Makna kata
"Aalur rajuli" artinya adalah orang yang memiliki hubungan melalui nasab atau sebab lain. Dikatakan juga bahwa mereka adalah pengikut dan pendukungnya, dan orang-orang mengikuti agama dan ajarannya. Dan terkadang digunakan untuk menyebut dirinya sendiri dan dapat digunakan untuk banyak hal, seperti "Aalu Fulan". Secara umum, istilah ini tidak dihubungkan dengan daerah. Sebagian ulama’ membolehkannya seperti "Aalul madinah". Abu Ubaidah mengatakan: "Aalu Makkata Aalullah" begitu juga dapat merujuk kepada kata ganti orang.
Makna ayat
Abdul Muthalib berkata:
"Bantulah keluarga salib dan hamba-hambaNya saat ini karena dia keluargamu
Allah SWT berfirman: “Wahai Bani Israil, ingatlah nikmatKu atas kalian, ketika Aku menyelamatkan kalian dari Fir’aun dan pengikutnya, yaitu membebaskan kalian dari mereka, dan menyelamatkan kalian dari genggaman mereka melalui nabi Musa AS, dan sungguh mereka menindas kalian yaitu menyakiti, dan memberimereka siksa yang kejam. Hal itu karena Fir'aun (Allah melaknatnya) pernah melihat mimpi yang membuatnya takut, yaitu dia melihat api dari Baitul Maqdis, dan api itu masuk ke dalam rumah sukun Qibthy di negeri Mesir dan makna mimpinya yaitu bahwa kehancuran kekuasaannya akan disebabkan oleh ulah seorang pria dari Bani Israil
Dikatakan,”Tetapi penasehatnya telah memberi tahu Fir'aun bahwa Bani Israil menantikan kelahiran seorang laki-laki dari kalangan mereka yang akan memberi mereka kedaulatan dan keagungan"
Oleh karena itu, Fir'aun (Allah melaknatnya) memerintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki yang lahir dari Bani Israil, namun membiarkan hidup anak-anak perempuan. Fir'aun juga memerintahkan untuk memanfaatkan Bani Israil untuk bekerja keras dan melakukan tugas-tugas yang hina.
Dalam konteks ini, siksaan itu ditafsirkan dengan tindakan membunuh anak laki-laki. Di surah Ibrahim hal itu dihubungkan dengan hal ini, sebagaimana Allah SWT berfirman (mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu) (Surah Ibrahim: 6) Penafsiran ayat ini akan dijelaskan di awal (pembahasan) surah Al-Qashash jika Allah SWT. Dalam hal itu terdapat keyakinan, bantuan dan, dukungan.
Makna (mereka menyiksa kalian) menurut Abu 'Ubaidah itu menguasai mereka, sebagaimana dikatakan “Dia memberi kuasa sesuatu kepadanya, yaitu dia memberi kuasa hal itu kepadanya. Amr bin Kaltsum berkata, Ketika raja menyerahkan hukuman kepada semua orang, kita mengetahui bahwa hukuman akan diberikan pada kita. Firman Allah SWT di sini (mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu) agar hal itu bisa menjadi penafsiran terhadap nikmat atas mereka pada ayat (mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih), ayat ini sebagai penjelasan terhadap ayat (ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu) (Surah Al-Baqarah ayat 40). Adapun dalam Surah Ibrahim ketika Allah SWT berfirman, (dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah) (Surah Ibrahim ayat 5), yaitu nikmat-nikmat Allah kepada mereka, itu berhubungan dengan (mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih, mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu, membiarkan hidup anak-anak perempuanmu) yang dihubungkan dengan tindakan membunuh anak laki-laki sebagai salah satu bentuk nikmat dan karunia yang diberikan Allah kepada Bani Israil. Firaun adalah sebutan bagi setiap penguasa Mesir yang kafir, termasuk juga bagi penguasa dari suku Amaliq dan lainnya. Sebagaimana "Kaisar" yang merupakan sebutan bagi setiap penguasa Romawi yang berkuasa di wilayah Syam yang kafir, "Kisra" bagi penguasa Persia, dan "Tubba'" bagi penguasa Yaman yang kafir, "Najasyi" bagi penguasa Habasyah, dan "Batolimus" bagi penguasa India. Dikatakan bahwa nama Firaun pada masa nabi Musa adalah Al-Walid bin Mus'ab bin Ar-Rayan, atau Mus'ab bin Ar-Rayan. Apapun namanya, Allah melaknatnya, dan dia berasal dari keturunan Amaliq bin Lawdz bin Aram bin Sam bin Nuh. Julukannya adalah Abu Murrah dan asal-usulnya adalah dari bangsa Persia di daerah "Istakhr".
