Makna Surah Al-Kahfi
Makna Kata
Surah Al-Kahfi adalah salah satu surah dalam Al-Qur'an yang memiliki makna yang sangat penting. Kata "Al-Kahfi" sendiri berarti "gua" atau "tempat bersembunyi".
Makna Ayat
Surah Al-Kahfi memiliki 2 nama, yaitu surah Al-Kahfi dan surah Ashabul Kahfi. Surah ini adalah makkiyyah yang diturunkan ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam belum berhijrah ke kota Madinah.
Pelajaran dari Ayat
Diantara surah-surah Al-Qur'an ada yang turun langsung sekaligus, seperti surah Al-'Ashr, Al-Fatihah, dan surah Al-Kahfi. Adapun sebagian surah yang lain turun secara bertahap.
Kisah Para Pemuda
Keutamaan surah ini sangat banyak, di antaranya hadits An-Nawas bin Sam'an. Hadits ini menjelaskan tentang fitnah Dajjal yang akan muncul di akhir zaman.
Kesaktian Dajjal
Hadits ini juga menjelaskan tentang kesaktian Dajjal yang akan muncul di akhir zaman. Dajjal akan memiliki kekuatan yang sangat besar dan dapat membuat orang-orang percaya padanya.
Lindungan dari Dajjal
Oleh karenanya, sebagian ulama menyebutkan alasan kita dianjurkan setiap shalat untuk berlindung dari Dajjal sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah.
Hafalan Sepuluh Ayat
Barang siapa hafal sepuluh ayat pertama dari surah Al-Kahfi maka ia akan dijaga/dilindungi dari Dajjal.
Kesimpulan
Dalam kesimpulan, surah Al-Kahfi memiliki makna yang sangat penting dan memiliki keutamaan yang sangat banyak. Surah ini juga memiliki kisah para pemuda yang bersembunyi di gua untuk melindungi diri dari Dajjal.
Hadits An-Nawas bin Sam'an
Hadits ini menjelaskan tentang fitnah Dajjal yang akan muncul di akhir zaman. Dajjal akan memiliki kekuatan yang sangat besar dan dapat membuat orang-orang percaya padanya.
Kesaktian Dajjal
Dajjal akan memiliki kekuatan yang sangat besar dan dapat membuat orang-orang percaya padanya. Dajjal akan dapat membuat langit menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tumbuhan.
Lindungan dari Dajjal
Oleh karenanya, sebagian ulama menyebutkan alasan kita dianjurkan setiap shalat untuk berlindung dari Dajjal sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah.
Hafalan Sepuluh Ayat
Barang siapa hafal sepuluh ayat pertama dari surah Al-Kahfi maka ia akan dijaga/dilindungi dari Dajjal.
Hadits Abu Hurairah
Hadits ini menjelaskan tentang cara berlindung dari Dajjal. Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur. Dan dari adzab neraka, dan dari fitnah kehidupan dan sesudah mati, dan dari fitnah Al-Masih Dajjal."
Kesimpulan
Dalam kesimpulan, surah Al-Kahfi memiliki makna yang sangat penting dan memiliki keutamaan yang sangat banyak. Surah ini juga memiliki kisah para pemuda yang bersembunyi di gua untuk melindungi diri dari Dajjal.
Hukum Membaca Surah Al-Kahfi Di Malam Jum’at
Secara umum ada hadits yang menjelaskan untuk membaca beberapa surah di malam Jum’at seperti surah Yasin, Ali Imran, dan surah Al-Kahfi namun seluruh haditsnya lemah kecuali hadits tentang membaca surah Al-Kahfi di malam jum’at terdapat sebuah hadits dengan sanad yang shohih yaitu yang diriwayatkan oleh Abu Sa’id Al-Khudry radhiyallahu ‘anhu,
Hadits Membaca Surah Al-Kahfi Di Malam Jum’at
«مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ»
“Barang siapa yang membaca surah Al-Kahfi di malam Jum’at, maka Allah akan memberikan dia cahaya antara dirinya dengan Ka’bah.” (8 )
Dalam riwayat yang lain
«مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ»
“Barang siapa yang membaca surah Al-Kahfi di hari Jum’at, maka Allah akan memberikan dia cahaya antara dua Jum’at .” (9 )
Dan maksud dari cahaya di sini adalah Allah subhanahu wa ta'ala memberikan dia hidayah agar dijauhkan dari kemungkaran dan diberikan cahaya petunjuk kepada kebaikan( 10), dan Allah subhanahu wa ta'ala menjaga dirinya dari satu Jum’at ke Jum’at yang lain.
