Orang-orang yang Beriman dan Tidak Mencampuradukkan Iman Mereka dengan Kezaliman
Yakni mereka adalah orang-orang yang memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan mereka tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Mereka adalah orang-orang yang mendapat keamanan pada hari kiamat, dan merekalah orang-orang yang mendapat hidayah di dunia dan akhirat.
Riwayat Imam Bukhari
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Addi, dari Syu'bah, dari Sulaiman, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah sehubungan dengan firman berikut, bahwa ketika ayat berikut diturunkan: {#dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.#} (Al-An'am, [6:82]) Maka berkatalah para sahabat Nabi SAW, "Siapakah di antara kita yang-tidak berbuat zalim terhadap dirinya sendiri?" Lalu turunlah firman Allah SWT: {#Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.#} (Luqman, [31:13])
Riwayat Imam Ahmad
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa ketika ayat ini diturunkan: {#Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.#} (Al-An'am, [6:82]) Maka hal ini terasa berat oleh mereka (para sahabat). Lalu mereka berkata, "Wahai Rasulullah, siapakah di antara kita yang tidak pernah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri?" Nabi SAW bersabda: "Sesungguhnya hal itu bukan seperti apa yang kalian maksudkan. Tidakkah kalian mendengar apa yang telah dikatakan oleh seorang hamba yang saleh (Luqman), {#Hai anakku, janganlah kalian mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.#} (Luqman, [31:13]). Sesungguhnya yang dimaksud dengan zalim hanyalah syirik (mempersekutukan Allah)."
Riwayat Ibnu Abu Hatim
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Waki' dan Ibnu Idris, dari Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah yang mengatakan bahwa ketika diturunkannya firman-Nya: {#dan mereka tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman.#} (Al-An'am, [6:82]) Hal tersebut terasa berat oleh sahabat-sahabat Rasulullah SAW Mereka berkata, "Siapakah di antara kita yang tidak pernah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri?" Maka Rasulullah SAW menjawab melalui sabdanya: Tidak seperti yang kalian duga, melainkan seperti yang dikatakan kepada anaknya, yaitu: {#Hai anakku, janganlah kalian mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.#} (Luqman, [31:13])
Riwayat Lainnya
Telah menceritakan pula kepada kami Umar ibnu Taglab An-Namiri, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Alqamah, dari Abdullah ibnu Mas'ud yang menceritakan bahwa ketika ayat ini diturunkan, hal tersebut terasa berat oleh sahabat-sahabat Rasulullah SAW Maka turunlah ayat lainnya, yaitu: {#Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.#} (Luqman, [31:13])
Riwayat Imam Ahmad
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Abu Janab, dari Zazan, dari Jarir ibnu Abdullah yang menceritakan, "Kami (para sahabat) berangkat bersama Rasulullah SAW Ketika kami keluar dari perbatasan kota Madinah, tiba-tiba ada seorang pengendara menuju ke arah kami, maka Rasulullah SAW bersabda, 'Seakan-akan pengendara ini bermaksud menemui kalian.' Lalu orang tersebut sampai kepada kami dan mengucapkan salam penghormatan kepada kami, dan kami membalas salamnya. Nabi SAW bertanya kepadanya, 'Dari manakah engkau?' Lelaki itu menjawab, 'Dari tempat keluarga, anak-anak, dan handai tolanku.' Nabi SAW bertanya. 'Hendak ke mana?' Ia menjawab, 'Aku bermaksud menemui Rasulullah SAW. Nabi SAW menjawab, 'Sekarang ia ada di hadapanmu.' Ia bertanya, 'Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apakah iman itu?' Rasulullah SAW bersabda: Hendaknya engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau dirikan salat, engkau tunaikan zakat, engkau puasa dalam bulan Ramadan, dan engkau berhaji ke Baitullah. Lelaki itu menjawab, 'Aku berikrar (untuk mengamalkannya).' Kemudian unta kendaraan lelaki itu terperosok ke dalam liang tikus padang pasir, maka untanya terjatuh, dan ia pun terjatuh pula dengan posisi kepala di bawah, hingga mengakibatkan ia mati. Rasulullah SAW bersabda, 'Kemarikanlah lelaki itu!' Maka Ammar ibnu Yasir dan Huzaifah ibnul Yaman melompat ke arahnya memberikan pertolongan, lalu mendudukkannya. Keduanya berkata, 'Wahai Rasulullah, lelaki ini telah meninggal dunia.' Rasulullah SAW berpaling dari keduanya, lalu bersabda: Tidakkah kalian berdua melihat mengapa aku berpaling dari lelaki ini? Sesungguhnya aku melihat dua malaikat sedang menyuapkan buah surga ke dalam mulutnya, maka aku mengetahui bahwa lelaki ini meninggal dunia karena kelaparan. Kemudian Rasulullah SAW bersabda pula; Lelaki ini termasuk orang-orang yang perihalnya disebutkan oleh Allah SWT melalui firman-Nya, {#Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik).#} (Al-An'am, [6:82]) Lalu Rasulullah SAW bersabda, 'Urusilah jenazah saudara kalian ini!' Lalu kami membawanya ke tempat air dan memandikannya, memberinya wewangian, mengafaninya, dan kami usung ke kuburnya." Rasulullah SAW datang, lalu duduk di pinggir kuburnya dan bersabda: Buatlah liang lahad, dan janganlah kalian membelahnya, karena sesungguhnya liang lahad adalah bagi kita, sedangkan belahan hanya bagi selain kita.
