan-Nya melampaui segala sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh seorang pun selain Dia sendiri. Maka tidak ada Tuhan selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia.
Yaitu Nabi Muhammad SAW
Maksudnya, di dalam kegelapan malam hari.
Maksudnya, dari Masjidil Haram.
Yang tempatnya berada di Mekah
Yakni Baitul Muqaddas yang terletak di Elia (Yerussalem), tempat asal para Nabi (terdahulu) sejak Nabi Ibrahim AS. Karena itulah semua nabi dikumpulkan di Masjidil Aqsa pada malam itu, lalu Nabi SAW mengimami mereka di tempat mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah imam terbesar dan pemimpin yang didahulukan. Semoga salawat dan salam Allah terlimpahkan kepada mereka semuanya.
Perjalanan Mi'raj
Firman Allah SWT:
Yakni tanam-tanamannya dan hasil buah-buahannya.
Maksudnya, Kami perlihatkan kepada Muhammad sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang besar-besar.
Dalam ayat lain disebutkan melalui firman-Nya:
Sesungguhnya Dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.
Kami akan mengetengahkan hadis-hadis yang menceritakan peristiwa Isra ini yang bersumber dari Nabi SAW
Firman Allah SWT:
Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Allah Maha Mendengar semua ucapan hamba-hamba-Nya, yang mukmin maupun yang kafir yang membenarkan maupun yang mendustakan di antara mereka. Dan Dia Maha Melihat semua perbuatan mereka: Maka kelak Dia akan memberikan kepada masing-masing dari mereka balasan yang berhak mereka terima di dunia dan di akhirat.
Perjalanan ke Langit
Riwayat Anas ibnu Malik RA.
Imam Abu Abdullah Al-Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sulaiman (yakni Ibnu Bilal), dari Syarik ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar sahabat Anas ibnu Malik menceritakan malam hari yang ketika itu Rasulullah SAW mengalami Isra dari Masjid Ka'bah (Masjidil Haram). Disebutkan bahwa ada tiga orang datang kepadanya sebelum ia menerima wahyu, saat itu ia (Nabi SAW) sedang tidur di Masjidil Haram. Orang pertama dari ketiga orang itu berkata, "Yang manakah dia itu?" Orang yang pertengahan menjawab, "Orang yang paling pertengahan dari mereka. Dialah orang yang paling baik." Orang yang terakhir berkata, "Ambillah yang paling baik dari mereka." Hanya itulah yang terjadi malam tersebut. Nabi SAW tidak melihat mereka, hingga mereka datang kepadanya di malam lainnya menurut penglihatan hatinya; sedangkan matanya tertidur, tetapi hatinya tidak tidur. Demikianlah halnya para nabi, mata mereka tidur, tetapi hati mereka tidak tidur. Mereka tidak mengajak beliau bicara, melainkan langsung membawanya, lalu membaringkannya di dekat sumur zamzam, yang selanjutnya urusannya ditangani oleh Malaikat Jibril yang ada bersama mereka. Kemudian Jibril membelah bagian antara tenggorokan sampai bagian ulu hatinya, lalu ia mencuci isi dada dan perutnya dengan memakai air zamzam. Ia lakukan hal ini dengan tangannya sendiri sehingga bersihlah bagian dari tubuh Nabi SAW Kemudian Jibril membawa sebuah piala emas yang di dalamnya terdapat sebuah wadah kecil terbuat dari emas, wadah itu berisikan iman dan hikmah. Lalu Jibril menyisihkannya ke dalam dada dan kerongkongannya serta menutupkan bedahannya. Setelah itu Jibril membawanya naik ke langit pertama. Jibril mengetuk salah satu pintu langit pertama, maka malaikat penghuni langit pertama bertanya, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Orang yang bersamaku adalah Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah ia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab "Ya." Mereka berkata, "Selamat datang untuknya." Semua penduduk langit pertama menyambut gembira kedatangannya. Para penduduk langit tidak mengetahui apa yang diinginkan oleh Allah di bumi hingga Allah sendiri yang memberitahukan kepada mereka. Nabi SAW bersua dengan Adam di langit yang pertama, dan Malaikat Jibril berkata kepadanya, "Ini adalah bapakmu Adam." Maka Nabi SAW mengucapkan salam kepada Adam, dan Adam menjawab salamnya seraya berkata, "Selamat datang, wahai anakku, sebaik-baik anak adalah engkau." Di langit pertama itu Nabi SAW tiba-tiba melihat ada dua buah sungai yang mengalir. Maka ia bertanya, "Hai Jibril, apakah nama kedua sungai ini?" jibril menjawab, "Kedua sungai ini adalah Nil dan Eufrat, yakni sumber keduanya." Jibril membawanya pergi ke sekitar langit itu. Tiba-tiba Nabi SAW melihat sungai lain. Yang di atasnya terdapat sebuah gedung dari mutiara dan zabarjad. Maka Nabi SAW menyentuhkan tangannya ke sungai itu, ternyata baunya sangat wangi seperti minyak kesturi. Lalu ia bertanya, "Hai Jibril, sungai apakah ini?" Jibril menjawab, "Ini adalah Sungai Kausar yang disimpan oleh Tuhanmu buat kamu." Jibril membawanya naik ke langit yang kedua, maka para malaikat (penjaga langit kedua) mengatakan kepadanya pertanyaan yang sama seperti pertanyaan yang dilontarkan oleh penjaga langit pertama, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Mereka bertanya, "Siapakah yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Mereka berkata, "Selamat atas kedatangannya." Kemudian Jibril membawanya naik ke langit yang ketiga, dan para penjaganya mengatakan kepadanya pertanyaan yang semisal dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh malaikat penjaga langit yang kedua. Jibril membawanya lagi naik ke langit yang keempat. Para penjaganya pun melontarkan pertanyaan yang sama seperti pertanyaan sebelumnya. Jibril membawanya lagi naik ke langit yang kelima, dan para penjaganya melontarkan pertanyaan yang semisal dengan pertanyaan para malaikat penjaga langit yang sebelumnya. Jibril membawanya lagi naik ke langit yang keenam. Para penjaganya mengajukan pertanyaan yang semisal dengan para malaikat sebelumnya. Kemudian Jibril membawanya lagi ke langit yang ketujuh, dan para penjaganya mengajukan pertanyaan yang semisal dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh penjaga langit sebelumnya. Pada tiap-tiap lapis langit terdapat nabi-nabi yang nama masing-masingnya disebutkan oleh Jibril. Perawi hadis berkata bahwa ia ingat nama-nama mereka, antara lain: Nabi Idris di langit yang kedua, Nabi Harun di langit yang keempat, dan nabi lainnya di langit yang kelima; perawi tidak ingat lagi namanya. Nabi Ibrahim di langit yang keenam, dan Nabi Musa di langit yang ketujuh berkat keutamaan yang dimilikinya, yaitu pernah diajak berbicara langsung oleh Allah SWT Musa berkata "Wahai Tuhanku, saya tidak menduga bahwa Engkau akan mengangkat seseorang lebih tinggi di atasku." Kemudian Jibril membawanya naik di atas itu sampai ke tingkatan yang tiada seorang pun mengetahuinya kecuali hanya Allah SWT, hingga sampailah Nabi SAW di Sidratul Muntaha dan berada dekat dengan Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung. Maka ia makin bertambah dekat, sehingga jadilah ia (Nabi SAW) dekat dengan-Nya. Sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Maka Allah memberikan wahyu kepadanya, antara lain ialah, "Aku wajibkan lima puluh kali salat setiap siang dan malam hari atas umatmu." Kemudian Jibril membawanya turun sampai ke tempat Musa berada, lalu Musa menahannya dan berkata, "Hai Muhammad, apakah yang telah diperintahkan oleh Tuhanmu untukmu?" Nabi SAW menjawab, "Tuhanku telah memerintahkan kepadaku salat lima puluh kali setiap siang dan malam hari." Musa berkata, "Sesungguhnya umatku tidak akan mampu mengerjakannya, sekarang kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buatmu dan buat umatmu." Nabi SAW menoleh kepada Jibril, seakan-akan beliau meminta saran darinya mengenai hal tersebut. Dan Jibril menjawab, "Baiklah jika kamu menghendakinya." Maka Jibril membawanya lagi naik kepada Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Mahasuci, lalu Nabi SAW memohon kepada Allah SWT yang berada di tempat-Nya, "Wahai Tuhanku berikanlah keringanan buat kami, karena sesungguhnya umatku tidak akan mampu memikulnya." Maka Allah memberikan keringanan sepuluh salat kepadanya. Nabi SAW kembali kepada Musa dan Musa menahannya. Maka Musa terus menerus membolak-balikannya dari dia ke Tuhannya, hingga jadilah salat lima waktu. Setelah ditetapkan salat lima waktu, Musa menahannya kembali dan berkata, "Hai Muhammad, demi Allah, sesungguhnya aku telah membujuk Bani Israil:-umatku- untuk mengerjakan yang lebih sedikit dari lima waktu, tetapi mereka kelelahan, akhirnya mereka meninggalkannya. Umatmu lebih lemah, tubuh, hati, badan, penglihatan, dan pendengarannya; maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintakanlah keringanan kepada-Nya buatmu." Setiap kali mendapat saran dari Nabi Musa, Nabi SAW selalu menoleh kepada Jibril untuk meminta pendapatnya, dan Malaikat Jibril dengan senang hati menerimanya, akhirnya pada kali yang kelima Jibril membawanya naik dan ia berkata, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya umatku adalah orang-orang yang lemah, tubuh, hati, pendengaran, penglihatan, dan jasad mereka, maka berilah keringanan lagi buat kami." Maka Tuhan Yang Mahaperkasa, Mahasuci, lagi Mahatinggi berfirman, "Hai Muhammad."Nabi SAW menjawab, "Labbaikawasa'daika (saya penuhi seruan-Mu dengan penuh kebahagiaan)." Allah berfirman, "Sesungguhnya keputusan yang ada pada-Ku ini tidak dapat diubah lagi, persis seperti apa yang telah Aku tetapkan atas dirimu di dalam Ummul Kitab (Lauh Mahfuz). Maka setiap amal kebaikan berpahala sepuluh kali lipat kebaikan. Dan kewajiban salat itu telah tercatat lima puluh kali di dalam Ummul Kitab, sedangkan bagimu tetap lima kali." Nabi SAW kembali kepada Musa dan Musa berkata "Apakah yang telah engkau lakukan?" Nabi SAW menjawab, "Allah telah memberikan keringanan bagi kami, Dia telah memberikan kepada kami setiap amal kebaikan berpahala sepuluh kali lipat kebaikan yang semisal." Musa berkata, "Sesungguhnya, demi Allah, saya telah membujuk Bani Israil untuk mengerjakan yang lebih ringan dari itu, tetapi mereka meninggalkannya. Maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan buat dirimu juga." Rasulullah SAW bersabda, "Hai Musa, sesungguhnya -demi Allah- saya malu kepada Tuhanku, karena terlalu sering bolak-balik kepada-Nya." Musa berkata, "Kalau begitu, turunlah engkau dengan menyebut nama Allah." Perawi melanjutkan kisahnya, "Lalu Nabi SAW terbangun, dan dia berada di Masjidil Haram."
