Ayat 38-41
Ketika nabi Zakariya melihat bahwa Allah memberikan kepada Maryam buah-buahan musim dingin di musim panas dan buah-buahan musim panas di musim dingin, saat itu juga timbul keinginan untuk memiliki seorang anak. Sedangkan dia adalah seorang tua yang lemah, tulang-tulangnya rapuh dan rambutnya telah memutih, dan istrinya juga sudah lanjut usia dan mandul. Akan tetapi, meskipun dengan semua hal ini, dia memohon kepada Tuhannya dan berdoa secara rahasia. Dia berkata, (Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu) yaitu dari sisiMu (seorang anak yang baik) yaitu anak yang shalih. (Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa) Allah berfirman, (Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab) yaitu malaikat berbicara kepadanya secara langsung, dan membuatnya mendengar ketika dia sedang berdiri melakukan shalat di tempat ibadahnya, tempat dia menyepi, duduk, bermunajat dan shalat. Kemudian Allah SWT memberitahukan tentang kabar gembiran yang disampaikan oleh malaikat kepadanya (Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya) yaitu seorang anak yang akan lahir dari istrimu, dan namanya Yahya. Qatadah dan lainnya berkata, “Dia menamainya Yahya karena Allah memberikan kehidupan kepadanya dengan keimanan”
Makna Kata
Firman Allah, (yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah) Al-'Aufi dan yang lainnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, serta Al-Hasan, Qatadah, 'Ikrimah, Mujahid, Abu Asy-Sya'tsa', As-Suddi, Ar-Rabi' bin Anas, Adh-Dhahhak, dan yang lainnya mengatakan tentang ayat ini, (yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah) yaitu Isa putra Maryam.
Ar-Rabi' bin Anas berkata: “Dia adalah orang pertama yang percaya kepada Isa putra Maryam" Qatadah berkata: "Dan mengikuti sunnah dan jalannya" Firman Allah: (dan orang yang bijaksana) Abu Al-'Aliyah, Ar-Rabi' bin Anas, Qatadah, Sa'id bin Jubair, dan lainnya berkata: "Seorang yang bijaksana" Qatadah berkata: "Seorang pemimpin dalam keilmuan dan ibadah" Sa'id bin Al-Musayyib berkata: "Dia adalah seorang orang yang pandai dan berilmu. ‘Athiyah berkata: "Seorang pemimpin dalam akhlak dan agamanya" Firman Allah: (menahan diri (dari hawa nafsu)) Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, Ibnu 'Abbas, Mujahid, 'Ikrimah, Sa'id bin Jubair, Abu Asy-Sya'tsa', dan 'Athiyah Al-'Aufi, bahwa mereka berkata: "Seseorang yang tidak mendatangi dengan wanita" Al-Qadhi 'Iyadh dalam kitabnya "Al-Syifa" berkata: “Ketahuilah bahwa pujian Allah SWT terhadap nabi Yahya bahwa dia (menahan diri (dari hawa nafsu)) itu tidak seperti yang dikatakan oleh sebagian mereka: bahwa dia adalah seorang yang malu-malu atau orang yang tidak memiliki dzakar, bahka ini telah dibantah oleh para ahli tafsir yang ahli, dan dikritik oleh para ulama. Mereka berkata: “Ini adalah celaan dan aib yang tidak layak bagi para nabi. Maknanya adalah bahwa dia terjaga dari dosa-dosa, yaitu tidak mendatangi wanita seolah-olah dia dijauhkan dari mereka. Dikatakan: nahwa dia menahan diri dari hawa nafsu. Dikatakan juga: Dia tidak memiliki hasrat terhadap wanita. Sudah jelas bahwa dari ketidakmampuan untuk menikah itu adalah sebuah kekurangan. Akan tetapi keutamaan untuk melakukan hal tersebut ada. Kemudian dia menahannya dengan sungguh-sungguh seperti nabi Isa, atau melalui pemberian dari Allah seperti yang diberikan kepada nabi Yahya. Kemudian, dia memiliki hak untuk untuk melakukan itu, dan melakukan kewajiban yang berkaitan dengan hal itu. Ini tidak membuatnya teralihkan dari tujuan tertingginya untuk beribadah kepada Tuhan, yaitu derajat Nabi kita SAW yang tidak pernah dihalangi oleh jumlah istri-istri beliau dari beribadah kepada Allah. Melainkan sebaliknya, meningkatkan beliau untuk beribadah dengan melindungi mereka, melakukan kewajiban untuk mereka, memberikan nafkan dan petunjuk kepada mereka. Bahkan, beliau menyatakan bahwa pernikahan itu bukanlah bagiannya di dunia. Meskipun, hal itu merupakan bagian dunia bagi orang lain, beliau bersabda: "Dijadikan kesenanganku dari duniamu" ini adalah kalimat beliau. Maksudnya adalah untuk memuji nabi Yahya bahwa dia menjaga diri, bukan karena dia tidak bisa mendatangi wanita. Tetapi maknanya sebagaimana yang telah dikatakan oleh beliau dan yang lainnya, bahwa dia dijaga dari perbuatan keji dan kehinaan. Hal ini tidak menghalangi dia untuk menikahi wanita secara halal, melindungi mereka, dan memiliki keturunan dengan mereka. Bahkan, terkadang dipahami bahwa ada keturunannya, diambil dari doa nabi Zakariya seperti yang disebutkan sebelumnya, dimana dia berdoa (Ya Tuhanku, berilah aku dari sisiMu seorang anak yang baik) Seolah-olah dia memohon agar memiliki seorang anak yang memiliki keturunan. Hanya Allah yang lebih mengetahui.
Berita Gembira Kedua
Firman Allah: (dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh) Ini adalah berita gembira kedua tentang kenabian nabi Yahya setelah berita gembira tentang kelahirannya. Berita ini lebih tinggi daripada yang sebelumnya, sebagaimana firman Allah kepada ibu nabi Musa: (Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul) (Surah Al-Qashash: 7). Ketika kabar gembira ini telah nyata, nabi Zakariya merasa terkejut dengan kehadiran seorang anak darinya setelah usia tua (Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?". Allah berfirman) yaitu malaikat (Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) Demikianlah perintah Allah itu sangat agung, tidak ada satupun yang bisa melemahkanNya dan tidak ada yang melebihiNya. (Kemudian Zakariya berkata: "Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)") yaitu tanda yang menjadi petunjuk bagiku terkait keberadaan seorang anak dariku. (Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat) yaitu isyarat bahwa kamu tidak mampu berbicara, meskipun kamu dalam keadaan sehat, sebagaimana dalam firman Allah: (selama tiga malam, padahal kamu sehat) (Surah Maryam: 10). Kemudian Allah memerintahkannya untuk banyak berdzikir, mengucapkan takbir, dan tasbih dalam keadaan ini. Allah SWT berfirman: (Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari) Akan ada pembahasan lebih lanjut tentang hal ini dalam surat Maryam, jika Allah menghendaki
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.