Firman Allah SWT
{سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ صَابِرًا}
{#Musa berkata, "Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar."#} (Al-Kahfi, [18:69]) terhadap apa yang aku lihat dari urusan-urusanmu itu.
{وَلَآ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا}
{#dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusan pun.#} (Al-Kahfi, [18:69])
Maksudnya
Aku tidak akan memprotesmu dalam sesuatu urusan pun; dan pada saat itu Khidir memberikan syarat kepada Musa, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
{قَالَ فَاِنِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْـَٔلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ}
{#Dia berkata, "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun."#} (Al-Kahfi, [18:70])
Yakni memulai menanyakannya.
{حَتّٰٓى اُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا}
{#sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.#} (Al-Kahfi, [18:70])
Yaitu aku sendirilah yang akan menjelaskannya kepadamu, sebelum itu kamu tidak boleh mengajukan suatu pertanyaan pun kepadaku.
Ibnu Jarir
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Humaid ibnu Jubair, telah menceritakan kepada kami Ya'qub, dari Harun, dari Ubaidah, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Musa AS bertanya kepada Tuhannya, "Wahai Tuhanku, hamba-hamba-Mu yang manakah yang paling disukai olehmu?"
Jawaban Allah SWT
Allah SWT menjawab, "Orang yang selalu ingat kepada-Ku dan tidak pernah melupakan Aku."
Pertanyaan Musa
Musa bertanya, "Siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling adil?"
Jawaban Allah SWT
Allah menjawab, "Orang yang memutuskan (perkara) dengan hak dan tidak pernah memperturutkan hawa nafsunya."
Pertanyaan Musa
Musa bertanya, "Wahai Tuhanku, siapakah di antara hamba-hamba-Mu yang paling alim?"
Jawaban Allah SWT
Allah berfirman, "Orang yang rajin menimba ilmu dari orang lain dengan tujuan untuk mencari suatu kalimah yang dapat memberikan petunjuk ke jalan hidayah untuk dirinya, atau menyelamatkan dirinya dari kebinasaan."
Pertanyaan Musa
Musa bertanya, "Wahai Tuhanku, apakah di bumi-Mu ini ada seseorang yang lebih alim daripada aku?"
Jawaban Allah SWT
Allah berfirman, "Ya, ada."
Pertanyaan Musa
Musa bertanya, "Siapakah dia?"
Jawaban Allah SWT
Allah berfirman, "Dialah Khidir."
Musa Mencari Khidir
Musa bertanya, "Di manakah saya harus mencarinya?"
Allah berfirman, "Di pantai di dekat sebuah batu besar tempat kamu akan kehilangan ikan padanya."
Ibnu Abbas Melanjutkan Kisahnya
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Musa berangkat mencarinya; dan kisah selanjutnya adalah seperti apa yang telah disebutkan oleh Allah SWT di dalam kitab-Nya, hingga akhirnya sampailah Musa di dekat batu besar itu.
Musa Bertemu dengan Khidir
Ia bersua dengan Khidir, masing-masing dari keduanya mengucapkan salam kepada yang lainnya.
Musa berkata kepadanya, "Sesungguhnya saya suka menemanimu."
Khidir menjawab, "Sesungguhnya kamu tidak akan sanggup sabar bersamaku."
Musa berkata, "Tidak, saya sanggup."
Khidir berkata, "Jika kamu menemaniku: maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu." (Al-Kahfi, [18:70])
Khidir Membawa Musa Berangkat
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa Khidir membawa Musa berangkat menempuh jalan laut, hingga sampailah ke tempat bertemunya dua buah lautan; tiada suatu tempat pun yang airnya lebih banyak daripada tempat itu.
Allah Mengirimkan Burung Pipit
Kemudian Allah mengirimkan seekor burung pipit, lalu burung pipit itu menyambar seteguk air dengan paruhnya.
Pertanyaan Khidir
Khidir berkata kepada Musa, "Berapa banyakkah air yang disambar oleh burung pipit ini menurutmu?"
Jawaban Musa
Musa menjawab, "Sangat sedikit."
Jawaban Khidir
Khidir berkata, "Hai Musa, sesungguhnya ilmuku dan ilmumu dibandingkan dengan ilmu Allah, sama dengan apa yang diambil oleh burung pipit itu dari lautan ini."
Sebelum Peristiwa Ini
Sebelum peristiwa ini pernah terdetik di dalam hati Musa bahwa tiada seorang pun yang lebih alim daripada dia. Atau Musa pernah mengatakan demikian.
Allah Memerintahkan Musa
Karena itulah maka Allah memerintahkan kepadanya untuk mendatangi Khidir.
Pelubangan Perahu, Pembunuhan, dan Pembetulan Dinding
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya ini menyangkut pelubangan perahu, pembunuhan terhadap seorang anak muda, dan pembetulan dinding yang akan runtuh, serta takwil dari semua perbuatan tersebut.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.