Berikut adalah teks yang telah diformat menjadi Markdown:
Nabi Yahya 'Alaihissalam
Empat ayat ini berbicara tentang Nabi Yahya 'alaihissalam yang telah disebutkan sebelumnya bahwa Nabi Zakariya 'alaihissalam berdoa kepada Allah ﷻ meminta untuk diberikan seorang anak maka Allah ﷻ kabulkan dan nama anak tersebut adalah Yahya.
Makna Kata
Ketika Nabi Yahya masih kecil Allah ﷻ memerintahkannya untuk mengambil al-kitab. Terdapat dua pendapat dikalangan para ulama berkaitan dengan yang dimaksud dengan Al-Kitab(26 ):
Pertama
Sebagian ulama mengatakan Al-Kitab di sini adalah At-Taurat karena Nabi Yahya 'alaihissalam hanya melanjutkan apa yang dibawa oleh Nabi Musa 'alaihissalam.
Kedua
Yang dimaksud dengan Al-Kitab di sini adalah kitab khusus milik Nabi Yahya. Namun yang masyhur di kalangan ulama yang dimaksud dengan Al-Kitab di sini adalah At-Taurat. Adapun Injil saat itu belum ada karena Injil diturunkan kepada Nabi Isa 'alaihissalam sedangkan Nabi Yahya lahir lebih dulu dari Nabi Isa.
Firman-Nya
Kemudian firman-Nya,
خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ
“ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh.”
Maksudnya adalah pelajarilah, pahamilah dan jalanilah perintah dalam Taurat dengan baik dan sungguh-sungguh. (27 )
Kemudian firman-Nya,
وَآتَيْنَاهُ الْحُكْمَ صَبِيًّا
“Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.”
Secara umum terdapat dua pendapat di kalangan para ulama ahli tafsir(28 ):
Pertama
Sebagian ulama mengatakan maksudnya Nabi Yahya sejak masih kecil sudah memahami Taurat.
Kedua
Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan الْحُكْمَ adalah nubuwwah. Yaitu beliau diberikan kenabian oleh Allah ﷻ sedangkan dia masih kecil. Ini merupakan keitimewaan Nabi Yahya 'alaihissalam.
Firman-Nya
Kemudian firman-Nya,
وَحَنَانًا مِنْ لَدُنَّا وَزَكَاةً
“Dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian (dan dosa).”
Terdapat dua pendapat di kalangan Ahli Tafsir berkaitan dengan kata حَنَانًا:
Pertama
Ada yang mengatakan وَحَنَانًا artinya “Kami berikan kepadanya kenabian atau kecerdasan tentang hukum Taurat di masa kecil sebagai bentuk rahmat dari Kami”. Maksudnya karena rasa kasih sayang Kami, maka Kami jadikan Yahya cerdas atau menjadi nabi meskipun ia masih kecil. Kemudian kata زَكَاةً maksudnya adalah kami berikan dia kesucian dan Kami jauhkan dia dari dosa.
Kedua
Maksudnya kami berikan dia kecintaan kepada dirinya sehingga semua orang yang melihat Nabi Yahya akan cinta kepadanya(29 ). Ini seperti firman Allah ﷻ tentang Nabi Musa 'alaihissalam,
وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي
“Dan Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku;”
(QS. Thaha: 39)
Sifat Nabi Yahya
Di antara sifat Nabi adalah وَكَانَ تَقِيًّا “dan ia adalah seorang yang bertakwa”. Bahkan sebagian Ahli Tafsir mengatakan bahwa Nabi Yahya tidak pernah berdosa sama sekali.
Firman-Nya
Kemudian firman-Nya,
وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا
“Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka.”
Ini adalah sifat Nabi Yahya yang lain yaitu dia berbakti kepada kedua orang tuanya. Kata وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ “dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya” adalah termasuk bentuk ketakwaan. Jadi penyebutan bakti setelah ketakwaan adalah istilah yang biasa disebutkan oleh ulama dengan ذَكْرُ الْخَاص بَعْدَ الْعام “penyebutan yang khusus setelah penyebutan yang umum”.
Firman-Nya
Kemudian firman-Nya,
وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”
Ini adalah tiga waktu yang seseorang sangat membutuhkan pertolongan Allah ﷻ yaitu:
- Ketika dilahirkan. Yaitu ketika berpindah dari alam janin menuju alam kehidupan dunia.
- Yaitu perpindahan dari alam kehidupan di dunia menuju kehidupan di alam barzakh.
- Yaitu perpindahan dari alam kehidupan di alam barzakh menuju kehidupan di alam akhirat atau padang mahsyar.
