Makna Ayat
Pada ayat ini Allah ﷻ menyebutkan tentang musibah yang menimpa seseorang di dunia ini. Ketahuilah bahwa kehidupan di dunia tidak akan selalu menyenangkan, suatu waktu seseorang akan merasakan sesuatu yang menyedihkan dari kehidupan ini. Siapa pun orang di dunia ini pasti pernah merasakan kesedihan dan kesenangan di dunia ini, tidak ada seorang pun yang murni merasakan kesenangan semata dalam kehidupannya, karena kesedihan dan ketakutan tidak lagi akan dirasakan oleh seseorang ketika dia telah berada di surga.
Ayat Pertama
Allah ﷻ berfirman,
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَا أَنْتُمْ تَحْزَنُونَ
“Masuklah kamu ke dalam surga. Tidak ada rasa takut padamu dan kamu tidak pula akan bersedih hati.” (QS. Al-A’raf : 49)
Ayat Kedua
Maka siapa pun dia, baik raja, presiden, menteri, da’i, bahkan para Nabi, selama mereka hidup di dunia pasti akan mengalami kesedihan, kekhawatiran, dan ketakutan.
Makna Ayat
Oleh karena itu, ayat ini menjelaskan tentang bagaimana cara kita menyikapi musibah yang menimpa diri kita.
Ayat Ketiga
Firman Allah ﷻ ,
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
“Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauhil Mahfudzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.”
Makna Ayat
Pada ayat ini Allah ﷻ menyebutkan bahwa seluruh musibah yang menimpa bumi seperti gempa bumi; banjir; atau kekeringan, dan seluruh musibah yang menimpa diri kita sendiri seperti sakit; cacat; atau musibah terkait anak dan istri, semuanya telah Allah tuliskan di al-Lauhul Mahfudzh sebelum Allah ﷻ menciptakan musibah tersebut, dan hal tersebut sangat mudah bagi Allah ﷻ .
Ayat Keempat
Oleh karena itu, ayat ini berbicara tentang iman kepada takdir, bahwasanya semua apa yang terjadi itu telah ditakdirkan oleh Allah ﷻ . Tidak ada satu musibah pun yang menimpa diri kita, harta kita, dan keluarga kita kecuali hal tersebut telah tercatat di Lauhil Mahfudzh.
Ayat Kelima
Kemudian firman Allah ﷻ ,
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
Makna Ayat
Allah ﷻ menjelaskan bahwasanya segala musibah yang menimpa diri kita telah tercatat di al-Lauhul Mahfudzh tujuannya adalah agar kita tidak terlalu bersedih terhadap apa yang luput dari diri kita karena menyadari bahwa itu semua telah ditakdirkan oleh Allah ﷻ .
Ayat Keenam
Oleh karenanya dalam sebuah riwayat disebutkan,
وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ
“Dan ketahuilah engkau bahwa apa saja yang ditakdirkan menjadi bagianmu tidak akan lepas darimu.”(41)
Makna Ayat
Meskipun semua orang sedunia ini bersatu padu untuk berusaha melepaskan diri kita dari apa yang telah ditakdirkan, ketahuilah bahwa kita tidak akan bisa lolos dari takdir tersebut.
Ayat Ketujuh
Oleh karenanya inilah diantara yang menghibur hati kita, tatkala kita ditimpa musibah maka kita akan tenang karena meyakini bahwa ini adalah takdir Allah ﷻ .
Ayat Kedelapan
Selain agar kita tidak terlalu bersedih, juga agar kita tidak terlalu bangga hingga menyombongkan diri terhadap apa yang Allah ﷻ berikan kepada kita.
Ayat Kesembilan
Sesungguhnya apa yang kita dapatkan dari segi fisik, harta, atau kecerdasan, semuanya telah ditakdirkan oleh Allah ﷻ , maka jangan kita sombong.
Ayat Kesepuluh
Tidak terlalu bersedih dan tidak terlalu berbangga diri terhadap apa yang menimpa diri kita adalah buah utama dari beriman kepada takdir, yaitu dengan beriman kepada takdir Allah ﷻ akan membuat hidup kita lebih nyaman, karena kita yakin semuanya telah dituliskan oleh Allah ﷻ .
Ayat Kesebelas
Oleh karena semua telah ditakdirkan oleh Allah ﷻ , maka ketika kita mendapatkan musibah maka hendaknya kita bersabar, dan ketika kita mendapatkan kenikmatan maka jangan kita sombong dengan mengatakan bahwa hal tersebut karena usaha kita, karena semuanya itu pada hakikatnya dari Allah ﷻ .
Ayat Keduabelas
Oleh karena itu, ketika kita merenungkan diri kita, kita tahu bahwa masih banyak orang yang lebih cerdas daripada kita, akan tetapi tidak semua dari orang pintar tersebut mendapat hidayah untuk datang dan tertarik mendengar pengajian dalam majelis ilmu.
Ayat Ketigabelas
Maka jangan kita menganggap bahwa hidayah yang kita dapatkan ini merupakan buah dari kecerdasan atau kebaikan kita.
Ayat Keempatbelas
Lihatlah Abu Thalib, siapa yang lebih baik dan sayang kepada Nabi ﷺ daripada dia? Akan tetapi sayangnya dia tidak mendapatkan hidayah, padahal sebab-sebab untuk dapat hidayah sangatlah besar.
Ayat Kelima Belas
Kemudian firman Allah ﷻ ,
وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.”
Makna Ayat
Pada dasarnya kata مُخْتَالٍ dan فَخُورٍ sama maknanya, yaitu sombong dan angkuh. Akan tetapi sebagian ulama berusaha menjelaskan perbedaan dari kedua kata tersebut.
Ayat Keenam Belas
Di antara yang berusaha menjelaskannya adalah Imam Al-Qurthubi rahimahullah, beliau mengatakan,
الْمُخْتَالُ الَّذِي يَنْظُرُ إِلَى نَفْسِهِ بِعَيْنِ الِافْتِخَارِ، وَالْفَخُورُ الَّذِي يَنْظُرُ إِلَى النَّاسِ بِعَيْنِ الِاحْتِقَارِ
“Al-Mukhtal adalah seseorang yang melihat dirinya sendiri dengan pandangan kesombongan (takjub). Adapun Al-Fakhur adalah melihat kepada orang lain dengan pandangan yang meremehkan.”(42)
Makna Ayat
Biasanya sifat Al-Mukhtal dan Al-Fakhur saling melengkapi jika salah satunya ada pada diri seseorang, akan tetapi Allah ﷻ membedakan dua sifat ini.
Ayat Ketujuh Belas
Oleh karenanya hendaknya seseorang menghindari sifat ini karena Allah ﷻ membenci (tidak suka) terhadap orang yang memiliki sifat ini, baik salah satunya atau bahkan keduanya.
Ayat Kedelapan Belas
Ibnu Áthiyyah berkata :
وقوله تعالى: وَاللَّهُ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتالٍ فَخُورٍ يدل على أن الفرح المنهي عنه إنما هو ما أدى إلى الاختيال، والفخر بنعم الله المقترن بالشكر والتواضع فأمر لا يستطيع أحد دفعه عن نفسه ولا حرج فيه
“Firman Allah “Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri.” Menunjukan bahwa kegembiraan yang dilarang adalah kegembiraan yang mengantarkan kepada kesombongan. Adapun bangga/gembira dengan karunia/nikmat Allah yang disertai sikap bersyukur dan tawadhu maka merupakan perkara yang tidak seorangpun mampu untuk menghindarinya, dan hal ini tidak mengapa” (43)