Makna Ayat
Allah SWT menyebutkan bahwa barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah Allah dan mengikuti kebenaran serta menelusuri jejak Nabi SAW (yakni sunnahnya), maka sesungguhnya akibat yang baik dari perbuatannya yang terpuji itu hanyalah untuk dirinya sendiri.
{وَمَنْ ضَلَّ}
{#dan barang siapa yang sesat.#} (Al-Isra, [17:15])
Yakni sesat dari kebenaran dan menyimpang dari jalan yang lurus. Maka dia hanyalah menganiaya dirinya sendiri, dan sesungguhnya akibat buruk dari perbuatannya itu akan menimpa dirinya sendiri.
Dalam firman selanjutnya disebutkan:
{وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِّزْرَ اُخْرٰى}
{#Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.#} (Al-Isra, [17:15])
Maksudnya, tiada seorang pun yang memikul dosa orang lain; dan bagi orang yang berdosa, tiada lain akibatnya akan menimpa dirinya sendiri. Ayat ini semisal dengan apa yang disebutkan oleh Allah SWT dalam ayat lain melalui firman-Nya:
{وَاِنْ تَدْعُ مُثْقَلَةٌ اِلٰى حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَّلَوْ كَانَ ذَا قُرْبٰى}
{#Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikit pun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum kerabatnya.#} (Fathir, [35:18])
Tidak ada pertentangan antara makna ayat ini dengan apa yang disebutkan oleh firman-Nya:
{وَلَيَحْمِلُنَّ اَثْقَالَهُمْ وَاَثْقَالًا مَّعَ اَثْقَالِهِمْ}
{#Dan sesungguhnya mereka akan memikul beban (dosa) mereka dan beban-beban (dosa orang lain) di samping beban-beban mereka sendiri.#} (Al-'Ankabut, [29:13])
{وَمِنْ اَوْزَارِ الَّذِيْنَ يُضِلُّوْنَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ}
{#dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan).#} (An-Nahl, [16:25])
Karena sesungguhnya orang-orang yang menyeru orang lain kepada kesesatan akan memperoleh dosanya sendiri dan juga dosa orang lain yang mereka sesatkan, tanpa mengurangi dosa mereka yang disesatkannya. Tetapi para penyeru itu bukanlah sebagai penanggung dosa mereka yang disesatkannya. Hal ini merupakan keadilan dan rahmat dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Pengertian ini terkandung pula di dalam firman selanjutnya, yaitu:
{وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا}
{#Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.#} (Al-Isra, [17:15])
Makna ayat ini menggambarkan tentang keadilan Allah SWT, bahwa Dia tidak akan mengazab seorang pun melainkan setelah tegaknya hujah terhadap dirinya melalui rasul yang diutus oleh Allah kepadanya. Di dalam ayat yang lain disebutkan oleh firman-Nya:
{كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌ قَالُوْا بَلٰى قَدْ جَاۤءَنَا نَذِيْرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ كَبِيْرٍ}
{#Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, "Apakah belum pernah datang kepada kalian (di dunia) seorang pemberi peringatan?" Mereka menjawab, "Benar ada. Sesungguhnya lelah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakannya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun, kalian tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar'.#} (Al-Mulk, [67:8]-[67:9])
Disebutkan pula dalam ayat lainnya melalui firman Allah SWT:
{وَسِيْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى جَهَنَّمَ زُمَرًا حَتّٰى اِذَا جَاۤءُوْهَا فُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَتْلُوْنَ عَلَيْكُمْ اٰيٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا قَالُوْا بَلٰى وَلٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ}
{#Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan, sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya, dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, "Apakah belum pernah datang kepada kalian rasul-rasul di antara kalian yang membacakan ayat-ayat Tuhan kalian dan memperingatkan kepada kalian akan pertemuan dengan hari ini." Mereka menjawab, "Benar, telah datang." Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.#} (Az-Zumar, [39:71])
{وَهُمْ يَصْطَرِخُوْنَ فِيْهَا رَبَّنَآ اَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِيْ كُنَّا نَعْمَلُ اَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَّا يَتَذَكَّرُ فِيْهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاۤءَكُمُ النَّذِيْرُ فَذُوْقُوْا فَمَا لِلظّٰلِمِيْنَ مِنْ نَّصِيْرٍ}
{#Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan." Dan apakah Kami tidak memanjangkan umur kalian dengan masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.#} (Fathir, [35:37])
Masih banyak ayat lain yang menunjukkan bahwa Allah tidak memasukkan seorang manusia pun ke dalam neraka kecuali setelah Allah mengutus rasul-Nya kepada mereka. Berangkat dari pengertian ini ada sejumlah ulama yang membahas lafaz yang diutarakan secara mu'jamah dalam kitab Sahih Bukhari pada pembahasan tafsir firman-Nya:
{اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ}
{#Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.#} (Al-A'raf, [7:56])
Hadis Pertama
Hadis pertama, dari Al-Aswad ibnu Sari'.
