Makna kata
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam datang kepada ayahnya, Azar, yang merupakan salah satu pembesar kaumnya. Seluruh negeri tersebut merupakan penyembah berhala, termasuk di antaranya adalah ayahnya, kecuali nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau satu-satunya orang yang bertauhid dan tidak menyembah berhala. Beliau berada pada kondisi yang menyulitkannya.
Ayah Nabi Ibrahim
يَاأَبَتِ
“Wahai ayahku!”
يَاأَبَتِ ‘wahai ayahanda’ adalah kata-kata yang sangat halus dan satu makna dengan يَاأَبِي. Dijelaskan oleh Ibnul Qayyim bahwa nabi Ibrahim ‘alaihissalam menggunakan kata-kata yang sangat lembut. Pertama, beliau memanggil dengan kata panggil يَاأَبَتِ ‘wahai ayahanda’ yang menunjukkan kehormatan kepada ayahnya(96 ). Beliau ingin diperhatikan dengan kata-kata yang lembut, karena barangkali ayahnya acuh kepadanya.
Thahir Ibnu ‘Asyur menjelaskan bahwasanya orang jahiliyah terdahulu menganggap anak mereka, walaupun setinggi apapun derajat dan kecerdasannya, maka tetap dianggap sebagai seorang anak dan dipandang rendah. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengetahui hal tersebut bahwa ayahnya akan merendahkannya. Oleh karenanya, nabi Ibrahim ‘alaihissalam memanggilnya dengan halus يَاأَبَتِ. Padahal jarak mereka sangat dekat, sedangkan beliau memanggil dengan kata panggil يَا ‘wahai’. Beliau tidak langsung memanggil ‘ayahku’ atau yang semisalnya. Akan tetapi, karena beliau sudah direndahkan oleh ayahnya, maka beliau memanggilnya dengan kelembutan agar diperhatikan.(97 )
Dakwah Nabi Ibrahim
لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا
“Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?”
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa selain nabi Ibrahim ‘alaihissalam menyapa dengan يَاأَبَتِ, beliau juga tidak memanggil nama ayah beliau, seperti dengan mengatakan ‘Wahai Azar’. Beliau tidak mengatakan kepadanya dalam keadaan memvonis, seperti mengatakan ‘kenapa engkau musyrik’. Akan tetapi, beliau berkata dalam bentuk pertanyaan ‘Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?’ ( 98). Pertanyaan itu semata-mata agar ayahnya berfikir. Tentunya, ayahnya tidak mampu untuk menjawabnya. Karena Tuhan harus bisa melihat, mendengar dan memberikan sesuatu(99 ).
Perbandingan dengan Orang-Orang Jahiliyah
Perhatikanlah, bagaimana setan mampu menggelincirkan seseorang sampai menghiasi sesuatu yang tidak masuk akal, menjadi sesuatu yang masuk akal dan diyakininya, yaitu berhala. Berhala tidak bisa mendengar, tidak bisa melihat atau memberikan manfaat sedikitpun, akan tetapi disembah. Itulah pekerjaan setan, yaitu menghiasi kemaksiatan, hingga membuat sesuatu yang tidak logis, namun dianggap logis bagi orang-orang yang berpendidikan. Seperti misalnya apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang meminta kepada kuburan/mayat yang tidak bisa mandi, tidak bisa salat, tidak bisa memakai pakaian, justru orang-orang terdekatnya yang mamandikannya, mengkafaninya dan mensalatkannya dan bahkan mengantarkannya ke kuburannya. Ironisnya, orang-orang meminta-minta kepada mayat tersebut. Inilah perbuatan yang sangat tidak logis. Akan tetapi, buktinya banyak yang menyembah mayat, pohon, berhala. Padahal, manusia yang datang kepada pohon/kayu tersebut, lalu memahatnya, memberikan makan kepadanya, kemudian dia menyembahnya. Ini adalah sesuatu yang tidak logis, akan tetapi terjadi.
Dakwah Nabi Ibrahim (Lanjutan)
Jika kita memperhatikan perbuatan orang-orang yang berada di India, maka kita akan menemukan mereka menyembah monyet, tikus atau jenis hewan yang lain. Mereka melakukan perbuatan yang nista itu, akibat dari godaan setan yang menghiasi kemaksiatan tersebut. Bagi kita perbuatan itu tidak masuk akal sama sekali, akan tetapi bagi mereka itu adalah hal yang logis.
Atas dasar itulah nabi Ibrahim ‘alaihissalam mendakwahi ayahnya dan kaumnya, agar mereka berfikir. Karena ayahnya tidak mampu menjawab, maka nabi Ibrahim melanjutkan perkataannya,
Ayat-ayat Al-Qur'an
يَاأَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا
“Wahai ayahku! Sungguh, telah sampai kepadaku sebagian ilmu yang tidak diberikan kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (QS. Maryam: 43)
Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa perbuatan nabi Ibrahim termasuk bentuk kelembutan beliau, karena bisa saja beliau mengatakan, “Wahai Ayah, sesungguhnya engkau jahil, sedangkan aku memiliki ilmu”(100 ). Ibrahim ‘alaihissalam tidak mengingkari bahwa ayahnya merupakan pembesar kaumnya. Akan tetapi, beliau menjelaskan dengan halus dan penuh kelembutan, seakan-akan beliau mengatakan bahwa sejatinya beliau mempunyai ilmu, ayahnya juga mempunyai ilmu, akan tetapi beliau telah mendapatkan ilmu yang tidak didapatkan oleh ayah beliau, yaitu tentang tauhid, sedangkan yang diperbuat oleh ayah dan kaumnya adalah kesyirikan.
