Makna Kata Syafaat
Dalam ayat ini Allah ﷻ menyebutkan bahwa syafaat tidak akan berguna kecuali dari orang yang diberi izin oleh Allah ﷻ dan dari orang yang diridhai perkataannya. Terdapat 3 pendapat tentang orang yang diberi izin oleh Allah ﷻ dan dari orang yang diridhai perkataannya:
Pertama
Maksud dari orang yang diberi izin oleh Allah ﷻ dan dari orang yang diridhai perkataannya adalah orang yang memberikan syafaat. Kita tahu bahwa semua orang tidak dapat memberi syafaat kecuali orang yang diberi izin oleh Allah ﷻ dan dari orang yang diridhai perkataannya. Jadi semua orang mungkin untuk mendapatkan syafaat, akan tetapi orang yang bisa memberikan syafaat hanya orang-orang yang diberi izin oleh Allah ﷻ dan dari orang yang diridhai perkataannya. Sebagaimana syafaatul ‘uzhma di mana para nabi diminta untuk memberi syafaat namun tidak ada satupun yang bisa memberikan syafaat hingga mereka datang kepada Nabi Muhammad ﷺ. Beliaupun tidak bisa langsung memberikan syafaat kecuali dengan sujud yang lama meminta izin hingga Allah ﷻ mengizinkannya dengan berkata:
اِرْفَعْ رَأْسَكَ ، وَسَلْ تُعْطَهْ ، وَقُلْ يُسْمَعْ ، وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ .
“Angkat kepalamu! Mintalah, niscaya engkau akan diberi! Katakanlah, niscaya perkataanmu akan didengar! Berilah syafa’at, sesungguhnya engkau diberi wewenang memberi syafa’at”." (182 )
Jadi tidak sembarangan orang bisa memberikan syafaat karena hanya orang yang Allah ﷻ izinkan untuk memberikan syafaat dan Allah ﷻ ridhai perkataannya untuk bisa memberikan syafaat.
Kedua
Maksud dari orang yang diberi izin oleh Allah ﷻ adalah orang yang memberikan syafaat dan maksud dari orang yang diridhai perkataannya orang yang diberikan syafaat. Ini adalah pendapat Ibnul Qoyyim Al-Jauzi(183 ). Mungkin ada orang yang Allah ﷻ berikan syafaat kepada seseorang namun Allah ﷻ tidak mengizinkannya untuk memberikan kepada orang lain karena Allah ﷻ tidak ridha terhadap perkataannya.
Ketiga
Maksud dari orang yang diberi izin oleh Allah ﷻ dan dari orang yang diridhai perkataannya adalah orang yang memberikan syafaat dan orang yang diberi syafaat. Ini adalah pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah(184 ). Karena ayat ini umum,
إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا
“Pada hari itu tidak berguna syafa'at, kecuali (syafa'at) orang yang Allah ﷻ Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya.”
Sebagian ulama mengatakan bahwa firman-Nya قَوْلًا “satu perkataannya” menunjukkan bahwa terkadang seseroang memiliki banyak perkataan namun dia memiliki satu perkataan yang Allah ﷻ ridhai yang kemudian dengannya Allah ﷻ memberikannya untuk memberi syafaat atau mendapat syafaat. Yaitu mungkin dia mengucapkan kalimat laa ilaaha illallah ﷻ dengan ikhlas. Semoga kita dicatat sebagai hamba yang bisa memberi syafaat atau mendapat syafaat.
Pada hari tersebut syafaat sangat bermanfaat. Sungguh bahagia orang-orang yang Allah ﷻ izinkan untuk memberi syafaat atau mendapat syafaat. Pada hari itu Allah ﷻ memuliakannya dengan memberi syafaat. Dari sini kita ketahui bahwasanya hendaknya seseorang berusaha bertakwa kepada Allah ﷻ dan berusaha bertauhid karena jika dia termasuk ahlu tauhid maka dia akan mendapatkan syafaat. Oleh karenanya Nabi bersabda,
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا
"Setiap Nabi memiliki doa yang mustajab, maka setiap nabi menyegerakan doanya, dan sesungguhnya aku menyembunyikan doaku sebagai syafa'at bagi umatku pada hari kiamat. Dan insya Allah ﷻ syafa'atku akan mencakup orang yang mati dari kalangan umatku yang tidak mensyirikkan Allah ﷻ dengan sesuatu apa pun." (185 )
Dalam riwayat yang lain Nabi ﷺ bersabda,
«إِنَّ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي»
“sesungguhnya syfaatku pada hari kiamat untuk pelaku dosa besar daru umatku.” ( 186)
Jadi syarat untuk mendapatkan syafaat adalah tidak berbuat syirik. Dari Abu Hurairah,
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
“Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illAllah ﷻ dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya".” (187 )
Jadi semakin seseorang bertauhid maka semakin besar kemungkinan dia meraih syafaat dari Nabi ﷺ atau yang lainnya.