Permasalahan Hadits Membaca Surah Al-Kahfi Di Malam Jum’at
Hadits ini sanadnya shohih dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu hanya saja ada dua permasalahan dalam hadits ini:
Pertama: apakah hadits ini merupakan perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang diistilahkan denga hadits yang Marfu’? atau hadits ini hanya perkataan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu yang beliau adalah seorang sahabat sehingga perkataannya dalam istilah ulama ahli hadits disebut dengan hadits mauquf?. Jadi intinya para ulama berbeda pendapat apakah hadits ini marfu’ atau mauquf? Mayoritas ulama ahli hadits seperti An-Nasa’I, At-Thabrani, ad-Daruquthni, dan al-Baihaqy mengatakan bahwa ini adalah perkataan Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Dan sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa hadits ini adalah perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam seperti pendapat Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah dan Al-Albani rahimahullah.
Tujuan Surah Al-Kahfi
Tujuan dari surah ini maka kalau kita lihat dari isi surah ini pada awal surat menyebutkan tentang akidah, jadi Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan surah ini untuk memperbaiki akidah orang-orang yang ada pada zaman Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di antaranya orang-orang kafir Quraisy yang mana mereka memiliki keyakinan yang salah tentang Allah subhanahu wa ta'ala yaitu perkataan mereka bahwa Allah subhanahu wa ta'ala memiliki putri-putri yaitu para malaikat, mereka mengatakan الْمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللَّهِ “malaikat adalah putri-putri Allah”, oleh karenanya Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
{وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا}
“Dan (Allah menurunkan Al-Quran) untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak.” (QS. AL-Kahfi: 4)
Fitnah Teman
Dalam surah ini juga Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan tentang fitnah teman-teman, Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
“Dan bersabarlah kamu {wahai Muhammad) bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. AL-Kahfi: 28)
Fitnah Harta
Kemudian dalam surah ini juga Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan tentang fitnah harta, yaitu tentang kisah dua orang pemilik kebun dimana yang satu diberi kebun yang mewah yang akhirnya kemewahan harta yang dia miliki membuat dia lupa tentang Allah subhanahu wa ta'ala dan mengingkari Allah subhanahu wa ta'ala karena dia terfitnah dengan dunia.