Demikianlah menurut lafaz yang diketengahkan oleh Imam Bukhari di dalam Kitabut Tauhid, bagian dari kitab sahihnya.
Imam Bukhari meriwayatkannya di dalam Sifatun Nabi SAW, dari Ismail ibnu Abu Uwais, dari saudaranya (yaitu Abu Bakar Abdul Hamid), dari Sulaiman ibnu Bilal.
Imam Muslim meriwayatkannya dari Harun ibnu Sa'id dari Ibnu Wahb dari Sulaiman, yang di dalam riwayatnya Sulaiman memberikan tambahan, ada pula yang dikuranginya, serta ada yang didahulukan dan yang dibelakangkan. Pada kenyataannya memang seperti apa yang dikatakan oleh Imam Muslim, karena sesungguhnya Syarik ibnu Abdullah ibnu Abu Namir kacau dalam hadis ini dan hafalannya buruk, ia tidak dapat menyusunnya dengan baik; seperti yang akan dijelaskan kemudian dalam hadis-hadis lain, insya Allah.
Di antara perawi ada yang menganggap peristiwa ini terjadi di saat Nabi SAW sedang tidur, karena menyelaraskannya dengan apa yang terjadi sesudah itu.
Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi mengatakan di dalam hadis syarik adanya suatu tambahan yang hanya ada pada riwayatnya, sesuai dengan pendapat orang yang menduga bahwa Nabi SAW melihat Allah SWT dalam peristiwa ini. Yang dimaksudkan ialah apa yang disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,
Kemudian Dia mendekat,#} yakni Tuhan Yang Mahaperkasa mendekat kepadanya (Nabi SAW), {#lalu bertambah mendekat lagi, maka jadilah Dia dekat kepadanya (Muhammad SAW) sejarak dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.#} (An-Najm, [53:8]-[53:9])
Selanjutnya Imam Baihaqi mengatakan bahwa pendapat Aisyah dan Ibnu Mas'ud serta Abu Hurairah yang menakwilkan ayat-ayat ini -bahwa Nabi SAW melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya- merupakan pendapat yang paling sahih.
Pendapat yang dikatakan oleh Imam Baihaqi dalam masalah ini adalah pendapat yang benar, karena sesungguhnya Abu Dzar RA pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah engkau melihat Tuhanmu?" Rasulullah SAW menjawab: Nur, mana mungkin aku dapat melihatnya. Menurut riwayat yang lain disebutkan: Saya hanya melihat nur (cahaya). (Diketengahkan oleh Imam Muslim)
Firman Allah SWT: {#Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi.#} (An-Najm, [53:8]) Sesungguhnya yang dimaksudkan hanyalah Malaikat Jibril AS., seperti yang ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui Siti Aisyah Ummul Muminin dan Ibnu Mas'ud.
Demikian pula yang ditetapkan di dalam kitab Sahih Muslim melalui Abu Hurairah. Tiada seorang pun di antara para sahabat yang menentang penafsiran ayat dengan takwil seperti ini.
Imam Ahmad mengatakan, telah m
Makna Isra' dan Mi'raj
Kisah Isra' dan Mi'raj
Perjalanan Isra'
Nabi Muhammad SAW pernah menceritakan kepada para sahabatnya tentang perjalanan Isra' dan Mi'raj yang dialaminya. Ia berkata bahwa pada malam itu, ia berada di Ka'bah, sedang merebahkan diri, ketika tiba-tiba datanglah Malaikat Jibril bersama dua orang temannya. Mereka mengatakan sesuatu kepada temannya yang berada di tengah-tengah ketiga orang itu, lalu orang itu membelah antara bagian ini sampai dengan bagian itu. Qatadah mengatakan bahwa ia berkata kepada Al-Jarud yang duduk di sampingnya seraya menerangkan apa yang dimaksud; yang dimaksud ialah dari bagian bawah lehernya sampai dengan bagian tumbuhnya rambut (kemaluannya). Al-Jarud mengatakan, "Saya mendengarnya mengatakan bagian tumbuhnya rambut kemaluannya (yakni bagian bawah perutnya)" dalam kisah yang diriwayatkannya.
Mencuci Hati dan Menaikkan ke Langit
Lalu lelaki itu mengeluarkan hatiku, dan disuguhkan kepadaku sebuah piala emas yang dipenuhi dengan iman dan hikmah. Lalu ia mencuci hatiku dan memenuhinya dengan (iman dan hikmah), kemudian dikembalikan ke tempat semula. Kemudian didatangkan kepadaku seekor hewan yang lebih besar dari keledai, tetapi lebih kecil dari begal, warna bulunya putih. Al-Jarud bertanya (kepada Qatadah), "Apakah hewan itu Buraq, hai Abu Hamzah?" Qatadah menjawab, "Ya, Buraq meletakkan kaki depannya sejauh matanya memandang."
Menaikkan ke Langit
Lalu aku dinaikkan ke atas hewan itu, dan Jibril AS. membawaku pergi hingga sampailah Jibril bersamaku ke langit yang paling dekat. Lalu ia mengetuk pintunya, maka dikatakan, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan lagi, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan lagi, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakanlah, "Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang." Lalu dibukakanlah pintu langit pertama bagi kami.
Bersua dengan Adam AS
Dan ketika aku telah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Adam AS. Jibril berkata, "Ini adalah ayahmu, Adam. Ucapkanlah salam kepadanya." Lalu saya mengucapkan salam kepadanya. Dia menjawab salamku, kemudian berkata, "Selamat datang anak yang saleh, Nabi yang saleh."
Bersua dengan Nabi-Nabi Lainnya
Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang kedua, lalu Jibril meminta izin untuk masuk, maka dikatakan, "Siapakah kamu?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang." Maka dibukakanlah pintu langit yang kedua bagi kami.
Ketika telah berada di dalamnya, tiba-tiba aku bersua dengan Isa dan Yahya, keduanya adalah anak bibi. Jibril berkata, "Dua orang ini adalah Yahya dan Isa, ucapkanlah salam kepada keduanya." Saya mengucapkan salam, dan keduanya menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang saudara yang saleh, Nabi yang saleh."
Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang ketiga, lalu Jibril meminta izin untuk masuk. Maka dikatakan, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang." Maka dibukakanlah pintu langit yang ketiga bagi kami.
Ketika telah berada di dalamnya, tiba-tiba aku bersua dengan Yusuf AS. Jibril berkata, "Inilah Yusuf." Saya mengucapkan salam kepadanya, dan ia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang saudara yang saleh, Nabi yang saleh."
Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang keempat, lalu Jibril meminta izin untuk masuk. Maka dikatakan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang." Maka dibukakanlah pintu langit yang keempat bagi kami.
Dan ketika aku telah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Idris AS. Jibril berkata, "Inilah Idris, ucapkanlah salam kepadanya." Maka saya mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang saudara yang saleh, Nabi yang saleh."
Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampai ke langit yang kelima, lalu ia meminta izin untuk masuk. Maka dikatakan, "Siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Maka dikatakan, "Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang." Maka dibukakanlah pintu langit yang kelima bagi kami.
Setelah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Harun AS. Jibril berkata, "Inilah Harun, ucapkanlah salam kepadanya." Maka aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang saudara yang saleh, Nabi yang saleh."
Kemudian Jibril membawaku naik ke langit yang keenam, lalu ia meminta izin untuk masuk. Maka dikatakanlah, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Dikatakan, "Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang." Maka dibukakanlah pintu langit yang keenam bagi kami.
Dan ketika aku telah memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Musa AS. Jibril berkata, "Inilah Musa AS, ucapkanlah salam kepadanya." Maka saya mengucapkan salam kepadanya. Dia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang saudara yang saleh, Nabi yang saleh."
Ketika saya melewatinya, ia menangis, dan ketika dikatakan kepadanya, "Apakah yang menyebabkan kamu menangis?" Ia (Musa AS) menjawab, "Saya menangis karena seorang pemuda yang diutus sesudahku dapat memasuki surga dengan membawa umatnya yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada umatku yang memasukinya."
