Makna Kata
Orang-orang yang kuat agamanya; mereka mempunyai kedudukan yang kuat dalam bidang ilmu yang bermanfaat. Pembahasan mengenai tafsirnya telah kami ketengahkan dalam tafsir surat Ali Imran.
Firman Allah SWT
dan orang-orang mukmin. (An-Nisa, [4:162]) di-athaf-kan kepada lafaz ar-rasikhuna, sedangkan khabar-nya adalah firman Allah SWT Selanjutnya, yaitu:
mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur'an) dan apa yang telah diturunkan sebelummu. (An-Nisa, [4:162])
Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Salam, Sa'labah ibnu Sa'ih, Asad ibnu Sa'ih, dan Asad ibnu Ubaid; semuanya masuk Islam dan beriman kepada apa yang diutuskan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW
Firman Allah SWT
dan orang-orang yang mendirikan salat. (An-Nisa, [4:162])
Demikianlah bacaannya menurut semua mushaf para imam. Hal yang sama disebutkan di dalam mushaf Ubay ibnu Ka'b. Tetapi Ibnu Jarir menyebutkan bahwa ayat ini menurut mushaf Ibnu Mas'ud disebutkan dengan bacaan wal muqīmūnash shalāta, bukannya wal muqīmīnash shalāta. Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat yang sahih adalah menurut qiraah mayoritas, sebagai bantahan terhadap orang yang menduga bahwa hal tersebut termasuk kekeliruan dalam menulis Al-Kitab (Al-Qur'an).
Kemudian ibnu Jarir menyebutkan perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenainya. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa lafaz ini di-nasab-kan karena mengandung makna madah (pujian); sama halnya dengan pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:
dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan peperangan. (Al-Baqarah, [2:177])
Ibnu Jarir mengatakan hal seperti ini berlaku di dalam pembicaraan orang-orang Arab. Salah seorang penyair mengatakan:
Kaum wanita itu pasti tidak akan jauh dari kaumku, karena mereka adalah singa peperangan, pembantai musuh, pantang mundur dalam semua medan peperangan, tetapi mereka orang-orang yang baik lagi mengikat erat-erat kain sarungnya (yakni memelihara kehormatannya).
Sedangkan ulama lainnya mengatakan bahwa lafaz al-muqimiina ini di-jar-kan karena di-'ataf-kan kepada firman-Nya:
kepada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur'an) dan apa yang diturunkan sebelummu. (An-Nisa, [4:162])
Yaitu mereka juga mendirikan salat. Dengan kata lain, seakan-akan dikatakan bahwa mereka mengakui kewajiban salat dan kefarduannya atas diri mereka. Atau makna yang dimaksud dengan orang-orang yang mendirikan salat ini adalah para malaikat, seperti yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Dengan kata lain, mereka beriman kepada kitab yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang diturunkan sebelummu serta beriman kepada para malaikat. Akan tetapi, pendapat ini masih perlu dipertimbangkan.
Firman Allah SWT
dan orang-orang yang menunaikan zakat. (An-Nisa, [4:162])
Yang dimaksud dengan zakat pada ayat di atas dapat diinterpretasikan sebagai zakat harta benda, dapat diinterpretasikan zakat badan (fitrah), dapat pula diinterpretasikan dengan pengertian kedua-duanya.
dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. (An-Nisa, [4:162])
Artinya, mereka percaya bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan mereka beriman dengan adanya hari berbangkit sesudah mati, dan hari pembalasan semua amal perbuatan, amal yang baik, dan amal yang buruk.
Orang-orang itulah. (An-Nisa, [4:162])
Lafaz ayat ini merupakan khabar dari jumlah yang sebelumnya.
yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar. (An-Nisa, [4:162])
Yakni surga.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.