Makna Ayat
Dalam ayat ini Allah ﷻ menjelaskan orang-orang kafir mereka dalam kondisi tersesat karena mereka berpaling dan menjauh dari kebenaran, dan juga mereka dalam kondisi terbakar dan sebagian ulama mengatakan bahwa mereka dalam kondisi gila. (77)
Tafsir Ayat
Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwasanya yang dimaksud dalam ayat ini “Sungguh, orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan akan berada dalam neraka (di akhirat)”adalah golongan Qodariyyah(78) yaitu golongan yang menolak takdir Allah ﷻ yang kita ketahui bahwasanya beriman kepada takdir termasuk rukun iman yang ke 6, barang siapa yang tidak beriman kepada takdir maka imannya tidak sah, sebagaimana yang disebutkan pada shohih Muslim
Kisah Abdullah bin Umar
"Orang yang pertama kali membahas takdir di Bashrah adalah Ma'bad al-Juhani, maka aku dan Humaid bin Abdurrahman al-Himyari bertolak haji atau umrah, maka kami berkata, 'Seandainya kami bertemu dengan salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, maka kami akan bertanya kepadanya tentang sesuatu yang mereka katakan berkaitan dengan takdir.' Maka [Abdullah bin Umar] diberikan taufik (oleh Allah) untuk kami, sedangkan dia masuk masjid. Lalu aku dan temanku menghadangnya. Salah seorang dari kami di sebelah kanannya dan yang lain di sebelah kirinya. Lalu aku mengira bahwa temanku akan mewakilkan pembicaraan kepadaku, maka aku berkata, 'Wahai Abu Abdurrahman, sesungguhnya telah muncul di hadapan kami suatu kaum membaca al-Qur'an dan mencari ilmu lalu mengklaim bahwa tidak ada takdir, dan perkaranya adalah baru (tidak didahului oleh takdir dan ilmu Allah).' Maka [Abdullah bin Umar] menjawab, 'Apabila kamu bertemu orang-orang tersebut, maka kabarkanlah kepada mereka bahwa saya berlepas diri dari mereka, dan bahwa mereka berlepas diri dariku. Dan demi Dzat yang mana hamba Allah bersumpah dengan-Nya, kalau seandainya salah seorang dari kalian menafkahkan emas seperti gunung Uhud, niscaya sedekahnya tidak akan diterima hingga dia beriman kepada takdir. (79)
Rahasia Allah
Namun yang jadi masalah adalah kebanyakan orang yang menyimpang dalam masalah takdir karena mereka menggunakan otak atau akal mereka yang bukan ranahnya, karena masalah takdir di luar dari ranah akal, oleh karenanya para ulama mengatakan,
إنَّ قَدَرَ اللهِ تعالى سرٌّ مكتومٌ
“sesungguhnya takdir Allah Ta’ala adalah rahasia yang tersembunyi.” (80)
Ilustrasi
Sehingga tidak ada seseorang yang mengetahui mengapa si fulan ditakdirkan begini dan begini, mengapa Muhammad dijadikan sebagai seorang rasul, mengapa Iblis ditakdirkan sebagai Iblis, maka semua ini tidak ada seorang pun yang dapat mengetahuinya karena ini adalah rahasia Allah ﷻ. Ibnu Daqiq Al-Ied berkata bahwasanya seseorang mungkin jika sudah di akhirat seseorang akan diungkapkan rahasia tersebut, akan tetapi kita tidak akan mengetahui rahasia tersebut mengapa begini dan begitu maka Allah ﷻ berfirman:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” QS. Al-Anbiya: 23
Rukun Iman Terhadap Takdir
Rukun iman kepada takdir:
Pertama: عِلْمُ اللهِ السَّابِق yaitu ilmu Allah ﷻ yang maha mengetahui sebelumnya.
Kedua: الكِتَابَة pencatatan di al-lauh al-mahfuzh
Ketiga: المشِيْئَة kehendak, yaitu semua yang terjadi tidak ada yang keluar dari kehendak Allah ﷻ.
