Makna Kata
Makna yang dimaksud ialah bahwa Nabi Sulaiman membuat istana besar yang terbuat dari bahan kaca untuk menyambut kedatangan Balqis, guna memperlihatkan kepadanya kebesaran kerajaan dan pengaruhnya yang sangat kuat. Tatkala Balqis melihat apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada Sulaiman berupa kebesaran yang dimilikinya dan ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebesaran Nabi Sulaiman, maka tunduklah ia kepada perintah Allah dan meyakini bahwa dia adalah seorang nabi yang mulia lagi seorang raja yang besar. Dan Balqis berserah diri kepada Allah SWT, lalu ia mengatakan:
{رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ}
{#Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku.#} (An-Naml, [27:44])
Maksudnya, perbuatan-perbuatan zalim yang pernah dilakukannya, yaitu berupa kekafiran, kemusyrikan, dan penyembahan beserta kaumnya kepada matahari, selain Allah.
{وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ}
{#dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.#} (An-Naml, [27:44])
Artinya, Balqis mengikuti agama Nabi Sulaiman AS, yaitu menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang telah menciptakan segala sesuatu dan menentukan kadarnya masing-masing serapi-rapinya.
Makna Ayat
Makna yang dimaksud ialah bahwa Nabi Sulaiman membuat istana besar yang terbuat dari bahan kaca untuk menyambut kedatangan Balqis, guna memperlihatkan kepadanya kebesaran kerajaan dan pengaruhnya yang sangat kuat. Tatkala Balqis melihat apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada Sulaiman berupa kebesaran yang dimilikinya dan ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebesaran Nabi Sulaiman, maka tunduklah ia kepada perintah Allah dan meyakini bahwa dia adalah seorang nabi yang mulia lagi seorang raja yang besar. Dan Balqis berserah diri kepada Allah SWT, lalu ia mengatakan:
{رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ}
{#Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku.#} (An-Naml, [27:44])
Maksudnya, perbuatan-perbuatan zalim yang pernah dilakukannya, yaitu berupa kekafiran, kemusyrikan, dan penyembahan beserta kaumnya kepada matahari, selain Allah.
{وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ}
{#dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.#} (An-Naml, [27:44])
Artinya, Balqis mengikuti agama Nabi Sulaiman AS, yaitu menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang telah menciptakan segala sesuatu dan menentukan kadarnya masing-masing serapi-rapinya.
Pelajaran dari Ayat
Pelajaran yang dapat diambil dari ayat ini adalah bahwa Allah SWT selalu memberikan kecukupan kepada hamba-Nya yang berserah diri kepada-Nya. Nabi Sulaiman AS adalah contoh dari hamba yang berserah diri kepada Allah SWT, dan Allah SWT memberikan kecukupan kepada-Nya dengan memberikan kekuasaan dan kebesaran yang sangat kuat. Balqis juga berserah diri kepada Allah SWT setelah melihat kebesaran Nabi Sulaiman AS, dan Allah SWT memberikan kecukupan kepada-Nya dengan memberikan keimanan yang kuat.
Pengertian As-Sarh
Pengertian as-sarh menurut bahasa Arab adalah istana dan semua bangunan yang tinggi (tower). Allah SWT telah berfirman, menceritakan tentang Fir'aun, la'natullah, bahwa ia pernah berkata kepada Haman, pembantunya:
{ يٰهَامٰنُ ابْنِ لِيْ صَرْحًا لَّعَلِّيْٓ اَبْلُغُ الْاَسْبَابَ}
{#Buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu.#} (Ghafir, [40:36]), hingga ayat-ayat berikutnya.
As-sarh juga nama sebuah istana yang tinggi di negeri Yaman. Al-Mumarrad artinya kokoh bangunannya lagi licin (halus).
{مِنْ قَوَارِيْرَ}
{#terbuat dari kaca.#} (An-Naml, [27:44])
Yakni istana kaca. Yang dimaksud dengan tamrid ialah membuatnya licin, dan marid adalah nama sebuah benteng di Daumatul Jandal.
Makna Istana Kaca
Makna yang dimaksud ialah bahwa Nabi Sulaiman membuat istana besar yang terbuat dari bahan kaca untuk menyambut kedatangan Balqis, guna memperlihatkan kepadanya kebesaran kerajaan dan pengaruhnya yang sangat kuat. Tatkala Balqis melihat apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada Sulaiman berupa kebesaran yang dimilikinya dan ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebesaran Nabi Sulaiman, maka tunduklah ia kepada perintah Allah dan meyakini bahwa dia adalah seorang nabi yang mulia lagi seorang raja yang besar. Dan Balqis berserah diri kepada Allah SWT, lalu ia mengatakan:
{رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ}
{#Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku.#} (An-Naml, [27:44])
Maksudnya, perbuatan-perbuatan zalim yang pernah dilakukannya, yaitu berupa kekafiran, kemusyrikan, dan penyembahan beserta kaumnya kepada matahari, selain Allah.
{وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ}
{#dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.#} (An-Naml, [27:44])
Artinya, Balqis mengikuti agama Nabi Sulaiman AS, yaitu menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang telah menciptakan segala sesuatu dan menentukan kadarnya masing-masing serapi-rapinya.
Pelajaran dari Istana Kaca
Pelajaran yang dapat diambil dari istana kaca ini adalah bahwa Allah SWT selalu memberikan kecukupan kepada hamba-Nya yang berserah diri kepada-Nya. Nabi Sulaiman AS adalah contoh dari hamba yang berserah diri kepada Allah SWT, dan Allah SWT memberikan kecukupan kepada-Nya dengan memberikan kekuasaan dan kebesaran yang sangat kuat. Balqis juga berserah diri kepada Allah SWT setelah melihat kebesaran Nabi Sulaiman AS, dan Allah SWT memberikan kecukupan kepada-Nya dengan memberikan keimanan yang kuat.
Pengertian Tamrid
Pengertian tamrid menurut bahasa Arab adalah membuat sesuatu licin. Allah SWT telah berfirman, menceritakan tentang Nabi Sulaiman AS yang membuat istana kaca untuk menyambut kedatangan Balqis:
{مِنْ قَوَارِيْرَ}
{#terbuat dari kaca.#} (An-Naml, [27:44])
Makna yang dimaksud ialah bahwa Nabi Sulaiman membuat istana besar yang terbuat dari bahan kaca untuk menyambut kedatangan Balqis, guna memperlihatkan kepadanya kebesaran kerajaan dan pengaruhnya yang sangat kuat. Tatkala Balqis melihat apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada Sulaiman berupa kebesaran yang dimilikinya dan ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebesaran Nabi Sulaiman, maka tunduklah ia kepada perintah Allah dan meyakini bahwa dia adalah seorang nabi yang mulia lagi seorang raja yang besar. Dan Balqis berserah diri kepada Allah SWT, lalu ia mengatakan:
{رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ}
{#Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku.#} (An-Naml, [27:44])
Maksudnya, perbuatan-perbuatan zalim yang pernah dilakukannya, yaitu berupa kekafiran, kemusyrikan, dan penyembahan beserta kaumnya kepada matahari, selain Allah.
{وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ}
{#dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.#} (An-Naml, [27:44])
Artinya, Balqis mengikuti agama Nabi Sulaiman AS, yaitu menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang telah menciptakan segala sesuatu dan menentukan kadarnya masing-masing serapi-rapinya.
Pelajaran dari Tamrid
Pelajaran yang dapat diambil dari tamrid ini adalah bahwa Allah SWT selalu memberikan kecukupan kepada hamba-Nya yang berserah diri kepada-Nya. Nabi Sulaiman AS adalah contoh dari hamba yang berserah diri kepada Allah SWT, dan Allah SWT memberikan kecukupan kepada-Nya dengan memberikan kekuasaan dan kebesaran yang sangat kuat. Balqis juga berserah diri kepada Allah SWT setelah melihat kebesaran Nabi Sulaiman AS, dan Allah SWT memberikan kecukupan kepada-Nya dengan memberikan keimanan yang kuat.
Pengertian Marid
Pengertian marid menurut bahasa Arab adalah nama sebuah benteng di Daumatul Jandal. Allah SWT telah berfirman, menceritakan tentang Nabi Sulaiman AS yang membuat istana kaca untuk menyambut kedatangan Balqis:
{مِنْ قَوَارِيْرَ}
{#terbuat dari kaca.#} (An-Naml, [27:44])
Makna yang dimaksud ialah bahwa Nabi Sulaiman membuat istana besar yang terbuat dari bahan kaca untuk menyambut kedatangan Balqis, guna memperlihatkan kepadanya kebesaran kerajaan dan pengaruhnya yang sangat kuat. Tatkala Balqis melihat apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada Sulaiman berupa kebesaran yang dimilikinya dan ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebesaran Nabi Sulaiman, maka tunduklah ia kepada perintah Allah dan meyakini bahwa dia adalah seorang nabi yang mulia lagi seorang raja yang besar. Dan Balqis berserah diri kepada Allah SWT, lalu ia mengatakan:
{رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ}
{#Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku.#} (An-Naml, [27:44])
Maksudnya, perbuatan-perbuatan zalim yang pernah dilakukannya, yaitu berupa kekafiran, kemusyrikan, dan penyembahan beserta kaumnya kepada matahari, selain Allah.
{وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ}
{#dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.#} (An-Naml, [27:44])
Artinya, Balqis mengikuti agama Nabi Sulaiman AS, yaitu menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang telah menciptakan segala sesuatu dan menentukan kadarnya masing-masing serapi-rapinya.
Pelajaran dari Marid
Pelajaran yang dapat diambil dari marid ini adalah bahwa Allah SWT selalu memberikan kecukupan kepada hamba-Nya yang berserah diri kepada-Nya. Nabi Sulaiman AS adalah contoh dari hamba yang berserah diri kepada Allah SWT, dan Allah SWT memberikan kecukupan kepada-Nya dengan memberikan kekuasaan dan kebesaran yang sangat kuat. Balqis juga berserah diri kepada Allah SWT setelah melihat kebesaran Nabi Sulaiman AS, dan Allah SWT memberikan kecukupan kepada-Nya dengan memberikan keimanan yang kuat.
Pengertian Nurah
Pengertian nurah menurut bahasa Arab adalah obat pelenyap rambut. Allah SWT telah berfirman, menceritakan tentang Nabi Sulaiman AS yang membuat istana kaca untuk menyambut kedatangan Balqis:
{مِنْ قَوَارِيْرَ}
{#terbuat dari kaca.#} (An-Naml, [27:44])
Makna yang dimaksud ialah bahwa Nabi Sulaiman membuat istana besar yang terbuat dari bahan kaca untuk menyambut kedatangan Balqis, guna memperlihatkan kepadanya kebesaran kerajaan dan pengaruhnya yang sangat kuat. Tatkala Balqis melihat apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada Sulaiman berupa kebesaran yang dimilikinya dan ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebesaran Nabi Sulaiman, maka tunduklah ia kepada perintah Allah dan meyakini bahwa dia adalah seorang nabi yang mulia lagi seorang raja yang besar. Dan Balqis berserah diri kepada Allah SWT, lalu ia mengatakan:
{رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ}
{#Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku.#} (An-Naml, [27:44])
Maksudnya, perbuatan-perbuatan zalim yang pernah dilakukannya, yaitu berupa kekafiran, kemusyrikan, dan penyembahan beserta kaumnya kepada matahari, selain Allah.
{وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ}
{#dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.#} (An-Naml, [27:44])
Artinya, Balqis mengikuti agama Nabi Sulaiman AS, yaitu menyembah Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Yang telah menciptakan segala sesuatu dan menentukan kadarnya masing-masing serapi-rapinya.
Pelajaran dari Nurah
Pelajaran yang dapat diambil dari nurah ini adalah bahwa Allah SWT selalu memberikan kecukupan kepada hamba-Nya yang berserah diri kepada-Nya. Nabi Sulaiman AS adalah contoh dari hamba yang berserah diri kepada Allah SWT, dan Allah SWT memberikan kecukupan kepada-Nya dengan memberikan kekuasaan dan kebesaran yang sangat kuat. Balqis juga berserah diri kepada Allah SWT setelah melihat kebesaran Nabi Sulaiman AS, dan Allah SWT memberikan kecukupan kepada-Nya dengan memberikan keimanan yang kuat.
Pengertian Hud-Hud
Pengertian hud-hud menurut bahasa Arab adalah burung yang memiliki bulu yang indah. Allah SWT telah berfirman, menceritakan tentang Nabi Sulaiman AS yang membuat istana kaca untuk menyambut kedatangan Balqis:
{مِنْ قَوَارِيْرَ}
{#terbuat dari kaca.#} (An-Naml, [27:44])
Makna yang dimaksud ialah bahwa Nabi Sulaiman membuat istana besar yang terbuat dari bahan kaca untuk menyambut kedatangan Balqis, guna memperlihatkan kepadanya kebesaran kerajaan dan pengaruhnya yang sangat kuat. Tatkala Balqis melihat apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada Sulaiman berupa kebesaran yang dimilikinya dan ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri kebesaran Nabi Sulaiman, maka tunduklah ia kepada perintah Allah dan meyakini bahwa dia adalah seorang nabi yang mulia lagi seorang raja yang besar. Dan Balqis berserah diri kepada Allah SWT, lalu ia mengatakan:
{رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ}
{#Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku.#
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.