Surat Al-Mu’minun ayat 96
Syaikh As Sa’diy berkata, “Apabila musuhmu berbuat jahat kepadamu baik dengan perkataan maupun perbuatan, maka janganlah membalas dengan kejahatan, meskipun sesungguhnya boleh membalas kejahatan dengan kejahatan yang serupa, akan tetapi membalas dengan berbuat ihsan adalah sebuah keutamaan darimu kepada orang yang berbuat jahat. Di antara maslahatnya adalah berkurangnya perbuatan jahatnya baik saat itu maupun yang akan datang, dapat membawa orang yang berbuat jahat kepada kebenaran dan lebih mendekatkannya untuk menyesali perbuatannya dan kembali dengan bertobat dari perbuatannya, dan agar orang yang memaafkan dapat memiliki sifat ihsan serta dapat mengalahkan musuhnya, yaitu setan serta dapat menarik pahala dari Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.”(Terj. Asy Syuuraa: 40)
Peran Nabi dalam Menghadapi Musuh
Ada yang berpendapat, bahwa perkataan dan perbuatan kaum musyrik yang tidak baik itu hendaklah dihadapi oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan perbuatan yang baik, misalnya dengan memaafkannya, yang penting tidak membawa kepada kelemahan dan kemunduran dakwah. Menurut penyusun tafsir Al Jalaalain, hal ini sebelum ada perintah memerangi mereka. Wallahu a’lam.
Makna dari Perbuatan Ihsan
Maksudnya, apa yang mereka ucapkan berupa kata-kata kufur dan penolakan terhadap kebenaran, maka ilmu Kami meliputinya, dan Kami sabar terhadapnya serta menundanya. Oleh karena itu, engkau wahai Muhammad hendaknya bersabar terhadap apa yang mereka katakan dan membalas dengan perbuatan ihsan. Inilah cara seorang hamba dalam membalas keburukan manusia, adapun jika berasal dari setan, maka berbuat ihsan kepada mereka tidaklah bermanfaat karena ia selalu mengajak manusia untuk menjadi penghuni neraka, maka untuk menghadapinya adalah dengan mengikuti petunjuk Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagaimana yang diterangkan dalam ayat selanjutnya.