Keempat: الخلْقُ penciptaan apa yang Allah ﷻ kehendaki tersebut. (81)
Perumpamaan
Penulis akan memberikan perumpamaan untuk dapat lebih memahami 4 rukun iman terhadap takdir وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَىٰ“dan perumpamaan Allah lebih besar”, jika ada seorang insinyur dan kalau dia hebat ketika dia ingin membangun rumah maka dia harus paham tentang ilmu membuat rumah, maka dia akan memperkirakan, menyusun sketsa rumahnya, memperkirakan bahan-bahannya, memperkirakan biayanya atau RAB (rencana anggaran biaya), memperkirakan kapan selesai pembangunannya, dan semuanya dia perkirakan, semuanya dia lakukan dengan ilmu lalu dia gambar dan susun bagaimana progres setiap bulannya dan tahap akhirnya dia kerjakan, jika dia memperkirakan pembangunan rumah tersebut selama 4 bulan dan ternyata rumah tersebut selesai selama 4 bulan sesuai yang dia perkirakan maka dia adalah seorang insinyur yang hebat karena sesuai berjalan dengan progresnya, namun kebanyakan orang tidak bisa seperti ini, yang pasti ada kesalahan yang terjadi entah itu tambah biaya, atau kurang biaya, salah hitung, atau telat dari yang diperkirakan.
Ilmu Allah
Allah ﷻ sebelum menjalankan penciptaan semua ini Dia merencanakan, Dia tahu apa yang akan Dia lakukan, Dia tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang secara keseluruhan, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ،
“Allah ﷻ telah mencatat takdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi.” (82)
Manfaat Beriman Kepada Takdir
Maka dalam ayat ini disebutkan dua manfaat dari beriman kepada takdir:
Pertama: supaya kalian jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kalian, karena jika ada yang luput maka semua ini sudah Allah ﷻ takdirkan, dan ini sangat penting dalam kehidupan kita, karena tidak semua yang kita hadapi sesuai dengan tujuan kita atau sesuai dengan cita-cita kita, banyak hal yang terjadi tidak sesuai dengan cita-cita kita yang membuat air mata kita berderai, membuat kita marah, karena memang Allah ﷻ menjadikan kehidupan sebagai tempat ujian, sehingga ketika kita sedang diuji maka kita ingat bahwa hal tersebut telah ditakdirkan,
مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَمَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
“bahwa apa yang ditakdirkan menjadi bagianmu tidak akan meleset darimu, dan apa yang tidak ditakdirkan untuk menjadi bagianmu tidak akan engkau dapatkan.” (84)
Beriman Kepada Takdir
Penulis mempunyai sebuah kisah tentang Ustadz Abu Sa’ad rahimahullah yang cerita tersebut penulis dapatkan dari teman-teman beliau, ketika beliau mengirimkan berbagai macam bantuan ke sebagian negara dan saat itu di sana dalam konteks perang, beliau berkata kepada kawan-kawan penulis: “kamu jangan takut karena setiap peluru telah ditulis namanya akan mengenai siapa, jika tidak ada namamu maka tidak akan mengenaimu”. Kawan-kawan beliau yang pernah menyertai beliau dalam safar untuk kegiatan sosial, bawasanya beliau tidak pernah takut, ketika yang lain mundur dia malah maju. Dan ini adalah buah dari iman kepada takdir, dan setiap orang memiliki tingkat iman yang berbeda-beda.
Berhenti Bertanya
Ketika kita beriman kepada takdir maka ini akan membuat takut orang-orang yang saleh, karena kita tidak tahu penghujung dari kehidupan kita, kita tidak tahu apakah kita akan meninggal dalam keadaan husnul khotimah atau su-ul khotimah.
Fungsi Beriman Kepada Takdir
Beriman kepada takdir fungsinya banyak, jadi ketika membahasa tentang takdir bukan maksudnya untuk bertanya mengapa Allah ﷻ menakdirkan ini dan itu karena akal kita tidak sampai, dan Allah ﷻ berfirman:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
“Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya dan merekalah yang akan ditanyai.” QS. Al-Anbiya: 23