Tafsir Juz 27 – Surah Al-Hadid
Surah Al-Hadid merupakan surah terakhir dari Juz ke-27 dalam Alquran. Surah Al-Hadid adalah salah satu dari surah-surah yang dikenal dengan surah-surah Al-Musabbihat(1). Diriwayatkan dari ‘Irbadh bin Sariyah, dia berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ بِالْمُسَبِّحَاتِ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ وَيَقُولَ: إِنَّ فِيهِنَّ آيَةً أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ آيَةٍ
“Rasulullah ﷺ biasa membaca Al-Musabbihat sebelum tidur. Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya pada surah-surah itu ada ayat yang lebih utama dari seribu ayat’.”(2)
Hadits ini adalah hadits yang dha’if, akan tetapi istilah Al-Musabbihat dikenal oleh para ulama yang di antaranya berdasarkan hadits ini.
Surah-Surah Al-Musabbihat
Ada tujuh surah yang merupakan surah-surah Al-Musabbihat(3) yang kemudian digolongkan menjadi empat,
Pertama adalah surah-surah yang dibuka dengan fi’il madhi (سَبَّحَ), di antaranya adalah surah Al-Hadid, Ash-Shaff, dan Al-Hasyr.
Kedua adalah surah-surah yang dibuka dengan fi’il mudhari (يُسَبِّحُ), di antaranya adalah surah Al-Jum’ah dan At-Taghabun.
Ketiga adalah surah yang dibuka dengan Masdar (سُبْحَانَ), yaitu surah Al-Isra’.
Keempat adalah surah yang dibuka dengan fi’il ‘Amr (سَبِّحْ), yaitu surah Al-A’la.
Makna Tasbih
Ini semua menunjukkan bahwa tasbih adalah perkara yang agung dalam Islam. Tasbih sangat agung karena telah datang kalimat-kalimat tasbih dengan berbagai macam bentuk dalam Alquran, dan inti dari syariat Islam adalah menyucikan Allah ﷻ dari segala bentuk kesyirikan.
Ayat-ayat Tasbih
Dalam banyak ayat di dalam Alquran Allah ﷻ berfirman,
سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah : 31)
Dan dalam sebuah ayat Allah ﷻ berfirman,
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يَقُولُونَ عُلُوًّا كَبِيرًا
“Mahasuci dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka katakan (perkataan kesyirikan).” (QS. Al-Isra’ : 43)
Surah Al-Hadid
Para ulama berselisih tentang apakah surah Al-Hadid merupakan surah Makkiyah atau Madaniyah. Namun kalau kita memperhatikan nuansa dari isi surah Al-Hadid, maka akan kita dapati sebagian ayat-ayatnya nuansanya ayat-ayat Makkiyah, terlebih lagi diawal-awal surah yang banyak berbicara tentang iman. Sedangkan sebagian ayat yang lain bernuansa surah-surah Madaniyah, karena adanya penyebutan orang-orang munafik, karena orang-orang munafik baru muncul setelah Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah. Oleh karena itu, pendapat yang benar adalah sebagian surah Al-Hadid turun di Mekkah dan sebagian yang lainnya turun di Madinah.
Ayat Pertama Surah Al-Hadid
Allah ﷻ berfirman,
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ، لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid : 1-2)
Makna Ayat Pertama Surah Al-Hadid
Firman Allah ﷻ ,
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Telah disebutkan dalam pembahasan surah Ash-Shaff bahwa makna tasbih adalah menyucikan Allah ﷻ dari segala kekurangan dan aib karena Allah ﷻ sempurna dalam segala sifat dan perbuatan-Nya, dan semua itu dibangun dengan hikmah yang sempurna.
Kepemilikan Allah
Kemudian firman Allah ﷻ ,
لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يُحْيِي وَيُمِيتُ
“Milik-Nyalah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan.”
Allah ﷻ mengedepankan kata لَهُ (milikNya) dalam penggalan ayat ini. Seharusnya susunan kalimatnya adalah “Kerajaan langit dan bumi adalah milik Allah”. Namun dalam ayat ini terjadi taqdim dan ta’khir sehingga menjadi “Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi”. Dalam bahasa Arab terdapat istilah التَّقْدِيْمُ taqdiim dan التَّأْخِيْرُ ta’khir. Taqdim adalah mendahulukan sesuatu yang seharusnya di akhirkan, sebaliknya ta’khiir adalah mengkakhirkan yang seharusnya didahulukan. Diantara fungsi taqdim dan takhir adalah memberikan pembatasan makna. Sehingga ketika Allah ﷻ mendahulukan penyebutan kata لَهُ memberi makna bahwa hanya milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan segala kepemilikan yang ada di alam semesta ini hanyalah milik Allah ﷻ , karena Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan.
