Firman-Nya
وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَٰنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا
“Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.”
Sebagian ulama mengatakan maksud dari “dan tidak layak” adalah perkataan tersebut lebih haram dari sesuatu yang haram juga tidak layak, karena bagaimana mungkin Allah punya anak( 236). Mengapa hal tersebut tidak layak? Maka pada ayat selanjutnya Allah ﷻ menjelaskannya,
Firman-Nya,
إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا
“Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)
Yaitu karena semua yang ada di langit dan bumi akan datang kepada Allah pada hari kiamat sebagai seorang hamba. Hamba ada macam:
Hamba yang Beribadah
- Hamba yang beribadah atau yang disebut dengan istilah ‘ubudiyah ilahiyah. Ini seperti firman Allah,
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)
Seperti firman Allah ﷻ lainnya,
إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلَّا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ
“Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr: 42)
Maksudnya hamba-hamba ini adalah hamba-hamba yang khusus.
Hamba sebagai Makhluk yang Diciptakan
- Hamba sebagai makhluk yang diciptakan yang tunduk dikuasai. Ini adalah hamba yang dimaksud dalam ayat ini( 237), semua hamba Allah entah yang kafir atau ateis maka semuanya adalah ciptaan Allah. sebagaimana yang Allah firmankan,
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَقُولُ أَأَنْتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبَادِي هَٰؤُلَاءِ أَمْ هُمْ ضَلُّوا السَّبِيلَ
“Dan (ingatlah) suatu hari (ketika) Allah menghimpunkan mereka beserta apa yang mereka sembah selain Allah, lalu Allah berkata (kepada yang disembah); "Apakah kalian yang menyesatkan hamba-hamba-Ku itu, atau mereka sendirikah yang sesat dari jalan (yang benar)?" (QS. Al-Furqan: 17)
Dalam ayat disebutkan ketika orang-orang musyrikin berkumpul dengan sesembahan mereka maka Allah bertanya kepada sesembahan mereka أَأَنْتُمْ أَضْلَلْتُمْ عِبَادِي “Apakah kalian yang menyesatkan hamba-hamba-Ku”. Maksudnya adalah hamba-hamba sebagai ciptaan Allah ﷻ bukan hamba-hamba yang saleh. Jadi hamba-hamba yang disebutkan di dalam Al-Quran terkadang dimaksudkan adalah hamba-hamba yang rajin beribadah dan terkadang yang dimaksud adalah hamba-hamba yang diciptakan oleh Allah ﷻ.
Inilah alasan pertama mengapa Allah tidak pantas memiliki anak, yaitu dikarenakan semua orang akan menjadi hamba. Tidak pantas Allah mengangkat hambanya menjadi anaknya. Sebagaimana tidak layak seorang tuan mengangkat budaknya menjadi seorang anak karena dia tidak selevel. Begitu juga hamba-hamba Allah entah itu Nabi Isa ‘alaihissalam, malaikat Jibril ‘alaihissalam, Nabi Muhammad ﷺ, atau ‘Uzair maka semuanya adalah hamba Allah dan tidak pantas untuk menjadi anak Allah ﷻ. Oleh karenanya di zaman dahulu jika seseorang menggauli budak wanitanya lalu wanita tersebut memiliki anak maka status anak tersebut bukanlah seorang budak meskipun lahir dari rahim seorang budak wanita. Karena begitu lahir maka dia bukanlah seorang budak karena seorang budak tidak bisa menjadi anak.
Alasan kedua adalah bahwa Allah ﷻ mengulang kata الرَّحْمَنِ dalam surat ini sebanyak kurang lebih 16 kali untuk membuktikan bahwasanya الرَّحْمَنِ tidak membutuhkan anak. Karena anak untuk Allah bertentangan dengan sifat rahmat Allah. الرَّحْمَنِ artinya rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu. Jika Allah memiliki seorang anak maka ini menunjukkan bahwa Allah tidak sendiri yang memiliki sifat الرَّحْمَنِ dan ini menunjukkan bahwa ada beberapa yang memiliki sifat الرَّحْمَنِ. Dan ini menyelisihi sifat الرَّحْمَنِ, dan tidak ada selain Allah yang boleh dinamakan dengan الرَّحْمَنِ.
