Surat Thaha ayat 98
Setelah jelas kebatilan menyembah patung, maka Musa memberitahukan kepada mereka siapa yang sesungguhnya berhak diibadahi.
innamā ilāhukumullāhullażī lā ilāha illā huw, wasi‘a kulla syai'in ‘ilmā
Sungguh, Tuhanmu hanyalah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu."
Setelah jelas kebatilan menyembah patung, maka Musa memberitahukan kepada mereka siapa yang sesungguhnya berhak diibadahi.
Mûsâ benar-benar melaksanakan apa yang diucapkannya. Setelah mengambil pelajaran dari peristiwa ini, ia kemudian menemui Banû Isrâ'îl dan berkata, "Sesungguhnya Tuhan kalian Yang Mahaesa, adalah Tuhan yang tidak boleh disembah bersama tuhan-tuhan lain. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, baik yang lampau maupun yang akan datang."
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Sesungguhnya sembahan kalian, wahai manusia, adalah Allah, yang tiada Illah yang berhak disembah selain Dia.
Ilmu-Nya meliuputi segala sesuatu.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Maksudnya, tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) kecuali WajahNya Yang Mulia. Tidak boleh disembah, dicintai, diharap, ditakuti, diseru kecuali Dia.
Dialah Dzat yang sempurna yang mempunyai nama-nama yang baik dan sifat-sifat yang tinggi, yang ilmuNya meliputi segala sesuatu, yang tidak ada satu pun kenikmatan pada manusia melainkan (pasti) bersumber dariNya, tidak sanggup menyingkirkan kejelekan kecuali Dia.
Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, dan tidak ada sesembahan yang berhak disembah selainNya.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Musa berkata kepada mereka,"Ini bukanlah tuhan kalian. Sesungguhnya Tuhan kalian hanyalah Tuhan yang tidak ada Tuhan selain Dia. Yakni tiada yang pantas disembah oleh para hamba kecuali hanyalah Dia, dan segala sesuatu berhajat kepada-Nya dan menjadi hamba-Nya."
Firman Allah SWT:
{وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا}
{#Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.#} (Tha Ha, [20:98])
Lafaz {#'ilman#} di-nasab-kan karena berkedudukan sebagai tamyiz, yakni Dia Maha Mengetahui segala sesuatu, Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, dan Dia menghitung segala sesuatu dengan perhitungan yang sangat teliti. Tiada sesuatu pun yang terhalang dari pengetahuan-Nya, sekalipun sebesar semut yang paling kecil.
{وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ}
{#dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu pun yang basah atauyang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).#} (Al-An'am, [6:59])
Dan firman Allah SWT yang mengatakan:
{وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ اِلَّا عَلَى اللّٰهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ}
{#Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis di dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).#} (Hud, [11:6])
Ayat-ayat yang semakna banyak didapat di dalam Al-Qur'an.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Nabi Musa bertanya kepada Samiri,"Apakah yang mendorongmu berbuat demikian? apakah yang membuatmu melakukan apa yang kamu lakukan itu?"
(Samiri menjawab, 'Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahui”) yaitu aku melihat Jibril ketika datang untuk membinasakan Fir'aun (maka aku ambil segenggam dari jejak rasul) yaitu dari bekas jejak kudanya. Inilah pendapat yang terkenal di kalangan mufasir atau kebanyakan dari mereka.
Mujahid berkata tentang firmanNya: (maka aku ambil segenggam dari jejak rasul) dia berkata dari bekas kuda malaikat Jibril. Dia berkata bahwa “gabdhah” adalah yang memenuhi kedua telapak tangan. Mujahid berkata, lalu Samiri melemparkan apa yang ada pada tangannya itu ke dalam tumpukan perhiasan Bani Israil, maka terbentuklah dari leburannya bentuk tubuh anak sapi yang dan bersuara karena masuknya angin ke dalam rongga tubuhnya.
Oleh karena itu Allah SWT berfirman: (lalu aku melemparkannya) yaitu aku melemparkannya bersama orang-orang melemparkan perhiasannya (dan demikianlah nafsuku membujukku) yaitu membuat terlihat baik dan membuatnya takjub dengan itu (Musa berkata, "Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan, “Janganlah menyentuh(ku)”) yaitu sebagaimana kamu telah mengambil dan memegang apa yang tidak boleh kamu ambil dan pegang, berupa bekas jejak utusan itu; maka hukumanmu di dunia ini adalah hendaknya kamu mengatakan,"Janganlah kamu menyentuhku," yaitu janganlah kamu menyentuk orang-orang dan mereka tidak boleh menyentuhmu (Dan sesungguhnya bagimu hukuman) yaitu pada hari kiamat (yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya) yaitu tidak ada jalan keluar bagimu darinya.
