Firman Allah SWT
{وَنُقَلِّبُ اَفْـِٕدَتَهُمْ وَاَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوْا بِهٖٓ اَوَّلَ مَرَّةٍ}
{#Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur'an) pada permulaannya.#} (Al-Qur'an, [6:110])
Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini
Bahwa ketika orang-orang musyrik mengingkari Al-Qur'an yang diturunkan oleh Allah, maka hati mereka dijadikan tidak tetap atas sesuatu pun dan menolak setiap perintah.
Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya
{#Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka.#} (Al-Qur'an, [6:110]) Yakni Kami halang-halangi antara mereka dan iman. Dan seandainya datang kepada mereka semua bukti (mukjizat), niscaya mereka tidak akan beriman, sebagaimana Kami halang-halangi mereka antara diri mereka dan iman seperti pada permulaannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Ikrimah dan Abdur Rahman Ibnu Zaid Ibnu Aslam.
Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA
Bahwa Allah SWT menceritakan perihal apa yang akan dikatakan oleh hamba-hamba-Nya sebelum mereka mengatakannya, dan apa yang akan mereka lakukan sebelum mereka mengerjakannya. Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:
{وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيْرٍ}
{#dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu-sebagai yang diberitakan oleh Yang Maha Mengetahui.#} (Al-Qur'an, [35:14])
{اَنْ تَقُوْلَ نَفْسٌ يّٰحَسْرَتٰى عَلٰى مَا فَرَّطْتُّ فِيْ جَنْبِ اللّٰهِ وَاِنْ كُنْتُ لَمِنَ السَّاخِرِيْنَ}
{#supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah),#} (Al-Qur'an, [39:56]) sampai dengan firman-Nya:
{اَوْ تَقُوْلَ حِيْنَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ اَنَّ لِيْ كَرَّةً فَاَكُوْنَ مِنَ الْمُحْسِنِيْنَ}
{#Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab 'Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik'.#} (Al-Qur'an, [39:58])
Allah SWT menceritakan
"Seandainya mereka dikembalikan ke dunia lagi, pastilah mereka tidak akan mengikuti jalan petunjuk (sama dengan keadaan mereka semula)," seperti yang disebutkan oleh firman yang lain, yaitu:
{وَلَوْ رُدُّوْا لَعَادُوْا لِمَا نُهُوْا عَنْهُ وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ}
{#Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.#} (Al-Qur'an, [6:28])
Dan dalam surat ini disebutkan
{#Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur'an) pada permulaannya.#} (Al-Qur'an, [6:110])
Dengan kata lain, seandainya mereka dikembalikan ke dunia, niscaya akan dihalang-halangi antara mereka dan jalan hidayah, sebagaimana Kami menghalang-halangi antara mereka dan iman sejak permulaannya ketika mereka masih hidup di dunia.
Firman Allah SWT
{وَنَذَرُهُمْ}
{#dan Kami biarkan mereka.#} (Al-Qur'an, [6:110])
Yakni Kami tinggalkan mereka.
{فِيْ طُغْيَانِهِمْ}
{#dalam kesesatannya.#} (Al-Qur'an, [6:110])
Menurut Ibnu Abbas dan As-Saddi, makna THUGHYĀN dalam ayat ini ialah kekufuran. Sedangkan menurut Abul Aliyah, Ar-Rabi' ibnu Anas, dan Qatadah ialah kesesatan.
{يَعْمَهُوْنَ}
{#bergelimang.#} (Al-Qur'an, [6:110])
Menurut Al-A'masy artinya bermain-main. Sedangkan menurut Ibnu Abbas. Mujahid. Abul Aliyah, Ar-Rabi, dan Abu Malik serta lain-lainnya adalah bergelimang, yakni mereka bergelimang dalam kekafirannya.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.