Firman Allah ﷻ,
أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ عَذَابًا شَدِيدًا فَاتَّقُوا اللَّهَ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا
“Allah menyediakan azab yang keras bagi mereka, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang yang beriman.”
Allah siapkan bagi penduduk negeri yang membangkang (perintah Allah) tersebut adzab yang keras. Lalu Allah berkata فَاتَّقُوا اللَّهَ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ “maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal”, menunjukan bahwa akal yang cerdas mengantarkan seseorang untuk bertakwa dan tidak membangkang perintah Allah. Karena takwa mengantarkan kepada kabahagiaan yang hakiki di dunia dan kebahagiaan abadi dan sempurna di akhirat. Lalu Allah berkata, يَاأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ آمَنُوا “wahai orang-orang yang mempunyai akal, (yaitu) orang-orang yang beriman”. Ini menunjukan bahwa menerima iman adalah tanda cerdasnya akal seseorang(46).
Makna Kata
Makna kata “takwa” adalah rasa takut dan hormat kepada Allah SWT.
Makna Ayat
Makna ayat ini adalah bahwa Allah SWT mengingatkan kita untuk bertakwa dan tidak membangkang perintah-Nya.
Pelajaran dari Ayat
Pelajaran dari ayat ini adalah bahwa akal yang cerdas mengantarkan seseorang untuk bertakwa dan tidak membangkang perintah Allah.
Kemudian firman Allah ﷻ,
قَدْ أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكُمْ ذِكْرًا، رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِ اللَّهِ مُبَيِّنَاتٍ لِيُخْرِجَ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
“Sungguh, Allah telah menurunkan peringatan kepadamu, (dengan mengutus) seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah kepadamu yang menerangkan (bermacam-macam hukum), agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dari kegelapan kepada cahaya.”
Penggalan ayat ini merupakan dalil bahwa di antara tugas utama Nabi ﷺ adalah membacakan ayat-ayat Allah ﷻ dan menjelaskan maksud ayat-ayat yang dibacakannya. Hal ini juga disebutkan dalam beberapa ayat, bahwasanya Nabi ﷺ membacakan firman-firman Allah ﷻ kepada para sahabat. Allah berfirman :
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau (QS Al-Baqoroh : 129)
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا
Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu (QS Al-Baqoroh : 151)
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah (QS Ali Ímron : 164)
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ
Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka (QS Al-Jumuáh : 2)
رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً
(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran) (QSAl-Bayyinah : 2)
Dan tujuan dari tugas Nabi ﷺ ini adalah untuk mengeluarkan orang yang beriman dan yang beramal saleh dari kegelapan menuju cahaya. Oleh karenanya di antara hal yang paling ampuh untuk mengeluarkan seseorang dari kesengsaraan (kegelapan) menuju kebahagiaan (cahaya) adalah dengan membaca Alquran dengan tafsirnya. Maka ini adalah isyarat bahwa sudah seharusnya kita memperbanyak majelis-majelis tafsir Alquran. Karena seseorang yang membaca dan memahami makna firman-firman Allah ﷻ, maka akan menambah keimanan. Dan sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya bahwa Ibnul Qayyim rahimahullah pernah berkata,
فَقِرَاءَةُ آيَةٍ بِتَفَكُّرٍ وَتَفَهُّمٍ خَيْرٌ مِنْ قِرَاءَةِ خَتْمَةٍ بِغَيْرِ تَدَبُّرٍ وَتَفَهُّمٍ
“Membaca satu ayat (Alquran) dengan tafakkur dan memahaminya, itu lebih baik daripada membaca (Alquran) dengan khatam namun tanpa tadabur dan memahaminya.”(47)
Demikian pula Ibnu Jarir Ath-Thabari (imamnya para ahli tafsir) mengatakan,
إِنّي لَأَعْجَبُ مِمَّنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَلَمْ يَعْلَمْ تَأْوِيْلَهُ، كَيْفَ يَلْتَذُّ بِقِرَاءَتِهِ؟
“Sungguh aku heran dengan mereka yang membaca Alquran namun tidak memahami tafsirnya, maka bagaimana mereka merasakan kelezatan saat membaca Alquran?” (48)
Maka seseorang berusaha untuk mempelajari tafsir dari ayat-ayat yang dia telah hafalkan, sehingga dengan membacanya akan membekas dalam dadanya.
