Ayat 9-16
Allah SWT berfirman, "Tetapi orang-orang musyrik itu (tenggelam di dalam keragu-raguannya) yaitu telah datang kepada mereka kebenaran yang diyakini, sedangkan mereka meragukannya, mendustakannya dan tidak mau membenarkannya. Kemudian Allah SWT berfirman seraya memperingatkan dan mengancam mereka: (Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata (10))
Diriwayatkan dari Abdullah bin Abu Mulaikah, dia berkata bahwa pada suatu hari dia pergi mengunjungi Ibnu Abbas, lalu Ibnu Abbas berkata,"Tadi malam aku tidak dapat tidur sampai pagi hari." Aku bertanya, "Mengapa?" Ibnu Abbas menjawab, "Telah muncul bintang yang memiliki ekor, maka aku khawatir jika itu pertanda munculnya kabut, sehingga aku tidak dapat tidur sampai pagi hari" Demikian juga yang dikatakan orang-orang yang sependapat dengan Ibnu Abbas dari kalangan para sahabat dan tabi'in, dengan hadits-hadits marfu' dalam kitab-kitab shahih dan hasan serta hadis lainnya yang mereka sebutkan. Di dalamnya terdapat dalil yang jelas bahwa “Ad-Dukhan” merupakan salah satu pertanda yang ditunggu-tunggu kedatangannya, dan bersamaan dengan itu jelas pada Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman: (Maka tunggulah ketika langit membawa kabut yang nyata (10)) yaitu kabut yang jelas dapat dilihat setiap orang. Tetapi berdasarkan tafsir yang disampaikan Ibnu Mas'ud sesungguhnya kabut itu hanyalah berasal dari ilusi mereka lihat kare kelaparan dan kelelahan. Demikian juga yang disebutkan dalam firmanNya SWT: (yang meliputi manusia) yaitu, menutupi mereka semua. Seandainya kabut itu merupakan ilusi, maka yang mengalaminya hanya penduduk Makkah yang musyrik saja, dan tidak akan disebutkan dalam firmanNya: (yang meliputi manusia) Firman Allah SWT: (Inilah azab yang pedih) yaitu, hal ini dikatakan kepada mereka dengan maksud mengecam dan mencemoohkan, sebagaimana firmanNya: (Pada hari mereka didorong ke neraka Jahanam dengan sekuat-kuatnya (dikatakan kepada mereka) (13) "Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakannya” (14))(Surah Ath-Thur) atau dikatakan oleh sebagian dari mereka kepada sebagian lain. Firman Allah: ((mereka berdoa), "Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman” (12)) yaitu orang-orang kafir itu ketika menyaksikan azab dan hukuman Allah memohon agar azab dan siksaan itu dilenyapkan dan diangkat dari mereka. sebagaimana firmanNya: (Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, "Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman” (27)) (Surah Al-An'am) dan (Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada waktu itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim, "Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan), “Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa? (44)) (Surah Ibrahim) Demikian juga di sini Allah berfirman: (Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan (13) kemudian mereka berpaling darinya dan berkata "Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi seorang yang gila" (14) Allah SWT berfirman, "Bagaimana mungkin mereka menerima peringatan, padahal Kami telah menutus kepada mereka seorang rasul dengan membawa risalah dan peringatan, sekalipun demikian mereka berpaling darinya dan tidak setuju denganya, bahkan mendustakannya (dan berkata "Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi seorang yang gila") Ini sebagaimana firmanNya: (Pada hari itu ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya) (Surah Al-Fajr: 23) Firman Allah SWT: (Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaaan itu agak sedikit, sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar) (15)) (Surah Ad-Dukhan)
Ada dua makna tentang ayat ini:
-
Allah SWT berfirman, "Seandainya Kami melenyapkan azab itu dari kalian dan Kami mengembalikan kalian ke dunia, sungguh kalian akan kembali mengulangi perbuatan kalian berupa kekafiran dan mendustakan kebenaran" sebagaimana firmanNya: (Andaikata mereka Kami belas kasihani, dan Kami lenyapkan kemudaratan yang mereka alami, benar-benar mereka akan terus menerus terombang-ambing dalam sifat melampaui batas mereka (75)) (Surah Al-Mu’minun)
-
Yang kedua bahwa makna yang dimaksud adalah sesungguhnya Kami menangguhkan azab dari kalian bahkan sebentar setelah terpenuhinya semua penyebab turunnya azab kepada kalian, sedangkan kalian terus-menerus melampaui batas dan tersesat. Dan tidaklah “pelenyapan azab dari mereka” itu berarti mereka sedang mengalaminya, sebagaimana firmanNya: (Selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami lenyapkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai kepada waktu yang tertentu) (Surah Yunus: 98) Azab tidak sedang mereka alami dan masih belum sampai kepada mereka melainkan hanya penyebab-penyebabnya saja. Dan hal ini bukan berarti bahwa mereka telah meninggalkan kekafiran mereka, lalu mereka kembali lagi kepada kekafiran itu. Allah SWT telah berfirman seraya memberitahukan tentang nabi Syu'aib yang berkata kepada kaumnya saat mereka berkata kepadanya: ("Sesungguhnya kami akan mengusir kamu, hai Syu'aib dan orang-orang yang beriman bersamamu, dari kota kami; kecuali kamu kembali pada agama kami.” Syu'aib berkata "Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya? (88) Sungguh kami mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, sesudah Allah melepaskan kami darinya”) (Surah Al-A'raf: 88-89) Nabi Syu'aib sama sekali tidak pernah memeluk agama mereka dan tidak pula tata cara mereka. Qatadah berkata bahwa maknanya adalah sesungguhnya kalian akan kembali kepada azab Allah. Firman Allah: ((Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan (16)) Ibnu Mas'ud menafsirkan bahwa hari itu adalah perang Badar. Dan inilah yang dikatakan sejumlah ulama yang sependapat dengan Ibnu Mas'ud dalam tafsirnya tentang Ad-Dukhan yang telah dijelaskan. Yang jelas bahwa hal itu menunjukkan bahwa hal itu terjadi pada hari kiamat, sekalipun dalam perang Badar dinamakan juga sebagai hari pembalasan. Ibnu Abbas berkata bahwa Ibnu Mas'ud berkata bahwa yang dimaksud dengan hantaman yang keras adalah hari Perang Badar. Saya berkata bahwa itu adalah hari kiamat. Pendapat yang serupa juga dikatakan Hasan Al-Bashri dan Ikrimah menurut salah satu dari dua riwayat yang paling shahih
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.