Berikut adalah teks yang telah diformat menjadi Markdown:
Makna Kata "Pemaaf"
Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: {#Jadilah engkau pemaaf.#} (Al-A'raf, [7:199]) Yakni ambillah dari lebihan harta mereka sejumlah yang layak untukmu, dan terimalah apa yang mereka berikan kepadamu dari harta mereka. Hal ini terjadi sebelum ayat yang memfardukan zakat diturunkan berikut rinciannya dan pembagian harta tersebut. Demikianlah menurut pendapat As-Saddi.
Makna Ayat
Ad-Dahhak mengatakan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna Firman-Nya; {#Jadilah engkau pemaaf.#} (Al-A'raf, [7:199]) Makna yang dimaksud ialah 'infakkanlah lebihan dari hartamu'. Menurut Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan AL-'AFWA dalam ayat ini ialah lebihan.
Pelajaran dari Ayat
Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: {#Jadilah engkau pemaaf.#} (Al-A'raf, [7:199]) Allah memerintahkan Nabi SAW agar bersifat pemaaf dan berlapang dada dalam menghadapi orang-orang musyrik selama sepuluh tahun. Kemudian Nabi SAW diperintahkan untuk bersikap kasar terhadap mereka. Pandapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.
Riwayat dari Mujahid
Sejumlah orang telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: {#Jadilah engkau pemaaf.#} (Al-A'raf, [7:199]) Yakni terhadap sikap dan perbuatan orang lain tanpa mengeluh.
Riwayat dari Hisyam ibnu Urwah
Hisyam ibnu Urwah telah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa Allah SWT telah memerintahkan Rasul-Nya agar bersifat memaaf terhadap akhlak dan perlakuan manusia (terhadap dirinya). Menurut riwayat yang lain, makna yang dimaksud ialah 'bersikap lapang dadalah kamu dalam menghadapi akhlak mereka'.
Riwayat dari Siti Aisyah
Di dalam riwayat Sa'id ibnu Mansur disebutkan dari Abu Mu'awiyah, dari Hisyam, dari Wahb Ibnu Kaisan, dari Abuz Zubair sehubungan dengan firman-Nya: {#jadilah engkau pemaaf.#} (Al-A'raf, [7:199]) Maksudnya dalam menghadapi akhlak manusia. Selanjutnya disebutkan, "Demi Allah, aku benar-benar akan bersikap lapang dada selama aku bergaul dengan mereka."
Riwayat dari Ibnu Jarir
Riwayat inilah yang paling masyhur dan diperkuat oleh apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim; keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Ubay yang menceritakan bahwa ketika Allah SWT menurunkan ayat berikut kepada Nabi-Nya, yaitu firman-Nya: {#Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.#} (Al-A'raf, [7:199]) Maka Rasulullah SAW bertanya, "Hai Jibril, apakah artinya ini?" Jibril AS menjawab, "Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadamu agar memaafkan terhadap perbuatan orang yang berbuat aniaya kepadamu, dan kamu memberi orang yang mencegahnya darimu, serta bersilaturahmi kepada orang yang memutuskannya darimu."
Riwayat dari Imam Ahmad
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Syu'bah. telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Rifa'ah. telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim ibnu Abu Umamah Al-Bahili, dari Uqbah ibnu Amir RA yang menceritakan bahwa ia bersua dengan Rasulullah SAW, lalu ia mengulurkan tangannya, menyalami tangan Rasulullah SAW, kemudian bertanya, "Wahai Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang amal-amal perbuatan yang paling utama." Rasulullah SAW, bersabda: "Hai Uqbah, bersilaturahmilah kamu kepada orang yang memutuskannya darimu, berilah orang yang mencegahnya darimu, dan berpalinglah dari orang yang aniaya kepadamu."
Riwayat dari Imam Turmuzi
Imam Turmuzi telah meriwayatkan hal yang semisal melalui jalur Ubaidillah ibnu Zuhar, dari Ali ibnu Yazid dengan lafaz yang sama, dan Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan.
Riwayat dari Imam Bukhari
Imam Bukhari telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: {#Jadilah engkau pemaafdan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.#} (Al-A'raf, [7:199]) Yang dimaksud dengan AL 'URF ialah hal yang makruf (bajik).
