Makna Kata
وَتَرَكْنَا فِيهَا آيَةً لِلَّذِينَ يَخَافُونَ الْعَذَابَ الألِيمَ "Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut pada siksa yang pedih," agar mereka dapat mengambil pelajaran dan mengetahui bahwa siksaan Allah ﷻ, sangat dahsyat dan sesungguhnya semua RasulNya ﷺdalah orang-orang yang benar lagi dibenarkan.
Hikmah dan Hukum
Pertama
Di dalam kisah ini terdapat beberapa hikmah dan hukum: Pertama, di antara hikmah kisah yang dituturkan Allah ﷻ kepada para hambaNya tentang orang-orang baik dan orang-orang keji, adalah agar para hamba bisa mengambil pelajaran dari mereka dan sampai di manakah kondisi mereka.
Kedua
Kedua, keutamaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah ﷻ, di mana Allah ﷻ memulai kisah kaum Nabi Luth ‘alaihissalam dengan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yang menunjukkan perhatian Allah ﷻ terhadap kondisinya.
Ketiga
Ketiga, anjuran menjamu tamu. Menjamu tamu termasuk salah satu sunnah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, kekasih Allah ﷻ, di mana Allah ﷻ memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya untuk mengikuti Agama Ibrahim ‘alaihissalam. Kisah yang disebutkan Allah ﷻ dalam topik ini adalah sebagai pujian dan sanjungan untuk Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.
Keempat
Keempat, tamu harus dihormati dengan berbagai macam penghormatan, baik dengan perkataan maupun perbuatan, sebab Allah ﷻ menggambarkan tamu-tamu Ibrahim ‘alaihissalam sebagai orang-orang yang dimuliakan. Artinya, mereka dimuliakan oleh Ibrahim ‘alaihissalam. Allah ﷻ menggambarkan bagaimana jamuan yang dilakukan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Dan para tamu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam juga dimuliakan di sisi Allah ﷻ.
Kelima
Kelima, rumah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjadi tempat persinggahan tamu yang datang di malam hari, sebab para tamu Ibrahim ‘alaihissalam itu langsung masuk tanpa izin, namun menempuh cara beradab dengan memulai salam, kemudian Nabi Ibrahim ‘alaihissalam membalas salam mereka secara lengkap dan sempurna. Balasan salam yang disebutkan Ibrahim berbentuk jumlah ismiyyah yang menunjukkan keteguhan dan ketetapan.
Keenam
Keenam, anjuran untuk mengenal orang yang datang atau ketika terjadi semacam interaksi dengan seseorang, karena hal itu memiliki banyak manfaat.
Ketujuh
Ketujuh, sopan santun Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan kelembutannya ketika berbicara, karena beliau berkata, "Kaum yang tidak dikenal," tidak berkata, "Aku tidak mengenal kalian," terdapat perbedaan jelas antara kedua kata tersebut.
Kedelapan
Kedelapan, bersegera dalam menjamu tamu, sebab kebaikan yang paling utama adalah yang segera. Karena itulah Ibrahim ‘alaihissalam segera menghidangkan jamuan makanan untuk para tamunya.
Kesembilan
Kesembilan, hewan sembelihan yang sudah ada yang telah disiapkan untuk selain tamu sebelum tamu datang lalu disuguhkan untuk tamu bukan suatu penghinaan sama sekali, namun hal itu sebagai salah satu bentuk memuliakan tamu sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Allah ﷻ sendiri memberitahukan bahwa para tamunya adalah terhormat.
Kesepuluh
Kesepuluh, Ibrahim adalah orang yang menjamu tamunya meski dia adalah kekasih Allah ﷻ Yang Maha Pengasih dan pemimpin para orang yang menjamu tamu.
Kesebelas
Kesebelas, Ibrahim menyuguhkan makanan di tempat yang dekat dengan para tamu, tidak diletakkan di tempat yang agak jauh dengan mengatakan, "Silahkan," atau "Datangilah," karena hal itu lebih mudah dan lebih baik.
Kedua Belas
Kedua Belas, melayani tamu dengan perkataan yang lembut khususnya ketika menghidangkan makanan, seperti yang dilakukan Ibrahim ‘alaihissalam yang menyuguhkan makanan dengan tutur kata yang lembut, "Apakah kalian tidak makan?" Bukan dengan tutur kata, "Makanlah," dan tutur kata lain yang lebih baik lagi, boleh menggunakan etika menawarkan makanan untuk tamu dengan kata, "Apakah kalian tidak makan?" "Apakah kalian tidak mempersilahkan diri kalian?" "Kami mendapatkan kemuliaan dan kalian berbuat baik terhadap kami…" atau kata-kata yang lain.
Ketiga Belas
Ketiga Belas, orang yang merasa takut pada seseorang karena adanya suatu sebab, maka yang ditakuti itu harus menghilangkan perasaan takutnya dengan menyebutkan sesuatu yang bisa memberinya rasa aman dari rasa takut dan menentramkan kegelisahannya, sebagaimana yang dikatakan oleh para malaikat itu kepada Nabi Ibrahim ketika Nabi Ibrahim takut terhadap mereka, "Jangan takut," kemudian mereka memberitahukan kabar gembira yang menyenangkan setelah sebelumnya Nabi Ibrahim ketakutan.
Keempat Belas
Keempat Belas, Sarah, istri Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, begitu gembira sehingga terjadilah apa yang terjadi, dengan memukul-mukul mukanya serta tingkah lakunya yang tidak seperti biasa.
Kelima Belas
Kelima Belas, kemuliaan yang diberikan Allah ﷻ kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan istri beliau berupa berita gembira akan lahirnya seorang putra yang alim.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.