Inilah tiga kondisi yang sangat mengerikan yang dikhawatirkan oleh seseorang yang Allah ﷻ sebutkan dalam 3 kondisi ini Nabi Yahya diselamatkan oleh Allah ﷻ.(30 ) Pertama ketika baru lahir, oleh karenanya setan sudah semangat dalam mengganggu manusia sejak lahir sehingga banyak bayi-bayi yang menangis karena gangguan setan. Kedua setan juga sangat semangat mengganggu manusia ketika manusia akan meninggal dunia dan dia mengeluarkan seluruh kekuatannya agar bisa menjadikan manusia bisa meninggal dengan keadaan su’ul khotimah karena ini adalah kesempatan terakhirnya untukmenjerumuskan manusia ke neraka Jahanam. Oleh karenanya setan bersungguh-sungguh ketika seseorang dalam keadaan sakarotul maut untuk membuatnya meninggal dalam keadaan su’ul khotimah. Sehingga jika seseorang tidak ditolong oleh Allah ﷻ dalam keadaan ini maka dia bisa binasa menjelang kematiannya entah meninggal dalam keadaan bermaksiat, sulit mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah, atau meninggal dalam keadaan bersu’uzhan kepada Allah ﷻ. Seseorang ketika hendak meninggal maka ini adalah kondisi yang sangat genting. Oleh karenanya diriwayatkan dari Imam Ahmad ketika beliau akan meninggal dunia ia berkata بعدُ.. بعدُ “belum..belum”. lalu ia berkata bahwasanya barusan Iblis datang kepadanya dan berkata kepadanya فُتَّني يا أحمد “kau lolos dariku wahai Ahmad. Lalu Imam Ahmad menjawab: belum, selama aku belum meninggal dunia maka aku belum lolos darimu. Iblis ingin memasukkan rasa ujub pada diri Imam Ahmad bahwasanya dirinya telah lolos dari godaan Iblis(31 ). Intinya kondisi ketika sakarotul maut adalah kondisi yang sangat genting, karena tidak ada yang bisa menjamin setiap kita bisa meninggal dalam keadaan husul khotimah. Oleh karenanya seseorang hendaknya waspada dan hendaknya selalu meminta pertolongan kepada Allah ﷻ agar diselamatkan ketika sakarotul maut sehingga bisa meninggal dalam keadaan kondisi husnul khotimah. Ketiga adalah kondisi ketika dibangkitkan, dan kita ketahui bahwasanya ketika hari kiamat kondisi sangat mengerikan. Sehingga pada hari tersebut seseorang sangat butuh penyelamatan dari Allah ﷻ.
Yang terkenal di kalangan Ahlu Tafsir bahwasanya Nabi Yahya meninggal dibunuh dan terdapat beberapa riwayat tentang itu namun semua riwayat ini lemah di antaranya bahwa ada seorang wanita pezina yang menyukai Nabi Yahya namun Nabi Yahya tidak menyukainya. Akhirnya wanita tersebut kesal kepada Nabi Yahya, sehingga ketika ada seorang raja yang menyukai wanita tersebut maka wanita tersebut mengatakan: jika kau ingin menikah denganku maka berikan aku mahar berupa kepala Nabi Yahya. Akhirnya Nabi Yahya dibunuh oleh penguasa tersebut sebagai mahar bagi wanita tersebut. Ini adalah kisah yang masyhur namun secara riwayat tidak shohih terlebih lagi dalam ayat ini Allah ﷻ mengatakan,
وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا
“Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.”
Seandainya Nabi Yahya meninggal dengan kepala dipenggal seakan-akan dia tidak selamat ketika kematiannya. Intinya kisah tentang dibunuhnya Nabi Yahya sanadnya tidak shohih dan ini adalah kisah yang masyhur yang tertulis di buku-buku tafsir.
Setelah itu kita pindah kepada paragraf baru bercerita tentang kisah Maryam dan Nabi Isa 'alaihissalam. Dalam surah ini Allah ﷻ berpindah dari kisah yang ajaib menuju kisah yang lebih ajaib lainnya. Sebelumnya telah disebutkan tentang Nabi Zakariya yang meminta seorang anak kepada Allah ﷻ dan Allah ﷻ mengabulkannya dalam kondisinya yang ajaib karena sebab-sebab untuk mendapatkan seorang anak telah hilang yaitu Nabi Zakariya sudah sangat tua dan istrinya yang mandul. Ini menunjukkan bahwa untuk memiliki anak bagi mereka adalah perkara yang mustahil karena semua sebab untuk memiliki anak tidak ada kecuali hanya 1 sebab saja yaitu mereka adalah sepasang suami istri. Akan tetapi akhirnya Allah ﷻ menganugrahkannya seorang anak. Kemudian setelahnya Allah ﷻ menceritakan kisah yang lebih menakjubkan lagi yaitu kisah tentang Maryam yang memiliki anak tanpa suami.