Riwayat dari Ibnu Abu Hatim
Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A'Ia secara qiraat, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Anas, dari Abdullah ibnu Nafi', bahwa Salim ibnu Abdullah ibnu Umar bersua dengan iringan kafilah negeri Syam yang membawa sebuah lonceng. Maka Salim ibnu Abdullah berkata, "Sesungguhnya barang ini diharamkan." Mereka menjawab, "Kami lebih mengetahui daripada kamu tentang hal ini. Sesungguhnya yang tidak disukai hanyalah lonceng besar, sedangkan lonceng seperti ini tidak apa-apa." Salim diam dan merenungkan firman-Nya: {#serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.#} (Al-A'raf, [7:199])
Riwayat dari Ibnu Jarir
Ibnu Jarir telah meriwayatkan bahwa bila dikatakan aulaituhu ma'rufan, 'arifa, 'arifatan, semuanya bermakna makruf, yakni saya mengulurkan kebajikan kepadanya. Ibnu Jarir mengatakan, Allah telah memerintahkan kepada Nabi-Nya agar menganjurkan semua hambanya untuk berbuat kebajikan, dan termasuk ke dalam kebajikan ialah mengerjakan ketaatan dan berpaling dari orang-orang yang bodoh.
Riwayat dari Sa'id ibnu Abu Arubah
Sa'id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: {#Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.#} (Al-A'raf, [7:199]) Hal ini merupakan akhlak yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk disandang oleh Nabi-Nya, dan Allah SWT memberinya petunjuk ke akhlak ini.
Riwayat dari Imam Bukhari
Imam Bukhari telah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri; telah menceritakan kepadaku Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah, bahwa Ibnu Abbas RA pernah mengatakan, "Uyaynah ibnu Husatn ibnu Huzaifah tiba (di Madinah), lalu menginap dan tinggal di rumah kemenakannya, yaitu Al-Hurr ibnu Qais. Sedangkan Al-Hurr termasuk salah seorang di antara orang-orang yang terdekat dengan Khalifah Umar. Tersebut pula bahwa teman-teman semajelis Umar dan dewan permusyawaratannya terdiri atas orang-orang tua dan orang-orang muda. Lalu Uyaynah berkata kepada kemenakannya, 'Hai kemenakanku, engkau adalah orang yang dikenai oleh Amirul Mu'minin, maka mintakanlah izin masuk menemuinya bagiku." Al-Hurr berkata, 'Saya akan memintakan izin buatmu untuk bersua dengannya'." Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, "Lalu Al-Hurr meminta izin buat Uyaynah kepada Umar, dan Khalifah Umar memberinya izin untuk menemui dirinya. Ketika Uyaynah masuk menemui Umar, Uyaynah berkata. 'Hai Umar. demi Allah, engkau tidak memberi kami dengan pemberian yang berlimpah, dan engkau tidak menjalankan hukum dengan baik di antara sesama kami.' Maka Khalifah Umar murka, sehingga hampir saja ia menampar Uyaynah, tetapi Al-Hurr berkata kepadanya,' Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya Allah SWT pernah berfirman kepada Nabi-Nya: {#Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.#} (Al-A'raf, [7:199]) Dan sesungguhnya orang ini termasuk orang yang bodoh." Demi Allah, ketika ayat itu dibacakan kepada Umar. Umar tidak berani melanggarnya, dan Umar adalah orang yang selalu berpegang kepada Kitabullah"
Riwayat dari Ibnu Abu Hatim
Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Yunus ibnu Abdul A'Ia secara qiraat, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepadaku Malik ibnu Anas, dari Abdullah ibnu Nafi', bahwa Salim ibnu Abdullah ibnu Umar bersua dengan iringan kafilah negeri Syam yang membawa sebuah lonceng. Maka Salim ibnu Abdullah berkata, "Sesungguhnya barang ini diharamkan." Mereka menjawab, "Kami lebih mengetahui daripada kamu tentang hal ini. Sesungguhnya yang tidak disukai hanyalah lonceng besar, sedangkan lonceng seperti ini tidak apa-apa." Salim diam dan merenungkan firman-Nya: {#serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.#} (Al-A'raf, [7:199])
Riwayat dari Imam Bukhari
