Makna Kesyirikan
Pada ayat ini terdapat isyarat bahwasanya kaumnya juga menyembah Allah namun mereka juga berbuat syirik, mereka beribadah kepada Allah namun juga mengambil sesembahan selain Allah sebagai tuhan-tuhan. Maka dalam ayat ini terdapat tantangan: “Mana dalilnya, mana buktinya dan mana syari’atnya?” (63 )
Lalu Allah pun melanjutkan:
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”.
Kebohongan dalam ayat ini maksudnya adalah kesyirikan dan itu merupakan sebesar-besar dusta atas nama Allah, dalam ayat lain Allah berfirman:
وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
“Dan barangsiapa yang berbuat syirik terhadap Allah maka sungguh ia telah berbuat kedustaan yang besar”(QS An-Nisa: ayat 48), bagaimana mungkin kalian samakan beribadah kepada makhluk dengan beribadah kepada Tuhan padahal makhluk adalah ciptaan Tuhan, bukankah ini adalah kedustaan yang paling besar?!
Hal yang paling adil adalah Tauhid sebaliknya hal yang paling zhalim adalah kesyirikan, oleh karena itu dalam ayat yang lain:
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang paling besar” (QS Luqman: ayat 13), Hakikat kezhaliman adalah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya dan kezhaliman yang paling besar adalah kesyirikan.
Bagaimana mungkin engkau mau menyamakan peribadatan kepada Allah dengan peribadatan kepada Nabi Isa, menyamakannya dengan menyembah berhala, menyamakan dengan menyembah kepada jin, menyamakan dengan menyembah kepada malaikat, menyamakan denga menyembah wali atau dengan menyembah mayit, bagaimana mungkin ini mau disamakan?! Terlebih lagi jika mau disamakan dengan menyembah sapi?!
Maka jelas ini merupakan kedustaan yang amat besar dengan menyatakan makhluk-makhluk tersebut, baik batu-batu, pepohonan dan sebagainya berhak disembah sebagaimana Pencipta alam semesta berhak disembah, oleh karena itu dalam ayat Allah berfirman:
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
“Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?”, yakni orang-orang yang berbuat kesyirikan.
Contoh Kesyirikan
Imam Ibnu Katsir menyebutkan bahwasanya ketika berbicara seperti itu kepada Raja, akhirnya mereka diperintahkan oleh Raja untuk melepaskan semua baju kebesarannya dan akhirnya semua yang mereka miliki mereka tinggalkan dengan harapan jika dunia dicabut dari mereka lalu mereka akan sadar dan mereka menjadi susah(64 ).
Demikian halnya sebagaimana yang dilakukan orang tua dari sahabat Mush’ab bin Umair yang ketika di masa syiriknya, orang tua nya senantiasa memberikan kepada beliau baju-baju yang bagus, parfum yang wangi bahkan sandal dari luar negeri sehingga ketika beliau berjalan maka wanginya tercium dari jarak yang jauh namun begitu beliau masuk Islam maka semua pemberian tersebut dicabut sehingga tubuhnya yang tadinya halus bahkan sampai berubah jadi bersisik bak sisik ular, mereka berharap agar beliau kelar dari Islamnya.
Demikian pula yang Raja tersebut dimana ia memerintahkan untuk menanggalkan semua kenikmatan dan pakaian kebesaran dan diganti dengan pakaian kehinaan dan kemiskinan lalu diberi waktu untuk berpikir.
Taufik dari Allah
Di antara taufik dari Allah Ta’ala kepada para pemuda tersebut, ternyata sang Raja tidak langung membunuh mereka akan tetapi Raja memberikan mereka waktu untuk berpikir sehingga barangkali mereka hendak berubah pikiran dan kembali kepada kesyirikan.
Akhirnya mereka pun saling berdiskusi, sebagaimana yang Allah kisahkan: