Makna Ayat
Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar menyembah Dia semata, tiada sekutu bagi Dia. Karena sesungguhnya Dialah Yang Maha Pencipta, Maha Pemberi rezeki, Yang memberi nikmat, Yang memberikan karunia kepada makhluk-Nya dalam semua waktu dan keadaan. Dialah Yang berhak untuk disembah oleh mereka dengan mengesakan-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya.
Perintah Berbuat Baik Kepada Orang Tua
Kemudian Nabi SAW mewasiatkan agar kedua orang tua diperlakukan dengan perlakuan yang baik, karena sesungguhnya Allah SWT menjadikan keduanya sebagai penyebab bagi keberadaanmu dari alam 'adam sampai ke alam wujud. Sering sekali Allah SWT menggandengkan antara perintah beribadah kepada-Nya dengan berbakti kepada kedua orang tua.
Perintah Berbuat Baik Kepada Ibu Bapak
Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. (Luqman: [31:14])
Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. (Al-Isra, [17:23])
Perintah Berbuat Baik Kepada Kaum Kerabat
Kemudian berbuat baik kepada ibu bapak ini diiringi dengan perintah berbuat baik kepada kaum kerabat dari kalangan kaum laki-laki dan wanita. Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis:
Bersedekah kepada orang miskin adalah sedekah, tetapi kepada kerabat adalah sedekah dan silaturahmi.
Perintah Berbuat Baik Kepada Anak Yatim
dan (berbuat baiklah kepada) anak-anak yatim. (An-Nisa, [4:36])
Mereka adalah orang-orang yang memerlukan uluran tangan karena tidak menemukan apa yang dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka. Maka Allah memerintahkan agar mereka diperlakukan dengan baik dan dengan penuh kasih sayang.
Perintah Berbuat Baik Kepada Orang Miskin
dan (berbuat baiklah kepada) orang-orang miskin. (An-Nisa, [4:36])
Mereka adalah orang-orang yang memerlukan uluran tangan karena tidak menemukan apa yang dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka. Maka Allah memerintahkan agar mereka dibantu hingga kebutuhan hidup mereka cukup terpenuhi dan terbebaskan dari keadaan daruratnya.
Perintah Berbuat Baik Kepada Tetangga
dan (berbuat baiklah kepada) tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh. (An-Nisa, [4:36])
Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan jari dzil qurba ialah tetangga yang antara kamu dan dia ada hubungan kerabat, sedangkan jaril junub ialah tetangga yang antara kamu dan dia tidak ada hubungan kerabat.
Hadis-Hadis Tentang Berbuat Baik Kepada Tetangga
- Jibril masih terus berwasiat kepadaku mengenai tetangga, hingga aku menduga bahwa Jibril akan memberinya hak mewaris.
- Jibril masih terus berwasiat kepadaku mengenai tetangga, sehingga aku menduga bahwa Jibril akan memberinya hak mewaris.
- Sebaik-baik teman di sisi Allah ialah orang yang paling baik kepada temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah ialah orang yang paling baik kepada tetangganya.
- Seorang lelaki tidak boleh kenyang tanpa tetangganya.
- Sesungguhnya bila seseorang lelaki berbuat zina dengan sepuluh orang wanita, hal ini lebih ringan baginya daripada ia berbuat zina dengan istri tetangganya.
- Sesungguhnya bila seseorang lelaki mencuri dari sepuluh rumah, hal ini lebih ringan baginya daripada ia mencuri dari rumah tetangganya.
- Dia adalah Jibril, dia terus-menerus mewasiatkan kepadaku mengenai tetangga, hingga aku menduga bahwa dia akan memberinya hak mewaris.
- Sesungguhnya mula-mula dua seteru yang diajukan di hari kiamat nanti adalah dua orang yang bertetangga.
- Kepada tetangga yang pintunya lebih dekat kepadamu.
- Barang siapa yang menginginkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, hendaklah ia berkata benar apabila berbicara, dan hendaklah ia menunaikan amanat bila dipercaya, (dan hendaklah ia berbuat baik dengan tetangga).
- Sesungguhnya mula-mula dua seteru yang diajukan di hari kiamat nanti adalah dua orang yang bertetangga.
Perintah Berbuat Baik Kepada Teman-teman Sejawat
dan (berbuat baiklah kepada) teman-teman sejawat. (An-Nisa, [4:36])
As-Sauri meriwayatkan dari Jabir Al-Ju'fi, dari Asy-Sya'bi, dari Ali dan Ibnu Mas'ud, yang dimaksud ialah istri.
