Makna Kalimat Takwa
Firman Allah SWT:
{اِذْ جَعَلَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ}
{#Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan Jahiliah.#} (Al-Fath, [48:26])
Demikian itu terjadi ketika mereka menolak jika dituliskan Bismillahir Rahmanir Rahim, dan mereka menolak pula bila dituliskan dalam perjanjian tersebut, "Ini adalah janji yang disetujui oleh Muhammad utusan Allah."
{فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَعَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ وَاَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوٰى}
{#lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa.#} (Al-Fath, [48:26])
Yang dimaksud dengan kalimat takwa ialah la ilaha illallah (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), seperti yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan Abdullah ibnu Imam Ahmad, bahwa telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Quza'ah Abu Ali Al-Basri, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Habib, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Saur, dari ayahnya, dari At-Tufail (yakni Ibnu Ubay ibnu Ka'b), dari ayahnya, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya:
{وَاَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوٰى}
{#dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa#} (Al-Fath, [48:26])
Bahwa yang dimaksud adalah ucapan, Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah)."
Definisi Kalimat Takwa
Yang dimaksud dengan kalimat takwa ialah ucapan Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah).
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Muhammadur Rasulullāh
Muhammadur Rasulullāh (Muhammad adalah utusan Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū
Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wallāhu akbar
Lā ilāha illallāh wallāhu akbar (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan Allah Mahabesar) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū
Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh
Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Bismillāhir Rahmānir Rahīm
Bismillāhir Rahmānir Rahīm (dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū
Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wallāhu akbar
Lā ilāha illallāh wallāhu akbar (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan Allah Mahabesar) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh
Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Bismillāhir Rahmānir Rahīm
Bismillāhir Rahmānir Rahīm (dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū
Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wallāhu akbar
Lā ilāha illallāh wallāhu akbar (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan Allah Mahabesar) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh
Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Bismillāhir Rahmānir Rahīm
Bismillāhir Rahmānir Rahīm (dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū
Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wallāhu akbar
Lā ilāha illallāh wallāhu akbar (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan Allah Mahabesar) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh
Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Bismillāhir Rahmānir Rahīm
Bismillāhir Rahmānir Rahīm (dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū
Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wallāhu akbar
Lā ilāha illallāh wallāhu akbar (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan Allah Mahabesar) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh
Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Bismillāhir Rahmānir Rahīm
Bismillāhir Rahmānir Rahīm (dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū
Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wallāhu akbar
Lā ilāha illallāh wallāhu akbar (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan Allah Mahabesar) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh
Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Bismillāhir Rahmānir Rahīm
Bismillāhir Rahmānir Rahīm (dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū
Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wallāhu akbar
Lā ilāha illallāh wallāhu akbar (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan Allah Mahabesar) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh
Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Bismillāhir Rahmānir Rahīm
Bismillāhir Rahmānir Rahīm (dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū
Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wallāhu akbar
Lā ilāha illallāh wallāhu akbar (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah, dan Allah Mahabesar) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh
Lā ilāha illallāh muhammadūr rasulullāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan Muhammad utusan Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Bismillāhir Rahmānir Rahīm
Bismillāhir Rahmānir Rahīm (dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh
Lā ilāha illallāh (tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū
Lā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lahū (tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya) adalah ucapan yang dimaksud dengan kalimat takwa.
Definisi Lā ilāha illallāh wallāhu akbar
Lā ilāha illallāh wallāhu akbar (tidak ada Tuhan yang
Perjanjian Hudaibiyah
Maka Abu Bakar RA memotong pembicaraannya dengan mengatakan, "Isaplah itil Lata (berhala sembahan mereka), apakah engkau kira kami akan lari dan meninggalkannya?" Urwah bertanya, "Siapakah orang ini?" Mereka menjawab, "Abu Bakar." Urwah berkata, "Ingatlah, demi Allah, seandainya engkau belum pernah berjasa kepadaku, tentulah akan kubalas makianmu itu."
Lalu Urwah berbicara dengan Nabi SAW, dan setiap kali Urwah berbicara kepada Nabi SAW, ia memegang jenggot Nabi SAW. Akan tetapi, saat itu Al-Mugirah ibnu Syu'bah RA berdiri di dekat kepala Nabi SAW seraya memegang pedang dan Nabi SAW memakai pelindung kepala (dari anyaman besi); dan setiap kali Urwah hendak memegang jenggot Nabi SAW, Al-Mugirah memukul tangannya dengan pangkal pedang seraya berkata, "Jauhkanlah tanganmu dari jenggot Rasulullah." Lalu Urwah mendongakkan kepalanya dan bertanya, "Siapakah orang ini?" Nabi SAW menjawab, "Al-Mugirah ibnu Syu'bah." Urwah berkata, "Hai pengkhianat, aku akan membalas perbuatan khianatmu."
Dahulu di masa Jahiliah Al-Mugirah menemani suatu kaum, tetapi ia bunuh mereka dan ia ambil harta mereka, lalu ia datang dan masuk Islam. Maka Nabi SAW bersabda kepadanya, "Adapun jika kamu masuk Islam, akan saya terima. Tetapi mengenai harta, aku tidak ikut campur dengannya."
Kemudian Urwah melihat semua sahabat Rasulullah SAW dengan mata yang terbelalak karena keheranan. Sebab demi Allah, tidak sekali-kali Rasulullah SAW mengeluarkan dahaknya melainkan dahaknya itu diterima telapak tangan seseorang dari mereka, lalu mengusapkan dahak (air ludah) itu ke wajah dan kulitnya. Apabila beliau memerintahkan kepada mereka suatu perintah, mereka berebutan untuk mengerjakannya. Dan apabila beliau berwudu, hampir saja mereka saling baku hantam karena merebut sisa air wudunya. Apabila beliau berbicara, maka mereka merendahkan suaranya (yakni diam mendengarkan sabdanya), dan mereka tidak berani menatap pandangan mereka ke arah Nabi SAW karena menghormatinya.
Urwah kembali kepada teman-temannya, lalu berkata kepada mereka, "Hai kaum, demi Tuhan, aku pernah menjadi delegasi ke berbagai raja. Aku pernah diutus menghadap kepada Kisra, Kaisar, dan Najasyi. Tetapi demi Allah, aku belum pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh teman-temannya seperti yang dilakukan oleh sahabat-sahabat Muhammad terhadap Muhammad. Demi Allah, jika dia meludah, tiada lain ludahnya itu diterima oleh telapak tangan seseorang dari mereka, lalu ia gunakan ludah itu untuk mengusap wajah dan kulit tubuhnya (karena ludah Rasulullah SAW baunya sangat harum). Apabila dia memerintahkan sesuatu kepada mereka, maka mereka berebutan untuk melaksanakannya. Dan apabila ia berwudu, maka hampir saja mereka baku hantam memperebutkan sisanya. Apabila dia berbicara di hadapan mereka, maka mereka merendahkan suaranya, dan mereka tidak berani manatap wajahnya karena mengagungkannya. Dan sesungguhnya dia telah menawarkan suatu rencana kepada kalian, yaitu rencana yang baik, maka sebaiknya kalian terima."
Maka berkatalah seseorang dari mereka dari kalangan Bani Kinanah, "Biarkanlah aku yang akan datang kepadanya." Mereka menjawab, "Datangilah dia." Ketika lelaki itu telah tampak kedatangannya di mata Rasulullah SAW, maka beliau bersabda: Dia adalah Fulan, dia berasal dari kaum yang menghormati hewan kurban, maka giringlah hewan-hewan kurban itu agar kelihatan olehnya. Al-Mugirah ibnu Syu'bah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia menggiring hewan kurban dan kaum muslim berpapasan dengannya seraya mengucapkan talbiyah. Ketika lelaki itu menyaksikan pemandangan tersebut, berkatalah ia, "Subhdnallah, tidaklah pantas bila mereka dihalang-halangi untuk sampai ke Baitullah:'
Ketika ia kembali kepada teman-temannya, ia berkata, "Aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri hewan-hewan kurban telah dikalungi dan diberi tanda, maka menurut hemat saya tidaklah pantas bila mereka dihalang-halangi dari Baitullah." Maka berdirilah seseorang dari mereka yang dikenal dengan nama Mukarriz ibnu Hafs, lalu ia mengatakan, "Biarkanlah aku yang akan datang kepadanya." Mereka berkata, "Datangilah dia olehmu." Ketika ia tampak oleh Nabi SAW dan para sahabatnya, maka berkatalah beliau SAW: Orang ini adalah Mukarriz, seorang lelaki yang pendurhaka.
Lalu Mukarriz berbicara dengan Nabi SAW. Dan ketika dia sedang berbicara, tiba-tiba datanglah Suhail ibnu Amr.
Ma'mar menceritakan, telah menceritakan kepadaku Ayyub, dari Ikrimah yang telah mengatakan bahwa ketika Suhail datang, Nabi SAW bersabda: Sesungguhnya telah dimudahkan bagi kalian urusan kalian ini.
Ma'mar mengatakan bahwa Az-Zuhri telah menyebutkan dalam hadis yang dikemukakannya, bahwa lalu datanglah Suhail dan berkata, "Marilah kita tuangkan perjanjian antara kami dan kamu ke dalam suatu naskah perjanjian." Maka Nabi SAW memanggil Ali RA dan memerintahkan kepadanya: Tulislah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang".
Tetapi Suhail memotong dan mengatakan, "Ar-Rahman (Tuhan Yang Maha Pemurah) demi Allah, aku tidak mengerti apa maksudnya, tetapi sebaiknya tulislah 'Dengan menyebut nama Engkau ya Allah' seperti biasanya kamu pakai." Maka kaum muslim menjawab, "Demi Allah kami tidak mau menulisnya kecuali dengan 'Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang'." Maka Nabi SAW menengah-nengahi ketegangan itu melalui sabdanya: Tulislah "Dengan menyebut nama Engkau, ya Allah, " kemudian beliau melanjutkan sabdanya, "Ini adalah perjanjian yang telah disetujui oleh Muhammad utusan Allah." Suhail kembali memprotes, "Demi Allah, seandainya kami mengetahui bahwa engkau adalah utusan Allah, tentulah kami tidak menghalang-halangi engkau untuk sampai ke Baitullah, dan tentu kami pun tidak akan memerangimu, tetapi sebaiknya tulislah 'Muhammad Ibnu Abdullah'."
Maka Rasulullah SAW bersabda: Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar utusan Allah, sekalipun kalian mendustakanku. Tulislah Muhammad ibnu Abdullah.
Az-Zuhri mengatakan bahwa demikian itu karena Rasulullah SAW telah bersabda sebelumnya: Demi Allah tidaklah mereka meminta kepadaku suatu rencana yang di dalamnya mereka muliakan syiar-syiar Allah yang suci, melainkan aku memberikannya kepada mereka (yakni menyetujuinya).
Maka Nabi SAW berkata kepada Suhail, "Dengan syarat hendaklah kalian biarkan antara kami dan Baitullah karena kami akan melakukan tawaf padanya." Suhail menjawab, "Demi Allah, demi mencegah agar orang-orang Arab jangan membicarakan bahwa kami ditekan, tetapi sebaiknya hal itu dilakukan untuk tahun depan (yakni bukan tahun itu)."
Suhail mengajukan syarat, "Dan syarat lainnya ialah tiada seorang pun dari kami yang datang kepadamu, sekalipun dia memeluk agamamu, melainkan engkau harus mengembalikannya (memulangkannya) kepada kami." Maka kaum muslim berkata, "Subhdnalldh, mana mungkin dia dikembalikan kepada orang-orang musyrik, sedangkan dia datang dalam keadaan muslim."
Ketika mereka sedang dalam keadaan tawar menawar, tiba-tiba datanglah Abu Jandal ibnu Suhail ibnu Amr dalam keadaan terbelenggu dengan rantai. Dia telah melarikan diri dari Mekah melalui jalan yang terendah, hingga sampailah ia di hadapan kaum muslim. Maka Suhail berkata, "Hai Muhammad, ini adalah orang yang mula-mula termasuk ke dalam perjanjian yang harus engkau tunaikan kepadaku untuk mengembalikannya kepadaku." Maka Nabi SAW berkata, "Kita masih belum menyelesaikan naskah perjanjian ini."
Suhail ibnu Amr berkata, "Kalau begitu, demi Tuhan, aku tidak mau berdamai denganmu atas sesuatu pun selamanya." Maka Nabi SAW mendesak, "Kalau begitu, perbolehkanlah dia demi untukku." Abu Sufyan menjawab, "Aku tidak akan membolehkan hal itu bagimu." Nabi SAW mendesak lagi, "Tidak, biarkanlah dia untukku." Abu Sufyan bersikeras, "Aku tidak akan membiarkannya diambil olehmu." Mukarriz mengatakan, "Ya, kalau kami memperbolehkan engkau untuk mengambilnya." Abu Jandal berkata, "Hai orang-orang muslim, apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik, padahal aku datang sebagai seorang muslim, tidaklah kalian lihat apa yang telah kualami?" Tersebutlah bahwa Abu Jandal selama itu disiksa dengan siksaan yang berat karena membela agama Allah SWT
Umar RA mengatakan bahwa lalu ia mendatangi Nabi SAW dan berkata kepadanya, "Bukankah engkau Nabi Allah yang sebenarnya?" Nabi SAW menjawab, "Benar." Aku (Umar) bertanya, "Bukankah kita berada di pihak yang benar dan musuh kita berada di pihak yang batil?"
Rasulullah SAW menjawab, "Benar." Aku bertanya, "Maka mengapa kita mengalah dalam membela agama kita?" Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya aku adalah utusan Allah, dan aku tidak akan mendurhakai perintah-Nya, Dia pasti akan menolongku.
Umar bertanya, "Bukankah engkau telah mengatakan kepada kami bahwa kita akan datang ke Baitullah dan melakukan tawaf padanya?" Rasulullah SAW menjawab, "Benar, tetapi apakah aku mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya tahun ini?" Umar menjawab, "Tidak." Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan akan tawaf padanya."
Umar melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia datang kepada Abu Bakar dan mengatakan kepadanya, "Hai Abu Bakar, bukankah dia adalah Nabi Allah yang sebenarnya?" Abu Bakar menjawab, "Benar." Umar bertanya, "Bukankah kita di pihak yang benar dan musuh kita di pihak yang batil?" Abu Bakar menjawab, "Benar." Umar bertanya, "Lalu mengapa kita mengalah dalam membela agama kita?"
Abu Bakar merasa kesal, lalu berkata, "Hai lelaki (maksudnya Umar), sesungguhnya beliau adalah utusan Allah dan beliau tidak akan mendurhakai Tuhannya. Dia pasti akan menolongnya, maka terimalah apa yang telah ditetapkannya. Demi Allah, sesungguhnya dia berada pada keputusan yang benar."
Umar berkata, "Bukankah dia telah berbicara kepada kita bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan melakukan tawaf padanya?" Abu Bakar menjawab, "Benar." Abu Bakar balik bertanya, "Apakah beliau mengatakan kepadamu bahwa kita akan mendatanginya tahun ini?" Umar menjawab, "Tidak." Abu Bakar berkata, "Maka sesungguhnya engkau pasti akan mendatanginya dan melakukan tawaf padanya."
Az-Zuhri menceritakan, Umar RA mengatakan bahwa karena peristiwa tersebut ia melakukan banyak amal kebaikan (untuk melebur dosanya karena ia merasa berdosa dengan kata-katanya itu kepada Nabi SAW).
Setelah usai dari penandatanganan naskah gencatan senjata itu, Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya: Bangkitlah kalian dan sembelihlah (hewan kurban kalian), kemudian bercukurlah.
Umar RA menceritakan bahwa demi Allah, tiada seorang pun dari mereka yang bangkit melaksanakannya, hingga Nabi SAW mengulangi sabdanya sebanyak tiga kali. Ketika beliau SAW melihat tiada seorang pun dari mereka yang melakukannya, maka masuklah beliau ke dalam kemah Ummu Salamah RA, lalu menceritakan kepadanya apa yang dilakukan oleh kaum muslim terhadap perintahnya. Ummu Salamah RA bertanya kepada beliau SAW, "Hai Nabi Allah, apakah engkau menginginkan agar hal tersebut terlaksana? Sekarang keluarlah dan janganlah engkau berkata sepatah kata pun kepada seseorang dari mereka sebelum engkau menyembelih kurbanmu dan kamu panggil tukang cukurmu untuk mencukurmu."
Maka Rasulullah SAW keluar dan tidak berbicara kepada seseorang pun dari mereka hingga melakukan apa yang telah disarankan oleh Ummu Salamah itu. Beliau menyembelih hewan kurbannya, lalu memanggil tukang cukurnya. Maka tukang cukur mencukur rambut beliau SAW
Ketika mereka melihat hal tersebut, maka bangkitlah mereka menuju ke tempat hewan kurban masing-masing, lalu mereka menyembelihnya dan sebagian dari mereka mencukur sebagian yang lain secara bergantian, hingga sebagian dari mereka hampir saja membunuh sebagian yang lainnya karena kesusahan.
Kemudian datanglah menghadap kepada Rasulullah SAW wanita-wanita mukmin, dan Allah SWT menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan beriman. (Al-Mumtahanah: 10) Sampai dengan firman-Nya: pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir. (Al-Mumtahanah: 10)
Maka Umar menceraikan dua orang istrinya pada hari itu juga, yang keduanya masih tetap dalam kemusyrikannya. Kemudian salah seorangnya dikawini oleh Mu'awiyah ibnu Abu Sufyan, sedangkan yang lainnya dikawini oleh Safwan ibnu Umayyah.
Kemudian Nabi SAW kembali ke Madinah, lalu beliau kedatangan Abu Busair, seorang lelaki dari kalangan Quraisy yang telah masuk Islam. Maka orang-orang Quraisy mengirimkan utusannya yang terdiri dari dua orang lelaki untuk memulangkannya. Lalu mereka berkata, "Kami menuntut janj i yang telah engkau berikan kepada kami." Maka Nabi SAW menyerahkan Abu Busair kepada kedua lelaki utusan Quraisy itu yang segera membawanya pulang. Dan ketika keduanya sampai di Zul Hulaifah, mereka bertiga turun dan beristirahat untuk memakan buah kurma bekal mereka.
Abu Busair berkata kepada salah seorang dari keduanya, "Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar melihat pedangmu ini, hai Fulan, sangat bagus." Maka lelaki lainnya menghunus pedangnya dan mengatakan, "Ben
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.