Surat An-Nur Ayat 11
Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Aisyah radhiyallahu 'anha ia berkata, “Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam apabila keluar bepergian, melakukan undian di antara istri-istrinya, siapa di antara mereka yang keluar bagiannya, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam akan pergi bersamanya. ‘Aisyah berkata, “Maka Beliau melakukan undian di antara kami dalam suatu perang yang dilakukannya, ternyata bagianku yang keluar, maka aku keluar bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam setelah turun ayat hijab. Aku pun dibawa dalam sekedupku dan ditempatkan di situ. Kami pun berangkat, sehingga ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah selesai dari perang itu dan kembali pulang serta telah dekat ke Madinah, (saat itu Beliau telah singgah dan beristirahat pada sebagian malam) maka Beliau memberitahukan untuk melanjutkan perjalanan di malam itu. Ketika orang-orang saling memberitahukan keberangkatan, maka aku pun berdiri dan berjalan kaki melewati pasukan (untuk memenuhi urusannya). Setelah aku menyelesaikan urusanku, maka aku mendatangi tempatku, ternyata kalungku yang tersusun dari manik (berasal dari) Zhafar (daerah di Yaman) terlepas. Aku pun mencari kalung itu, pencarianku terhadapnya membuatku tertahan (tidak kembali), kemudian datanglah beberapa orang yang biasa mengangkut(sekedup)ku, lalu mereka mengangkut sekedupku dan menaruhnya di atas unta yang aku naiki, sedang mereka mengira bahwa aku sudah berada di dalamnya, dan biasanya kaum wanita agak ringan dan tidak banyak dagingnya (kurus), mereka biasa memakan sedikit makanan. Oleh karena itu, beberapa orang itu tidak merasakan apa-apa ketika sekedupnya ringan saat mereka angkut, dan lagi aku seorang wanita yang masih belia. Mereka pun membangkitkan unta-unta (yang beristirahat) dan berangkat, dan aku menemukan kalungku itu setelah mereka semua pergi. Aku datangi tempat mereka, ternyata tidak ada yang memanggil maupun memenuhi panggilan, aku pun pergi menuju tempat di mana sebelumnya aku berada, dan aku mengira bahwa mereka akan mencariku kemudian kembali kepadaku. Ketika aku duduk di tempatku, mataku tidak tahan sehingga aku tertidur. Ketika itu, Shafwan bin Al Mu’aththal As Sulami Adz Dzakwaniy berada di belakang pasukan, ia berjalan di akhir malam (setelah tertidur), ketika tiba waktu Subuh ia telah sampai di tempatku, ia pun melihat bayang-bayang hitam seorang manusia yang sedang tidur, ia pun mendatangiku dan mengenaliku ketika melihatku, dan ia melihatku sebelum turun ayat hijab. Aku pun bangun karena mendengar istirja’nya (ucapan innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun) saat ia mengenaliku, aku pun menutupi wajahku dengan jilbabku. Demi Allah, ia tidak berbicara satu kata pun kepadaku dan aku tidak mendengar kata-katanya selain istirja’nya, ia pun menundukkan untanya dan menginjak kedua kaki depan untanya, maka aku pun naik, dan ia pun berangkat menuntunku sampai kami menemui pasukan setelah mereka singgah di saat sinar matahari sangat panas di siang bolong. Ketika itu binasa orang yang binasa, dan orang yang mengambil bagian besar dalam kedustaan adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Kami pun tiba di Madinah, dan aku merasakan sakit selama sebulan sejak aku tiba (di Madinah), sedangkan orang-orang sibuk membicarakan berita dusta yang dibawa oleh yang membawanya, aku tidak menyadari sedikit pun tentang hal itu dan ia membuatku bimbang di tengah sakitku. Aku pun tidak melihat lagi kelembutan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang biasa aku lihat ketika aku sakit. Beliau hanya masuk, memberi salam dan berkata, “Bagaimana keadaan dirimu?” Lalu Beliau pergi, itulah yang membuatku gelisah dan aku tidak menyadari keburukan (yang terjadi) sehingga aku keluar setelah agak sembuh, lalu Ummu Misthah mengantarkan aku menuju area tinggi (di luar Madinah) yang menjadi tempat buang air kami dan kami biasa tidak keluar kecuali di malam hari dan begitulah seterusnya, dan hal itu sebelum kami membuat jamban di dekat rumah-rumah kami, dan kebiasaan kami seperti kebiasaan kaum Arab terdahulu dalam buang air, yaitu pergi jauh dari rumah. Kami merasa terganggu ketika memuat jamban di dekat rumah, maka aku berangkat dengan Ummu Misthah, yaitu