Makna kata
Nabi Musa ‘alaihissalam tidak mengatakan “Rabb-mu”. Akan tetapi, beliau mengatakan “Rabb kami”. Artinya ini adalah isyarat langsung bahwa Tuhan kami adalah Tuhan-mu juga. Buktinya adalah,
رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ
“Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu.”
Makna ayat
Para ulama menjelaskan maksud dari ayat ini adalah penjelasan tentang Allah ﷻ yang telah menciptakan makhluk dengan mengkhususkan bentuk-bentuknya yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Seandainya seseorang memperhatikan segala makhluk di alam semesta ini, manusia, hewan dan tumbuhan, masing-masing dengan berbagai macam bentuknya. Masing-masing dari mereka memiliki bentuk khusus dan tidak bercampur antara yang satu dengan yang lainnya. Di samping itu, masing-masing bentuk dari mereka sesuai dengan kebutuhannya, seperti perbedaan penciptaan antara laki-laki dengan perempuan. Allah ﷻ menciptakan segala sesuatu dan Dia memberikan masing-masing bentuk sesuai dengan apa yang cocok bagi makhluk-makhluk tersebut. Allah ﷻ menciptakan lalat dengan bentuk khusus, nyamuk dengan bentuk tersendiri, begitu juga dengan beruang maupun hewan yang lainnya. (66 )
ثُمَّ هَدَى
“Kemudian memberinya petunjuk.”
Allah ﷻ memberikan petunjuk kepada makhluk-makhluk tersebut dan apa saja yang mereka butuhkan. Allah ﷻ yang memberikan ilham kepada sebagian hamba-Nya, firasat kepada sebagian hamba-Nya yang lain dan lain sebagainya, agar mereka dapat memenuhi kebutuhan mereka. Namun, sebagian ulama juga ada yang menafsirkan agar masing-masing makhluk dapat melakukan hubungan perkawinan dengan makhluk sejenisnya. Artinya ini semua menunjukkan adanya Tuhan. (67 )
Pelajaran dari ayat
Jika seseorang mau merenungkan, seperti halnya seorang yang menciptakan robot yang canggih, hingga dapat diprogram bahwa robot yang satu bersyahwat dengan robot yang lainnya. Sedangkan Allah ﷻ menciptakan manusia, ada laki-laki dan perempuan. Yang menakjubkan adalah ketika seorang laki-laki melihat seorang perempuan, maka laki-laki tersebut akan merasakan cinta dan suka kepada perempuan yang dilihatnya. Artinya ini adalah kekuasaan dan keajaiban dari ciptaan Allah ﷻ.
Bantahan Fir’aun
Meskipun perkataan nabi Musa ‘alaihissalam adalah sebuah bantahan secara tidak langsung, seakan-akan beliau berkata, “Yang namanya Tuhan itu menciptakan, akan tetapi apa yang mampu engkau ciptakan, wahai Fir’aun?” Fir’aun pun sejatinya memahami maksud pembicaraan nabi Musa ‘alaihissalam.
قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَى
“Dia (Fir‘aun) berkata, “Jadi bagaimana keadaan umat-umat yang dahulu?”
Artinya Fir’aun membantah, “Jika aku sesat, maka bagaimana dengan nasib dan keadaan orang-orang terdahulu?”. Dia berdalil dengan nenek moyang sebelumnya. “Apakah Allah ingin mengazab mereka ataukah mereka dahulu kafir ataukah mereka kafir kemudian disiksa di dunia atau disiksa di akhirat?”.(68 )