Qatadah berkata tentang firmanNya: ((hanya dapat) mengatakan, "Janganlah menyentuh(ku)”) dia berkata yaitu hukuman terhadap mereka dan sisa-sisa mereka sekarang mengatakan "Janganlah menyentuhku”
Firman Allah: (Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya) Al-Hasan, Qatadah dan Abu Nuhaik berkata bahwa maknannya adalah kamu tidak akan bisa menghindar darinya.
Firman Allah (dan lihatlah tuhanmu itu) sembahanmu (yang kamu tetap menyembahnya) yaitu kamu tetap menyembahnya yaitu patung anak sapi itu (Sesungguhnya kami akan membakarnya) kemudian melemparkan abunya di laut. Oleh karena itu Allah berfirman: (kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan))
Firman Allah SWT: (Sesungguhnya Tuhan kalian hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu (98)) Nabi Musa berkata kepada mereka,"Ini bukanlah tuhan kalian. Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah, Dzat yang tidak ada Tuhan selain Dia. Tidak ada yang pantas disembah kecuali Dia, dan segala sesuatu butuh dan menyembah kepadaNya"
Firman Allah: (Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu) menjadi nashab sebagai tamyiz, yaitu Dia Maha Mengetahui segala sesuatu (dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu) (Surah Ath-Thalaq: 12), (dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu) (Surah Al-Jin: 28) maka tidak (Tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya sekalipun seberat zarrah) (Surah Saba’: 3)
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
(Sesungguhnya Tuhan kalian hanyalah Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu) lafal 'Ilman adalah Tamyiz yang dipindahkan dari bentuk Fa'ilnya, artinya, pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Mûsâ benar-benar melaksanakan apa yang diucapkannya. Setelah mengambil pelajaran dari peristiwa ini, ia kemudian menemui Banû Isrâ'îl dan berkata, Sesungguhnya Tuhan kalian Yang Mahaesa, adalah Tuhan yang tidak boleh disembah bersama tuhan-tuhan lain. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu, baik yang lampau maupun yang akan datang.
Setelah memutuskan untuk membakar patung anak sapi itu, Nabi Musa berpidato di depan kaumnya, "Sungguh, Tuhanmu yang layak disembah itu hanyalah Allah Yang Esa. Tidak ada tuhan Pencipta dan Pengatur alam semesta selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu yang ada di alam ini."
Musa menjelaskan bahwa sapi itu bukanlah sesembahan, akan tetapi sesembahan kalian yang satu-satunya yang berhak untuk disembah hanyalah Allah yang ilmuNya meliputi segala sesuatu. Adapun selainNya adalah makhluk yang faqir kepadaNya hamba bagiNya(152 ).
Nabi Harun ‘alaihissalam adalah seseorang Nabi yang berjanggut. Ini adalah fitrah para nabi-nabi. Oleh karenanya menjadi sangat aneh di zaman sekarang ini jika seseorang mengingkari janggut, yang padahal janggut adalah petunjuk nabi yang harus kita ikuti. Bukankah Allah ﷻ berfirman,
أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ
“Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah ﷻ, maka ikutilah petunjuk mereka”.(QS. Al-An’am : 90)
Di antara nabi-nabi yang Allah ﷻ sebutkan pada konteks ayat di atas adalah Nabi Harun ‘alaihissalam. Allah berfirman,
وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَى وَهَارُونَ
“Dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa ‘alaihissalam dan Harun ‘alaihissalam”.(QS. Al-An’am : 84)
Ini menunjukkan bahwa kita diperintahkan untuk mengikuti petunjuk para nabi dan di antara petunjuk para nabi adalah berjanggut.
Perlu diketahui bahwa janggut yang dimaksudkan adalah janggut yang panjang. Bukti yang menunjukkan hal ini adalah janggut Nabi Harun ‘alaihissalam bisa digenggam oleh Nabi Musa ‘alaihissalam. Nabi Harun ‘alaihissalam berkata kepada Nabi Musa ‘alaihissalam,
لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي
“Janganlah engkau pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku” (QS. Thaha : 94)
Seandainya janggut Nabi Harun ‘alaihissalam pendek maka tidak akan mungkin bisa digenggam oleh Nabi Musa ‘alaihissalam. Bahkan kaum Nashoro tatkala menggambarkan sosok Nabi Isa ‘alaihissalam mereka pun menggambarkan bahwasanya Nabi Isa ‘alaihissalam memiliki janggut yang panjang.
