Ayat-ayat ini merupakan ayat yang bercerita tentang An-Nubuwah (kenabian), yaitu penetapan bahwasanya Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang rasul. Dan ayat ini merupakan pembelaan terhadap Nabi ﷺ .
Firman Allah ﷻ,
فَذَكِّرْ فَمَا أَنْتَ بِنِعْمَتِ رَبِّكَ بِكَاهِنٍ وَلَا مَجْنُونٍ
“Maka peringatkanlah, karena dengan nikmat Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah seorang dukun dan bukan pula orang gila.”
Kalau orang-orang beriman saja terkadang bisa lalai sehingga perlu diberi peringatan, maka terlebih orang-orang kafir, mereka sangat butuh untuk diberi peringatan secara berulang agar suatu saat mereka bisa mendapatkan hidayah. Oleh karenanya ayat ini memerintahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tidak berhenti dalam memberi peringatan kepada orang-orang kafir Quraisy (75). Dan pada ayat ini disebutkan bahwa inilah di antara tuduhan orang-orang kafir kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu seorang dukun, orang gila, atau penyair. Sebelumnya orang-orang kafir Quraisy bingung dengan tuduhan apa yang pas untuk Nabi ﷺ . Maka tatkala mereka berkumpul, mulailah dari mereka merembukkan sebutan apa yang pas untuk dituduhkan kepada Nabi ﷺ hingga akhirnya keluarlah sebutan dukun, penyair, dan orang gila. Akan tetapi karena ketiga tuduhan tersebut tidak benar, maka Allah ﷻ membantah itu semua dengan ayat ini. (76)
Nabi ﷺ bukanlah seorang dukun dan tidak pernah melakukan praktik perdukunan. Nabi ﷺ juga bukanlah orang gila, dan orang-orang kafir Quraisy tahu betul akan hal itu. Dan Nabi ﷺ juga bukan seorang penyair (77), sebagaimana dalam firman Allah ﷻ,
وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ
“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya. Alquran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang jelas.” (QS. Yasin : 69)
Oleh karenanya dari sekian ribu hadits-hadits Nabi ﷺ , tidak kita dapati Nabi ﷺ suka bersyair. Padahal Nabi ﷺ adalah orang Arab, dan orang Arab seringnya senang dan pandai dengan syair. Terlebih di zaman beliau adalah zaman dimana orang-orang berbangga-bangga dengan syair. Akan tetapi Nabi ﷺ sangat jarang bersyair, melainkan hanya pada beberapa hadits Nabi ﷺ bersyair. Di antaranya Nabi ﷺ berkata,
أَنَا النَّبِيُّ لاَ كَذِبْ، أَنَا ابْنُ عَبْدِ المُطَّلِبْ
“Aku seorang Nabi yang tidak berdusta. Aku anak dari ‘Abdul Mutholib.” (78)
اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الآخِرَهْ ... فَأَكْرِمِ الأَنْصَارَ، وَالمُهَاجِرَهْ
“Ya Allah, tidak ada kehidupan yang sesungguhnya kecuali kehidupan akhirat. Maka muliakanlah kaum Anshar dan Muhajirin.” (79)
Dari sekian banyak perkataan beliau ﷺ , hanya dua inilah syair yang beliau ucapkan. Dan jika sekiranya Nabi ﷺ banyak bersyair, maka tentu jelas alasan orang-orang kafir Quraisy mengatakan bahwa Nabi ﷺ adalah seorang penyair dan Alquran hanyalah syair-syair. Dan yang benar adalah mereka tahu hakikat Alquran bukanlah syair karena urutan (tata susunan) Alquran tidak sebagaimana tata susunan syair-syair. Oleh karenanya para ulama mengatakan bahwa Alquran adalah mukjizat, yang tidak bisa didatangkan oleh manusia. Dan Allah ﷻ telah menantang seluruh bangsa jin dan manusia untuk mendatangkan yang semisal dengan Alquran, akan tetapi mereka tidak mampu (80). Allah ﷻ berfirman,
قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Alquran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain’.” (QS. Al-Isra’ : 88)