Kemudian Jibril membawaku naik ke atas hingga sampai ke langit yang ketujuh, lalu ia meminta izin untuk masuk. Maka dikatakan, "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Dikatakan, "Selamat datang untuknya, sesungguhnya orang yang paling baik kini telah datang."
Kemudian dibukakanlah pintu langit yang ketujuh bagi kami. Ketika memasukinya, tiba-tiba aku bersua dengan Ibrahim AS. Maka Jibril berkata, "Inilah Ibrahim AS, ucapkanlah salam kepadanya." Maka saya mengucapkan salam kepadanya, dan dia menjawab salamku seraya berkata, "Selamat datang anak yang saleh, Nabi yang saleh."
Sidratul Muntaha
Selanjutnya saya dinaikkan ke Sidratul Muntaha. Tiba-tiba ternyata buahnya sebesar-besar gentong buatan tanah Hajar, dan daun-daunannya lebar-lebar seperti telinga gajah. Maka Jibril berkata, "Inilah Sidratul Muntaha."
Sungai-Sungai di Sidratul Muntaha
Tiba-tiba terdapat empat buah sungai, yang dua berada di bagian dalam, sedangkan yang duanya lagi berada di bagian luar. Maka saya bertanya, "Hai Jibril, sungai apakah ini?" Jibril menjawab, "Adapun sungai yang berada di bagian dalam, maka keduanya itu adalah dua sungai surga. Sedangkan dua buah sungai yang berada di bagian luar adalah (sumber) Sungai Nil dan Sungai Eufrat."
Baitul Ma'mur
Kemudian saya diangkat ke Baitul Ma'mur. Qatadah mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Al-Hasan, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW yang bersabda bahwa beliau telah melihat Baitul Ma'mur yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat, kemudian mereka tidak kembali lagi kepadanya.
Wadah-Wadah di Baitul Ma'mur
Kemudian Qatadah kembali kepada hadis Anas yang mengatakan bahwa kemudian disuguhkan kepadaku (Nabi SAW) sebuah wadah yang berisikan khamr, sebuah wadah yang berisikan susu, dan sebuah wadah lagi yang berisikan madu. Maka saya mengambil wadah yang berisikan air susu (lalu meminumnya). Maka Jibril berkata, "Inilah fitrah yang engkau pilihkan buat dirimu dan umatmu."
Fardhu Salat
Kemudian difardukan atas diriku lima puluh kali salat setiap harinya. Lalu saya turun hingga sampai ke tempat Musa AS berada. Dia bertanya, "Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu atas dirimu dan umatmu?" Saya menjawab, "Lima puluh kali salat setiap hari." Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan mampu mengerjakan lima puluh kali salat. Sesungguhnya saya pernah mencoba orang-orang yang sebelummu, dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan mintalah keringanan kepada-Nya buat umatmu."
Keringanan Salat
Maka saya kembali menghadap kepada-Nya, dan Dia memberikan keringanan untukku sebanyak sepuluh salat. Lalu saya kembali lagi kepada Musa. Ia bertanya, "Apakah yang diperintahkan kepadamu?" Saya menjawab, "Empat puluh kali salat setiap hari." Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakan empat puluh kali salat setiap harinya, karena sesungguhnya saya pernah menguji orang-orang yang sebelum kamu dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu."
Maka saya menghadap kembali kepada-Nya dan Dia memberikan keringanan sepuluh kali salat lagi buatku. Lalu saya kembali kepada Musa dan dia bertanya, "Apakah yang telah diperintahkan kepadamu?" Saya menjawab, "Aku diperintahkan untuk mengerjakan tiga puluh kali salat." Musa AS berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakan tiga puluh kali salat setiap harinya; karena sesungguhnya saya telah mencoba orang-orang yang sebelum kamu, dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu."
Lalu saya kembali menghadap kepada Tuhanku, dan Dia memberikan keringanan sepuluh kali salat lagi bagiku. Setelah itu aku kembali kepada Musa. Ia bertanya, "Apakah yang diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Saya diperintah dua puluh kali salat setiap hari." Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakan dua puluh kali salat setiap harinya; karena sesungguhnya saya telah mencoba orang-orang sebelum kamu, dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu."
Maka saya kembali menghadap kepada-Nya, dan Dia meringankan sepuluh kali salat lagi bagiku, lalu saya kembali kepada Musa AS Musa bertanya, "Apakah yang diperintahkan kepadamu?" Aku menjawab, "Saya diperintahkan mengerjakan sepuluh kali salat setiap hari." Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakan sepuluh kali salat setiap harinya; karena sesungguhnya saya telah menguji orang-orang yang sebelum kamu, dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu."
Maka saya kembali menghadap kepada-Nya dan saya diperintahkan mengerjakan salat lima waktu setiap hari, lalu aku kembali kepada Musa AS Musa bertanya, "Apakah yang telah diperintahkan kepadamu?" Saya menjawab, "Saya diperintahkan untuk mengerjakan salat lima waktu setiap hari." Musa berkata, "Sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakan salat lima waktu setiap harinya; karena sesungguhnya saya telah mencoba orang-orang yang sebelum kamu, dan saya telah mengobati kaum Bani Israil dengan pengobatan yang berat. Sekarang kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya buat umatmu."
Saya berkata, "Sesungguhnya saya telah meminta keringanan kepada Tuhanku hingga saya merasa malu kepada-Nya, tetapi sekarang saya rela dan pasrali untuk melaksanakannya." Maka terdengarlah suara yang berseru mengatakan, "Sesungguhnya Aku telah menetapkan apa yang Kufardukan (atas hamba-hamba-Ku) dan Aku telah memberikan keringanan kepada hamba-hamba-Ku."
Hadis-Hadis Lainnya
Hadis Qatadah
Menurut riwayat Anas ibnu Malik, dari Malik ibnu Sa'sa'ah, disebutkan oleh Imam Ahmad, telah mencer
Makna Isra dan Mi'raj
Ibnu Syihab mengatakan bahwa Ibnu Hazm telah menceritakan pula kepadanya bahwa Ibnu Abbas dan Abu Habbah Al-Ansari pernah mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda: Kemudian Jibril membawaku naik hingga sampailah aku di suatu tingkatan yang dari tempat itu saya dapat mendengar suara guratan qalam.
Perjalanan Isra dan Mi'raj
Ibnu Hazm dan Anas ibnu Malik mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Allah memfardukan atas umatku lima puluh kali salat, lalu aku kembali dengan membawa perinlah itu hingga sampai ke tempat Musa berada, maka Musa berkata, "Apakah yang telah difar-dukan oleh Tuhanmu atas umatmu?" Saya menjawab, "Dia telah memfardukan lima puluh kali salat atas mereka." Musa berkata kepadaku, "Kembalilah kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakannya." Maka saya kembali menghadap Tuhanku, dan Dia menghapuskan separonya. Lalu saya kembali kepada Musa dan menceritakan hal itu kepadanya, maka ia berkata, "Kembalilah lagi kepada Tuhanmu, karena sesungguhnya umatmu tidak akan kuat mengerjakannya." Maka saya kembali menghadap kepada-Nya, dan Dia berfirman, "Fardu salat itu adalah lima waktu, ia pahalanya sama dengan lima puluh kali salai. Perintah ini tidak dapat diganti lagi di sisi-Ku." Maka saya kembali kepada Musa, dan Musa berkata, "Kembalilah kepada Tuhanmu." Saya jawab, "Saya telah malu sekali kepada Tuhanku." Kemudian Jibril membawaku pergi hingga sampailah aku di Sidratul Muntaha, lalu Sidratul Muntaha ditutupi oleh berbagai macam warna yang saya tidak ketahui warna-warna apakah itu. Kemudian saya masuk ke dalam surga, tiba-tiba di dalamnya terdapat tali-tali dari mutiara, dan tiba-tiba tanah surga itu adalah minyak kesturi.
Riwayat Abdullah ibnu Ahmad
Demikianlah menurut riwayat Abdullah ibnu Ahmad di dalam kitab Musnad ayahnya, tetapi hal ini tidak dapat di jumpai dalam suatu kitab pun dari kitab Sittah.
Riwayat Buraidah ibnu Hasib Al-Aslami
Riwayat Buraidah ibnu Hasib Al-Aslami diketengahkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar, bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Mutawakkil dan Ya'qub ibnu Ibrahim, sedangkan lafaz Hadis ini menurut apa yang ada padanya (Ya'qub ibnu Ibrahim). Keduanya mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Namilah, telah menceritakan kepada kami Az-Zubair ibnu Junadah, dari Abdullah ibnu Buraidah, dari ayahnya yang mengatakan, "Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa di malam beliau menjalani Isra-perawi menyebutkan- lalu Malaikat Jibril mendatangi sebuah batu besar yang ada di Baitul Maqdis. Maka dia melubanginya dengan ujung jari telunjuknya hingga tembus, lalu ia menambatkan hewan Buraq pada batu besar itu."
Riwayat Jabir ibnu Abdullah RA
Riwayat Jabir ibnu Abdullah RA diketengahkan oleh Imam Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ya"qub, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Saleh, dari Ibnu Syihab yang mengatakan bahwa Abu Salamah telah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah menceritakan hadjs berikut; ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Ketika orang-orang Quraisy mendustakan peristiwa perjalanan Isra-ku ke Baitul Maqdis, maka saya berdiri di Hijril Ismail lalu Allah menampakkan kepadaku Baitul Maqdis. Maka saya menceritakan kepada mereka tentang ciri-ciri khasnya seraya memandang ke arah pemandangan yang ditampilkan Allah kepadaku itu."
