Makna Ayat
Allah ﷻ telah memberikan kitab kepada Musa ‘alaihissalam berupa Taurat. Para ulama berselisih tentang tafsir dari مِنْ لِقَائِهِ ‘dari pertemuan dengannya’ menjadi beberapa pendapat.
Pertama, sebagian mereka menafsirkan maksud lafal tersebut, bahwa Nabi Muhammad akan bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam . Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pun bertemu dengan Nabi Musa ‘alaihissalam ketika terjadi peristiwa Isra’ Mikraj.
Kedua, sebagian ahli tafsir yang lain menafsirkan maksudnya adalah agar Nabi Muhammad tidak meragukan dengan pertemuan antara Nabi Musa ‘alaihissalam dan Taurat, karena Nabi Musa ‘alaihissalam benar-benar diberikan kitab Taurat dari Allah ﷻ . Oleh karenanya, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam juga benar-benar mendapatkan kitab yaitu Al-Quran.
Jadi, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam mendapatkan Al-Quran, bukanlah menjadi hal yang baru, karena nabi-nabi sebelumnya pun telah diberikan kitab-kitab dari Allah ﷻ , di antaranya adalah Nabi Musa ‘alaihissalam . Maka dari itu, jika orang-orang Yahudi benar-benar meyakini bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam telah mendapatkan kitab Taurat, maka Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah mendapatkan kitab Al-Quran.
Ketiga, sebagian ahli tafsir yang lain ada yang menafsirkan agar Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidak ragu bahwa beliau akan mendapatkan ujian sebagaimana Nabi Musa ‘alaihissalam bertemu dengan ujian-ujian dalam berdakwah. Ayat ini seakan-akan menjadi التَّسْلِيَة ‘hiburan’ atau pelipur lara bagi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam agar sabar dengan ujian dan berbagai macam bentuk tantangan di dalam dakwah beliau.
Keempat, di antara penafsiran sebagian ulama adalah agar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak merasa khawatir karena Nabi Musa ‘alaihissalam akan menang atas Fir’aun, maka beliau pun demikian. Meskipun Nabi mendapatkan banyak tekanan dan gangguan dari kaum musyrikin, maka suatu saat beliau akan mendapat kemenangan( 47).
Perlu diingat bahwa surah ini termasuk Makiyah, oleh karenanya nuansanya masih berbicara tentang orang-orang yang berada pada periode Makah, di mana saat itu orang-orang kafir Quraisy memegang kekuasaan, namun Allah ﷻ memberikan hiburan kepada Nabi . Allah ﷻ menghibur beliau agar tidak khawatir, sebagaimana Nabi Musa ‘alaihissalam mendapatkan kemenangan atas Fir’aun, maka beliau pun akan mendapatkan kemenangan yang sama atas orang-orang kafir.
Ayat 48
Firman Allah ﷻ ,
وَجَعَلْنَاهُ هُدًى لِبَنِي إِسْرَائِيلَ
“Dan kami jadikan Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil.”
وَجَعَلْنَاهُ ‘dan kami akan menjadikannya’, yang dimaksud adalah kitab yang diberikan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam sebagai petunjuk bagi Bani Israil( 48).
Ayat 49
Firman Allah ﷻ ,
وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.”
Di dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan bahwa di antara pengikut Nabi Musa ‘alaihissalam adalah para pemimpin dari kalangan Bani Israil. أَئِمَّةً ‘para pemimpin’ yang dimaksud dalam ayat ini terdapat perbedaan penafsiran.
Pertama, sebagian ahli tafsir menyebutkan maksudnya adalah الأَنْبِيَاء ‘para nabi’ yang datang setelah Nabi Musa ‘alaihissalam , di mana mereka mengikuti syariat Nabi Musa ‘alaihissalam yang ada di dalam kitab Taurat. Seperti Nabi Daud ‘alaihissalam yang diberikan zikir-zikir, namun dari sisi syariat masih mengikuti kita Taurat, kecuali Nabi ‘Isa ‘alaihissalam yang mengikuti syariat baru dan tertuang di dalam kitab Injil.
Kedua, sebagian ahli tafsir yang lain menyebutkan bahwa maksudnya adalah Allah ﷻ menjadikan dari kalangan bani Israil para pemimpin berupa orang-orang saleh yang dipilih oleh Allah ﷻ tatkala mereka bersabar, di mana di antara kalangan mereka banyak yang membangkang.(49 )
Perkataan As-Syaikh Ibnu Taimiyah
Para ulama menjelaskan bahwa di antara sebab mereka menjadi pemimpin dalam keagamaan adalah karena sabar dan yakin. Oleh karenanya, perkataan yang masyhur dari As-Syaikh Ibnu Taimiyah ﷺ adalah:
بِالصَّبْرِ وَالْيَقِيْنِ تُنَالُ الْإِمَامَةُ فِيْ الدِّيْنِ
“Dengan kesabaran dan keyakinan, maka diraihlah kepemimpinan di dalam agama.”( 50)
Apabila seseorang ingin menjadi pemimpin sejati di dalam agama, maka harus disertai kesabaran dan keyakinan. Sabar dari segala gangguan, celaan dan kritikan orang yang tidak suka disertai dengan keyakinan apa yang dia sampaikan. Apabila salah satu dari keduanya tidak ada, maka dia tidak akan menjadi pemimpin.