Fitnah Ilmu
Kemudian juga dalam ayat ini Allah sebutkan lagi fitnah tentang ilmu bahwasanya ilmu juga ujian bagi seseorang, dan dalam surah ini disebutkan tentang fitnah ilmu dengan kisah Nabi Musa dan Khodhir, dan kisahnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ubay bin Ka’ab,
Kisah Nabi Musa Dan Khodhir
بَيْنَمَا مُوسَى فِي مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ: هَلْ تَعْلَمُ أَحَدًا أَعْلَمَ مِنْكَ؟ " قَالَ مُوسَى: لاَ، فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى مُوسَى: بَلَى، عَبْدُنَا خَضِرٌ، فَسَأَلَ مُوسَى السَّبِيلَ إِلَيْهِ، فَجَعَلَ اللَّهُ لَهُ الحُوتَ آيَةً، وَقِيلَ لَهُ: إِذَا فَقَدْتَ الحُوتَ فَارْجِعْ، فَإِنَّكَ سَتَلْقَاهُ، وَكَانَ يَتَّبِعُ أَثَرَ الحُوتِ فِي البَحْرِ، فَقَالَ لِمُوسَى فَتَاهُ: (أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهِ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ)، قَالَ: (ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِي فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا)، فَوَجَدَا خَضِرًا، فَكَانَ مِنْ شَأْنِهِمَا الَّذِي قَصَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتَابِهِ "
"Ketika Musa di tengah pembesar Bani Israil, datang seseorang yang bertanya: apakah kamu mengetahui ada orang yang lebih berilmu darimu?" Berkata Musa 'Alaihis salam: "Tidak". Maka Allah Ta'ala mewahyukan kepada Musa 'Alaihis salam: "Ada, yaitu hamba Kami bernama Khodhir." Maka Musa 'Alaihis Salam meminta jalan untuk bertemu dengannya. Allah menjadikan ikan bagi Musa sebagai tanda, dan dikatakan kepadanya; "jika kamu kehilangan ikan tersebut kembalilah, nanti kamu akan berjumpa dengannya". Maka Musa 'Alaihis Salam mengikuti jejak ikan di lautan. Berkatalah murid Musa 'Alaihis salam: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan". Maka Musa 'Alaihis Salam berkata:."Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Maka akhirnya keduanya bertemu dengan Hidlir 'Alaihis salam." Begitulah kisah keduanya sebagaimana Allah ceritakan dalam Kitab-Nya. ( 12)
Kisah Raja Dzul Qornain
Kemudian di akhir surah Al-Kahfi Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan tentang kisah seorang raja di antara raja-raja dunia yang sangat hebat yaitu Dzul Qornain yang dia diuji dengan kekayaan, jabatan, dan kekuasaan akan tetapi dia lulus dari ujian tersebut dan akhirnya dia menjadi raja yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta'ala, yang kekuasaan Dzul Qornain dari ujung barat dunia hingga ujung timur dunia dia kuasai semuanya, dan dia bisa menjadikan semua kekuasaannya tersebut membuat dia semakin bertakwa dan bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala, sementara banyak orang yang diberi kekuasaan sedikit sudah menjadikan dirinya menjadi orang yang sombong luar biasa, menjadikannya lupa diri bahkan lupa untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Sebab Turunnya Surah Al-Kahfi
Para ulama menyebutkan tentang sebab turunnya surah Al-Kahfi, yaitu seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, dari Ibnu Ábbas radhiallahu ánhu, beliau berkata :