Riwayat Huzaifah ibnul Yaman RA
Riwayat Huzaifah ibnul Yaman RA diketengahkan oleh Imam Ahmad; telah menceritakan kepada kami Abun Nadr. telah menceritakan kepada kami Sulaiman, dari Syaiban, dari Asim, dari Zur ibnu Hubaisy yang mengatakan bahwa ia datang kepada Huzaifah ibnul Yaman RA yang sedang menceritakan hadis tentang Isra yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW seperti berikut. Maka keduanya berangkat hingga sampai di Baitul Maqdis, tetapi keduanya tidak memasukinya. Saya (Zur ibnu Hubaisy) menyangkal, "Tidak, bahkan Rasulullah SAW memasukinya di malam itu dan melakukan salat di dalamnya." Huzaifah ibnul Yaman RA bertanya, "Siapakah namamu, hai orang botak?" Saya kenal roman mukamu, tetapi saya tidak tahu namamu." Saya jawab, "Aku adalah Zur ibnu Hubaisy." Huzaifah RA berkata, "Apakah alasanmu hingga mengatakan bahwa Rasulullah SAW melakukan salat di Baitul Maqdis pada malam itu?" Saya menjawab, "Al-Qur'an-lah yang mengatakannya kepadaku." Huzaifah RA berkata, "Barang siapa yang berbicara dengan memakai dalil Al-Qur'an, berarti dia orang yang menang. Bacakanlah ayat itu!" Maka saya membaca firman Allah SWT: Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. (Al-Isra, [17:1]) Huzaifah bertanya, "Hai orang yang botak, apakah kamu menjumpai di dalam ayat itu keterangan yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW mengerjakan salat di dalamnya?" Saya menjawab, 'Tidak." Huzaifah berkata, "Demi Allah, Rasulullah SAW sama sekali tidak melakukan salat di dalamnya malam itu. Seandainya beliau mengerjakan salat di dalamnya, tentulah di wajibkan atas kalian melakukan salat di dalamnya, sebagaimana di wajibkan atas kalian melakukan salat di Baitul' Atiq (Masjidil Haram). Demi Allah, keduanya tidak beranjak dari hewan Buraq hingga dibukakan bagi keduanya semua pintu langit, maka keduanya dapat melihat surga dan neraka serta semua yang dijanjikan di akhirat. Sesudah itu keduanya kembali ke tempat semula mereka berangkat." Sesudah itu Huzaifah tertawa sehingga kelihatan gigi serinya. Huzaifah berkata, "Kalian menceritakan kepadaku bahwa Jibril menambatkan Buraq agar tidak lari, padahal sesungguhnya Buraq telah ditundukkan buat Nabi SAW oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata." Saya bertanya, "Hai Abu Abdullah, seperti apakah hewan Buraq itu?" Huzaifah menjawab, "Hewan yang berwarna putih tingginya sekian, sekali langkah menempuh jarak sejauh mata memandang."
Riwayat Abu Sa'id ibnu Malik ibnu Sinan Al-Khudri
Riwayat Abu Sa'id ibnu Malik ibnu Sinan Al-Khudri diketengahkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitab Dalailun Nubuwwah-nya. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Muhammad ibnu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad ibnu Ya'qub, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Yahya ibnu Abu Talib, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ibnu 'Ata, telah menceritakan kepada kami Abu Muhammad Rasyid Al-Hammani, dari Abu Harun Al-Abdi (yang berpredikat daif, menurut pendapat yang lain dicap pendusta), dari Abu Sa'id Al-Khudri RA, dari "Nabi SAW Disebutkan bahwa para sahabat berkata kepada beliau SAW, "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepada kami tentang perjalanan Isra yang telah engkau alami itu." Yang dimaksudkan adalah perincian dari apa yang disebutkan oleh firman-Nya: {#Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam.#} (Al-Isra, [17:1]), hingga akhir ayat. Maka Nabi saw. menceritakan kepada mereka, bahwa ketika saya sedang tidur pada suatu malam di Masjidil Haram, tiba-tiba ada seseorang datang kepadaku dan membangunkanku, tetapi saya tidak melihat apa-apa. Dan tiba-tiba saya melihat sesosok bayangan, maka bayangan itu saya ikuti hingga saya keluar dari Masjidil Haram. Tiba-tiba saya melihat seekor hewan yang bentuk dan rupanya mirip dengan hewan kendaraan kalian ini, yakni hewan begal kalian. Hanya, hewan tersebut selalu menggerak-gerakkan kedua daun telinganya; hewan itu disebut Buraq. Dahulu hewan Buraq itu merupakan tunggangan para nabi sebelumku. Keistimewaan Buraq ialah sekali langkah dapat menempuh jarak sejauh matanya memandang. Lalu saya mengendarainya. Ketika saya sedang berjalan mengendarainya tiba-tiba ada suara yang memanggilku dari sebelah kanan, "Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu. Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu. Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu." Tetapi saya tidak menyahutnya, tidak pula mempedulikannya. Ketika saya sedang berjalan mengendarainya, tiba-tiba terdengar suara yang memanggilku dari sebelah kiriku mengatakan, "Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu." Tetapi saya tidak menyahutnya, tidak pula mempedulikannya. Ketika saya sedang mengendarainya, tiba-tiba saya bersua dengan seorang wanita yang lengannya terbuka memakai segala macam -perhiasan yang diciptakan oleh Allah. Lalu wanita itu berseru, "Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu." Saya tidak menyahutnya, juga tidak mempedulikannya. Akhirnya sampailah saya di Baitul Maqdis, lalu saya tambatkan hewan kendaraanku di suatu halqah yang para nabi dahulu biasa menambatkan kendaraannya di tempat itu. Lalu Malaikat jibril datang kepadaku dengan membawa dua buah wadah yang salah satunya berisikan khamr, sedangkan yang lainnya berisikan air susu. Maka saya memilih wadah yang berisikan air susu, lalu meminumnya; saya menolak wadah yang berisikan khamr. Maka Jibril berkata, "Engkau telah memilih fitrah. Ingatlah, sesungguhnya jika kamu mengambil wadah yang berisikan khamr, maka tentulah umatmu akan sesat." Maka saya berkata, "Allahu Akbar, Allahu Akbar." Jibril berkata, "Saya belum pernah melihat roman mukamu seperti ini." Dan ketika saya sedang berjalan, tiba-tiba ada suara menyeruku dari sebelah kananku, "Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu." Tetapi saya tidak menyahutnya, tidak pula mempedulikannya. Jibril berkata,."Itulah seruan orang Yahudi. Seandainya kamu memenuhi seruannya atau kamu berhenti untuk meladeninya, tentulah umatmu akan menjadi orang-orang Yahudi." Ketika saya sedang berjalan (dengan mengendarai Buraq), tiba-tiba terdengarlah seruan yang memanggilku dari arah sebelah kiri mengatakan, "Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu." Tetapi saya tidak menoleh, tidak pula mempedulikannya. Jibril berkata, "Itulah seruan orang-orang Nasrani. Ingatlah, seandainya kamu memenuhi seman itu, tentulah umatmu akan menjadi orang-orang Nasrani." Ketika saya sedang berjalan (mengendarai Buraq), tiba-tiba saya melihat seorang wanita yang terbuka lengannya memakai segala macam perhiasan yang diciptakan oleh Allah. Wanita itu mengatakan, "Hai Muhammad, tunggulah saya, saya akan bertanya kepadamu." Tetapi saya tidak menjawabnya, tidak pula mempedulikannya. Jibril berkata, "Itulah dunia. Ingatlah, seandainya kamu memenuhi seruannya atau kamu berhenti meladeninya, tentulah kamu akan memilih dunia daripada akhirat." Kemudian saya dan Malaikat Jibril masuk ke dalam Baitul Maqdis, lalu masing-masing dari kami mengerjakan salat dua rakaat. Setelah itu didatangkan kepadaku sebuah tangga yang dahulu dipakai naik oleh arwah para nabi. Tiada suatu makhluk pun yang bentuknya lebih indah daripada tangga itu. Tidakkah engkau lihat mayat yang membeliakkan pandangan matanya ke arah langit? Sesungguhnya dia membeliakkan matanya sebelum arwahnya meninggalkannya tiada lain karena ia sangat menginginkan naik ke langit dengan tangga itu. Dia merasa takjub kepada keindahan tangga itu. Lalu saya dan Malaikat Jibril naik ke langit, tiba-tiba saya bersua dengan Malaikat yang dikenal dengan sebutan Ismail, penjaga langit yang terdekat. Di hadapannya terdapat tujuh puluh ribu malaikat, dan tiap-tiap malaikat membawa pasukannya yang terdiri atas seratus ribu malaikat. Allah SWT telah berfirman: {#Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri#} (Al-Muddassir, [74:31]) Kemudian Malaikat Jibril meminta izin masuk dengan mengetuk pintu langit pertama. Maka dikatakan "Siapakah ini?" Jibril menjawab, "Saya Jibril." Dikatakan, "Siapakah orang yang bersamamu?" Jibril menjawab, "Muhammad." Dikatakan, "Apakah dia telah diutus untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya." Tiba-tiba saya bersua dengan Adam dalam rupa dan bentuk seperti keadaan semula ketika ia diciptakan oleh Allah SWT Dan tiba-tiba ditampilkan kepadanya semua arwah anak cucunya yang beriman, maka Adam berkata, "Roh yang baik dan jiwa yang baik, tempatkanlah mereka di 'Illiyyin (tempat-tempat yang tertinggi di surga)." Kemudian ditampilkan di hadapannya semua arwah keturunannya yang durhaka. Maka Adam berkata, "Roh yang buruk dan jiwa yang buruk, tempatkanlah mereka di Sijjin (tempat yang paling bawah di dasar bumi)." Kemudian saya melanjutkan perjalanan sebentar, tiba-tiba saya melihat banyak piring besar yang padanya terdapat daging segar yang telah dipotong-potong, tetapi tidak ada seorang manusia pun yang mendekatinya. Dan tiba-tiba saya melihat banyak piring besar yang padanya terdapat daging yang sudah basi dan berbau busuk, ternyata banyak orang yang memakannya. Saya bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu ?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang dari kalangan umatmu yang suka mengerjakan hal yang haram dan meninggalkan hal yang dihalalkan." Selanjutnya saya meneruskan perjalanan sebentar, tiba-tiba saya melihat banyak kaum yang memiliki bibir seperti bibir unta. Lalu dibukakan mulut mereka, dan bara api itu dimasukkan ke dalam mulut mereka bingga keluar dari lubang bawah mereka. Saya dengar mereka menjerit meminta tolong kepada Allah SWT Lalu saya bertanya, "Hai Jibril, si
Berikut adalah teks yang telah diformat menjadi Markdown:
Riwayat Syaddad ibnu Aus diketengahkan oleh Imam Abu Ismail Muhammad ibnu Ismail At-Turmuzi. Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim ibnul Ala ibnud Dahhak Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnul Haris dari Abdullah ibnu Sa-lim Al-Asy'ari, dari Muhammad ibnul Walid ibnu Amir Az-Zubaidi, telah menceritakan kepada kami Abul Walid ibnu Abdur Rahman, dari Jubair ibnu Nafir, telah menceritakan kepada kami Syaddad ibnu Aus yang mengatakan bahwa kami pernah bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaimanakah kisah tentang Isra-mu?"