Perintah Berbuat Baik Kepada Hamba Sahaya
dan (berbuat baiklah kepada) hamba sahaya yang kalian miliki. (An-Nisa, [4:36])
Makna Sombong dan Membangga-Banggakan Diri
Ayat ini memerintahkan untuk berbuat baik kepada para hamba sahaya, karena hamba sahaya adalah orang yang lemah upayanya, dan dikuasai oleh orang lain. Karena itu, terbukti bahwa Rasulullah SAW mewasiatkan kepada umatnya dalam sakit yang membawa kewafatannya melalui sabdanya yang mengatakan: "Salat, salat, dan budak-budak yang kalian miliki!" Maka beliau SAW mengulang-ulang sabdanya hingga lisan beliau kelihatan terus berkomat-kamit mengatakannya.
Hadis-Hadis yang Menerangkan Makna Sombong dan Membangga-Banggakan Diri
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Abul Abbas, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Bujair ibnu Sa'd dari Khalid ibnu Ma'dan, dari Al-Miqdam ibnu Ma'di Kariba yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
{مَا اَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا اَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا اَطْعَمْتَ زَوْجَتَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ ومَا اَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَهٌ}
{#"Tidak sekali-kali kamu beri makan dirimu melainkan hal itu sedekah bagimu, tidak sekali-kali kamu beri makan anakmu melainkan hal itu sedekah bagimu, tidak sekali-kali kamu beri makan istrimu melainkan hal itu sedekah bagimu, dan tidak sekali-kali kamu beri makan pelayanmu melainkan hal itu sedekah bagimu."#}
Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Baqiyyah, sanad hadis berpredikat sahih.
Dari Abdullah ibnu Amr, disebutkan bahwa ia pernah bertanya kepada Qahriman (pegawai)nya, "Apakah engkau telah memberikan makanan pokok kepada budak-budak?" Ia menjawab, "Belum." Abdullah ibnu Amr berkata, "Berangkatlah sekarang dan berikanlah makanan pokok itu kepada mereka, karena sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda:
{كَفٰى بِالْمَرْءِ اِثْمًا اَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوْتَهُمْ}
{#"Cukuplah dosa seseorang, bila ia menahan makanan pokok terhadap hamba sahayanya."#}
Disebutkan dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW yang telah bersabda:
{لِلْمَمْلُوْكِ طَعَامُهٗ وَكِسْوَتُهٗ وَلَا يُكَلَّفُ مِنَ الْعَمَلِ اِلَّا مَا يُطِيْقُ}
{#"Hamba sahaya berhak mendapatkan makanan dan pakaiannya, dan tidak boleh dibebani dengan pekerjaan melainkan sebatas kemampuannya."#}
Dari Abu Hurairah RA pula, dari Nabi SAW Disebutkan bahwa. Nabi SAW pernah bersabda:
{اِذَا اَتٰى اَحَدَكُمْ خَادِمُهٗ بِطَعَامِهٖ فَاِنْ لَمْ يُجْلِسْهُ مَعَهٗ فَلْيُنَاوِلْهُ لُقْمَةً اَوْ لُقْمَتَيْنِ اَوْ اَكْلَةً اَوْ اَكْلَتَيْنِ فَاِنَّهٗ وَلِيَ حَرَّهٗ وَعِلَاجَهُ}
{#"Apabila pelayan seseorang di antara kalian datang menyuguhkan makanan, lalu ia tidak mau mempersilakan pelayan untuk makan bersamanya, maka hendaklah ia memberikan kepadanya sesuap atau dua suap makanan, sepiring atau dua piring makanan, karena sesungguhnya pelayanlah yang memasak dan yang menghidangkannya."#}
Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Lafaz hadis ini berdasarkan apa yang ada pada Sahih Bukhari, sedangkan menurut lafaz Imam Muslim adalah seperti berikut:
{فَلْيُقْعِدْهُ مَعَهٗ فَلْيَأْكُلْ فَاِنْ كَانَ الطَّعَامُ مَشْفُوْهًا قَلِيْلًا فَلْيَضَعْ فِيْ يَدِهٖ اَكْلَةً اَوْ اَكْلَتَيْنِ}
{#"Hendaklah ia mempersilakan pelayannya untuk makan bersamanya; dan jika makanan tersebut untuk orang banyak lagi sedikit, maka hendaklah ia memberinya makanan di tangannya barang sesuap atau dua suap makanan."#}
Dari Abu Dzar RA, dari Nabi SAW yang telah bersabda:
{هُمْ اِخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ جَعَلَهُمُ اللّٰهُ تَحْتَ اَيْدِيْكُمْ فَمَنْ كَانَ اَخُوْهُ تَحْتَ يَدِهٖ فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ وَلَا تُكَلِّفُوْهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ فَاِنْ كَلَّفْتُمُوْهُمْ فَاَعِيْنُوْهُمْ}