أَنَّ قُرَيْشًا بَعَثُوا النَّضْرَ بْنَ الْحَارِثِ وَعُقْبَةَ بْنَ أَبِي مُعَيْطٍ إِلَى أَحْبَارٍ يَهُودَ وقالوا لهما: سَلَاهُمْ عَنْ مُحَمَّدٍ وَصِفَا لَهُمْ صِفَتَهُ وَأَخْبِرَاهُمْ بِقَوْلِهِ، فَإِنَّهُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ الْأَوَّلِ، وَعِنْدَهُمْ عِلْمٌ ليس عندنا من علم أنبياء، فَخَرَجَا حَتَّى قَدِمَا الْمَدِينَةَ، فَسَأَلَا أَحْبَارَ يَهُودَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَوَصَفَا لَهُمْ أَمْرَهُ، وَأَخْبَرَاهُمْ بِبَعْضِ قَوْلِهِ، وَقَالَا لَهُمْ: إِنَّكُمْ أَهْلُ التَّوْرَاةِ وَقَدْ جِئْنَاكُمْ لِتُخْبِرُونَا عَنْ صَاحِبِنَا هَذَا. فَقَالَتْ لَهُمَا أَحْبَارُ يَهُودَ: سَلُوهُ عَنْ ثَلَاثٍ نَأْمُرُكُمْ بِهِنَّ، فَإِنْ أَخْبَرَكُمْ بِهِنَّ فَهُوَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَالرَّجُلُ مُتَقَوِّلٌ، فَرُوا فِيهِ رَأْيَكُمْ، سَلُوهُ عَنْ فِتْيَةٍ ذَهَبُوا فِي الدَّهْرِ الْأَوَّلِ، مَا كَانَ أَمْرُهُمْ، فَإِنَّهُ قَدْ كَانَ لَهُمْ حَدِيثٌ عَجَبٌ. سَلُوهُ عَنْ رَجُلٍ طَوَّافٍ قَدْ بَلَغَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا، مَا كَانَ نَبَؤُهُ. وَسَلُوهُ عَنِ الرُّوحِ، مَا هِيَ، فَإِذَا أَخْبَرَكُمْ بِذَلِكَ فَاتَّبِعُوهُ فَإِنَّهُ نَبِيٌّ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَهُوَ رَجُلٌ مُتَقَوِّلٌ فَاصْنَعُوا فِي أَمْرِهِ مَا بَدَا لَكُمْ. فَأَقْبَلَ النَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ وَعُقْبَةُ بْنُ أَبِي معيط قَدِمَا مَكَّةَ عَلَى قُرَيْشٍ فَقَالَا: يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ،! قَدْ جِئْنَاكُمْ بِفَصْلِ مَا بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ مُحَمَّدٍ- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَدْ أَمَرَنَا أَحْبَارُ يَهُودَ أَنْ نَسْأَلَهُ عَنْ أَشْيَاءَ أَمَرُونَا بِهَا، فَإِنْ أَخْبَرَكُمْ عَنْهَا فَهُوَ نَبِيٌّ، وَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ فَالرَّجُلُ مُتَقَوِّلٌ، فَرُوا فِيهِ رَأْيَكُمْ. فَجَاءُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا: يَا مُحَمَّدُ، أَخْبِرْنَا عَنْ فِتْيَةٍ ذَهَبُوا فِي الدَّهْرِ الْأَوَّلِ، قَدْ كَانَتْ لَهُمْ قِصَّةٌ عَجَبٌ، وَعَنْ رَجُلٍ كَانَ طَوَّافًا قَدْ بَلَغَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا، وَأَخْبِرْنَا عَنِ الرُّوحِ مَا هِيَ؟ قَالَ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:" أُخْبِرُكُمْ بِمَا سَأَلْتُمْ عَنْهُ غَدًا" وَلَمْ يَسْتَثْنِ. فَانْصَرَفُوا عَنْهُ، فَمَكَثَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَزْعُمُونَ خَمْسَ عَشْرَةَ لَيْلَةً، لَا يُحْدِثُ اللَّهُ إِلَيْهِ فِي ذَلِكَ وَحْيًا وَلَا يَأْتِيهِ جِبْرِيلُ، حَتَّى أَرْجَفَ أَهْلُ مَكَّةَ وَقَالُوا: وَعَدَنَا مُحَمَّدٌ غَدًا، وَالْيَوْمَ خَمْسَ عَشْرَةَ لَيْلَةً، وَقَدْ أَصْبَحْنَا مِنْهَا لَا يُخْبِرُنَا بِشَيْءٍ مِمَّ
Makna Kata "Hamba"
Bahwa orang-orang Quraisy mengutus An-Nadhr bin Al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith kepada ulama-ulama Yahudi, lalu mereka (orang-orang Quraisy) berkata kepada mereka (An-Nadhr bin Al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith): bertanyalah kepada mereka (pendeta-pendeta Yahudi) tentang Muhammad, dan beritahu mereka tentang sifatnya dan ucapannya sesungguhnya mereka adalah ahlu kitab yang pertama, dan mereka memiliki ilmu yang tidak kita miliki berupa ilmu para nabi. Mereka berdua pun keluar hingga sampai ke Madinah dan bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Meereka menceritakan tentang sifatnya, perintahnya, dan sebagian perkataannya. Lalu mereka berdua berkata, “Sesungguhnya kalian memiliki Taurat, dan sungguh kami telah datang kepada kalian agar kalian mengabarkan kepada kami tentang teman kami ini (maksudnya Nabi Muhammad)”. Maka pendeta-pendeta Yahudi