Rasulullah SAW menjawab, bahwa seusai aku mengerjakan salat (berdoa) di petang hari di Mekah buat sahabat-sahabatku, maka datanglah Malaikat Jibril AS. kepadaku dengan membawa seekor hewan putih yang bentuknya lebih besar dari keledai, tetapi di bawah begal. Lalu Jibril berkata, "Naiklah!" Tetapi pada mulanya Buraq sulit untuk kukendarai, maka Jibril menjewer telinganya, Akhirnya Buraq mau membawaku. Maka Buraq melaju dengan pesat, sekali langkah sampai ke jangkauan batas matanya memandang membawa kami, hingga sampailah kami di suatu tempat yang penuh dengan pohon korma. Lalu Jibril menyuruhku turun. Maka saya turun dan Jibril berkata, "Salatlah!" Maka saya mengerjakan salat. Sesudah itu saya mengendarai Buraq lagi, dan Jibril bertanya, tahukah kamu di manakah tadi kamu salat?" Saya menjawab, "Allah lebih mengetahui." Jibril menjawab, "Kamu salat di Yasrib, alias Taibah." Maka Buraq melanjutkan perjalanannya membawa kami dengan melangkahkan kaki depannya sejauh mata memandang, hingga sampailah kami di suatu tempat, lalu Jibril berkata, "Turunlah!" Kemudian Jibril berkata lagi, "Salatlah!" Maka saya salat di tempat itu. Kemudian kami menaiki Buraq lagi, dan Jibril bertanya, "Tahukah kamu, di manakah tadi kamu salat?" Saya menjawab, "Allah lebih mengetahui." Jibril berkata, "Kamu tadi salat di Madyan, di dekat pohon Musa." Sesudah itu Buraq melanjutkan perjalanannya membawa kami dengan meletakkan kedua kaki depannya sejauh mata memandang, hingga sampailah kami di suatu tempat yang padanya kelihatan banyak gedung. Maka Malaikat Jibril berkata, "Turunlah!" Lalu saya turun, dan Jibril berkata lagi, "Salatlah!" Maka saya salat. Kemudian kami menaiki Buraq lagi, dan Jibril bertanya, "Tahukah kamu di manakah kamu tadi mengerjakan salat?" Aku meujawab, "Allah lebih mengetahui." Jibril berkata, "Tadi kamu salat di Baitul Lahm, tempat kelahiran Isa putra Maryam." Selanjutnya Jibril melanjutkan perjalanan dengan membawaku hingga masuklah kami ke suatu kota dari pintunya yang sebelah kanan, lalu Jibril mendatangi kiblat masjid dan menambatkan hewannya di tempat itu. Kemudian kami memasuki masjid itu dari arah pintu yang matahari dan bulan kelihatan dari pintu itu bila condong. Dan saya mengerjakan salat di dalam masjid itu sebanyak apa yang dikehendaki oleh Allah SWT Sesudah itu saya merasa sangat kehausan. Kemudian didatangkan dua buah wadah kepadaku, salah satunya, berisikan air susu, sedangkan yang lainnya berisi madu. Allah telah mengirimkan keduanya kepadaku, maka saya memilih salah satu di antara keduanya. Dan Allah memberikan petunjuk-Nya kepadaku, maka saya memilih wadah yang berisikan air susu dan langsung meminumnya hingga keningku berkeringat karenanya. Saat itu di hadapanku terdapat seorang tua yang sedang bersandar di tempat duduknya, lalu orangtua itu berkata, "Temanmu ini telah memilih fitrah, sesungguhnya dia telah mendapat petunjuk." Jibril melanjutkan perjalanannya bersamaku, hingga sampailah aku ke sebuah lembah yang padanya terdapat sebuah kota. Tiba-tiba neraka Jahannam diperlihatkan kepadaku yang kelihatan seperti bukit-bukit. Saya (perawi) bertanya, "Wahai Rasulullah, bagaiifianakah engkau jumpai keadaan neraka Jahannam?" Rasulullah SAW menjawab, "Saya jumpai Jahannam, sangat panas seperti air yang mendidih." Kemudian Jibril membawaku pergi dan kami bersua dengan kafilah orang-orang Quraisy di tempat anu dan anu, sedangkan seekor unta mereka telah tersesat, lalu berhasil ditemukan si Fulan. Saya mengucapkan kata salam kepada mereka, dan sebagian mereka ada yang mengatakan, "Ini suara Muhammad." Sebelum subuh saya kembali kepada sahabat-sahabatku di Mekah, maka Abu Bakar datang kepadaku seraya bertanya, "Wahai Rasulullah, kemanakah engkau tadi malam? Saya merasa kehilangan engkau dan saya mencarimu di tempat engkau biasa tidur." Rasulullah SAW menjawab, "Tahukah kamu bahwa tadi malam saya telah ke Baitul Maqdis?" Abu Bakar RA bertanya, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Baitul Maqdis itu ditempuh dengan jarak satu bulan lamanya, maka gambarkanlah Baitul Maqdis kepadaku." Maka ditampakkanlah kepadaku suatu gambar sehingga aku dapat memandangnya dengan jelas. Tiada sesuatu pun tentang Baitul Maqdis yang ditanyakan kepadaku melainkan aku jawab dia (Abu Bakar). Lalu Abu Bakar berkata, "Saya bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah." Orang-orang musyrik berkata, "Lihatlah oleh kalian Ibnu Abu Kabsyah, dia menduga bahwa dirinya telah pergi ke Baitul Maqdis tadi malam." Rasulullah SAW menjawab, "Sesungguhnya bukti dari apa yang aku ucapkan ialah saya bersua dengan kafilah kalian di tempat anu dan anu, sedangkan mereka kehilangan seekor untanya, lalu berhasil diketemukan oleh si Fulan. Dan sesungguhnya mereka masih dalam perjalanannya berada di tempat anu, kemudian mereka akan datang kepada kalian pada hari anu. Yang berada paling depan adalah unta yang berwarna hitam dengan memakai pelana hitam membawa dua buah peti barang yang kedua-duanya berwarna hitam." Pada hari yang dimaksud orang-orang berkumpul menunggu kedatangan kafilah mereka. Dan ketika tengah hari telah dekat, kelihatanlah oleh mereka kafilah itu sedang menuju ke arah mereka. Di depan kafilah itu terdapat unta yang disebutkan ciri khasnya oleh Rasulullah SAW
Begitu pula bunyi hadis yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi melalui dua jalur dari Abu Ismail At-Turmuzi dengan sanad yang sama. Kemudian sesudah selesai mengutarakan hadis ia mengatakan bahwa sanad hadis ini berpredikat sahih. Ia telah meriwayatkan pula secara terpisah-pisah melalui hadis-hadis lainnya, yang sebagian darinya akan kami sebutkan. Kemudian ia menceritakan banyak hadis mengenai Isra yang berkedudukan sebagai syahid bagi hadis ini.
Imam Abu Muhammad Abdur Rahman ibnu Abu Hatim di dalam kitab tafsir telah meriwayatkan hadis ini dari ayahnya, dari Ishaq ibnu Ibrahim ibnul Ala Az-Zubaidi dengan sanad yang sama.
Tidak diragukan lagi bahwa hadis ini-yang diriwayatkan dari Syaddad ibnu Aus - mengandung banyak hal, antara lain ada yang sahih, seperti apa yang disebutkan oleh Imam Baihaqi tadi; dan yang lainnya berpredikat munkar, seperti hadis yang menyebutkan bahwa Nabi SAW melakukan salat di Baitul Lahm. Demikian juga pertanyaan Abu Bakar As-Siddiq tentang ciri khas Baitul Maqdis serta lain-lainnya.