{#"Mereka (para pelayan) adalah saudara-saudara kalian lagi budak-budak kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah kekuasaan kalian. Maka barang siapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberinya makan dari apa yang ia makan, dan hendaklah ia memberinya pakaian dari apa yang ia pakai, dan janganlah kalian membebani mereka pekerjaan yang tidak mampu mereka lakukan; dan jika kalian terpaksa membebani mereka (dengan pekerjaan berat), maka bantulah mereka."#}
Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Firman Allah SWT
Firman Allah SWT:
{اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًا}
{#Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.#} (An-Nisa, [4:36])
Yakni congkak, takabur, dan sombong terhadap orang lain; dia melihat bahwa dirinya lebih baik daripada mereka. Dia merasa dirinya besar, tetapi di sisi Allah hina dan di kalangan manusia dibenci.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: {#Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.#} (An-Nisa, [4:36]) yang dimaksud dengan mukhtal ialah takabur dan sombong. Sedangkan yang dimaksud dengan firman-Nya: {#lagi membangga-banggakan diri.#} (An-Nisa, [4:36]) tidak pernah bersyukur kepada Allah SWT setelah diberi nikmat oleh-Nya, bahkan dia berbangga diri terhadap orang-orang dengan karunia nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya, dan dia orang yang sedikit bersyukur kepada Allah atas hal tersebut.
Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Kasir, dari Abdullah ibnu Waqid, dari Abu Raja Al-Harawi yang mengatakan bahwa ia tidak pernah menjumpai orang yang jahat perangainya kecuali ada pada diri orang yang sombong lagi membangga-banggakan dirinya, lalu ia membacakan firman-Nya: {#dan (berbuat baiklah kepada) hamba sahaya yang kalian miliki.#} (An-Nisa, [4:36]), hingga akhir ayat. Tidak pernah ia jumpai orang yang menyakiti kedua orang tuanya kecuali ada pada diri orang sombong lagi durhaka, lalu ia membacakan firman-Nya: {#dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.#} (Maryam, [19:32])
Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Al-Awwam ibnu Hausyab hal yang semisal sehubungan dengan makna mukhtal (sombong) dan fakhur (membangga-banggakan diri). Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Na'im, dari Al-Aswad ibnu Syaiban, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abdullah ibnusy Syiklikhir yang mengatakan bahwa Mutarrif pernah menceritakan bahwa telah sampai kepadanya sebuah hadis dari Abu Dzar yang membuatnya ingin sekali bersua dengan Abu Dzar. Lalu ia menjumpai Abu Dzar. Aku (Mutarrif) bertanya, "Hai Abu Dzar, telah sampai kepadaku bahwa dirimu pernah menduga bahwa Rasulullah SAW telah bersabda, 'Sesungguhnya Allah menyukai tiga orang dan membenci tiga orang'." Abu Dzar menjawab, "Memang benar, kamu tentu percaya bahwa aku tidak akan berdusta kepada kekasihku (Nabi SAW)," sebanyak tiga kali. Aku bertanya, "Lalu siapakah tiga macam orang yang dibenci oleh Allah itu?" Abu Dzar menjawab, "Orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri. Bukankah kamu pun telah menjumpainya di dalam Kitabullah yang ada pada kalian?" Kemudian Abu Dzar RA membacakan firman-Nya: {#Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.#} (An-Nisa, [4:36])
Dan telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, dari Khalid, dari Abu Tamimah, dari seorang lelaki dari kalangan Banil Hujaim yang menceritakan: Aku pernah berkata, "Wahai Rasulullah, berwasiatlah untukku." Maka Rasulullah SAW bersabda,
{اِيَّاكَ وَاِسْبَالَ الْاِزَارِ فَاِنَّ اِسْبَالَ الْاِزَارِ مِنَ الْمَخِيْلَةِ وَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ المَخِيْلَةِ}
{#"Jangan sekali-kali kamu memanjangkan kainmu, karena sesungguhnya memanjangkan kain merupakan sikap orang yang sombong, dan sesungguhnya Allah tidak menyukai (orang yang bersikap) sombong."#}
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.