berkata, “Tanyakanlah kepadanya tentang tiga perkara yang akan kami beritahukan kepada kalian (tiga pertanyaan tersebut), jika dia bisa menjawabnya maka dia adalah nabi yang diutus, dan jika dia tidak bisa menjawabnya maka dia hanyalah seseorang yang pendusta yang mengaku-ngaku diutus oleh Allah, setelah itu kalian lihat pendapat kalian tentang dia. (Pertanyaan pertama) tanyakanlah kepadanya tentang para pemuda yang pernah keluar di zaman dahulu, apa berita tentang mereka(13 )? sungguh berita tentang mereka adalah berita yang sangat menakjubkan. (Pertanyaan kedua) tanyakanlah kepadanya tentang seorang lelaki yang dia berkelana mengelilingi dunia sampai menuju ke timur dunia dan barat dunia, apa kabar tentangnya(14 )? (Pertanyaan ketiga) tanyakanlah kepadanya tentang ruh, apakah hakikat dari ruh? Jika dia bisa menjawab tiga pertanyaan tersebut maka dia adalah seorang nabi dan ikutilah dia, dan jika dia tidak bisa menjawabnya maka dia hanyalah seorang lelaki yang pendusta yang mengaku-ngaku utusan Allah, maka lakukanlah terhadap dia apa yang kalian kehendaki”.
Lalu An-Nadhr dan ‘Uqbah pun kembali ke Makkah bertemu dengan orang-orang Quraisy, dan mereka berdua berkata: wahai penduduk Quraisy, sungguh kami telah datang kepada kalian dengan membawa suatu berita yang bisa memutuskan apakah Muhammad adalah seorang rasul atau bukan, dan sungguh para pendeta Yahudi telah memerintahkan kami untuk menanyakannya tentang tiga perkara yang telah mereka perintahkan kepada kami. Jika dia bisa menjawab pertanyaan kalian maka dia adalah nabi, dan jika dia tidak bisa menjawabnya maka dia hanyalah seseorang yang pendusta yang mengaku-ngaku diutus oleh Allah, setelah itu kalian lihat pendapat kalian tentang dia. Lalu mereka pun mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Muhammad beritahukanlah kami tentang para pemuda yang pernah keluar di zaman dahulu, apa berita tentang mereka? sungguh berita tentang mereka adalah berita yang sangat menakjubkan. Demikian juga tentang seorang lelaki yang dia berkelana mengelilingi dunia sampai menuju ke timur dunia dan barat dunia. Kemudian tentang ruh, apakah hakikat dari ruh”. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada mereka: “Aku akan menjawab tentang apa yang kalian tanyakan besok” namun Rasulullah tidak mengucapkan istitsna (ucapan insya Allah(15 )). Maka kaum Quraisy pun kembali, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiam diri selama lima belas malam, karena Allah subhanahu wa ta'ala tidak menurunkan kepadanya wahyu dan juga malaikat Jibril tidak datang kepadanya, hingga penduduk Makkah mulai heboh. Mereka pun berkata, “Muhammad telah menjanjikan kita untuk memberitahukan jawabannya besok, dan hari ini sudah lima belas hari, sudah masuk hari baru namun dia belum memberitahukan sesuatupun kepada kita jawaban terhadap perkara yang telah kita tanyakan kepadanya”. Sehingga terhentinya wahyu membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedih dan apa yang dibicarakan penduduk Makkah membuatnya merasa berat, akhirnya Jibril pun datang dari Allah dengan membawa surah Al-Kahfi, di dalamnya terdapat teguran kepada beliau tentang kesedihannya atas perbuatan mereka dan membawa jawaban terhadap apa yang mereka tanyakan tentang berita para pemuda, seorang lelaki yang mengelilingi bumi, dan tentang ruh.”