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Qatadah, dari Al-Ahnaf ibnu Qais, dari Al-Aswad ibnu Sari', bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
{اَرْبَعَةٌ يَحْتَجُّوْنَ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ: رَجُلٌ اَصَمُّ لَا يَسْمَعُ شَيْئًا وَرَجُلٌ اَحْمَقُ وَرَجُلٌ هَرِمٌ وَرَجُلٌ مَاتَ فِيْ فَتْرَةٍ. فَاَمَّا الْاَصَمُّ فَيَقُوْلُ رَبِّ قَدْ جَاءَ الْاِسْلَامُ وَمَا اَسْمَعُ شَيْئًا. وَاَمَّا الْاَحْمَقُ فَيَقُوْلُ رَبِّ قَدْ جَاءَ الْاِسْلَامُ وَالصِّبْيَانُ يَحْذِفُوْنِيْ بِالْبَعْرِ. وَاَمَّا الهَرَمُ فَيَقُوْلُ رَبِّ لَقَدْ جَاءَ الْاِسْلَامُ وَمَا اَعْقِلُ شَيْئًا وَاَمَّا الَّذِيْ مَاتَ فِى الْفَتْرَةِ فَيَقُوْلُ رَبِّ مَا اَتَانِيْ لَكَ رَسُوْلٌ. فَيَأْخُذُ مَوَاثِيْقَهُمْ لَيُطِيْعُنَّهٗ فَيُرْسِلُ اِلَيْهِمْ اَنِ ادْخُلُوا النَّارَ فَوَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهٖ لَوْ دَخَلُوْهَا لَكَانَتْ عَلَيْهِمْ بَرْدًا وَسَلَامًا}
{#Empat orang akan mengajukan alasannya kelak dihari kiamat, yaitu seorang lelaki tuli yang tidak dapat mendengar suara apa pun, seorang lelaki dungu, seorang lelaki pikun, dan seorang lelaki yang mati di masa fatrah. Orang yang tuli mengajukan alasannya, "Wahai Tuhanku, Islam telah datang, tetapi saya tidak dapat mendengar apa pun." Orang yang dungu beralasan, "Wahai Tuhanku, Islam telah datang, sedangkan anak-anak kecil melempariku dengan kotoran ternak (yang kering)." Orang yang pikun beralasan, "Wahai Tuhanku, sesungguhnya Islam telah datang, tetapi saya tidak ingat akan sesuatu pun." Orang yang meninggal dalam masa fatrah beralasan, "Wahai Tuhanku, tiada seorang pun dari rasul-Mu yang datang kepadaku." Maka Allah mengambil janji dari mereka, bahwasanya mereka harus benar-benar taat kepada-Nya. Setelah itu diperintahkan agar mereka dimasukkan ke dalam neraka. Maka demi Tuhan yang jiwa Muhammad ini berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, seandainya mereka memasukinya, tentulah neraka itu menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagi mereka.#}
Hadis Kedua
Hadis kedua, diriwayatkan melalui Anas ibnu Malik.
Abu Daud At-Tayalisi mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ar-Rabi', dari Yazid (yakni Ibnu Aban) yang menceritakan, kami pernah bertanya kepada Artas, "Wahai Abu Hamzah (julukan Anas), bagaimanakah pendapatmu tentang anak orang-orang musyrik?" maka Anas ibnu Malik menjawab bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda sehubungan dengan masalah mereka:
{لَمْ يَكُنْ لَهُمْ سَيِّئَاتٌ فَيُعَذَّبُوْا بِهَا فَيَكُوْنُوْا مِنْ اَهْلِ النَّارِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ حَسَنَاتٌ فَيُجَازُوْا بِهَا فَيَكُوْنُوْا مَنْ مُلُوْكِ اَهْلِ الْجَنَّةِ هُمْ مَنْ خَدَمِ اَهْلِ الْجَنَّةِ}
{#Mereka tidak mempunyai dosa-dosa yang menyebabkan mereka diazab karenanya, lalu mereka menjadi ahli neraka. Dan mereka tidak mempunyai amal-amal baik yang menyebabkan mereka beroleh pahala karenanya, lalu mereka menjadi ahli surga.#}
Hadis Ketiga
Hadis ketiga, diriwayatkan melalui Anas pula.
