Makna Surah Nuh
Allah ﷻ telah menurunkan satu surah dalam Alquran yang disebut dengan surah Nuh. Surah Nuh hanya memiliki satu nama yaitu surah Nuh saja. Tidak sebagaimana surah-surah lain yang kebanyakannya memiliki lebih dari satu nama. Surah Nuh ini secara khusus membahas salah satu rangkaian kisah hidup Nabi Nuh ‘alaihissalam, dan tidak disebutkan kisah Nabi-Nabi yang lain di dalamnya. Dan ini sebagaimana halnya dengan surah Yusuf yang juga secara khusus membahas kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam dari awal surah hingga akhir. Adapun surah-surah lain yang menyebutkan kisah para Nabi, kebanyakan menyebutkan lebih dari satu kisah nabi, seperti surah Al-A’raf, surah Hud, dan surah-surah yang lainnya.
Nabi Nuh ‘alaihissalam
Nabi Nuh ‘alaihissalam adalah Rasul pertama yang diutus oleh Allah ﷻ kepada penduduk bumi, sebagaimana dalam hadits syafaat bahwa kelak manusia akan mendatangi Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk meminta syafaat. Nabi ﷺ bersabda,
فَيَأْتُونَ نُوحًا فَيَقُولُونَ: يَا نُوحُ، إِنَّكَ أَنْتَ أَوَّلُ الرُّسُلِ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ، وَقَدْ سَمَّاكَ اللَّهُ عَبْدًا شَكُورًا، اشْفَعْ لَنَا إِلَى رَبِّكَ، أَلاَ تَرَى إِلَى مَا نَحْنُ فِيهِ؟ فَيَقُولُ: إِنَّ رَبِّي عَزَّ وَجَلَّ قَدْ غَضِبَ اليَوْمَ غَضَبًا لَمْ يَغْضَبْ قَبْلَهُ مِثْلَهُ، وَلَنْ يَغْضَبَ بَعْدَهُ مِثْلَهُ، وَإِنَّهُ قَدْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ دَعَوْتُهَا عَلَى قَوْمِي، نَفْسِي، اذْهَبُوا إِلَى غَيْرِي
“Mereka mendatangi Nuh lalu berkata: ‘Wahai Nuh, engkau adalah rasul pertama untuk penduduk bumi, Allah menyebutmu hamba yang sangat bersyukur, berilah kami syafaat kepada Rabbmu, apa kau tidak lihat kondisi kami, apa kau tidak melihat yang menimpa kami?’ Nuh berkata kepada mereka: ‘Rabbku saat ini benar-benar marah, Ia tidak pernah marah seperti itu sebelumnya dan tidak akan pernah seperti itu sesudahnya, dahulu aku pernah berdoa keburukan untuk kaumku, diriku, diriku, oh diriku. Pergilah kepada selainku’.”(2)
Keturunan Nabi Nuh ‘alaihissalam
Antara Nabi Adam dan Nabi Nuh ‘alaihimassalam ada 10 generasi, sehingga sebagian Ahli Tafsir memperkirakan bahwa jumlah manusia di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam berkisar pada angka ribuan. Karena antara keduanya hanya terpaut sepuluh generasi, dan tidak ada kaum di belahan bumi lain selain kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam(3). Oleh karenanya Nabi Nuh ‘alaihissalam juga digelari dengan Abul Basyar Ats-Tsani (nenek moyang kedua) Hal ini karena semua manusia tatkala datang banjir besar, maka semua manusia meninggal kecuali yang selamat di atas bahtera Nabi Nuh ‘alaihissalam. Kemudian yang memiliki keturunan setelah itu hanyalah anak-anak Nabi Nuh ‘alaihissalam, dan yang lainnya keturunannya berhenti(4). Sebagaimana Allah ﷻ berfirman,
وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ
“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS Ash-Shaffat : 77)
Dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam
Nabi Nuh ‘alaihissalam diutus oleh Allah ﷻ kepada kaumnya dan berdakwah kepada kaumnya selama kurang lebih 950 tahun(5). Allah ﷺ berfirman,
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا فَأَخَذَهُمُ الطُّوفَانُ وَهُمْ ظَالِمُونَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Maka mereka ditimpa banjir besar, dan mereka adalah orang-orang yang zalim.” (QS Al-‘Ankabut : 14)
Usia Nabi Nuh ‘alaihissalam
Adapun usia Nabi Nuh ‘alaihissalam maka para ulama berselisih pendapat. Karena para ulama berbeda pendapat Nabi Nuh diangkat menjadi Nabi pada usia berapa tahun, sebagian mengatakan 40 tahun, sebagian mengatakan 300 tahun, dan pendapat lainnya(6). Kemudian sebagian ulama juga khilaf dalam menyebutkan berapa sisa usia Nabi Nuh setelah banjir menimpa kaumnya hingga dia meninggal. Intinya ada sebagian mengatakan bahwa umur Nabi Nuh ‘alaihissalam jika ditotal dengan usia sebelum diutus menjadi Rasul dan setelah terjadinya banjir besar, sebagian ada yang menyebutkan bahwa usianya hingga 1500 tahun lebih, dan yang lain menyebutkan sampai 1700 tahun lebih. Akan tetapi ini hanyalah pendapat, yang jelas lama dakwah beliau adalah 950 tahun, dan angka tersebut belum dijumlahkan dengan usia beliau sebelum diutus menjadi rasul, dan sisa hidup beliau setelah kaumnya ditenggelamkan.