Ayat-ayat Al-Qur'an (Lanjutan)
فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا
“Maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.”
Apa yang dikatakan oleh nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi isyarat bahwa jalan yang ditempuh oleh ayah beliau adalah menyimpang(101 ).
Dakwah Nabi Ibrahim (Lanjutan)
يَاأَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا
Wahai ayahku! Janganlah engkau menyembah setan. Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. (QS. Maryam: 44)
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mempertanyakan perbuatan yang dilakukan oleh ayah beliau, yaitu menyembah selain Allah, bahwa sejatinya dia menyembah setan. Artinya karena setan yang menghiasi segala kemaksiatan tersebut, maka semua orang yang menyembah selain Allah, mereka juga dianggap menyembah setan. Tentu benar, bahwa patung atau berhala itu bukanlah setan. Orang yang menyembah nabi ‘Isa ‘alaihissalam, patung, mayat, berhala ataupun pohon sekalipun, tidaklah menyembah setan. Apabila setan muncul di hadapan manusia pun, mereka tidak akan sudi menyembahnya, karena di dalam benak mereka setan adalah sesuatu yang buruk. Akan tetapi, semua bentuk penyembahan kepada selain Allah, maka dianggap penyembahan kepada setan. Karena, sejatinya yang menghiasi penyembahan tersebut adalah setan, sehingga penyembah tersebut menuruti godaan setan untuk menyembah sesembahan selain Allah(102 ).
Dakwah Nabi Ibrahim (Lanjutan)
لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ
“Janganlah engkau menyembah setan.”
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hendak menjelaskan kepada ayahnya agar “Janganlah engkau menyembah setan”. Karena kata setan itu buruk bagi semua orang. Jika seseorang menyebut bahwa orang-orang musyrik itu adalah setan, tentu mereka tidak akan mau, karena sejatinya mereka sendiri tidak suka dengan setan, baik mereka itu adalah penyembah berhala, penyembah nabi atau penyembah mayat sekalipun, setiap orang tidak suka dengan sebutan ‘setan’.
Dakwah Nabi Ibrahim (Lanjutan)
إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا
“Sungguh, setan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pengasih.”
Para ulama menjelaskan bahwa seharusnya nabi Ibrahim ‘alaihissalam cukup mengucapkan إِنَّهُ, bukan إِنَّ الشَّيْطَانَ. Tetapi, beliau mengulangi kata الشَّيْطَانَ, bertujuan untuk menegaskan bahwa apa yang diperbuat ayahnya merupakan perbuatan dan tipu daya setan. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak mengucapkan bahwa setan itu memiliki sifat (عَاصِيًّا)(103 ), akan tetapi beliau menyebutkan dengan عَصِيًّا ‘benar-benar membangkang/durhaka’(104 ). Setan tidak pernah memisahkan dirinya dari maksiat, bahkan selalu bermaksiat kepada Allah Ar-Rahman. Berbeda antara (عَاصِيًّا) dengan (عَصِيًّا). عَاصِيًّا memiliki makna yang terkadang dia bermaksiat dan terkadang berbuat ketaatan, sedangkan عَصِيًّا memiliki makna yang selalu berbuat kemaksiatan kepada Ar-Rahman ‘Yang Maha Pengasih’, yaitu Allah ﷻ.
Dakwah Nabi Ibrahim (Lanjutan)
Disamping itu, nabi Ibrahim ‘alaihissalam berbicara dengan ayahnya dengan menyebutkan الرَّحْمَن ‘Maha Penyayang’. Artinya Tuhan yang dimaksiati oleh setan dan diikuti oleh ayah nabi Ibrahim ‘alaihissalam itu sangat sayang kepada hamba-Nya. Tetapi, setan hendak menghalangai hamba-Nya dari kasih sayang-Nya( 105). Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tidak menyebutkan nama-nama Allah ﷻ yang lain dalam percakapannya dengan ayahnya. Hal ini sebagai isyarat dari nabi Ibrahim ‘alaihissalam bahwa Allah ﷻ sangat sayang kepada hamba-Nya, dan setan hadir untuk menghalanginya dengan berbuat kemaksiatan, sedangkan kemaksiatan menghalangi seorang hamba dari Allah ﷻ dan kasih sayang-Nya.
Dakwah Nabi Ibrahim (Lanjutan)
يَاأَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا
“Wahai ayahku! Aku sungguh khawatir engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pengasih, sehingga engkau menjadi teman bagi setan.”
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merasa takut dan khawatir apabila ayahnya mendapatkan sentuhan azab dari Allah ﷻ, dimana perasaannya ini menunjukkan kasih sayangnya kepada ayahnya.
Kesimpulan
Apabila kita mampu merenungi ayat-ayat ini menunjukkan bahwa nabi Ibrahim ‘alaihissalam berusaha mengatakan perkataan yang halus dan lembut kepada ayahnya. Beliau mengulang-ulang panggilannya dengan يَاأَبَتِ ‘wahai ayahanda’. Beliau menyebutkan nama dan sifat Allah ﷻ, Ar-Rahman ‘Yang Maha Penyayang’, bukan dengan Al-Jabbar atau Al-Qahhar. Beliau menggunakan kata yang lembut berupa ‘sentuhan azab’ atas kekhawatiran beliau terhadap konsekuensi ayahnya, jika enggan beriman kepada Allah ﷻ, bukan dengan berkata ‘dipanggang oleh azab’. Ini semua menggambarkan kelembutan nabi Ibrahim ‘alaihissalam kepada ayahnya, agar dia sadar dari kesalahannya(106 ).