Riwayat Abdullah ibnu Abbas RA Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Qabus, dari ayahnya yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami ibnu Abbas tentang perjalanan Isra di malam hari yang dilakukan oleh Rasulullah SAW Disebutkan di dalamnya bahwa Rasulullah SAW masuk ke dalam surga, lalu beliau mendengar suara langkah ditepi surga, maka Rasulullah SAW bertanya, "Hai Jibril, suara apakah ini?" Jibril menjawab, "Ini adalah suara Bilal, juru azan." Ketika Rasulullah SAW menghadapi orang banyak, beliau bersabda, "Beruntunglah si Bilal, saya menyaksikan anu dan anu miliknya." Selanjutnya Nabi SAW bersua dengan Musa AS Musa mengucapkan selamat datang kepadanya seraya berkata, "Selamat datang Nabi yang ummi." Nabi SAW bersabda bahwa Musa adalah seorang lelaki yang berkulit hitam manis, bertubuh tinggi, dan berambut ikal sampai ke daun telinganya atau kurang dari itu. Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang ini?" Jibril menjawab bahwa orang itu adalah Musa. Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan perjalanannya, tiba-tiba beliau bersua dengan seorang tua yang kelihatan sangat agung dan berwibawa. Lalu orang tua itu mengucapkan selamat datang dan salam kepada Nabi SAW Semua orang yang bersua dengan Nabi SAW mengucapkan salam kepada beliau. Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Dia adalah ayahmu Nabi Ibrahim." Nabi SAW melihat neraka tiba-tiba di dalamnya terdapat suatu kaum yang sedang memakan bangkai. Maka Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang suka memakan daging orang lain (suka mengumpat)." Dan Nabi SAW melihat seorang lelaki yang berkulit merah dan bermata biru sekali. Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang ini?" Jibril menjawab, "Ini adalah penyembelih unta Nabi Saleh." Ketika Rasulullah SAW sampai di Masjidil Aqsa berdiri mengerjakan salat, ternyata semua nabi ikut salat bersamanya. Setelah mengerjakan salat, disuguhkan kepada Nabi SAW dua buah wadah; yang satunya dari sebelah kanan, dan yang lain dari sebelah kiri. Pada salah satunya terdapat air susu, sedangkan pada yang lainnya terdapat madu. Maka Nabi SAW mengambil wadah yang berisikan air susu dan meminumnya. Dan orang yang bersamanya mengatakan, "Engkau telah memilih fitrah." Sanad hadis ini sahih, tetapi Imam Bukhari dan Imam Muslim tidak mengetengahkannya.
Jalur lain. Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Sabit Abu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW menjalani Isra ke Baitul Maqdis dan kembali pulang di malam yang sama. Lalu beliau menceritakan kepada mereka tentang perjalanan Isra yang dialaminya dan menceritakan kepada mereka (orang-orang Quraisy) tentang kafilah mereka (yang masih ada dalam perjalanannya). Di antara orang-orang yang mengatakan, "Kami tidak percaya kepada Muhammad tentang apa yang dikatakannya." Maka murtadlah mereka berbalik menjadi kafir, dan Allah menghinakan mereka bersama pemimpin mereka, yaitu Abu Jahal. Abu Jahal berkata, "Muhammad menakut-nakuti kita dengan buah zaqqum, maka datangkanlah oleh kalian buah kurma dan zubdah, marilah kita buat makanan zaqqum (yakni campuran kurma dan zubdah)." Dan Nabi SAW melihat Dajjal dengan penglihatan yang nyata, bukan dalam mimpi. Beliau juga bersua dengan Isa, Musa, dan Ibrahim. Ketika Nabi SAW ditanya tentang ciri khas Dajjal, maka beliau SAW menjawab, "Dajjal bertubuh besar, dengan warna kulit yang putih, salah satu matanya menonjol seakan-akan seperti bintang yang bercahaya, sedangkan rambutnya seakan-akan mirip dengan ranting pohon (yang lebat). Saya juga melihat Isa AS. Dia orang yang berkulit putih, berambut keriting, tajam pandangan matanya, dan bertubuh padat. Dan saya melihat Musa AS, orang yang berkulit hitam manis, berambut lebat, lagi bertubuh kuat. Saya pun melihat Ibrahim AS, maka saya tidak memandang kepada salah satu anggotanya melainkan seakan-akan saya memandang kearah diriku sendiri. Seakan-akan dia adalah teman kalian ini (yakni Nabi SAW sendiri)." Jibril berkata, "Ucapkanlah salam kepada bapakmu." Maka saya mengucapkan salam kepada Nabi Ibrahim AS.
Imam Nasai meriwayatkannya melalui Hadid Abu Yazid Sabit ibnu Zaid, dari Hilal (yaitu Ibnu Hibban) dengan sanad yang sama. Sanad hadis ini berpredikat sahih.
Jalur lain.
Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Asy-Syafii, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnul Hasan, telah menceritakan kepada kami Al-Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Qatadah, dari Abul Aliyah yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abbas (anak paman Rasulullah SAW) yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Pada malam aku menjalani Isra, bersua dengan Musa ibnu Imran, seorang lelaki yang tinggi, berambut keriting, seakan-akan dia adalah seorang lelaki dari kalangan Azd Syami-ah. Dan saya melihat Isa AS. putra Maryam, seorang lelaki yang bertubuh sedang berkulit putih kemerah-merahan, berambut ikal. Saya juga melihat Malaikat Malik-penjaga neraka Jahannam - serta Dajjal berikut dengan ciri-ciri khasnya tersendiri yang diperlihatkan oleh Allah kepadaku. Allah SWT berfirman: {#maka janganlah kamu ragu-ragu dalam bersua dengannya.#} (As-Sajdah, [32:23])
Qatadah menafsirkan ayat ini dengan penafsiran bahwa Nabi SAW telah bersua dengan Musa AS {#dan Kami jadikan Musa petunjuk bagi Bani Israil.#} (As-Sajdah, [32:23]) Yakni Allah menjadikan Musa AS sebagai petunjuk bagi kaum Bani Israil.
Imam Muslim meriwayatkan hadis ini dalam kitab sahihnya dari Abdu ibnu Humaid, dari Yunus ibnu Muhammad, dari Syaiban. Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Syu'bah, dari Qatadah secara ringkas.
Jalur lain, Imam Baihaqi mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ahmad ibnu Abdullah, bahwa Ahmad ibnu Ubaid As-Sattar telah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Dabis Al-Mu'addal, telah
Riwayat Abu Hurairah
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Riwayat Abu Hurairah sangat panjang, dan di dalamnya terdapat hal yang garib. Imam Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan di dalam tafsir surat Subhana (Al-Isra), bahwa telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Ar-Razi, dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah Ar-Rayyahi, dari Abu Hurairah atau lainnya - di sini Abu Ja'far ragu - sehubungan dengan tafsir firman-Nya: SAWMahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam. (Al-Isra, [17:1]), hingga akhir ayat.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Bahwa Jibril datang kepada Nabi SAW bersama Mikail. Lalu Jibril berkata kepada Mikail, "Berikanlah kepadaku piala berisikan air zamzam untuk membersihkan hatinya dan membedah dadanya." Maka Malaikat Jibril membelah dadanya dan mencucinya sebanyak tiga kali, sedangkan Malaikat Mikail bolak-balik kepadanya sebanyak tiga kali membawa tiga piala berisikan air zamzam.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Jibril membelah dada Nabi SAW dan membuang bagian yang berisikan kedengkian, lalu memenuhinya dengan ilmu, kesabaran, iman, keyakinan, dan Islam. Kemudian membuat cap di antara kedua tulang belikat Nabi SAW, yaitu cap kenabian. Setelah itu diberikan seekor kuda kepada Nabi SAW, dan Nabi SAW dinaikkan ke atas hewan itu setiap melangkah dapat sampai ke jarak jangkauan matanya memandang, atau lebih jauh dari itu.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Nabi SAW berjalan mengendarainya diiringi oleh Malaikat Jibril. Nabi SAW sampai di tempat suatu kaum yang bercocok tanam dalam waktu satu hari, kemudian menuainya di hari yang lain. Setiap kali mereka menuainya, maka tanaman mereka kembali seperti sediakala. Lalu Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang ini?" Malaikat Jibril menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Amal kebaikan mereka dilipatgandakan menjadi tujuh ratus kali lipat, dan segala sesuatu yang mereka belanjakan Allah mengganti-nya.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Kemudian sampailah Nabi saw. di tempat suatu kaum yang kepala mereka dipecahkan oleh batu-batu besar; setiap kali kepala mereka hancur, maka akan kembali seperti semula. Hal itu dilakukan terhadap mereka tanpa henti-hentinya: Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?" Malaikat jibril menjawab: Mereka adalah orang-orang yang berat kepala (malas) dalam mengerjakan salat fardu.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Lalu sampailah Nabi SAW ke tempat suatu kaum yang di bagian muka mereka terdapat tandanya, mereka digiring bagaikan unta dan binatang ternak. Mereka makan pohon berduri, pohon Zaqqum, dan batu-batu neraka Jahannam. Maka Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, siapakah manusia itu?" Jibril menjawab: Mereka adalah orang-orang yang tidak menunaikan zakat harta bendanya. Allah sama sekali tidak menganiaya mereka barang sedikitpun. Dan tiadalah Allah berbuat aniaya terhadap hamba-hamba-Nya.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Kemudian sampailah Nabi SAW ke tempat suatu kaum yang di depannya mereka terdapat daging masak yang ada di dalam kuali, sedangkan di dalam kuali yang lain terdapat daging mentah yang buruk. Tetapi mereka memakan daging mentah yang buruk itu dan membiarkan daging masak yang baik. Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?" Malaikat jibril menjawab: Lelaki ini adalah seorang dari kalangan umatmu yang mempunyai seorang istri yang halal lagi baik, tetapi ia mendatangi wanita lain yang buruk lalu ia tidur bersamanya hingga pagi hari. Dan (dia adalah) seorang wanita yang mempunyai suami yang halal lagi baik tetapi ia mendatangi lelaki lain yang buruk lalu tidur bersamanya hingga pagi hari.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Lalu sampailah Nabi SAW di suatu tempat yang ada kayunya di tengah jalannya; tiada seorang pun yang melaluinya melainkan bajunya pasti robek, dan tiada sesuatu pun yang melewatinya melainkan pasti menusuknya. Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, apakah ini?" Malaikat Jibril menjawab: Ini adalah perumpamaan sejumlah orang dari kalangan umatmu yang suka duduk di pinggir jalan, lalu mereka menghalang-halangi (manusia dari)nya (jalan Allah).