Kekuasaan Allah
Kemudian firman Allah ﷻ ,
وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”
Kita meyakini bahwasanya kekuasaan Allah ﷻ adalah tanpa batas, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Akan tetapi sebagian orang Ahlul bid’ah dan orang-orang Ateis terkadang melontarkan syubhat berupa pertanyaan yang bisa membuat orang awam Islam (yang tidak memiliki dasar ilmu yang kokoh) menjadi ragu dengan agamanya sendiri. Di antara syubhat yang mereka lontarkan adalah, “Kalau Allah Maha kuasa atas segala sesuatu, maka seharusnya Allah bisa menciptakan Tuhan yang semisalnya”, atau mereka mengatakan, “Kalau Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, maka seharusnya Allah bisa menciptakan batu yang sangat besar yang Allah tidak mampu untuk mengangkatnya”. Maka jawabannya, kita tetap mengatakan bahwa Allah ﷻ adalah Mahakuasa atas segala sesuatu, akan tetapi kata شَيْءٍ (sesuatu) dalam bahasa Arab tidaklah mencakup apa yang mereka tanyakan tersebut. Karena perkara yang merupakan kemustahilan bukanlah sesuatu menurut bahasa Arab.
Jawaban Syubhat
Pertanyaan mereka, “Apakah Allah bisa menciptakan Tuhan yang semisalnya?”, ini merupakan pertanyaan yang salah, karena Tuhan tidaklah diciptakan, akan tetapi Tuhan itu menciptakan. Selain itu syarat Tuhan adalah harus esa, jika Tuhan menciptakan Tuhan yang lain maka Tuhan tidak esa lagi. Pertanyaan semacam ini sama halnya seperti bertanya “Apakah kita bisa naik ke bawah?”. Tentunya kita tidak bisa menjawabnya karena pertanyaannya sendiri tidak benar. Karena yang namanya naik adalah ke atas. Demikian pula pertanyaan mereka, “Apakah Allah bisa menciptakan batu yang lebih besar darinya yang Dia tidak bisa mengangkatnya?” Maka kita katakan itu bukanlah “sesuatu” yang dimaksud dari Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, karena tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu yang lebih besar dari-Nya sementara Dia adalah Yang Maha Besar, Dialah Yang Terbesar.
Definisi Sesuatu
Demikian pula ungkapan “Apakah Allah bisa menciptakan istri atau anaknya?”. Maka kita katakan bahwa perkara tersebut bukanlah “sesuatu” sehingga tidak masuk dalam ke-Mahakuasaan Allah, karena syarat Tuhan adalah tidak membutuhkan yang lainnya, sehingga Tuhan tidak butuh istri atau pun anak.
Kekuasaan Allah yang Mungkin
Kita boleh mengatakan bahwa Allah ﷻ mampu untuk menciptakan dunia ini dua kali lipat, akan tetapi Allah ﷻ hanya menciptakan apa yang ada kita ketahui sekarang. Lantas apakah Allah ﷻ mampu untuk menciptakan tujuh kali lipat bumi? Maka kita katakan tentu Allah ﷻ mampu karena itu adalah hal yang mungkin, hanya saja Allah tidak menciptakannya. Oleh karena itu, maksud dari Allah ﷻ Maha kuasa atas segala sesuatu adalah Mahakuasa atas segala sesuatu yang mungkin terjadi bagi Allah ﷻ . Maka para ulama menjelaskan bahwa “sesuatu” yang dimaksud dalam kalimat-kalimat semacam ini adalah perkara yang bukan pada perkara yang mumtani’at (perkara yang kontradiktif), melainkan pada perkara yang mumkinat (perkara yang mungkin). Oleh karenanya, para ulama membagi “sesuatu” menjadi tiga,
Pertama : Mumtani’at, yaitu sesuatu yang secara zat tidak mungkin terjadi, atau sesuatu hal yang kontradiktif, meskipun hanya sekadar dianalogikan. Contohnya adalah menggabungkan antara timur dan barang, panjang dan pendek, siang dan malam dalam satu kondisi.
Kedua : Mustahilat, yaitu perkara yang mustahil meskipun secara logika Allah mampu. Contohnya adalah Allah ﷻ menciptakan batu yang lebih besar daripada Dia, Allah menciptakan istri atau anak, dan yang lainnya. Semua perkara ini adalah perkara yang mustahil, maka yang seperti ini bukanlah “sesuatu” yang dimaksud dari Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ketiga : Mumkinat, yaitu perkara yang mungkin terjadi. Inilah yang dimaksud “sesuatu” dalam bahasa Arab. Dan inilah yang termasuk dalam ke-Mahakuasaan Allah(5).