Pada firman Allah subhanahu wa ta'ala الْحَمْدُ لِلَّهِ “Segala puji bagi Allah” maka di sini adalah untuk الاسْتِحْقَاق ( 17)yang artinya segala pujian yang berhak hanyalah Allah subhanahu wa ta'ala (secara hakikat), karena Allah subhanahu wa ta'ala yang dipuji karena dzatnya, kesempurnaannya, keagungannya, dan banyak nikmatnya yang diberikan kepada hamba-hambanya. Karenanya seseorang ketika talbiah mengucapkan
إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكَ، لاَ شَرِيكَ لَكَ
“Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu” (18 )
Adapun manusia dan makhluk Allah lainnya dipuji bukan karena dzatnya, akan tetapi dikarenakan Allah subhanahu wa ta'ala yang telah memberikan dia kelebihan dan keutamaan sehingga dia dipuji, seandainya Allah subhanahu wa ta'ala mencabut kenikmatan tersebut darinya maka tidak ada manusia yang akan dipuji. Ini semua menunjukkan bahwasanya yang berhak untuk dipuji secara dzatnya hanyalah Allah subhanahu wa ta'ala, oleh karenanya Allah subhanahu wa ta'ala berfirman الْحَمْدُ لِلَّهِ “Segala puji bagi Allah”. Selain itu kita tidak akan mampu untuk memuji Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana mestinya, karena keindahan Allah subhanahu wa ta'ala jauh dari apa yang bisa kita bayangkan dan yang kita pikirkan sampai-sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata dalam doanya,
«اللهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ»
“Ya Allah sesungguhnya aku berlindung dengan keridlaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan aku berlindung dengan maaf-Mu dari siksaan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari (adzab)-Mu, aku tidak bisa menghitung pujian kepada-Mu sebagaimana mestinya, Engkau sebagaimana Engkau memuji pada diri-Mu." ( 19)
Kemudian firman Allah subhanahu wa ta'ala,
أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ
“yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya.”
Maksud dari الْكِتَابَ adalah Al-Quran(20 ), dan maksud dari عَلَى عَبْدِهِ “kepada hamba-Nya” adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam(21 ), dan dalam ayat ini dijelaskan bahwasanya Allah subhanahu wa ta'ala dipuji karena dua hal:
Pertama: karena sifat-sifat Allah subhanahu wa ta'ala yang maha agung.
Kedua: karena nikmat-nikmat dan karunia Allah subhanahu wa ta'ala yang sangat banyak dan tidak terhitung, dan di antara nikmat-nikmat yang Allah subhanahu wa ta'ala berikan kepada kita semua adalah Allah subhanahu wa ta'ala menurunkan Al-Quran kepada hamba-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam(22 ). Dan dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala tidak mengatakan,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى رَسُوْلِهِ الْكِتَابَ
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada Rasul-Nya”
Akan tetapi Allah subhanahu wa ta'ala memilih dengan lafal “hamba”,
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya”
Para ulama menjelaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dengan diturunkannya Al-Quran dia menjadi seorang rasul akan tetapi jangan lupa bahwa dia adalah hamba-Nya, bahkan Allah subhanahu wa ta'ala di dalam Al-Quran banyak memuji dengan penyebutan “hamba” seperti yang ada pada ayat ini, kemudian yang ada pada awal surah Al-Isra,
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” QS. Al-Isra: 1
Dan juga firman-Nya,
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” QS. Al-Baqoroh: 23
Serta ayat-ayat yang lain yang dimana Allah subhanahu wa ta'ala menyebutkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan lafal “hamba”. Ini dikarenakan dua hal:
Pertama: untuk menjelaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam telah mencapai derajat ‘Ubudiyyah atau penyembahan yang tertinggi dan tidak ada yang beribadah seperti ibadahnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dijelaskan tentang ibadah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika shalat,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي حَتَّى تَتَوَرَّمَ قَدَمَاهُ
“Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan shalat hingga bengkak kedua kakinya.” ( 23)
Dalam riwayat lain disebutkan,
أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ
“bahwa Nabi Allah shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan shalat malam hingga pecah-pecah kedua kakinya.” ( 24)
Makna Ayat
Bahwa orang-orang Quraisy mengutus An-Nadhr bin Al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith kepada ulama-ulama Yahudi, lalu mereka (orang-orang Quraisy) berkata kepada mereka (An-Nadhr bin Al-Harits dan ‘Uqbah bin Abi Mu’aith): bertanyalah kepada mereka (pendeta-pendeta Yahudi) tentang Muhammad, dan beritahu mereka tentang sifatnya dan ucapannya sesungguhnya mereka adalah ahlu kitab yang pertama, dan mereka memiliki ilmu yang tidak kita miliki berupa ilmu para nabi. Mereka berdua pun keluar hingga sampai ke Madinah dan bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi tentang Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Meereka menceritakan tentang sifatnya, perintahnya, dan sebagian perkataannya. Lalu mereka berdua berkata, “Sesungguhnya kalian memiliki Taurat, dan sungguh kami telah datang kepada kalian agar kalian mengabarkan kepada kami tentang teman kami ini (maksudnya Nabi Muhammad)”. Maka pendeta-pendeta Yahudi berkata, “Tanyakanlah kepadanya tentang tiga perkara yang akan kami beritahukan kepada kalian (tiga pertanyaan tersebut), jika dia bisa menjawabnya maka dia adalah nabi yang diutus, dan jika dia tidak bisa menjawabnya maka dia hanyalah seseorang yang pendusta yang mengaku-ngaku diutus oleh Allah, setelah itu kalian lihat pendapat kalian tentang dia. (Pertanyaan pertama) tanyakanlah kepadanya tentang para pemuda yang pernah keluar di zaman dahulu, apa berita tentang mereka(13 )? sungguh berita tentang mereka adalah berita yang sangat menakjubkan. (Pertanyaan kedua) tanyakanlah kepadanya tentang seorang lelaki yang dia berkelana mengelilingi dunia sampai menuju ke timur dunia dan barat dunia, apa kabar tentangnya(14 )? (Pertanyaan ketiga) tanyakanlah kepadanya tentang ruh, apakah hakikat dari ruh? Jika dia bisa menjawab tiga pertanyaan tersebut maka dia adalah seorang nabi dan ikutilah dia, dan jika dia tidak bisa menjawabnya maka dia hanyalah seseorang yang pendusta yang mengaku-ngaku utusan Allah, maka lakukanlah terhadap dia apa yang kalian kehendaki”.
Lalu An-Nadhr dan ‘Uqbah pun kembali ke Makkah bertemu dengan orang-orang Quraisy, dan mereka berdua berkata: wahai penduduk Quraisy, sungguh kami telah datang kepada kalian dengan membawa suatu berita yang bisa memutuskan apakah Muhammad adalah seorang rasul atau bukan, dan sungguh para pendeta Yahudi telah memerintahkan kami untuk menanyakannya tentang tiga perkara yang telah mereka perintahkan kepada kami. Jika dia bisa menjawab pertanyaan kalian maka dia adalah nabi, dan jika dia tidak bisa menjawabnya maka dia hanyalah seseorang yang pendusta yang mengaku-ngaku diutus oleh Allah, setelah itu kalian lihat pendapat kalian tentang dia. Lalu mereka pun mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Muhammad beritahukanlah kami tentang para pemuda yang pernah keluar di zaman dahulu, apa berita tentang mereka? sungguh berita tentang mereka adalah berita yang sangat menakjubkan. Demikian juga tentang seorang lelaki yang dia berkelana mengelilingi dunia sampai menuju ke timur dunia dan barat dunia. Kemudian tentang ruh, apakah hakikat dari ruh”. Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada mereka: “Aku akan menjawab tentang apa yang kalian tanyakan besok” namun Rasulullah tidak mengucapkan istitsna (ucapan insya Allah(15 )).