Pelajaran dari ayat
Terkait firman Allah SWT,(Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu) Ibnu Jarir berkata bahwa maknanya “Dalam hal yang Kami perbuat untuk kalian berupa penyelamaan kalian dari siksaan Fir'aun terdapat ujian yang besar dari Tuhan kalian; yaitu nikmat yang besar bagi kalian. Ali bin Abi Thalhah mengutip dari Ibnu Abbas bahwa bahwa (cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu) ini adalah nikmat. Mujahid berkata bahwa (cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu) berarti nikmat yang besar dari Tuhan kalian. Demikian juga yang diungkapkan Abu Al-‘Aliyah, Abu Malik, As-Suddi, dan lainnya. Asal kata "bala’" adalah ujian. Terkadang ujian ini bisa berupa kebaikan atau keburukan, sebagaimana Allah SWT berfirman, (Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan) (Surah Al-Anbiya': 35) dan (Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali) (Surah Al-A'raf: 168). Ibnu Jarir berkata bahwa sering kali disebut dalam konteks keburukan, yaitu “Balautuhu Abluuhu balaa’an” (Aku mengujinya dengan ujian yang buruk). Sedangkan dalam konteks kebaikan “Ubliihi iblaa’an wa balaa’an” (Aku mengujinya dengan ujian yang baik). Zuhair bin Abi Sulma: Allah membalas kebaikan atas perbuatan mereka kepada kalian. Dan menguji mereka dengan cobaan baik Dia berkata:"Dia menyatukan dua bahasa karena maksudnya yaitu Allah memberikan kepada mereka berdua nikmat terbaik yang digunakan untuk menguji hamba-hambaNya." Dikatakan: “Maksud dari dari firmanNya (Dan pada yang demikian itu) yaitu merujuk pada siksa yang berupa tindakan membunuh anak laki-laki dan membiarkan hidup anak perempuan. Al-Qurtubi berkata: “Ini adalah pendapat mayoritas, dan kata-kata tersebut disebutkan setelah menjelaskan tentang firman yang pertama, kemudian dia berkata,”hal ini adalah pendapat mayoritas, yaitu mengacu pada tindakan membunuh dan sejenisnya. Ujian yang dimaksud di sini adalah ujian yang buruk, maknanya yaitu bahwa tindakan membunuh itu dibenci dan merupakan suatu ujian Firman Allah SWT (Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan (50)) maknanya yaitu, setelah Kami menyelamatkan kalian dari Fir'aun dan pengikutnya, mengeluarkan kalian bersama nabi Musa AS, Fir'aun keluar mengejar kalian, lalu Kami memisahkan kalian dengan laut, sebagaimana Allah SWT memberitahukan tentang hal itu secara rinci sebagaimana yang akan dijelaskan pada babnya, dan pembahasan yang paling sederhana tentang itu akan dijelaskan dalam Surah Asy-Syu'ara, jika Allah menghendaki" (Kami menyelamatkan kalian) maknanya Kami membebaskan kalian dari mereka (Fir'aun dan pengikutnya) memisahkan antara kalian dan mereka, dan Kami menenggelamkan mereka, sementara kalian menyaksikannya. Semua itu untuk melegakan hati kalian dan itu lebih menghinakan musuh kalian" Disebutkan bahwa hari itu adalah hari Asyura, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas.” Rasulullah SAW tiba di Madinah, dan melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Rasulullah SAW bertanya,”Hari apa ini? sehingga kalian berpuasa?” Mereka menjawab,”Ini adalah hari yang baik di mana Allah SWT menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, lalu nabi Musa AS berpuasa” Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Kami lebih berhak dan lebih dekat dengan Musa AS daripada kalian,” lalu Rasulullah SAW berpuasa pada hari itu dan memerintahkan untuk untuk berpuasa pada hari itu
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.