Tatkala mereka tidak mampu mendatangkan Alquran yang semisal, maka Allah ﷻ menantang kembali untuk mendatangkan sepuluh surah yang semisal. Allah ﷻ berfirman,
فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِثْلِهِ مُفْتَرَيَاتٍ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Datangkanlah sepuluh surah semisal dengannya (Alquran) yang dibuat-buat, dan ajaklah siapa saja di antara kamu yang sanggup selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Hud : 13)
Tentu meskipun hanya sepuluh surah mereka tidak akan mampu untuk mendatangkan yang semisal dengan Alquran. Kemudian Allah ﷻ menantang dengan tantangan yang lebih ringan, Allah ﷻ berfirman,
وَإِنْ كُنْتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِنْ مِثْلِهِ وَادْعُوا شُهَدَاءَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ
“Dan jika kamu meragukan (Alquran) yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah : 23)
Akan tetapi ternyata membuat satu surah yang semisal dengan surah yang ada di Alquran pun mereka tidak mampu, padahal mereka orang-orang kafir Quraisy sangat pakar dalam syair dan bahasa Arab. Tentunya ini menunjukkan bahwa Alquran adalah mukjizat dan bukan karangan Nabi ﷺ . (81)
Oleh karenanya tuduhan orang-orang kafir Quraisy terhadap Nabi ﷺ merupakan tuduhan yang tidak benar, bahkan tuduhan yang tidak berdasar sama sekali.
Di antara mukjizat Alquran adalah merupakan perkataan Allah ﷻ. Secara sederhana untuk menggambarkan hal ini, kita mengetahui bahwa manusia memiliki tingkatan-tingkatan dalam pengetahuannya. Ada seorang ‘alim, ada seorang ahli bahasa (penyair), dan ada banyak orang awam. Kalau sekiranya kita kumpulkan satu juta orang untuk bisa membuat tulisan seperti tulisan seorang ahli bahasa, maka pasti mereka tidak akan mampu. Demikian pula jika orang awam diminta untuk membuat tulisan seperti tulisan seorang ‘alim, maka tentu mereka tidak mampu. Demikianlah gambaran jika manusia jika disuruh membuat yang seperti Alquran, maka tentu tidak akan bisa karena Alquran adalah firman Allah ﷻ. Dan di antara mukjizat lain Alquran selain tidak mampunya manusia mendatangkan yang semisal adalah dari sisi lafal dan maknanya. Buku tafsir jumlahnya sangat banyak, dan satu buku tafsir tidak bisa mencukupkan tafsir yang lainnya. Sering didapati suatu pembahasan pada suatu buku tafsir yang tidak dibahas pada buku tafsir yang lainnya. Ini menunjukkan bahwa keajaiban Alquran tidak pernah berhenti. Dan di antara mukjizat Alquran lainnya kata para ulama adalah susunan ayat-ayat dan kaitan antara satu ayat dan ayat berikutnya.
Kemudian firman Allah ﷻ,
أَمْ يَقُولُونَ شَاعِرٌ نَتَرَبَّصُ بِهِ رَيْبَ الْمَنُونِ
“Bahkan mereka berkata, ‘Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya’.”
Yang namanya penyair pasti akan meninggal dunia. Dan mereka orang-orang kafir Quraisy menantikan kematian Nabi Muhammad ﷺ . Bahkan mereka berharap sebagaimana ayah beliau Abdullah meninggal di usia muda maka semoga Muhammad juga meninggal di usia muda.
Kemudian firman Allah ﷻ,
قُلْ تَرَبَّصُوا فَإِنِّي مَعَكُمْ مِنَ الْمُتَرَبِّصِينَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Tunggulah! Sesungguhnya aku pun termasuk orang yang sedang menunggu bersama kamu’.”
Ketika orang-orang kafir Quraisy menantikan kematian Nabi ﷺ maka Allah memerintahkan Nabi untuk menyampaikan kepada mereka bahwa Nabipun sedang menantikan kematian mereka. Akan tetapi takdir Allah ﷻ menentukan bahwa orang-orang kafir tersebut meninggal terlebih dahulu pada perang Badr.(82) Ternyata bukan mereka yang menunggu tapi Nabi yang menunggu.