Surat Ash-Shaf
Nama Surat
Surat Ash-Shaf merupakan salah satu surat dalam juz 28 yang memiliki beberapa nama. Ia dinamakan sebagai Surat Ash-Shaf karena didalamnya terdapat kata صَفًا, dan memang biasanya suatu surat dinamakan dengan sesuatu yang khsusus dalam surat tersebut yang tidak terdapat di surat-surat lainnya, oleh karena itu surat ini disebut sebagai surat Ash-Shaf.
Surat ini disebut juga sebagai Surat Al-Hawariyyin karena didalamnya terdapat perkataan Nabi Isa kepada Hawariyyin. (1)
Surat ini disebut juga sebagai Surat Isa bin Maryam, di antara yang menyebutkan hal ini adalah ‘Allamah Thohir bin ‘Asyur dalam tafsirnya namun beliau tidak menyebutkan sandaran atas penamaan ini.
Surat ini adalah surat Madaniyyah(2) yakni surat yang diturunkan kepada Nabi ﷺ setelah beliau hijrah ke Madinah, adapun Surat Makkiyyah adalah surat yang diturunkan kepada beliau sebelum beliau berhijrah ke Madinah.
Ayat Pertama
Allah ﷻ berfirman:
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Telah bertasbih kepada Allah ﷻ apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS Ash-Shaf: 1)
Makna Tasbih
Maha Suci Allah ﷻ dari segala macam segala macam kesyirikan dan Maha Suci Allah ﷻ dari segala bentuk kekurangan.
Sebagaimana telah diketahui bahwasanya benda yang ada di langit dan di bumi itu ada dua macam: Benda-benda hidup dan benda-benda mati. Benda hidup seperti malaikat, jin, manusia dan sebagainya. Di samping itu ada benda mati seperti batu, pohon dan lainnya yang secara zhahir mereka tidak dapat berbicara maka bagaimana mereka bertasbih. Adapun yang bisa berbicara maka mereka bertasbih dengan bahasa mereka meskipun kita tidak dapat memahaminya, sebagaimana dalam firman Allah ﷻ:
وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ
“Tidaklah sesuatu pun yang ada di langit dan yang ada di bumi melainkan mereka mentasbihkan Allah ﷻ hanya saja kalian tidak dapat memahami tasbih mereka”. (QS Al-Isra:44)
Tasbih Benda Mati
Demikian tasbihnya makhluk hidup, mereka bertasbih sesuai dengan bahasanya masing-masing, manusia bertasbih dengan bahasanya, hewan bertasbih dengan bahasanya, malaikat bertasbih dengan bahasanya dan seterusnya.
Adapun benda mati, maka para ulama menyebutkan bahwa mereka melakukan “tasbih ad-dalalah” yakni orang-orang yang melihat benda-benda yang menakjubkan melihat gunung yang tinggi dan semacamnya dengan kokohnya gunung-gunung maka orang-orang yang melihatnya akan mensucikan Allah ﷺ dan ini menunjukkan bahwa yang menciptakannya adalah Zat Yang Maha Sempurna yang jauh dari segala kekurangan dan segala aib. Ini disebut oleh para ulama sebagai “tasbih ad-dalalah” adapun yang pada benda hidup disebut sebagai “tasbih al-maqal” yakni tasbih dengan ucapan. Namun pendapat ulama yang mengatakan benda mati melakukan “tasbih ad-dalalah” ini dikritisi oleh Imam Al-Qurthubi rahimahullah, beliau berpendapat bahwa yang benar adalah semua bertasbih dengan caranya, jika benda mati tersebut melakukakan “tasbih ad-dalalah” maka ini menunjukkan bahwa tasbih mereka dapat dipahami, padahal Allah ﷻ berfirman:
وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ
“…akan tetapi kalian tidak memahami tasbih mereka”
Intinya beliau lebih condong bahwasanya benda-benda mati tersebut memang dapat bertasbih, hanya saja kita tidak memahamai bagaimana caranya. (3)
Hadits-Hadits Nabi ﷺ
Hal ini dikuatkan dengan apa yang kita dapati dalam hadits-hadits Nabi ﷺ adanya penisbatan rasa pada benda-benda mati. Seperti hadits:
أُحُدٌ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ
“Ini adalah gunung Uhud, gunung yang kami cintai dan ia pun mencintai kami” (4)
Ini menunjukkan adanya rasa cinta pada gunung Uhud, namun bagaimana hakikat cinta Gunung Uhud?, WAllah ﷻu a’lam.
Kisah lain adalah kisah Nabi Musa yang beliau mengejar batu yang berlari kemudian dikejar oleh Nabi Musa sembari berkata:
"ثَوْبِي، يَا حَجَرُ"
“Pakaianku, wahai Batu!”(5)
Menunjukkan bahwasanya batu tersebut diajak bicara oleh Nabi Musa namun batu tersebut terus berjalan.
Kisah lain adalah batang kurma yang ditinggalkan oleh Nabi ﷺ sehingga ia menangis terisak-isak yang tangisannya tersebut bisa didengar oleh para Sahabat. (6)
Demikian juga ada sebuah batu di Mekah yang menyalami Nabi ﷺ sebelum Nabi diangkat menjadi Nabi (7).
Demikian juga para sahabat mendengar tasbih makanan(8).
Makna Tasbih
Wallah u a’lam, intinya adalah benda-benda mati tersebut jika Allah ﷻ berkehendak dapat bertasbih dengan cara yang Allah ﷻ kehendaki namun kita tidak memahami bagaimana tasbih mereka. (9)
Adapun tasbih maknanya adalah mensucikan Allah ﷻ dari segala kekurangan dan dari segala aib dalam Sifat-Nya, dalam segala perbuatan-Nya karena Allah ﷻ Maha Sempurna dalam segalanya dalam Sifat-Nya maupun dalam perbuatan-Nya semuanya dibangun di atas hikmah yang sempurna.
Makna Al-Hakim
Adapun bagian Firman Allah ﷻ
... وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“…dan Dia Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”, Al-Hakim memiliki dua makna:
1. Dzul-hukmi yakni Yang menjalankan hukum-Nya, yang disifati sebagaimana di ayat yang lain:
لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهِ
“…tidak ada yang bisa protes terhadap hukum Allah ﷻ”(QS Ar-Ra’d: 41)
2. Dzul-hikmah yakni yang memiliki hikmah, sebagaimana ditegaskan di ayat yang lain:
فَلِلَّهِ الْحِكْمَةُ الْبَالِغَةُ
“Dan bagi Allah ﷻ hikmah yang tinggi” (QS Al-An’am: 149) yang menunjukkan tidaklah ada yang Allah ﷻ ciptakan dan takdirkan melainkan terdapat hikmah dibaliknya(10).
Maka ketika “Al-‘Aziz” digabungkan dengan “Al-Hakim” maka tambahlah kesempurnaan lainnya, yaitu keperkasaan Allah ﷻ senantiasa disertai dengan hikmah. Hal ini tidak sebagaimana sebagian makhluk yang kuat dan perkasa akan tetapi ia tidak hikmah sehingga akan melakukan perbuatan-perbuatan yang konyol. Di sisi sebaliknya ada sebagian manusia yang ia memiliki sifat bijak namun ia tidak memiliki kekuasaan. Sedangkan Allah ﷻ menggabungkan kedua sifat ini “Al-‘Izzah” yakni kekuatan dan “Al-Hikmah” atau “Al-Hukmu”