Al-Hafiz Abu Ya'la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Lais, dari Abul Waris, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda,
{يُؤْتٰى بِاَرْبَعَةٍ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ: بِالْمَوْلُوْدِ وَالْمَعْتُوْهِ وَمَنْ مَاتَ فِى الْفَتْرَة وَالشَّيْخِ الْفَانِى الْهَرِمِ كُلُّهُمْ يَتَكَلَّمُ بِحُجَّتِهٖ فَيَقُوْلُ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالٰى لِعُنُقٍ مِنَ النَّارِ. ابْرُزْ. وَيَقُوْلُ لَهُمْ اِنِّيْ كُنْتُ اَبْعَثُ اِلٰى عِبَادِيْ رُسُلًا مِنْ اَنْفُسِهِمْ وَاِنِّيْ رَسُوْلُ نَفْسِيْ اِلَيْكُمُ ادْخُلُوْا هٰذِهِ. قَالَ: فَيَقُوْلُ مَنْ كُتِبَ عَلَيْهِ الشَّقَاءُ: يَا رَبِّ اَنّٰى نَدْخُلُهَا وَمِنْهَا كُنَّا نَفِرُّ. قَالَ وَمَنْ كُتِبَتْ عَلَيْهِ السَّعَادَةُ يَمْضِيْ فَيَقْتَحِمُ فِيْهَا مُسْرِعًا قَالَ فَيَقُوْلُ اللّٰهُ تَعٰلٰى اَنْتُمْ لِرُسُلِيْ اَشَدُّ تَكْذِيْبًا وَمَعْصِيَةً فَيُدْخِلُ هَؤُلَاءِ الْجَنَّةِ وَهَؤُلَاءِ النَّارِ}
{#"Dihadapkan empat macam orang kelak di hari kiamat. Yaitu anak yang baru lahir (lalu mati), orang yang dungu, dan orang yang mati dalam masa fatrah serta orang yang pikun. Masing-masing dari mereka mengemukakan alasan membela dirinya. Lalu Allah berfirman kepada salah satu leher neraka, 'Keluarlah kamu.' Dan Allah berfirman kepada mereka, 'Sesungguhnya dahulu Aku telah mengutus rasul-rasul-Ku kepada hamba-hamba-Ku dari kalangan mereka sendiri, dan sesungguhnya Aku sekarang adalah utusan diri-Ku sendiri kepada kalian. Masuklah kalian ke dalam neraka ini!'." Rasul SAW melanjutkan kisahnya, bahwa lalu berkatalah orang yang ditakdirkan celaka, "Wahai Tuhanku, bagaimanakah kami masuk ke dalam neraka, sedangkan kami menghindar darinya?" Sedangkan orang-orang yang telah ditakdirkan berbahagia berjalan terus memenuhi perintah-Nya dan masuk dengan cepat ke dalam neraka. Lalu Allah SWT berfirman, "Kalian lebih mendustakan dan lebih durhaka terhadap utusan-utusan-Ku." Maka mereka yang berbahagia masuk ke dalam surga, dan mereka yang celaka masuk neraka.#}
Hadis Keempat
Hadis ke
Makna Kata
{اِنْ شِئْتِ اَسْمَعْتُكِ تَضَاغِيَهُمْ فِى النَّارِ}
{#Jika engkau suka, aku akan memperdengarkan suara tangisan mereka sedang berada di dalam neraka kepadamu.#}
Abdullah ibnu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Usman ibnu Abu Syaibah, dari Muhammad ibnu Fudail ibnu Gazwan, dari Muhammad ibnu Usman, dari Zazan, dari Ali RA yang menceritakan bahwa Siti Khadijah pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang anaknya yang mati di masa Jahiliah. Maka Nabi SAW bersabda bahwa keduanya berada di dalam neraka. Ali RA melanjutkan kisahnya, bahwa setelah kelihatan muka Khadijah murung karena tidak suka, maka Rasulullah SAW bersabda kepadanya, "Seandainya engkau aku perlihatkan kedudukan keduanya (bila telah besar), tentulah kamu akan membenci keduanya." Siti Khadijah kembali bertanya, "Maka bagaimanakah nasib anakku yang lahir dari kamu?" Nabi SAW menjawab: Sesungguhnya orang-orang mukmin dan anak-anak mereka berada di dalam surga, dan sesungguhnya orang-orang musyrik dan anak-anak mereka berada di dalam neraka. Kemudian Rasulullah SAW membacakan firman-Nya:
{وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِيْمَانٍ اَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ}
{#Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka.#} (Ath-Thur, [52:21])
Hadis ini garib, karena sesungguhnya di dalam sanadnya terdapat Muhammad ibnu Usman, sedangkan dia orangnya tidak dikenal; dan gurunya (yaitu Zazan) sesungguhnya tidak menjumpai masa Ali RA.