Maka petunjuk siapakah yang mereka ikuti bagi sebagian orang-orang yang mengingkari janggut, sementara Nabi Harun ‘alaihissalam berjanggut, kaum Nashoro pun menggambarkan bahwa Nabi Isa berjanggut, kemudian Nabi ﷺ dan juga para sahabatnya berjanggut. Maka sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk para nabi.
Para nabi bisa saja melakukan kesalahan. Akan tetapi kesalahan mereka langsung ditegur oleh Allah ﷻ dan tidak dibiarkan begitu saja. Banyak contoh akan hal ini, di antaranya adalah kisah Nabi Musa ‘alaihissalam yang mendahului kaumnya untuk pergi ke bukit Tursina. Allah ﷻ menegur Nabi Musa ‘alaihissalam bahwasanya ijtihad Nabi Musa ‘alaihissalam untuk datang ke bukit Tursina mendahului kaumnya karena rindu ingin bertemu dengan Allah ﷻ adalah sebuah kesalahan.
Nabi Musa ‘alaihissalam adalah seorang pemimpin, seharusnya Ia berjalan bersama kaumnya bukan malah meninggalkan kaumnya. Seorang pemimpin seharusnya menyertai kaumnya dan selalu melihat keadaan kaumnya. Adapun jika seorang pemimpin membiarkan dan meninggalkan kaumnya, maka yang terjadi kaum tersebut akan mengalami perubahan. Itulah yang terjadi pada kaum Nabi Musa ‘alaihissalam pada satt itu.
Penyembahan Bani Israil kepada patung sapi menunjukan keburukan akhlak mereka. Para ulama menjelaskan hal ini terjadi dikarenakan mereka terpengaruh dengan gaya kehidupan Firaun dan suku Aqbath. Mereka hidup lama berdampingan bersama Firaun, mereka juga lama diperbudak oleh suku Aqbath, sehingga kesyirikan-kesyirikan yang mereka lihat dari kehidupan Firaun dan suku Aqbath seperti penyembahan terhadap berhala menjadi suatu hal yang biasa bagi mereka. Sampai pun ketika Bani Israil telah mengikuti Nabi Musa ‘alaihissalam, kebiasaan itu tidak hilang begitu saja dari mereka. Oleh karenanya suatu waktu mereka meminta kepada Nabi Musa ‘alaihissalam untuk membuatkan kepada mereka berhala untuk disembah, Allah ﷻ berfirman,
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَامُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ
“Dan Kami selamatkan Bani Israil menyebrangi lauit itu (bagian utara dari Laut Merah). Ketika mereka sampai pada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka (Bani Israil) berkata, Wahai Musa ‘alaihissalam, buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala).” (Musa ‘alaihissalam) menjawab, Sungguh kamu orang-orang yang bodoh”. (QS. Al-A’raf : 138)
Melihat keadaan Bani Israil yang telah terbiasa dengan kesyirikan, maka Samiri pun memanfaatkan kesempatan ini. Samiri mengetahui bahwasanya Bani Israil menyukai sesuatu yang berbentuk untuk mereka sembah, maka dibuatlah sebuah berhala sapi oleh Samiri, kemudian ia lemparkan tanah bekas dari pijakan kuda Jibril pada patung sapi tersebut sehingga terdengarlah suara padanya. Samiri kemudian mengatakan kepada Bani Israil, “inilah Tuhan kalian”, Bani Israil pun percaya akan hal tersebut.
Samiri bukan Dajjal
Siapakah Samiri?. Para ahli tafsir ketika berbicara tentang Samiri mereka berputar pada tiga pendapat.
