Allah ﷻ mengetahui apa yang ada ditangan kanan Nabi Musa dan Allah ﷻ mempunyai tujuan dari bertanya tentang hal tersebut. Para ulama menyebutkan tujuan dari pertanyaan tersebut bahwa maksudnya adalah tongkat ini akan menjadi berbagai macam mukjizat diantaranya bisa berubah ular besar. Diantaranya juga bahwa tongkat tersebut ketika dipukulkan ke batu maka akan keluar 12 mata. Diantaranya tongkat tersebut ketika dipukulkan ke lautan maka akan terbelah dan jika dipukulkan kembali maka lautan akan tertutup. Jadi dengan tongkat ini akan muncul berbagai macam mukjizat.
Para ulama mengatakan bahwa kambingnya Nabi Musa ‘alaihissalam kecil-kecil tidak mampu untuk mengambil daun yang berada di atas pohon. Sehingga Nabi Musa mencarikan dedaunan untuk kambing kambing tersebut dengan cara memukulkan tongkatnya di pohon, ada juga yang mengatakan bahwa ujung tongkatnya melengkung sehingga dia menggantungkan tongkatnya di dahan kemudian di goyang-goyangkan supaya daun berjatuhan atau dia menarik daun tersebut agar jatuh dan dimakan oleh kambing-kambingnya.
Kemudian Allah ﷻ berfirman:
قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ
“Allah ﷻ berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.”
Disebutkan dalam ayat yang lain dalam ayat yang lain Nabi Musa kabur membalikkan badannya ketakutan begitu melihat tongatnya berubah menjadi ular.
وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ ۖ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ ۖ إِنَّكَ مِنَ الْآمِنِينَ
“dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): "Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman.” (QS. Al-Qasas: 31)
Terdapat faedah-faedah dari Allah ﷻ bertanya kepada Nabi Musa tentang tongkatnya diantaranya:
Pertama: Untuk meyakinkan kepada Musa bahwa yang ada pada tangan kanannya itu benar-benar tongkat dari kayu. Jadi apa yang akan terjadi padamu berupa berubahnya tongkat menjadi ular adalah benar-benar mukjizat dan apa yang terjeadi tersebut dikarenakan Allah ﷻ adalah benar-benar tuhan yang merubah itu semua.
Kedua: Sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian para ulama bahwa Allah ﷻ mampu merubah segala sesuatu dengan. Seperti tongkat yang dilempar tiba-tiba berubah menjadi ular tanpa ada proses yang lama. Kemudian ketika tongkat tersebut diambil juga berubah menjadi tongkat dengan begitu cepat. Ini semua bertujuan bahwa Allah ﷻ ingin menjelaskan bahwa hari kiamat sangat mudah terjadi. Jika Allah ﷻ ingin menghancurkan matahari, ingin matahari berhenti terbit dari barat, dan lainnya maka semuanya mudah bagi Allah ﷻ sebagaimana yang Allah ﷻ firmankan:
إِنَّمَا قَوْلُنَا لِشَيْءٍ إِذَا أَرَدْنَاهُ أَنْ نَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“Sesungguhnya perkataan Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", maka jadilah ia.” (QS. An-Nahl: 40)
Jadi untuk meyakinkan adanya hari kiamat Allah ﷻ tunjukkan bagaimana tongkat bisa berubah menjadi ular dan sebaliknya.
