Pada ayat ini Allah ﷻ mulai bercerita tentang orang-orang munafik yang mereka tidak kuat menghadapi ujian yang begitu dahsyat. Orang-orang munafik yang selama ini menyembunyikan kemunafikan mereka maka pada perang Ahzab tampaklah keimanan mereka yang sesungguhnya. Sebagaimana dalam pepatah Arab disebutkan,
"Setiap teko pasti akan menuangkan apa yang ada di dalamnya" (45 )
Jika teko diisi dengan air teh maka yang akan dituangkan adalah air teh dan jika diisi dengan susu maka yang akan dituangkan adalah susu. Jika seseorang menyembunyikan kemunafikan pada dirinya maka suatu saat akan terungkap. Hal ini juga difirmankan oleh Allah ﷻ dalam Al-Qur’an,
"Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu (Muhammad) sehingga engkau benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan engkau benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya, dan Allah mengetahui segala amal perbuatan kamu." (QS. Muhammad: 30)
Dalam ayat 12-14 Allah ﷻ menjelaskan bahwa orang-orang munafik saat itu terbagi menjadi tiga kelompok:
- Mereka yang secara terang-terangan mengatakan bahwa Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ adalah penipu
- Mereka yang kabur dari medan pertempuran, menakut-nakuti pasukan dan memprovokasi agar kaum muslimin kabur dari medan pertempuran. Mereka memanggil penduduk Madinah dengan sebutan “Wahai penduduk Yastrib!” untuk membangkitkan semangat Jahiliah dan fanatik kesukuan(46 ), padahal Nabi ﷺ telah mengganti nama Yatsrib menjadi Madinah sebagaimana dalam sabdanya,
"Aku diperintahkan (untuk berhijrah) ke suatu tempat yang daya tariknya lebih dominan daripada tempat-tempat lain, mereka menyebut tempat tersebut dengan Yatsrib padahal ia adalah kota Madinah, kota ini membersihkan manusia (yang jahat) sebagaimana alat tempa besi yang membersihkan karat besi".(47 )
- Mereka yang meminta izin untuk meninggalkan medan perang. Mereka beralasan bahwa rumah mereka tidak aman dan mereka berdusta dengan alasan tersebut. Dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata يَسْتَأْذِنُ dalam bentuk fi’il mudhari’ yang menjelaskan bahwa izin tersebut mereka lakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang.
Seandainya mereka diserang oleh para musuh dari segala penjuru kemudian mereka diminta الْفِتْنَةَ ada yang berpendapat makna الْفِتْنَةَ adalah untuk berbuat murtad (kembali kepada kesyirikan), pendapat lain mengatakan bahwa maknanya adalah berperang atas nama kabilah(48 ), niscaya mereka akan langsung menurutinya. Di sini Allah menjelaskan tentang sifat orang-orang munafik yang sesungguhnya, yaitu seandainya mereka telah dikuasai oleh musuh kemudian diperintahkan untuk murtad atau berperang atas nama kabilah mereka dan bukan atas nama Islam niscaya mereka tidak akan berpikir panjang untuk memenuhi permintaan tersebut. Padahal mereka telah berjanji kepada Allah ﷻ agar tidak lari dari medan pertempuran dan sungguh mereka akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah atas janji tersebut.