Makna Ayat
Makna ayat ini adalah bahwa Allah SWT mengingatkan kita untuk membaca Alquran dengan tafsirnya dan memahami makna firman-firman-Nya.
Pelajaran dari Ayat
Pelajaran dari ayat ini adalah bahwa membaca Alquran dengan tafsirnya dan memahami makna firman-firman Allah SWT akan menambah keimanan.
Kemudian firman Allah ﷻ,
وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ وَيَعْمَلْ صَالِحًا يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا قَدْ أَحْسَنَ اللَّهُ لَهُ رِزْقًا
“Dan barangsiapa beriman kepada Allah dan mengerjakan kebajikan, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh, Allah memberikan rezeki yang baik kepadanya.”
Ini merupakan dalil bahwasanya hanya orang yang telah beriman dan beramal salehlah yang bisa masuk ke dalam surga. Yang tentunya surga tersebut penuh dengan kenikmatan, dan abadi. Maka jika seseorang ingin masuk surga hendaknya dia beramal saleh. Adapun yang tidak beramal saleh maka tidak akan masuk surga. Dan dalam sebagian ayat Allah ﷻ berfirman di antaranya,
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kalian kerjakan.” (QS. An-Nahl : 32)
Dalam ayat yang lain Allah ﷻ berfirman,
كُلُوا وَاشْرَبُوا هَنِيئًا بِمَا أَسْلَفْتُمْ فِي الْأَيَّامِ الْخَالِيَةِ
“Makan dan minumlah (di surga) dengan nikmat karena amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (QS. Al-Haqqah : 24)
Dan ingat pula bahwa Allah ﷻ telah berfirman,
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا وَلِيُوَفِّيَهُمْ أَعْمَالَهُمْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Dan setiap orang memperoleh tingkatan berdasarkan apa yang telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan balasan amal perbuatan mereka dan mereka tidak dirugikan.” (QS. Al-Ahqaf : 19)
Allah ﷻ Maha Adil, Dia menjadikan surga bertingkat-tingkat. Sehingga derajat seseorang di surga berdasarkan kadar amal salehnya ketika di dunia. Namun sebagaimana surga bertingkat-tingkat, maka neraka juga bertingkat-tingkat. Oleh karenanya dunia bagi kita adalah sarana untuk kita beramal saleh. Sejauh mana kita beramal saleh maka sejauh itu pula tingkatan kita di surga. Dan sebagaimana kita bermaksiat maka semakin rendah tingkatan seseorang di akhirat kelak.
Makna Ayat
Makna ayat ini adalah bahwa Allah SWT mengingatkan kita untuk beramal saleh dan tidak bermaksiat.
Pelajaran dari Ayat
Pelajaran dari ayat ini adalah bahwa beramal saleh dan tidak bermaksiat akan meningkatkan derajat kita di surga.
Pada ayat ini Allah ﷻ juga menyebutkan bahwa di antara nikmat surga adalah adanya taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Akan tetapi dengan ayat-ayat yang berbicara tentang kenikmatan surga ini, sebagian orang liberal mengatakan bahwa Alquran konteksnya turun 1400 tahun yang lalu kepada orang-orang Arab badui yang ketika itu mereka senang dengan taman-taman dan sungai-sungai. Sedangkan menurut mereka orang-orang Indonesia tidak membutuhkan hal tersebut. Ketahuilah bahwa tidaklah mereka mengatakan demikian kecuali untuk mengukuhkan metode tafsir mereka yaitu dengan menggunakan teori Hermeneutika. Dan mereka juga ingin menegaskan bahwa Alquran bukanlah firman Allah ﷻ, melainkan perkataan Nabi Muhammad ﷺ yang merupakan penjelasan dari makna-makna yang Allah ﷻ sampaikan kepadanya 1400 tahun yang lalu. Padahal kenyataannya di zaman modern sekarang ini orang-orang tetap suka dengan yang namanya taman-taman. Bukankah banyak wisatawan dari luar negeri datang ke Indonesia untuk melihat keindahan alamnya? Oleh karenanya jangan kemudian kita mendengarkan ungkapan-ungkapan orang liberal terkait hal ini. Karena sesungguhnya kenikmatan di surga sangat banyak dan bukan hanya taman-taman dan sungai-sungai. Dan tentu taman surga tidak sama dengan taman dunia, terlebih lagi isi taman tersebut tidak sama dengan yang ada di dunia. Yang sama hanya sekedar nama adapun hakikat tentu berbeda.