Hadis Lain
Abu Daud telah meriwayatkan melalui hadis Ibnu Abu Zaidah, dari ayahnya, dari Asy-Sya'bi yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
{الْوَائِدَةُ وَالْمَوْءُوْدَةُ فِى النَّارِ}
{#"Wanita yang menguburkan anak perempuannya hidup-hidup dan anaknya yang dikuburnya hidup-hidup, keduanya berada di dalam neraka."#}
Kemudian Asy-Sya'bi mengatakan, "Hadis ini telah diriwayatkan kepadaku oleh Alqamah, dari Abu Wa'il, dari Ibnu Mas'ud."
Hadis ini telah diriwayatkan pula oleh Jama'ah, dari Daud ibnu Abu Hindun, dari Asy-Sya'bi, dari Alqamah, dari Salamah ibnu Qais Al-Asyja'i yang mengatakan, "Aku dan saudaraku datang kepada Nabi SAW, lalu kami bertanya, "Sesungguhnya ibu kami telah meninggal dunia dimasa Jahiliah, padahal dahulu dia adalah seorang yang suka menghormati tamu, suka bersilaturahmi, tetapi ia pernah mengubur hidup-hidup saudara perempuannya yang belum balig di masa Jahiliah." Maka Rasulullah SAW bersabda:
{الْوَائِدَةُ وَالْمَوْءُوْدَةُ فِى النَّارِ اِلَّا اَنْ تُدْرِكَ الْوَائِدَةُ الْاِسْلَامَ فَتُسْلِمَ}
{#"Wanita yang mengubur hidup-hidup anak perempuan dan anak perempuan yang dikuburnya hidup-hidup (keduanya) berada di dalam neraka, terkecuali bila si wanita yang mengubur hidup-hidup anak perempuannya itu menjumpai masa Islam, lalu masuk Islam."#}
Sanad hadis ini hasan.
Pendapat Terakhir
Pendapat terakhir mengatakan bahwa segala sesuatunya diserahkan kepada Allah. Dengan kata lain, mereka bersikap abstain, dan mereka melandasi pendapatnya dengan hadis Nabi SAW yang mengatakan: "Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan."
Hal ini di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui hadis Ja'far ibnu Abu Iyas, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai anak-anak kaum musyrik. Beliau SAW menjawab:
{اللّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا كَانُوْا عَامِلِيْنَ}
{#"Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan."#}
Hal yang sama disebutkan pula dalam kitab Sahihain melalui hadis Az-Zuhri, dari Ata ibnu Yazid, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW Bahwa Nabi SAW pernah ditanya mengenai anak-anak kaum musyrik, maka beliau SAW menjawab: Allah lebih mengetahui apa yang bakal mereka kerjakan.
Perbedaan Pendapat
Akan tetapi, di antara ulama ada yang berpendapat bahwa mereka dijadikan oleh Allah untuk menghuni Al-A'raf (tembok-tembok yang tinggi yang membatasi antara surga dan neraka). Pendapat ini merujuk kepada pendapat yang mengatakan bahwa mereka termasuk ahli surga, karena sesungguhnya Al-A'raf bukanlah tempat untuk menetap; dan tempat kembali para penduduknya tiada lain adalah surga, seperti apa yang telah dijelaskan di dalam tafsir surat Al-A'raf.
Perlu Diketahui
Perlu diketahui bahwa perbedaan pendapat ini menyangkut anak-anak kaum musyrik. Adapun anak-anak orang-orang mukmin, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan mereka mengenainya, seperti yang diceritakan oleh Abu Ya'la ibnul Farra Al-Hambali, dari Imam Ahmad yang mengatakan bahwa tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama tentang anak-anak kaum muslim, semua bersepakat bahwa mereka termasuk ahli surga. Pendapat inilah yang terkenal di kalangan orang-orang banyak, dan pendapat ini pulalah yang dapat kita buktikan kebenarannya.