Surah Nuh
Surah Nuh ‘alaihissalam adalah surah Makkiyah berdasarkan kesepakatan para ulama(7), yaitu turun tatkala Nabi masih berdakwah di kota makkah. Dan kita tahu bahwa pada fase dakwah Nabi ﷺ saat itu, beliau sangat membutuhkan arahan dari Allah ﷻ . Maka di antara hal yang menghibur Nabi ﷺ agar bersabar atas tindakan kaumnya, maka Allah kisahkan kepada Nabi Muhammad tentang kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk menghibur Nabi dan agar bersabar dengan amanah dakwah yang sedang diembannya(8). Sebagaimana firman Allah ﷻ ,
وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ ۚ وَجَاءَكَ فِي هَٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَىٰ لِلْمُؤْمِنِينَ
“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surah ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS Hud : 120)
Dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam
Surah Nuh khusus bercerita tentang bagaimana dakwah Nabi Nuh, yaitu dakwah kepada tauhid. Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam belum ada syariat khusus lain selain untuk mengesakan dan mentauhidkan Allah ﷻ semata(9). Selama 950 tahun Nabi Nuh ‘alaihissalam hanya fokus untuk berdakwah kepada kaumnya dalam masalah tauhid. Dan sebagian ulama mengatakan bahwa ini merupakan ujian yang diberikan Allah ﷻ kepada Nabi Nuh, ujian kesabaran dalam dakwah. Karena Allah ﷻ juga menyebutkan kisah dakwah Nabi Nuh ‘alaihissalam dalam surah Al-‘Ankabut. Di awal surah Allah ﷻ berfirman,
الم، أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ، وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Alif Lam Mim. Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’, dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut : 1-3)
Keterlambatan Dakwah Nabi Muhammad ﷺ
Surah ini turun turun di Mekkah juga sebagai pelajaran bagi para sahabat Nabi ﷺ yang jumlah mereka juga sedikit tatkala itu, agar mereka bersabar dan tidak terperdaya melihat banyaknya pengikut Abu Jahal dan kawan-kawannya. Karena telah berlalu juga seorang Nabi yang berdakwah selama 950 tahun, namun yang beriman kepadanya hanya sedikit. Surah ini juga diturunkan sebagai peringatan kepada kaum musyrikin Arab, yaitu jika mereka tidak beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ maka mereka akan ditimpa azab sebagaimana yang menimpa kaum Nabi Nuh ‘alaihissalam. Inilah tujuan diturunkannya surah Nuh di fase dakwah Nabi ﷺ di Mekkah, yaitu sebagai pelajaran bagi Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya, serta sebagai peringatan bagi Abu Jahal dan kawan-kawannya.
Perintah Allah ﷻ kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam
Allah ﷻ berfirman,
إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَىٰ قَوْمِهِ أَنْ أَنذِرْ قَوْمَكَ مِن قَبْلِ أَن يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan perintah), ‘Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih’.” (QS. Nuh : 1)
Pengagungan Allah ﷻ
Dan dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan kata ganti “kami” untuk memaksudkan diri-Nya. Dan ini tidak mengharuskan berbilangnya Allah, akan tetapi kata ganti “kami” bagi Allah dimaksudkan untuk pengagungan. Uslub bahasa seperti ini dikenal dalam bahasa Arab, sebagaimana juga dikenal dalam bahasa Indonesia bahwa penggunaan kata ganti “kami” sering maksudnya adalah sendiri.
Perintah Allah ﷻ kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam
Dan dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan kalimat “أَنذِرْ قَوْمَكَ” (berilah beringatan kepada kaummu sendiri) dan bukan menggunakan kalimat “أَنذِرِ النَّاسَ” (berilah beringatan kepada manusia). Tujuannya adalah seakan-akan Allah ﷻ ingin menegaskan kepada Nabi Nuh ‘alaihissalam bahwa dia diutus kepada kaumnya sendiri. Hal ini dikarenakan di dalam kaumnya tersebut ada kerabat-kerabat Nabi Nuh ‘alaihissalam, seperti istrinya, anak-anaknya, dan orang-orang terdekatnya. Dan sebagaimana telah disebutkan bahwa karena jarak antara Nabi Adam dan Nabi Nuh ‘alaihissalam tidak jauh, maka tentu jumlah manusia tatkala itu tidak begitu banyak, dan masing-masing tentu memiliki hubungan kekerabatan. Maka Allah ﷻ memerintahkan Nabi Nuh ‘alaihissalam untuk memberikan peringatan kepada kerabat-kerabatnya karena mereka itu adalah kaumnya.