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Kemudian Jibril membacakan firman-Nya: {#Dan janganlah kalian duduk di tiap-tiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang yang beriman.#} (Al-A'raf, [7:86]), hingga akhir ayat.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Setelah itu sampailah Nabi SAW di tempat seorang lelaki yang telah mengumpulkan setumpuk besar barang yang tidak mampu diangkatnya, sedangkan dia terus menambahinya. Maka Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, apakah ini?" Malaikat Jibril menjawab: Dia adalah seorang lelaki dari kalangan umatmu yang mempunyai banyak amanat orang lain yang tidak mampu ditunaikannya sedangkan dia ingin membawanya.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Kemudian sampailah Nabi SAW di tempat suatu kaum yang lisan dan bibir mereka dipotong dengan gunting (catut) besi, setiap kali telah digunting, maka lidah itu akan kembali seperti sediakala. Hal itu dilakukan terhadap mereka tanpa henti-hentinya. Nabi SAW bertanya, "Apakah ini, hai Jibril?" Malaikat Jibril menjawab: Mereka adalah ahli khotbah tukang fitnah.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Lalu sampailah Nabi SAW di suatu tempat yang ada batu kecilnya, yang darinya keluar seekor sapi jantan yang besar. Lalu sapi jantan itu bermaksud kembali ke tempat ia keluar, tetapi ia tidak mampu. Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, apakah ini?" Malaikat jibril menjawab: Ini (perumpamaan) seorang lelaki yang mengucapkan kata-kata besar, kemudian menyesalinya, tetapi ia tidak mampu mencabut kata-katanya itu.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Kemudian sampailah Nabi SAW ke suatu lembah yang beliau jumpai menyebarkan bau harum yang menyegarkan dan bau minyak kesturi, beliau pun mendengar suara. Maka Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, bau wangi apa yang menyegarkan ini, bau minyak kesturi apa pula ini, dan suara apakah ini?" Malaikat Jibril menjawab: Ini adalah suara surga yang mengatakan, "Wahai Tuhanku, berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya telah banyak kamar-kamarku, kain sutera halus, tipis, tebal, dan permadani-permadaniku, mutiaraku, marjanku, perakku, emasku, gelas-gelasku, piring-piringku, kendi-kendiku, cangkir-cangkirku, maduku, airku, susuku, dan khamrku, maka berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan."
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Maka Allah berfirman, "Bagimu semua orang muslim laki-laki dan perempuan serta orang mukmin laki-laki dan perempuan, serta orang-orang yang beriman kepada-Ku, rasul-rasul-Ku, beramal saleh, dan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu pun. Dan dia tidak menyembah tandingan-tandingan selain Aku. Dan barang siapa yang takut kepada-Ku, dia akan aman; barang siapa yang meminta kepada-Ku, tentu Aku memberinya; barang siapa yang memberi pinjaman kepada-Ku, tentu Aku membalasnya; dan barang siapa yang bertawakal kepada-Ku, tentu Aku memberinya kecukupan. Sesungguhnya Aku adalah Allah, tiada Tuhan selain Aku, Aku tidak akan ingkar janji. Dan sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. Mahasuci Allah, sebaik-baik Pencipta makhluk semuanya."
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Surga berkata, "Saya rela." Kemudian Nabi SAW melanjutkan perjalanannya hingga sampailah di ruatu lembah yang padanya beliau mendengar suara gemuruh dan bau yang tidak enak. Maka Nabi SAW bertanya, "Hai Jibril, bau apakah ini, dan suara apakah ini?" Malaikat Jibril menjawab: Ini adalah suara neraka Jahannam. Ia mengatakan, "Wahai Tuhanku berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan. Sesungguhnya telah banyak rantai-rantai, belenggu-belengguku, nyala apiku, air panasku, duri-duriku, nanahku, dan azabku. Dan dasarku sangat dalam, serta panas apiku sangat kuat, maka berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku."
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Allah berfirman, "Untukmu semua orang musyrik laki-laki dan perempuan, orang kafir laki-laki dan perempuan, semua yang jahat laki-laki dan perempuan, dan semua orang yang sewenang-wenang yang tidak beriman kepada hari hisab." Neraka menjawab, "Saya rela."
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Nabi SAW melanjutkan perjalanannya hingga sampailah di Baitul Maqdis, lalu turun dan menambatkan kudanya di Sakhrah. Nabi SAW masuk ke dalam masjid, lalu salat bersama para malaikat. Setelah menjalankan salatnya para malaikat bertanya, "Hai Jibril, siapakah orang ini?" Malaikat Jibril menjawab, "Orang ini adalah Muhammad." Mereka bertanya, "Apakah dia telah diperintahkan untuk menghadap kepada-Nya?" Jibril menjawab, "Ya."
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Mereka mengatakan, "Semoga Allah merahmati saudara dan khalifah kita ini. Sebaik-baik saudara dan sebaik-baik khalifah adalah dia, dan sebaik-baik orang yang datang kini telah tiba." Kemudian Nabi SAW bersua dengan arwah para nabi. Para nabi itu sedang mengucapkan puji syukur kepada Tuhan mereka.
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Nabi Ibrahim AS. mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan aku sebagai kekasih-Nya dan telah memberiku kerajaan yang besar. Dia telah menjadikan diriku seorang imam yang dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah, dan Dia telah menyelamatkan diriku dari api - serta menjadikan api itu dingin - dan keselamatan bagiku."
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Kemudian Nabi Musa AS memanjatkan puji syukurnya kepada Tuhannya-seraya mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah mengajak aku berbicara secara langsung, menjadikan kehancuran Fir'aun beserta para pengikutnya dan keselamatan kaum Bani Israil melalui tanganku, serta menjadikan umatku kaum yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan."
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Kemudian Nabi Daud AS memanjatkan puji syukurnya kepada Tuhannya seraya mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku kerajaan yang besar, mengajarkan kepadaku kitab Zabur, melunakkan besi bagiku, menundukkan gunung-gunung hingga dapat bertasbih bersama burung-burung, dan memberikan kepadaku hikmah serta kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan."
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Kemudian Nabi Sulaiman AS memanjatkan puji dan syukurnya kepada Tuhannya seraya mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang telah menundukkan bagiku angin, menundukkah bagiku setan-setan sehingga mereka mau bekerja untukku menurut apa yang aku kehendaki membuat gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku); mengajarkan kepadaku pengertian bahasa burung, Allah memberiku segala sesuatu sebagai karunia-Nya, menundukkan kepadaku bala tentara setan, manusia, dan burung; memberikan keutamaan kepadaku yang melebihi kebanyakan hamba-hamba-Nya yang mukmin, memberikan kepadaku kerajaan yang besar yang tidak diberikan kepada seorang pun sesudahku, dan menjadikan kerajaanku - kerajaan yang baik-tiada hisab padanya."
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Kemudian Nabi Isa AS memanjatkan puji dan syukurnya kepada Tuhannya serta mengatakan, "Segala puji bagi Allah yang menjadikan diriku (tercipta) melalui kalimah (perintah)-Nya dan menjadikan perumpamaanku seperti Adam yang diciptakan-Nya dari tanah liat. Kemudian Allah berfirman kepadanya, 'jadilah kamu!' Maka jadilah ia. Dan mengajarkan kepadaku Al-Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil, serta menjadikan aku dapat membuat dari tanah liat sesuatu berbentuk burung, lalu aku meniupnya, maka jadilah ia seekor burung yang dapat terbang dengan seizin Allah. Allah pun telah menjadikan aku dapat menyembuhkan orang yang buta, berpenyakit supak, dan aku dapat menghidupkan orang-orang yang telah mati dengan seizin Allah. Diatelah mengangkat diriku, menyucikan aku serta melindungi diriku dan ibuku dari godaan setan yang terkutuk, sehingga setan tidak mempunyai jalan untuk menggoda kami."
Perjalanan Isra' Nabi Muhammad SAW
Selanjutnya Nabi Muhammad SAW memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhannya seraya berkata, "Kalian semua telah memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan, maka saya pun akan memanjatkan puji dan syukurku kepada-Nya, Segala puji bagi Allah yang telah mengutusku menjadi rahmat buat semesta alam, buat seluruh umat manusia sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan kepada mereka. Dan Allah telah menurunkan kepadaku kitab Al-Qur'an yang di dalamnya terkandung penjelasan segala sesuatu, menjadikan umatku sebagai umat yang terbaik yang dikeluarkan buat umat manusia, dan menjadikan umatku umat yang adil, menjadikan umatku orang-orang yang pertama (masuk surga) serta yang terakhir (munculnya di dunia); melapangkan
Perjalanan Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW
Riwayat Perjalanan Isra
Ibnul Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid dari Abus Silt, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
Pada malam Isra-ku ketika aku sampai di langit yang ketujuh, aku memandang ke arah atasku: tiba-tiba aku melihat guruh, kilat, dan petir. Dan sampailah saya di tempat suatu kaum yang perut mereka sebesar-besar rumah, di dalamnya terdapat banyak ular yang kelihatan dari bagian luar perut mereka. Maka saya bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang suka memakan riba." Ketika saya turun ke langit yang terdekat, saya memandang ke bagian bawahku; tiba-tiba saya melihat debu beterbangan, asap, dan suara-suara gaduh. Maka saya bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?" Jibril menjawab, "Ini adalah setan-setan yang menutupi pandangan mata anak-anak Adam, sehingga anak-anak Adam tidak memikirkan (kekuasaan Allah yang ada di) kerajaan langit dan bumi. Seandainya tidak ada hal itu, tentulah anak-anak Adam dapat melihat banyak keajaiban."