Pendapat Lain
Adapun mengenai apa yang disebutkan oleh Syekh Abu Umar ibnu Abdul Bar dari sebagian ulama, bahwa mereka bersikap abstain mengenai masalah ini dan menyerahkan nasib mereka kepada kehendak Allah SWT, Abu Umar mengatakan bahwa pendapat ini dikatakan oleh sejumlah ulama dari kalangan ahli fiqih dan ahli hadis, antara lain Hammad ibnu Zaid, Hammad ibnu Salamah, Ibnul Mubarak, Ishak ibnu Rahawaih, dan lain-lainnya. Mereka mengatakan bahwa pendapat ini mirip dengan apa yang digambarkan oleh Imam Malik di dalam kitab Muwatta '-nya dalam Abwabul Qadar, yakni hadis-hadis yang diketengahkannya dalam hal ini.
Pendapat ini pulalah yang dijadikan pegangan oleh murid-muridnya, padahal tiada suatu nas pun yang bersumber dari Imam Malik mengenainya. Akan tetapi, kalangan ulama terkemudian dari kalangan pengikutnya berpendapat bahwa anak-anak dari kaum muslim berada di dalam surga, sedangkan anak-anak kaum musyrik khususnya berada dalam kehendak Allah. Demikianlah menurut Abu Umar, dan pendapat ini dinilai garib sekali.
Pendapat Lain
Abu Abdullah Al-Qurtubi mengatakan hal yang semisal dengan pendapat di atas dalam kitabnya At-Tazkirah.
Hadis Lain
Dalam masalah ini mereka menyebutkan pula hadis Aisyah binti Talhah, dari Aisyah Ummul Mu'minin yang menceritakan bahwa Nabi SAW diundang untuk mengurusi jenazah seorang anak dari kalangan Ansar. Maka saya (Aisyah) berkata, "Wahai Rasulullah, beruntunglah anak ini, dia menjadi seekor burung pipit surga, tidak pernah melakukan suatu dosa dan tidak pula menjumpainya." Maka Nabi SAW bersabda:
{اَوَ غَيْرَ ذٰلِكَ يَا عَائِشَةُ اِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ الْجَنَّةَ وَخَلَقَ لَهَا اَهْلًا وَهُمْ فِيْ اَصْلَابِ اٰبَائِهِمْ وَخَلَقَ النَّارَ وَخَلَقَ لَهَا اَهْلًا وَهُمْ فِيْ اَصْلَابِ اٰبَائِهِمْ}
{#"Hai Aisyah, tidaklah demikian keadaannya. Sesungguhnya Allah menciptakan surga dan menciptakan pula penduduknya, sedangkan mereka masih berada di dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka. Dan Allah menciptakan neraka serta menciptakan pula penduduknya, sedangkan mereka masih berada di dalam tulang sulbi bapak-bapak mereka."#}
Hadis riwayat Muslim, Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan Ibnu Majah.
Perlu Diketahui
Mengingat pembahasan dalam masalah ini memerlukan dalil-dalil yang sahih lagi baik - sedangkan orang-orang banyak yang mengutarakan pendapatnya mengenai masalah ini, padahal mereka tidak mempunyai pengetahuan dari pentasyri' mengenainya-maka sejumlah ulama memakruhkan pembahasan masalah ini.
Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Al-Qasim ibnu Muhammad ibnu Abu Bakar As-Siddiq, Muhammad ibnul Hanafiyah, dan yang lainnya.
Hadis Lain
Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya telah mengetengahkan sebuah hadis dari Jarir ibnu Hazim; ia pernah mendengar Abu Raja Al-Utaridi mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas RA berkhotbah di atas mimbarnya seraya mengeluarkan hadis berikut, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
{لَا يَزَالُ اَمْرُ هٰذِهِ الْاُمَّةِ مُوَاتِيًا -اَوْ مُقَارِبًا- مَا لَمْ يَتَكَلَّمُوْا فِى الْوِلْدَانِ وَالْقَدَرِ}
{#"Perkara umat ini tetap dalam keadaan lancar atau mendekati (kebenaran) selama mereka tidak membicarakan masalah wildan dan takdir."#}
Ibnu Hibban mengatakan, yang dimaksud dengan wildan ialah anak-anak kaum musyrik. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Bakar Al-Bazzar melalui jalur Jarir ibnu Hazm dengan sanad yang sama, kemudian ia mengatakan bahwa hadis ini telah diriwayatkan pula oleh jama'ah melalui Abu Raja, dari Ibnu Abbas secara mauquf.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.