Riwayat Lainnya
Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya dari Aswad ibnu Amir, dari Abdul Humaid ibnu Ja'far Al-Farra, dari Sabit, dari Zazan, dari Jarir ibnu Abdullah, kemudian disebutkan hal yang semisal. Sehubungan dengan hadis ini Imam Ahmad pun memberikan komentarnya, "Orang ini termasuk di antara orang-orang yang sedikit beramal, tetapi berpahala banyak."
Riwayat Ibnu Abu Hatim
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Musa Al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Mahran ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, dari ayahnya, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa kami bersama Rasulullah SAW dalam suatu perjalanan, tiba-tiba di tengah jalan ada seorang lelaki Badui yang menghalang-halanginya, lalu lelaki Badui itu berkata, "Wahai Rasulullah, demi Tuhan Yang telah mengutusmu dengan benar, sesungguhnya aku tinggalkan tempat kelahiranku dan semua harta bendaku dengan tujuan mengikuti petunjukmu dan mengambil ucapanmu. Dan tidak sekali-kali aku dapat sampai kepadamu melainkan setelah semua perbekalanku habis dan makananku hanyalah dedaunan, maka aku mohon sudilah engkau menerimaku." Lalu Rasulullah SAW menuju ke arahnya dan menerimanya. Kami (para sahabat) berdesak-desakan di sekitar lelaki Badui itu, dan ternyata kaki depan unta kendaraannya terperosok ke dalam liang tikus padang pasir, sehingga lelaki itu terjatuh dan lehernya patah (meninggal dunia). Maka Rasulullah SAW bersabda: Demi Tuhan yang telah mengutusku dengan benar, dia benar berangkat (meninggalkan) negeri kelahirannya dan semua harta bendanya untuk mengikuti petunjukku dan mengambil dari ucapanku, serta tidak sekali-kali dia sampai kepadaku melainkan setelah makanan perbekalannya habis, kecuali hanya makan dari dedaunan pepohonan. Tidakkah kalian dengar perihal orang yang sedikit beramal tetapi diberi pahala banyak? Dia termasuk salah seorang dari mereka. Tidakkah kalian dengar perihal orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka' dengan kezaliman? Mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya orang ini termasuk salah seorang dari mereka. Menurut lafaz lain disebutkan: Orang ini sedikit beramal tetapi diberi pahala banyak.
Riwayat Lainnya
Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan melalui hadis Muhammad ibnu Ya'la Al-Kufi yang bertempat tinggal di Ar-Ray, telah menceritakan kepada kami Ziyad ibnu Khaisamah, dari Abu Daud, dari Abdullah ibnu Sakhbarah yang menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Barang siapa yang diberi, lalu bersyukur; dan (barang siapa yang) dicegah (tidak diberi), lalu bersabar; dan (barang siapa yang) berbuat aniaya, lalu meminta ampun; dan (barang siapa yang) dianiaya, lalu memaafkan.... Rasulullah SAW diam sejenak. Maka mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa dia (bagaimana kelanjutannya)?" Rasulullah SAW membacakan firman-Nya: {#mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.#} (Al-An'am, [6:82])
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.