Imam Bukhari telah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri; telah menceritakan kepadaku Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah, bahwa Ibnu Abbas RA pernah mengatakan, "Uyaynah ibnu Husatn ibnu Huzaifah tiba (di Madinah), lalu menginap dan tinggal di rumah kemenakannya, yaitu Al-Hurr ibnu Qais. Sedangkan Al-Hurr termasuk salah seorang di antara orang-orang yang terdekat dengan Khalifah Umar. Tersebut pula bahwa teman-teman semajelis Umar dan dewan permusyawaratannya terdiri atas orang-orang tua dan orang-orang muda. Lalu Uyaynah berkata kepada kemenakannya, 'Hai kemenakanku, engkau adalah orang yang dikenai oleh Amirul Mu'minin, maka mintakanlah izin masuk menemuinya bagiku." Al-Hurr berkata, 'Saya akan memintakan izin buatmu untuk bersua dengannya'." Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, "Lalu Al-Hurr meminta izin buat Uyaynah kepada Umar, dan Khalifah Umar memberinya izin untuk menemui dirinya. Ketika Uyaynah masuk menemui Umar, Uyaynah berkata. 'Hai Umar. demi Allah, engkau tidak memberi kami dengan pemberian yang berlimpah, dan engkau tidak menjalankan hukum dengan baik di antara sesama kami.' Maka Khalifah Umar murka, sehingga hampir saja ia menampar Uyaynah, tetapi Al-Hurr berkata kepadanya,' Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya Allah SWT pernah berfirman kepada Nabi-Nya: {#Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.#} (Al-A'raf, [7:199]) Dan sesungguhnya orang ini termasuk orang yang bodoh." Demi Allah, ketika ayat itu dibacakan kepada Umar. Umar tidak berani melanggarnya, dan Umar adalah orang yang selalu berpegang kepada Kitabullah"
Riwayat dari Ibnu Jarir
Ibnu Jarir telah meriwayatkan bahwa bila dikatakan aulaituhu ma'rufan, 'arifa, 'arifatan, semuanya bermakna makruf, yakni saya mengulurkan kebajikan kepadanya. Ibnu Jarir mengatakan, Allah telah memerintahkan kepada Nabi-Nya agar menganjurkan semua hambanya untuk berbuat kebajikan, dan termasuk ke dalam kebajikan ialah mengerjakan ketaatan dan berpaling dari orang-orang yang bodoh.
Riwayat dari Sa'id ibnu Abu Arubah
Sa'id ibnu Abu Arubah telah meriwayatkan dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: {#Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.#} (Al-A'raf, [7:199]) Hal ini merupakan akhlak yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk disandang oleh Nabi-Nya, dan Allah SWT memberinya petunjuk ke akhlak ini.
Riwayat dari Imam Bukhari
Imam Bukhari telah mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhri; telah menceritakan kepadaku Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Atabah, bahwa Ibnu Abbas RA pernah mengatakan, "Uyaynah ibnu Husatn ibnu Huzaifah tiba (di Madinah), lalu menginap dan tinggal di rumah kemenakannya, yaitu Al-Hurr ibnu Qais. Sedangkan Al-Hurr termasuk salah seorang di antara orang-orang yang terdekat dengan Khalifah Umar. Tersebut pula bahwa teman-teman semajelis Umar dan dewan permusyawaratannya terdiri atas orang-orang tua dan orang-orang muda. Lalu Uyaynah berkata kepada kemenakannya, 'Hai kemenakanku, engkau adalah orang yang dikenai oleh Amirul Mu'minin, maka mintakanlah izin masuk menemuinya bagiku." Al-Hurr berkata, 'Saya akan memintakan izin buatmu untuk bersua dengannya'." Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, "Lalu Al-Hurr meminta izin buat Uyaynah kepada Umar, dan Khalifah Umar memberinya izin untuk menemui dirinya. Ketika Uyaynah masuk menemui Umar, Uyaynah berkata. 'Hai Umar. demi Allah, engkau tidak memberi kami dengan pemberian yang berlimpah, dan engkau tidak menjalankan hukum dengan baik di antara sesama kami.' Maka Khalifah Umar murka, sehingga hampir saja ia menampar Uyaynah, tetapi Al-Hurr berkata kepadanya,' Wahai Amirul Mu'minin, sesungguhnya Allah SWT pernah berfirman kepada Nabi-Nya: {#Jadilah engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.#} (Al-A'raf, [7:199]) Dan sesungguhnya orang ini termasuk orang yang bodoh." Demi Allah, ketika ayat itu dibacakan kepada Umar. Umar tidak berani melanggarnya, dan Umar adalah orang yang selalu berpegang kepada Kitabullah"
Riwayat dari Ibnu Jarir
Ibnu Jarir telah meriwayatkan bahwa bila dikatakan aulaituhu ma'rufan, 'arifa, 'arifatan, semuanya bermakna mak
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.