Pendapat pertama, Samiri adalah adalah seorang berasal dari suku Aqbath yang beriman, akan tapi berselang beberapa waktu ia menjadi munafik, kemudian ia mengikuti kaumnya Nabi Musa ‘alaihissalam. Pendapat kedua mengatakan bahwa Samiri bukanlah berasal dari suku Aqbath dan juga bukan dari Bani Israil, akan tetapi kebetulan ia berada di Mesir yang akhirnya kemudian beriman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Pendapat ketiga, Samiri adalah seorang yang bersal dari Bani Samir yaitu dari golongan pembesar-pembesar Yahudi. Oleh karenanya ia dipanggil dengan panggilan Samiri yaitu penisbahan terhadap kaumnya atau kabilahnya Samir. Wallahu a’lam tidak ada dalil yang tegas menunjukan siapakah Samiri, hanya disebutkan bahwa ia dihukum oleh Nabi Musa ‘alaihissalam dengan diperintahkan kepadanya untuk pergi dengan keadaan tidak bisa menyentuh seseorangpun dan juga sebaliknya tidak ada seseorangpun yang dapat menyentuhnya. Adapaun selebihnya tentang Samiri, tidak didapatkan penjelasan lebih detail tentangnya pada buku-buku tafsir.
Seseorang dari Mesir bernama Muhammad Isa Daud menulis buku dengan judul “Dajjal muncul dari segitiga bermuda”. Di dalam bukunya tersebut ia mengatakan bahwa Samiri adalah Dajjal. Perkataannya ini tidak dilandasi dengan dalil-dalil Al-Qur’an maupun hadist, juga tanpa perkataan para sahabat, tidak seorang ahli tafsirpun yang menyatakan bahwa Samiri adalah Dajjal. Intinya Muhammad Isa Daud hanya sekedar mengira-ngira, mengkait-kaitkan dan mencocok-cocokan.
Ia menyebutkan beberapa bukti bahwa Samiri adalah Dajjal, di antaranya yaitu ketika Nabi Musa ‘alaihissalam marah terhadap Samiri, Nabi Musa ‘alaihissalam tidak berani melakukan tindakan yang kasar, hal ini dikarenakan Nabi Musa ‘alaihissalam mengetahui bahwa Samiri adalah Dajjal. Bukti lain yang ia sebutkan juga bahwa Samiri adalah Dajjal yaitu ia dapat melihat Jibril.
Bukti-bukti yang disebutkan Isa Daud adalah tidak benar, tidak ada kaitannya dari bukti tersebut bahwa Samiri adalah dajjal. Nabi Musa ‘alaihissalam berkata-kata yang lembut kepada Samiri dan juga Samiri bisa melihat Jibril bukanlah isyarat bahwa Samiri adalah Dajjal. Mengkait-kaitkan atau mencocok-cocokan suatu hal seperti ini adalah sebuah kesalahan dan juga kejahilan. Seseorang tidak dibenarkan berbicara tanpa ilmu dan dalil, apalagi berbicara sesuatu yang tidak pernah ulama berbicara tentang hal tersebut.
Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Samiri bukanlah dajjal adalah sabda Nabi ﷺ,
مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّةُ الْأَعْوَرَ الْكَذَّابَ
“Tidaklah seorang Nabi pun, kecuali ia telah mengingatkan umatnya dari si buta sebelah yang pendusta (Dajjal).(153 )
Jikalau Samiri adalah Dajjal, tentunya Nabi Musa ‘alaihissalam akan memperingatkan kaumnya sejak awal akan keberadaaan Samiri di antara mereka.
Kenyataannya Nabi Musa ‘alaihissalam tidak pernah memberikan peringatan atau isyarat kepada kaumnya bahwa Samiri adalah Dajjal. Selanjutnya yang menjadi bukti bahwa Samiri bukannlah Dajjal, mengapa Nabi Musa ‘alaihissalam tidak memanggil Samiri dengan Dajjal, padahal hadist Nabi ﷺ di atas jelas menunjukkan bahwa setiap Nabi yang diutus oleh Allah ﷻ akan memperingatkan kaumnya dari Dajjal.
Adapun perihal Samiri bisa melihat malaikat Jibril, maka ini pun tidak menunjukkan bahwasanya Samiri adalah Dajjal. Bukankah para sahabat juga pernah melihat Jibril ketika Jibril menjelma menjadi seorang sosok manusia. Apakah lantas kita mengatakan para sahabat adalah Dajjal?
Diantara bukti Bahwa Samiri bukanlah Dajjal juga adalah hukuman Allah kepada Samiri melalui Nabi Musa ‘alaihissalam, Allah ﷻ berfirman,
فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَنْ تَقُولَ لَا مِسَاسَ
”Dia (Musa ‘alaihissalam) berkata, Pergilah kau! Maka sesungguhnya di dalam kehidupan (di dunia) engkau (hanya dapat) mengatakan Janganlah engkau menyentuh (aku).” (QS. Thaha : 97)
Inilah hukuman Allah kepada Samiri, yaitu ia tidak bisa menyentuh seorangpun dan seseorangpun tidak bisa menyentuhnya. Hukuman ini akan berlangsung sampai ia mati. Adapaun Dajjal, ia akan mucul bersama tujuh puluh ribu pengikutnya dari kalangan kaum Yahudi. Ini menunjukkan bahwa Dajjal akan bercampur dengan manusia, bahkan disebutkan Dajjal akan bertemu dengan seorang pemuda dari kota Madinah, kemudian dipeganglah pemuda tersebut oleh Dajjal untuk ia sembelih.