putri Abu Ruhm bin ‘Abdi Manaf, sedangkan ibunya putri Shakhr bin ‘Amir bibi (dari pihak ibu) Abu Bakar Ash Shiddiq, sedangkan anaknya adalah Misthah bin Utsaatsah, maka aku dan Ummu Misthah kembali ke rumahku dan kami telah menyelesaikan urusan kami, lalu Ummu Misthah tersandung kainnya dan berkata, “Celaka Misthah,” aku pun berkata kepadanya, “Buruk sekali apa yang engkau ucapkan, apakah engkau memaki seseorang yang menghadiri perang Badar?” Ummu Misthah berkata, “Wahai wanita yang tidak sadar, tidakkah kamu mendengar ucapannya?” Aku berkata, “Apa yang ia ucapkan?” Maka Ummu Misthah memberitahukan ucapan orang-orang yang berdusta, maka bertambah sakitah aku. Ketika aku pulang ke rumah dan menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Beliau mengucapkan salam dan berkata, “Bagaimana keadaan dirimu?” Aku berkata, “Aku meminta izin untuk mendatangi ibu bapakku.” Aisyah berkata, “Ketika itu, aku ingin memastikan beritanya dari keduanya. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengizinkanku, lalu aku datang kepada ibu bapakku, aku pun berkata kepada ibuku, “Wahai ibu, apa yang sedang dibicarakan orang-orang?” Ibunya menjawab, “Wahai anakku, tenangkan dirimu. Demi Allah, hampir tidak ada satu pun wanita cantik yang berada pada seseorang yang mencintainya dan ia memiliki banyak saningan wanita, kecuali mereka akan mencacatkannya.” Aisyah berkata, “Subhaanallah, apakah orang-orang membicarakan seperti ini?” Aku pun menangis pada malam itu sampai pagi hari dan air mata tidak henti-hentinya mengucur, aku bergadang sampai pagi hari sambil menangis, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid ketika wahyu terlambat turun, Beliau bermusyawarah dengan keduanya apakah perlu menceraikan istrinya. Adapun Usamah bin Zaid mennyerahkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, karena Beliau yang mengetahui kebersihan keluarganya dan yang mengetahui sejauh mana rasa cinta Beliau kepada mereka. Usamah berkata, “Wahai Rasulullah, (tahanlah) keluargamu, kami tidak mengetahui tentangnya selain kebaikan.” Sedangkan Ali bin Abi Thalib berkata, “Wahai Rasulullah, Allah tidak mempersempit engkau, wanita selainnya cukup banyak, jika engkau bertanya kepada wanita budak (milik Aisyah) tentu dia akan berkata benar terhadapmu.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil Barirah dan bersabda, “Wahai Barirah, adakah engkau melihat sesuatu yang meragukanmu?” Barirah menjawab, “Tidak demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak melihat padanya sesuatu (yang engkau tanyakan) yang dapat membuatku mencelanya selain karena dia masih belia yang terkadang tidur karena (menjaga) adonan keluarganya, lalu kambing datang dan memakannya (adonan itu).” Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bangkit dan ketika itu Beliau meminta orang yang mau membelanya terhadap Abdullah bin Ubay bin Salul. Aisyah berkata, “Lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda di atas mimbar, “Wahai kaum muslimin! Siapa yang mau membelaku dari orang yang gangguannya sampai mengena kepada keluargaku? Demi Allah, aku tidak mengetahui tentang keluargaku selain kebaikan. Sungguh, orang-orang telah menyebutkan seorang laki-laki yang tidak aku ketahui selain kebaikan, dan ia tidaklah menemui keluargaku kecuali bersamaku.” Lalu Sa’ad bin Mu’adz Al Anshariy bangkit dan berkata, “Wahai Rasulullah, saya siap membelamu darinya. Jika ia termasuk suku Aus, maka aku akan menebas lehernya, dan jika ia termasuk saudara kami dari suku Khazraj, engkau tinggal menyuruh kami, maka kami akan melaksanakan perintahmu.” Lalu Sa’ad bin ‘Ubadah bangkit, sedangkan ia adalah tokoh Khazraj, dan sebelumnya ia adalah seorang yang saleh, akan tetapi kemarahannya bangkit, ia pun berkata kepada Sa’ad, “Demi Allah, engkau dusta. Jangan engkau bunuh dia dan engkau tidak akan sanggup membunuhnya.” Lalu Usaid bin Hudhair bangkit, sedang dia adalah putra paman Sa’ad bin Mu’adz, lalu ia berkata kepada Sa’ad bin ‘Ubadah, “Demi Allah, engkau berdusta, kami akan membunuhnya. Engkau adalah munafik dan membela kaum munafik, maka bangkitlah kedua suku; Aus dan Khazraj sampai mereka ingin berperang. Sedangkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri di atas mimbar. