Makna Ayat
Ayat ini merupakan taqrir (penguatan) perintah untuk berbuat ikhlas (beribadah hanya kepada Allah dan ikhlas dalam menjalankannya), sekaligus untuk menerangkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebagaimana Dia memiliki semua kesempurnaan dan karunia atas hamba-hamba-Nya, maka milik-Nya pula agama yang bersih dari campuran syirk.
Makna Kata
Agama yang bersih dari syirk itulah agama yang diridhai-Nya bagi Diri-Nya dan bagi makhluk pilihan-Nya, dan Dia memerintahkan manusia untuk memeluknya. Hal itu karena agama tersebut mengandung peribadatan kepada Allah, mencintai-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, serta kembali kepada-Nya dalam beribadah dan kembali kepada-Nya untuk mencapai segala kebutuhan hamba.
Pelajaran dari Ayat
Agama tersebut adalah agama Islam yang memerintahkan tauhid dan menjauhi syirk. Agama Islam inilah yang memperbaiki lahir dan batin manusia, bukan agama syirk yang Allah berlepas darinya. Adapun agama syirk, apa pun nama agamanya maka ia merusak lahir dan batin manusia, merusak kehidupan dunia dan akhiratnya dan membuatnya sengsara.
Perbandingan Antara Tauhid dan Syirk
Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan tauhid dan berbuat ikhlas, maka Dia melarang syirk dan memberitahukan tercelanya orang-orang yang berbuat syirk.
Contoh Orang Musyrik
Seperti halnya orang-orang musyrik Mekah yang menyembah patung dan berhala.
Maksud Orang Musyrik
Maksud mereka adalah agar patung-patung dan berhala yang mereka sembah itu mengangkat kebutuhan mereka kepada Allah dan menjadi perantara antara mereka dengan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Mereka menyamakan antara Allah dengan raja-raja di dunia, di mana raja-raja di dunia memiliki perantara yang mengantarkan permohonan rakyat kepada rajanya.
Qiyas yang Paling Fasid
Penyamaan ini adalah qiyas yang paling fasid (rusak), karena menyamakan antara Pencipta dengan makhluk yang berbeda jauh keadaannya baik secara akal, dalil maupun fitrah.
Perbandingan Antara Allah dan Raja-Raja
Jika kita perhatikan, para raja di dunia butuh perantara antara mereka dengan rakyatnya karena mereka (para raja) tidak mengetahui keadaan rakyatnya yang datang, sehingga perlu perantara yang memberitahukan keadaan rakyat yang datang itu. Demikian pula terkadang dalam hati mereka (para raja) tidak ada rasa kasihan kepada orang yang butuh, sehingga orang yang butuh itu mencari perantara yang berusaha melunakkan hati raja.
Kelebihan Allah
Adapun Allah Subhaanahu wa Ta'aala, maka pengetahuan-Nya meliputi yang tampak maupun yang tersembunyi, tidak butuh diadakan makhluk yang memberitahukan keadaan hamba-Nya, dan Dia juga Yang Paling Penyayang dan Paling Pemurah, tidak butuh mengadakan makhluk yang menjadi penyayang hamba-hamba-Nya, bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala lebih sayang kepada mereka daripada diri mereka dan ibu-bapak mereka.
Keputusan Allah
Dia pula yang mendorong dan mengajak mereka mendatangi sebab-sebab untuk memperoleh rahmat-Nya, dan Dia menginginkan hal yang terbaik untuk mereka. Dia Mahakaya dan tidak membutuhkan makhluk-Nya, bahkan kalau seandainya semua makhluk berkumpul di tanah yang lapang, lalu meminta keperluan mereka kepada-Nya, kemudian Dia memberikan masing-masingnya kebutuhan mereka, maka tidaklah berkurang apa yang ada di sisi-Nya kecuali sebagaimana jarum yang dicelupkan ke lautan kemudian diangkat, di mana hal ini menunjukkan tidak berkurang sedikit pun, padahal Dia senantiasa memberi dan terus memberi dari sejak Dia menciptakan langit dan bumi.
Syafaat
Di samping itu, makhluk yang diberi izin memberi syafaat sangat takut kepada-Nya, sehingga tidak ada seorang pun yang berani memberikan syafaat kecuali dengan izin-Nya, dan lagi semua syafaat milik-Nya.
Kebodohan Kaum Musyrik
Berdasarkan perbedaan ini dapat diketahui kebodohan kaum musyrik dan beraninya mereka kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Hikmah Mengapa Allah Tidak Mengampuni Dosa Syirk
Dari sini pun kita mengetahui hikmah mengapa Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak mengampuni dosa syirk, yaitu karena di dalamnya terdapat pencacatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Keputusan Allah
Oleh karena itu, pada lanjutan ayatnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman akan memberikan keputusan antara dua golongan yang berselisih, yaitu antara orang-orang yang berbuat ikhlas dengan orang-orang musyrik, sekaligus memberikan ancaman keras terhadap kaum musyrik.
Keputusan-Nya
Keputusan-Nya nanti adalah Dia akan memasukkan orang-orang yang berbuat ikhlas ke dalam surga, sedangkan orang yang berbuat syirk, maka Allah akan mengharamkan surga baginya dan tempatnya adalah neraka. Yakni tidak akan memberi taufiq untuk menempuh jalan yang lurus.
Contoh Orang Musyrik
Seperti orang yang mengatakan bahwa Allah punya anak. Yaitu orang-orang yang menyembah selain Allah Subhaanahu wa Ta'aala.
Akibat Orang Musyrik
Pendusta dan orang yang ingkar ini setelah diberi nasehat dan ditunjukkan ayat, namun ia tetap mengingkarinya dan berdusta, maka bagaimana mungkin orang yang seperti ini akan memperoleh hidayah, sedangkan dia telah menutup pintunya terhadap dirinya serta mendapat hukuman Allah dengan dicap hatinya.