Riwayat Siti Aisyah
Riwayat Siti Aisyah Ummul Mu'minin RA Imam Baihaqi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafiz, telah menceritakan kepadaku Makram ibnu Ahmad Al-Qadi, telah menceritakan kepadaku Ibrahim ibnu Haisam Al-Bakri, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Kasir As-San'ani, telah menceritakan kepada kami Ma'mar ibnu Rasyid, dari Az-Zuhri, dari Urwah, dari Siti Aisyah yang telah menceritakan bahwa ketika Rasulullah SAW menjalani Isra-nya ke Masjidil Aqsa, pagi harinya beliau SAW menceritakan hal tersebut kepada orang-orang. Maka murtadlah sebagian dari orang yang tadinya mereka beriman dan percaya kepada Nabi SAW Kemudian mereka mengadukan hal tersebut kepada Abu Bakar. Mereka mengatakan kepada Abu Bakar, "Bagaimanakah pendapatmu tentang temanmu ini? Dia menduga bahwa dirinya telah menjalani Isra tadi malam ke Baitul Maqdis." Abu Bakar balik bertanya, "Apakah benar dia mengatakan hal itu?" Mereka menjawab, "Ya." Abu Bakar berkata, "Jika dia memang mengatakannya, sesungguhnya dia benar." Mereka berkata, "Apakah kamu percaya kepadanya bahwa dia menjalani Isra (perjalanan di malam hari) tadi malam ke Baitul Maqdis, lalu kembali sebelum pagi hari?" Abu Bakar menjawab, "Ya." Sesungguhnya saya benar-benar percaya kepadanya lebih jauh dari itu. Saya percaya kepadanya tentang berita langit (wahyu) yang datang kepadanya, baik di pagi hari atau di petang hari." Sejak saat itu sahabat Abu Bakar RA dijuluki dengan gelar "As-Siddiq."
Riwayat Ummu Hani'
Riwayat Ummu Hani' binti Abu Talib. Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Muhammad As-Sa-ib Al-Ka!bi dari Abu Saleh Badzan dari Ummu Hani' binti Abu Talib tentang perjalanan Isra Rasulullah SAW, bahwa Ummu Hani' pernah mengatakan, "Tiadalah Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra-nya melainkan ketika berada di dalam rumahku. Malam itu beliau berada di dalam rumahku. Sesudah mengerjakan salat Isya, beliau tidur, dan kamipun tidur pula. Sebelum waktu subuh tiba Rasulullah SAW membangunkan kami, dan setelah kami salat Subuh bersamanya ia bersabda, 'Hai Ummu Hani', sesungguhnya saya telah mengerjakan salat Isya bersama kalian di lembah (tempat tinggal kalian) ini. Kemudian saya datang ke Baitul Maqdis dan melakukan salat di dalamnya, setelah itu saya salat Subuh bersama kalian sekarang ini seperti apa yang kamu lihat'." Akan tetapi, dalam sanad hadis ini terdapat Al-Kalbi, dia orangnya berpredikan matruk (tidak terpakai hadisnya) sama sekali. Tetapi Abu Ya'la di dalam kitab musnadnya telah meriwayatkan dari Muhammad ibnu Ismail Al-Ansari, dari Damrah ibnu Rabi'ah, dari Yahya ibnu Abu Amr Asy-Syaibani, dari Abu Saleh, dari Ummu Hani' sebuah hadis yang lebih panjang daripada teks hadis di atas.
Riwayat Mi'raj
Kemudian didatangkan Mi'raj, sebuah alat seperti tangga bentuknya, memiliki undagan-undagan untuk naik ke atas. Lalu Nabi SAW menaikinya menuju ke langit yang terdekat, kemudian ke langit-langit selanjutnya sampai ke langit yang ketujuh.
Di setiap lapisan langit Nabi SAW disambut oleh penghuni langit yang selanjutnya. Nabi SAW mengucapkan salam kepada nabi-nabi yang ada di setiap langit sesuai dengan kedudukan dan tingkatan mereka. Sehingga bersualah Nabi SAW dengan Musa yang pernah diajak bicara langsung oleh Allah di langit yang keenam, dan beliau bersua dengan Nabi Ibrahim di langit yang ketujuh.
Kemudian Nabi SAW melampaui kedudukan kedua nabi itu dan nabi nabi lain yang sebelumnya, hingga sampailah Nabi SAW pada suatu tingkatan yang dari tempat itu beliau dapat mendengar geretan kalam, yakni kalam yang mencatat takdir terhadap segala sesuatu yang telah ada.
Nabi SAW melihat Sidratul Muntaha, lalu Sidratul Muntaha diliputi oleh perintah Allah SWT, yaitu oleh sejumlah yang sangat besar dari kupu-kupu emas dan berbagai macam warna-warni, para malaikat meliputinya pula. Di tempat itulah Nabi SAW melihat bentuk dan rupa asli Malaikat Jibril yang memiliki enam ratus sayap. Dan Nabi SAW melihat rafraf (bantal-bantal) hijau yang menutupi semua cakrawala pandangan.
Nabi SAW melihat Baitul Ma'mur dan Nabi Ibrahim Al-Khalil pembangun Ka'bah bumi sedang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma'mur, karena Baitul Ma'mur adalah Ka'bah penghuni langit. Setiap hari Baitul Ma'mur dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat yang melakukan ibadah di dalamnya, kemudian mereka tidak kembali lagi kepadanya sampai hari kiamat.
Nabi SAW melihat surga dan neraka serta difardukan kepada Nabi Saw, salat lima puluh kali di tempat itu, kemudian diberikan keringanan oleh Allah SWT sampai menjadi lima kali salat (salat lima waktu) sebagai rahmat dari Allah dan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dalam hal ini terkandung perhatian yang besar terhadap kemuliaan dan kebesaran salat.
Lalu Nabi SAW turun ke Baitul Maqdis dengan ditemani oleh semua nabi, kemudian Nabi SAW salat bersama mereka di dalam Baitul Maqdis setelah waktu salat tiba. Barangkali salat yang dimaksud salat Subuh hari itu.
Kebenaran Perjalanan Isra
Menurut kebanyakan ulama, Nabi SAW menjalani Isra-nya dengan tubuh dan rohnya lagi dalam keadaan terjaga, bukan sedang dalam keadaan tidur (mimpi). Bukti yang menunjukkan bahwa Nabi SAW menjalani Isra-nya dengan badan dan rohnya adalah firman Allah SWT yang menyebutkan: Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah kami berkahi sekelilingnya. (Al-Isra, [17:1])
Perbedaan Pendapat
Tetapi ada dua pendapat mengenai masalah ini. Tetapi menurut kebanyakan ulama, Nabi SAW menjalani Isra-nya dengan tubuh dan rohnya lagi dalam keadaan terjaga, bukan sedang dalam keadaan tidur (mimpi). Tetapi mereka tidak menyangkal bila Rasulullah SAW telah melihat hal tersebut dalam mimpinya, kemudian sesudah itu beliau SAW melihatnya langsung dalam keadaan jaga.
Dalil-Dalil
Abu Ja'far ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya menyanggah dan menyangkal serta mengecam pendapat tersebut, bahwa pendapat seperti itu bertentangan dengan makna lahiriah Al-Qur'an. Lalu Ibnu Jarir mengemukakan dalil-dalil dalam sanggahannya yang antara lain ialah dalil-dalil yang telah di sebutkan di atas.
Riwayat Perjalanan Isra
Al-Hafiz Abu Na'im Al-Asbahani di dalam kitab Dalailun Nubuwwah telah meriwayatkan melalui jalur Muhammad ibnu Umar Al-Waqidi, bahwa telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Abur Rijal, dari Umar ibnu Abdullah, dari Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW mengutus Dahiyyah ibnu Khalifah kepada Kaisar. Lalu disebutkan tentang kedatangan Dahiyyah kepada Kaisar, yang di dalam teksnya terkandung bukti yang nyata tentang luasnya wawasan berfikir Kaisar Heraklius.
Riwayat Mi'raj
Kemudian Abu Sufyan berupaya semaksimal mungkin untuk menghina Nabi SAW dan menganggap kecil perkaranya di hadapan Kaisar. Dalam konteks ini disebutkan kata-kata Abu Sufyan yang mengatakan, "Demi Allah, tiada sesuatu pun yang menghalang-halangi diriku untuk mengata-ngatai Muhammad dengan kata-kata yang menjatuhkannya di hadapan Kaisar kecuali karena aku tidak suka melakukan suatu kedustaan di hadapan Kaisar, yang akibatnya justru akan berbalik terhadap diriku dan Kaisar tidak percaya lagi dengan kata-kata yang aku ucapkan padanya."
Riwayat Perjalanan Isra
Ibnul Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hajjaj ibnu Minhal, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid dari Abus Silt, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
Pada malam Isra-ku ketika aku sampai di langit yang ketujuh, aku memandang ke arah atasku: tiba-tiba aku melihat guruh, kilat, dan petir. Dan sampailah saya di tempat suatu kaum yang perut mereka sebesar-besar rumah, di dalamnya terdapat banyak ular yang kelihatan dari bagian luar perut mereka. Maka saya bertanya, "Hai Jibril, siapakah mereka itu?" Jibril menjawab, "Mereka adalah orang-orang yang suka memakan riba."
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.