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa berusaha mendiamkan mereka sehingga mereka pun diam, dan Beliau pun diam.” Aisyah berkata, “Maka aku menangis pada hari itu tanpa berhenti dan tidak tidur malam.” Lalu kedua ibu-bapakku mendekatiku, sedangkan aku telah menangis selama dua malam dan satu hari, aku tidak tidur malam dan air mataku tidak berhenti menangis. Keduanya mengira bahwa tangisan itu membuka isi hatiku. Ketika keduanya duduk di dekatku, sedangkan aku dalam keadaan menangis, maka ada seorang wanita Anshar yang meminta izin menemuiku, maka aku mengizinkannya, ia pun menangis bersamaku. Ketika kami seperti itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam masuk menemui kami kemudian Beliau duduk, dan sebelumnya Beliau tidak pernah duduk di dekatku sejak diberitakan ini dan itu, dan sudah berlangsung sebulan tidak turun wahyu kepada Beliau berkenaan dengan aku. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersyahadat ketika telah duduk dan berkata, “Amma ba’du, wahai Aisyah, telah sampai berita kepadaku tentang kamu begini dan begitu. Jika engkau tidak bersalah, maka Allah akan membersihkan dirimu, dan jika engkau terjatuh melakukan dosa, maka mintalah ampunan kepada Allah dan bertobatlah kepada-Nya, karena seorang hamba apabila mengakui dosanya kemudian bertobat kepada Allah, maka Allah akan menerima tobatnya.” Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selesai mengucapkan kata-katanya, berhentilah air mataku sehingga aku tidak merasakan satu tetes pun darinya. “ Aku pun berkata kepada bapakku, “Jawablah perkataan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,” Dia (bapakku) berkata, “Demi Allah, aku tidak mengetahui apa yang harus aku ucapkan kepada Rasulullah.” Aku pun berkata kepada ibuku, “Jawablah (perkataan) Rasulullah.” Ia (ibuku) berkata, “Aku tidak tahu apa yang harus aku ucapkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.” Aku pun berkata, “Aku adalah seorang wanita yang masih belia, aku memang tidak banyak membaca Al Qur’an. Sesungguhnya aku, demi Allah, telah mengetahui bahwa engkau telah mendengar berita itu lalu berita itu menetap di hatimu dan kamu membenarkannya. Jika aku katakan, bahwa aku bersih daripadanya, dan Allah mengetahui bahwa diriku bersih, tentu engkau tidak akan membenarkan aku, dan jika aku mengaku terhadap suatu urusan yang Allah mengetahui bahwa aku bersih darinya, tentu engkau akan membenarkan aku. Demi Allah, aku tidak mendapatkan perumpamaan untuk kamu selain perkataan bapak Yusuf, yaitu “Kesabaran yang baik (itulah sikapku), dan kepada Allah-lah diminta terhadap apa yang kamu sifatkan.” Kemudian aku pindah dan tidur di kasurku. Ketika itu, aku mengetahui bahwa diriku bersih dan Allah akan membersihkan aku, akan tetapi demi Allah, aku tidak mengira bahwa Allah akan menurunkan wahyu tentang aku yang kemudian dibaca dan aku merasa sangat kecil jika sampai dibicarakan Allah dalam wahyu yang dibaca, akan tetapi aku berharap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bermimpi dalam tidurnya, bahwa Allah membersihkan aku daripadanya. Demi Allah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak meninggalkan (tempatnya) dan tidak ada salah seorang dari ahlul bait yang keluar sampai diturunkan wahyu kepada Beliau, maka Beliau tampak keberatan (karena wahyu yang turun) sampai menetes keringat seperti mutiara padahal hari sangat dingin karena beratnya wahyu yang turun kepada Beliau. Setelah lenyap kesusahan itu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau tertawa, dan kalimat yang pertama Beliau ucapkan kepada Aisyah radhiyallahu 'anha adalah, “Allah telah membersihkan kamu.” Lalu ibuku berkata, “Bangunlah kepadanya.” Aku pun berkata, “Tidak. Demi Allah, aku tidak akan bangun kepadanya dan tidak akan memuji selain Allah ‘Azza wa Jalla.” Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat, “Sesungguhnya orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu mengira…dst. Sampai sepuluh ayat. Setelah Allah menurunkan tentang bersihnya aku, Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu yang biasanya menafkahi Misthah bin Utsatsah karena hubungan kerabat dengannya dan karena fakirnya, berkata, “Demi Allah, saya tidak akan menafkahi Misthah lagi selamanya setelah ucapannya terhadap Aisyah,” maka Allah menurunkan ayat, “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah