Makna Kata "Tangan"
Makna kata "tangan" dalam Al-Qur'an memiliki beberapa makna, yaitu:
- Kutukan dari Allah terhadap orang-orang Yahudi, yang berarti bahwa mereka akan terbelenggu di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain selama di dunia dan akan disiksa dengan belenggu neraka di akhirat kelak.
- Tangan mereka terbelenggu sehingga tidak dapat mengerjakan kebaikan, sekaligus doa buruk untuk mereka.
- Pernyataan bahwa tangan merekalah yang sesungguhnya terbelenggu dari berbuat baik kepada manusia, dan ternyata memang demikian, yakni mereka adalah manusia yang paling kikir kepada orang lain dan paling sedikit kebaikannya, paling buruk sangkaannya kepada Allah dan paling jauh dari rahmat-Nya, padahal rahmat-Nya mengena kepada segala sesuatu dan memenuhi alam bagian atas maupun bawah.
Kedua Tangan Allah
Ahlussunnah sepakat bahwa Allah memiliki dua tangan secara hakiki namun yang sesuai dengan kebesaran-Nya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
« إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ عَنْ يَمِينِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِينٌ الَّذِينَ يَعْدِلُونَ فِى حُكْمِهِمْ وَأَهْلِيهِمْ وَمَا وَلُوا »
"Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil, di sisi Allah akan berada di atas mimbar-mibar dari cahaya di sebelah kanan Ar Rahman ‘Azza wa Jalla, dan kedua tangan-Nya adalah kanan. Mereka (yang berada di mimbar itu) adalah orang-orang yang adil dalam hukumnya, keluarganya dan dalam hal yang mereka pimpin." (HR. Muslim)
Dalam hadits riwayat Muslim juga disebutkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
« يَطْوِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ ثُمَّ يَطْوِى الأَرَضِينَ بِشِمَالِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ »
"Allah akan menggulung seluruh lapisan langit pada hari kiamat, lalu diambil dengan tangan kanan-Nya, dan berfirman, “Akulah penguasa, di mana orang-orang yang berlaku zalim? Di mana orang-orang yang sombong?” Kemudian Allah menggulung beberapa bumi, lalu diambil dengan tangan kiri-Nya dan berfirman, “Akulah Penguasa, di mana orang-orang yang berlaku zalim? Di mana orang-orang yang sombong ?”."
Kedua hadits di atas menunjukkan bahwa Allah memiliki dua tangan, hanya saja di hadits pertama menerangkan bahwa kedua tangan-Nya adalah kanan, sedangkan hadits kedua menyebutkan tentang tangan kiri-Nya. Hal ini tidaklah bertentangan, karena maksud hadits pertama adalah bahwa tangan yang satu lagi tidaklah seperti tangan kiri sebagaimana tangan kiri yang dimiliki makhluk yang keadaannya lemah.
Kepemurahan Allah
Tidak ada yang menghalangi apa yang Dia kehendaki, Dia melapangkan karunia dan ihsan-Nya baik karunia agama maupun dunia, dan memerintahkan hamba-hamba-Nya agar mendatangi kepemurahan-Nya serta tidak menutup pintu ihsan terhadap diri mereka dengan berbuat maksiat.
Dia senantiasa memberi di malam dan siang hari, kebaikan-Nya senantiasa tercurah di setiap waktu, menghilangkan derita dan menyingkirkan kesedihan, mengkayakan yang miskin, membebaskan tawanan dan mengobati hati yang sedang merana, mengabulkan orang yang meminta, memberi orang yang fakir, mengabulkan permintaan orang sangat membutuhkan, memberi nikmat meskipun tidak diminta, menyembuhkan orang yang meminta kesembuhan, demikian juga tidak dihalangi dari kebaikan-Nya orang-orang yang bermaksiat.
Di antara kepemurahan-Nya adalah memberi taufiq wali-wali-Nya untuk mengerjakan amal shalih, kemudian Dia memuji mereka karenanya dan menisbatkan amal itu kepada mereka, padahal yang demikian berkat kepemurahan-Nya, Dia membalas mereka terhadapnya dengan pahala yang segera atau ditunda nanti dengan balasan yang tidak mungkin digambarkan, dan belum pernah terlintas di hati manusia serta bersikap sayang kepada mereka dalam semua urusan mereka, menyampaikan kepada mereka ihsan-Nya serta menghindarkan musibah namun mereka tidak menyadarinya.
Nikmat Allah
Mahasuci Allah, di mana semua nikmat yang dirasakan hamba berasal dari-Nya, dan kepada-Nya diminta untuk menghindarkan bahaya. Maha banyak kebaikan Allah, di mana tidak seorang pun yang dapat menjumlahkan pujian-Nya, bahkan Dia sebagaimana Dia memuji dirinya, Maha Tinggi Dia, di mana semua hamba-Nya tidak pernah lepas sedetik pun dari kepemurahan-Nya, bahkan adanya mereka dan masih dapat hidup tidak lain karena kepemurahan-Nya.
Sungguh buruk sekali mereka yang merasa tidak membutuhkan-Nya dan menisbatkan kepada-Nya sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, namun Dia Maha Penyantun, tidak segera menghukum mereka meskipun Dia berkuasa dan tetap terus mengejak mereka bertobat dari sikap itu (lihat ayat 65 setelah ini).
Hal ini merupakan hukuman besar yang ditimpakan kepada seorang hamba, yakni Al Qur'an yang seharusnya menghidupkan ruh, membahagiakannya di dunia dan akhirat serta menjadikannya mendapatkan keberuntungan, yang mengharuskan seseorang menerimanya, tunduk kepada Allah dan mensyukuri-Nya, namun malah menambah kesesatan baginya dan menambah kekafirannya.
Hal itu tidak lain karena berpaling daripadanya, menolaknya dan malah menentangnya. Masing-masing golongan mereka menyelisihi yang lain, tidak mau bersatu dan tidak mau tolong-menolong, bahkan saling benci-membenci dan tidak mau sepakat untuk hal yang bermaslahat bagi mereka semua.
Untuk memerangi Islam dan para pemeluknya. Dengan mengecewakan mereka, memecah belah tentara mereka dan memenangkan kaum muslimin. Dengan melakukan berbagai kemaksiatan, mengajak kepada agama mereka yang batil dan menghalangi manusia dari agama Islam.
Oleh karena itu, Dia akan menyiksa mereka.