Selain itu juga, jika Allah memiliki seorang anak maka sang anak tentunya akan berdiri sendiri dan tidak membutuhkan rahmat Allah ﷻ, ini juga bertentangan dengan sifat Ar-Rahman Allah ﷻ. Inilah sebab yang disebutkan oleh para ulama mengapa Allah mengulang-ulang nama الرَّحْمَنِ dalam surah Maryam hingga belasan kali. (238 )
Nama الرَّحْمَنِ juga isyarat bahwasanya ini adalah bantahan terhadap orang-orang Nasrani yang mereka menyangka bahwasanya untuk mendapat tobat atau ampunan dari Allah harus melewati perantara Nabi Isa ‘alaihissalam. Kita katakan bahwa Allah adalah الرَّحْمَنِ Yang Maha Penyayang. Jika kalian melakukan dosa dan ingin memohon ampunan maka mintalah langsung kepada Allah. Tidak perlu kalian memohon ampunan kepada Allah ﷻ melalui perantara orang yang disalib. Karena Allah ﷻ maha penyayang dan tidak perlu Allah mengirim anak-Nya untuk disalib untuk menebus dosa. Di dunia saja jika seseorang melakukan kesalahan kepada orang tuanya maka ketika dia meminta maaf langsung kepada kedua orang tuanya maka orang tuanya akan langsung memaafkan. Maka Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya dari pada seorang ibu kepada anaknya. Maka kalian orang-orang Nasrani jika memiliki kesalahan maka langsung saja meminta ampunan kepada Allah dan tidak perlu menunggu Nabi Isa disalib.
Kemudian firman-Nya,
لَقَدْ أَحْصَاهُمْ وَعَدَّهُمْ عَدًّا
“Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.”
Perbedaan antara الإِحْصَاءُ dan العَدُّ?, الإِحْصَاءُ artinya menguasai dan mengilmui tentang mereka secara seluruhnya adapun العَدُّ artinya Allah menghitung mereka secara satu persatu. Sebagian ulama memandang bahwa termasuk nama Allah adalah الْمُحْصِي sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qurthubi rahimahullah yang artinya bahwa Allah maha mengilmui dan menguasai segala sesuatu walaupun itu sangat banyak. Dengan berbagai macam jumlah makhluk Allah yang begitu banyak berupa hewan-hewan dan manusia akan tetapi Allah menguasai mereka semua(239 ). Jadi إحصاء adalah ilmu yang tidak terpengaruh dengan jumlah yang banyak. Entah itu banyak atau sedikit maka Allah menguasai seluruhnya. Inilah sebab sebagian ulama mengatakan termasuk nama Allah الْمُحْصِي.
Kemudian firman-Nya,
وَكُلُّهُمْ آتِيهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَرْدًا
“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.”
Ayat ini adalah bantahan kepada mereka yang mengatakan Allah memiliki anak bahwasanya semuanya akan datang dalam keadaan sendirian(240 ). Artinya mereka jangan berharap bahwa sesembahan yang mereka sembah akan membantu mereka. Kalian para penyembah malaikat apakah menyangka bahwa malaikat akan menolong kalian sedangkan kalian akan datang sendirian, lalu bagaimana malaikat akan menolong kalian? Begitu juga kalian yang menyembah Nabi Muhammad, Yesus, para wali apakah menyangka mereka akan menolong kalian? Sungguh mereka tidak akan menolong kalian karena kalian akan datang sendirian. Bahkan Nabi Isa dan semua yang disembah pun akan datang sendirian. Masing-masing akan mengurus urusan mereka masing-masing.