Makna Kata
Perkataan pertama yang Nabi Isa ucapkan adalah اِنِّيْ عَبْدُ اللّٰهِ ۗ “Sesungguhnya Aku adalah hamba Allah”, ini merupakan bantahan yang telak kepada orang-orang Nashrani.
اٰتٰنِيَ الْكِتٰبَ وَجَعَلَنِيْ نَبِيًّا
“Dia telah memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia telah menjadikan aku seorang Nabi”
Jika kita cermati dalam ayat tersebut Allah menggunakan Fi’il Madhi (kata kerja bentuk lampau) yaitu “Telah memberiku” padahal saat mengucapkan itu Nabi Isa masih kecil belum diangkat menjadi nabi dan belum menerima Injil. Terdapat dua pendapat dalam masalah ini, pendapat pertama maksudnya bahwa diangkatnya Isa ‘alaihissalam sebagai nabi kemudian diberikan Al-Kitab (Injil) sudah tercatat oleh Allah di Lauhul Mahfudz(60 ). Menurut pendapat kedua bahwa menggunakan Fi’il Madhi (kata kerja lampau) untuk mengungkapkan sesuatu di masa yang akan datang merupakan uslub (metode) dalam bahasa Arab yang berfungsi mengungkapkan sesuatu yang pasti terjadi di masa depan dan yang seperti ini banyak contohnya di dalam Al-Quran.
Firman Allah
وَّجَعَلَنِيْ مُبٰرَكًا اَيْنَ مَا كُنْتُ
“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada”
Para ulama mengatakan bahwasanya Nabi Isa di antara keberkahannya bahwa beliau كَانَ مُعَلِّمَاً لِلخَيرِ yaitu selalu mengajarkan kebaikan di mana saja beliau berada. Beliau tidak pernah berhenti dari menyampaikan kebaikan. Di antara makna “Mubaarokan” pada ayat tersebut adalah كَانَ قَضّاءً للحَوَائِجِ yaitu beliau selalu membantu orang lain(61 ), baik membantu dengan tenaganya atau membantu dengan nasihatnya karena makna keberkahan senantiasa berkaitan dengan manfaat kepada orang lain oleh karenanya dalam hadis Nabi ﷺ bersabda,
إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ الْمُسْلِمِ..... فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ
“Sesunggunya terdapat satu pohon, barokahnya seperti barokah seorang muslim.... Nabi ﷺ berkata,“Ia adalah pohon kurma”.(62 )
Keberkahan tersebut karena seluruh bagian pohon kurma memiliki manfaat. Oleh karenanya seseorang dikatakan berkah apabila dia bermanfaat bagi sesamanya. ketika di rumah bermanfaat bagi keluarganya ketika di luar rumahnya bermanfaat bagi pegawainya, bosnya dan teman-temannya.
Ayat ini juga sebagai bantahan terhadap kelompok Qodariyah
Ayat ini juga sebagai bantahan terhadap kelompok Qodariyah yang mengatakan bahwa Allah tidak menetapkan takdir hamba-Nya. Manusia ibarat seperti robot yang diciptakan kemudian dibiarkan begitu saja. Adapun aqidah ahlussunnah maka mereka beriman dengan adanya takdir dan bahwasanya manusia memiliki kehendak namun kehendak tersebut berada di bawah kehendak Allah, sebagaimana dalam firman-Nya,
وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam”. (QS. At-Takwir : 29)
Kita bisa lihat dalam ayat-ayat ini bahwa yang mengangkat nabi Isa sebagai Nabi, yang memberikan kepadanya Al-Kitab kemudian menjadikannya membawa keberkahan di manapun beliau berada adalah Allah ﷻ bukan usaha nabi Isa sendiri. Ini merupakan bantahan yang telak bagi para penganut paham Qodariyah.
Demikian juga ayat ini sebagai bantahan kepada sebagian ahli filsafat
Demikian juga ayat ini sebagai bantahan kepada sebagian ahli filsafat yang menyatakan bahwa kenabian bisa diperoleh dengan usaha bukan pilihan dari Allah. Lihatlah Nabi Isa dijadikan Nabi tanpa ada usaha dan pelatihan-pelatihan ruhani sebelumnya, demikian juga Nabi Yahya yang dijadikan Allah sebagai nabi sejak kecil.
Firman Allah
وَاَوْصٰنِيْ بِالصَّلٰوةِ
“Dan Dia memerintahkan kepadaku (melaksanakan) sholat”
Ayat ini merupakan dalil bahwasanya sholat adalah syariat sejak dahulu sama seperti puasa sebagaiman disebutkan dalam firman-Nya,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah : 183)
Nabi Musa juga berpuasa ketika selamat dari kejaran Firaun sebagaimana dalam hadist ketika Rasulullah mendapati orang-orang yahudi berpuasa ‘Asyura lantas beliau bertanya kepada mereka,
«مَا هَذَا الْيَوْمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ؟» فَقَالُوا: هَذَا يَوْمٌ عَظِيمٌ، أَنْجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ، وَغَرَّقَ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ، فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا، فَنَحْنُ نَصُومُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَنَحْنُ أَحَقُّ وَأَوْلَى بِمُوسَى مِنْكُمْ فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ»
“Hari apakah ini sehingga kalian berpuasa?” mereka menjawab, “Ini adalah hari yang agung dimana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya dan menenggelamkan Firaun dan kaumnya maka Musa berpuasa sebagai bentuk rasa syukur, dan kami pun ikut berpuasa” Maka Rasulullah bersabda, “Kami lebih berhak berpuasa daripada kalian”.( 63)
Firman Allah
وَالزَّكٰوةِ
“Dan Zakat”
Terdapat dua pendapat tentang apa yang dimaksud dengan Zakat pada ayat tersebut. Pendapat yang pertama mengatakan bahwa zakat tersebut maksudnya adalah zakat harta. Pendapat yang kedua zakat tersebut maksudnya adalah At-Tazkia yaitu penyucian jiwa, pendapat ini didasari karena selama hidupnya Nabi Isa adalah seorang yang miskin. Bahkan sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa Nabi Isa Alaihissalam tidak memiliki rumah, berjalan dengan baju yang sederhana, ketika beliau lelah maka beliau tidur di tempat tersebut( 64).
Firman Allah
وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَتِيْ
“Dan (Dia) memerintahkan untuk berbakti kepada ibuku”
Yang demikian karena beliau tidak memiliki ayah. Disebutkan pula bahwa Nabi Isa adalah seorang hamba yang sangat taat kepada ibunya karena Allah yang menjadikan beliau berbakti kepada orang tuanya. Disini Nabi Isa menyebutkan amalan-amalan yang luar biasa yang harus kita perhatikan yaitu Sholat, Zakat dan berbakti kepada orang tua, ini semua adalah amalan-amalan yang luar biasa yang beliau ucapkan untuk didengar oleh Bani Israil.
Firman Allah
وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا
“Dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”
وَّبَرًّاۢ بِوَالِدَتِيْ وَلَمْ يَجْعَلْنِيْ جَبَّارًا شَقِيًّا
“dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka”
Ayat ini sebagai dalil bahwasanya seseorang apabila durhaka kepada orang tuanya dapat dipastikan dia adalah orang yang sombong dan celaka. Jikalau dengan orang tuanya yang telah melahirkan dan merawatnya sejak kecil dia bertindak durhaka, maka dapat dipastikan dia adalah orang yang berperangai sombong, kurang ajar dan pasti terkumpul keburukan pada dirinya. jika dengan orang tuanya saja akhlaknya buruk maka bagaimana dengan yang yang selainnya(65 )?