Hal ini sangat bertentang dengan Samiri jika benar ia adalah Dajjal, sebab Dajjal bisa menyentuh dan juga bisa disentuh, sementara Samiri diberi hukuman oleh Allah selama ia hidup ia tidak akan bisa menyentuh dan tidak bisa disentuh.
Juga diantara dalil bahwa Samiri bukanlah Dajjal yaitu Samiri tidak mengaku sebagai Tuhan, Ia hanya menyeru manusia untuk menyembah berhala sapi, bukan untuk menyembah dirinya. Maka ini bertentangan dengan tugas Dajjal yaitu mengaku sebagai Tuhan.
Syubhat jika telah masuk pada hati seseorang maka akan sulit baginya untuk menghindari syubhat tersebut. Berdasarkan logika manusia, maka suatu hal yang aneh seseorang menyembah berhala sapi. Padahal berhala tersebut dibuat oleh tangan-tangan manusia itu sendiri. Bagaimana mungkin seseorang menyembah sesuatu yang lebih hina dari dirinya. Apalagi Bani Israil telah melihat banyak mukjizat yang hebat-hebat dari Nabi Musa álaihis salam, itupun Nabi Musa hanyalah seorang Rasul bukan Tuhan yang disembah. Lantas bagaimana dengan sapi yang tidak bisa berbicara lalu dianggap sebagai Tuhan?, bahkan Tuhannya Musa?.
Inilah syubhat, Subhanallah syaithan jika telah menggoda seseorang maka sesuatu yang tidak masuk akal pun akan menjadi masuk akal.
Oleh karenanya kita lihat di sebagaian negara seperti di India misalnya, terlihat sesuatu keadaaan yang menakjubkan dan tidak masuk akal. Bagaimana mungkin tikus disembah oleh manusia, di sebagian tempat lain monyet pun disembah, kemudian juga sapi dicari keberkahannya dengan diambil kotorannya. Bagaimana mungkin seseorang menyembah sesuatu yang lebih hina dari dirinya? Tetapi inilah syubhat, selalu menjadikan kesyirikan yang tidak masuk akal menjadi masuk akal pada manusia.
Oleh karenanya menjadi pelajaran, seharusnya kita harus semakin yakin bahwa hidayah itu hanya di tangan Allah ﷻ semata. Seandainya yang terjerumus dalam hal tersebut adalah hanya orang-orang yang bodoh, maka bisa dipastikan bahwa orang-orang yang pintar atau cerdas pasti akan selamat. Ternyata keadaannya tidak demikan, terkadang yang terjerumus pada kesyirikan-kesyirikan tersebut adalah orang-orang yang sangat cerdas.
Samiri dan para pengikutnya adalah orang-orang yang pertama kali melakukan peribadatan dengan berjoget-joged dan memukul-mukulkan gendang atau rebana.
Sebagian ahli tafsir menyebutkan kisah-kisah Israiliyat bahwasanya Nabi Musa ‘alaihissalam ketika pulang dari bukit Tursina, kemudian sampai ke daerah Bani Israil, ternyata mereka sedang bernari-nari dan memukul-mukul rebana disekitaran berhala sapi. Inilah kebiasaan orang-orang jahiliyah yaitu beribadah dengan menari-nari.
Al-Qurthubi dalam tafsirnya berkata :
وسَئِلَ الْإِمَامُ أَبُو بَكْرٍ الطُّرْطُوشِيُّ رَحِمَهُ اللَّهُ: مَا يَقُولُ سَيِّدُنَا الْفَقِيهُ فِي مَذْهَبِ الصُّوفِيَّةِ؟ وَأُعْلِمَ أَنَّهُ اجْتَمَعَ جَمَاعَةٌ مِنْ رِجَالٍ، فَيُكْثِرُونَ
Bukan patung anak sapi yang digunakan Samiri untuk menyesatkan kalian.
Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu
Ilmu-Nya meliputi segalanya.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.