Makna kata أَسِفًا
Makna dari أَسِفًا secara umum dijelaskan oleh ahli tafsir ada dua makna yaitu sangat sedih dan sangat murka. Sebagian ulama lagi berusaha menggabungkan dua makna tersebut, sehingga bermakna murka sekaligus sedih(122 ). Mereka menjelaskan bahwa bercampur antara kemurkaan dan kesedihan pada hati Nabi Musa ‘alaihissalam, murka karena terjadinya kesyirikan pada Bani Israil dan sedih karena Bani Israil adalah kaum Nabi Musa ‘alaihissalam sendiri yang mana mereka adalah murid-murid yang telah Nabi Musa ‘alaihissalam didik, sehingga Nabi Musa ‘alaihissalam pun sedih melihat kaumnya sendiri terjatuh pada kesyirikan(123 ). Namun jika dilihat dari konteks ayat makna “marah” lebih mendominasi, terutama jika dilihat dari dampak dari kemarahan tersebut, di mana Musa melemparkan lempengan-lempengan Taurat dan juga menarik kepala Harun( 124). Wallahu a’lam.
Pertanyaan Nabi Musa ‘alaihissalam
Setelah dari bukit Tursina Nabi Musa ‘alaihissalam kembali menemui kaummya. Sesampainya disana Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya kepada kaumnya أَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا “Wahai kaumku, bukankah Allah telah menjanjikan kepada kalian suatu janji yang baik?”. Maksud dari وَعْدًا حَسَنًا “janji yang baik” adalah bersifat umum mencakup semua janji baik Allah kepada Bani Israil seperti akan memperluas wilayah Bani Israil, akan memberikan anugrah kepada Bani Israil, akan menerima taubat Bani Israil, menurunkan syari’at Taurat melalui Nabi Musa ‘alaihissalam, serta janji bahwa mereka akan masuk surga jika taát kepada Allah(125 ). Setelah itu Nabi Musa ‘alaihissalam melanjutkan pertanyaannya kepada kaumnya.
Pertanyaan bersifat pengingkaran
أَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ “Apakah terlalu lama masa perjanjian itu bagi kalian?”. Pertanyaan ini adalah istifham ingkari yaitu pertanyaan bersifat pengingkaran. Nabi Musa ‘alaihissalam merasa heran terhadap perbuatan mereka, apa yang terjadi sehingga mereka bisa berbuat seperti itu. Terdapat beberapa tafsiran dari ahli tafsir atas pertanyaan Nabi Musa ‘alaihissalam ini kepada kaumnya.
Tafsiran pertama
Pertama : berkaitan dengan lamanya jarak waktu (perjanjian). Seakan Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya kepada Bani Israil, “Apakah terlalu lama janji tersebut untuk Allah kabulkan kepada kalian sehingga kalian tidak sabar dan akhirnya menyimpang dan berbuat kesyirikan?” (126 ). Padahal perkaranya tidak demikian, Allah telah memenuhi janjinya yaitu memberikan kepada mereka Taurat dan syari’at melalui Nabi Musa ‘alaihissalam.
Tafsiran kedua
Kedua : berkaitan dengan lamanya waktu kepergian Nabi Musa ‘alaihissalam. Seakan Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya kepada Bani Israil, “Apakah kepergianku terlalu lama sehingga membuat kalian begitu capat menyimpang?”. Padahal kepergian Nabi Musa ‘alaihissalam dari mereka untuk pergi ke bukit Tursina hanyalah sebentar.
Tafsiran ketiga
Ketiga : berkaitan dengan lamanya masa kenabian dan kerasulan yang berlalu dari Bani Israil. Seakan Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya kepada Bani Israil, "Apakah terlalu lama jauhnya kalian dari masa kenabian (yaitu antara zaman kenabian Nabi Yusuf dan Nabi Musa ‘alaihissalam) sehingga kalian tidak mengetahui apa-apa tentang kenabian dan pengaruhnya, maka dengan mudahnya kalian terjatuh pada kerusakan seperti ini?”. Padahal perkaranya tidak demikian, kenabian ada pada mereka, bahkan Nabi Musa ‘alaihissalam bersama mereka dan kebersamaan itu telah berlangsung selama bertahun-tahun(127 ).
Jawaban Bani Israil
Ketiga perkara diatas semuanya bukanlah argumentasi bagi mereka untuk melegalkan kesyirikan yang mereka lakukan. Karenanya Musa álaihis salam menimpali perbuatan mereka dengan berkata :أَمْ أَرَدْتُمْ أَنْ يَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّكُمْ “Bahkan kalian menghendaki agar kemurkaan Allah ﷻ menimpamu”.
Yaitu artinya, بَلْ أَرَدْتُمْ أَنْ يَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ “Bahkan kalian yang ingin kemarahan Allah menimpa kalian” (128 )
Lalu Musa berkata, فَأَخْلَفْتُمْ مَوْعِدِي “lantas kalian melanggar janji kalian kepadaku”. Maksudnya adalah mengapa kalian tidak datang menyusuliku ke bukit Tursina? Mengapa kalian sengaja tidak datang mengikutiku? Apakah kalian ingin dimurkai oleh Allah ﷻ? Dengan tegas Nabi Musa ‘alaihissalam menegur mereka. Atau maksudnya, “Mengapa kalian tidak menepati janji kalian kepadaku untuk istiqamah selama kepergianku?” (129 )
Setelah mendapat teguran dari Nabi Musa ‘alaihissalam maka Bani Israilpun mencari-cari alasan untuk menjawab pertanyaan Nabi Musa ‘alaihissalam. Mereka berkata,