Ketiga: Allah ﷻ ingin lembut kepada Nabi Musa. Karena Nabi Musa sendirian dalam keadaan ketakutan ketika bertemu dengan Allah ﷻ di tengah kegelapan. Maka Allah ﷻ mengajaknya berbicara agar hilang darinya rasa takut ketika sendirian. Oleh karenanya para ulama mengatakan jika seseorang ingin berdakwah maka jangan lupa untuk memberikan muqaddimah. Jika seseorang berdakwah langsung membahas kepada intinya tanpa adanya muqaddimah maka banyak orang yang tidak meneriman dakwah tersebut. Lihatlah Allah ﷻ memulai berbicara dengan Nabi Musa dengan perkara yang dia cintai. Nabi Musa sangat suka sekali dengan tongkatnya. Sehingga ketika ditanya untuk apa yang ada ditangannya tersebut ia langsung bercerita macam-macam kegunaan dari tongkat tersebut. Maka kita pun kalau berdakwah jangan lupa untuk memberikan muqaddimah. Muqaddimah dakwah diantaranya dengan adab, akhlak, atau dengan sirah baru kemudian kita masukkan tauhid. Banyak sekali macam-macam muqaddimah yang penting tujuan kita bisa tercapai yaitu agar orang mengenal Allah ﷻ dan tidak berbuat Syirik kepada-Nya. Dan bukanlah tujuan dakwah adalah yang penting kita menyampaikan. Namun bagaimana cara menyampaikan juga harus dipikirkan.
Keempat: sebagaimana yang disebutkan oleh Thahir bin ‘Asyur yaitu sebagai latihan. Karena Nabi Musa nantinya harus melemparkan tongkat ini di hadapan Firaun di kemudian hari. Seandainya tidak dilatih Nabi Musa ‘alaihissalam pasti akan ketakutan. Dalam sebagian ayat disebutkan:
فَأَلْقَىٰ عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ
“Maka Musa menjatuhkan tongkat-nya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya.” (QS. Al-A’raf: 107)
Dalam ayat yang lain:
وَأَلْقِ عَصَاكَ ۚ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّىٰ مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ ۚ يَا مُوسَىٰ لَا تَخَفْ إِنِّي لَا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ
“dan lemparkanlah tongkatmu". Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang kecil, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. "Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku.” (QS. An-Naml: 10)
Lalu bagaimana cara kita menggabungkan dua ayat ini? Para ulama mengatakan dalam menggabungkan dua ayat ini bahwasanya ular tersebut ukurannya besar akan tetapi gerakannya lincah seperti ular yang kecil.
Adapun perkataan Nabi Musa “Tongkat ini ada keperluan keperluan yang lain yang aku gunakan” maka sebagian ulama berusaha sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Qurthubi bahwa jika ia hendak salat ia meletakkan tongkat tersebut sebagai sutrah. Ada yang mengatakan juga bahwasanya tongkat itu untuk menggiring hewan dengan tongkatnya. Ada yang mengatakan untuk bertelekan dengan tongkat tersebut ketika berjalan. Ada juga berjalan untuk ngecek sesuatu yang berbahaya maka dicek dengan tongkatnya ada yang mengatakan kalau tongkatnya digunakan untuk berbaung dengan mengikatkan kain padanya. Atau untuk menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh dengan cara menarik dengan tongkatnya, ini dikarenakan ujung tongkatnya bengkok. Atau digunakan untuk menutup pintu. Atau untuk melawan anjing atau hewan yang mengganggu(27 ). Ini semua pendapat yang tidak ada dalilnya namun semuanya masih masuk akal. Sebagian lagi dari ahli tafsir menyebutkan alasan yang aneh-aneh seperti yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa sebagian ulama berusaha menyebutkan tentang keperluan-keperluan Nabi Musa dengan tongkatnya dengan hal-hal yang aneh-aneh. Contohnya: tongkatnya di malam hari berubah menjadi lampu, jika dia tidur maka tongkatnya yang menjaga kambingnya, juga jika dia akan tidur maka dia akan tanamkan tongkatnya yang kemudian berubah menjadi pohon sehingga dia bisa bernaung di bawah pohon tersebut. Ini semua tidak benar, Ibnu Katsir mengatakan bahwa ini adalah kisah israiliyat(28 ) dan jika ini benar maka Nabi Musa tidak akan ketakutan ketika tongkatnya berubah menjadi ular karena ia telah terbiasa dengan keajaiban tongkatnya.