Makna Ayat
Ayat ini turun tentang Al-Walid Ibnul Mughirah tatkala dia tertarik dengan dakwah Nabi ﷺ . Disebutkan dalam sebuah riwayat bahwasanya Al-Walid Ibnul Mughirah senang mendengar bacaan-bacaan Nabi ﷺ (Alquran). Terkadang dia datang ke rumah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu untuk mendengar bacaan Alqurannya.
Riwayat Al-Walid Ibnul Mughirah
Dari Ikrimah radhiallahu ‘anhu, bahwa Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,
أَنَّ الْوَلِيدَ بْنَ الْمُغِيرَةِ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَرَأَ عَلَيْهِ الْقُرْآنَ، فَكَأَنَّهُ رَقَّ لَهُ فَبَلَغَ ذَلِكَ أَبَا جَهْلٍ، فَأَتَاهُ فَقَالَ: يَا عَمُّ، إِنَّ قَوْمَكَ يَرَوْنَ أَنْ يَجْمَعُوا لَكَ مَالًا. قَالَ: لَمَ؟ قَالَ: لِيُعْطُوكَهُ فَإِنَّكَ أَتَيْتَ مُحَمَّدًا لِتُعْرِضَ لِمَا قِبَلَهُ، قَالَ: قَدْ عَلِمَتْ قُرَيْشٌ أَنِّي مِنْ أَكْثَرِهَا مَالًا. قَالَ: فَقُلْ فِيهِ قَوْلًا يَبْلُغُ قَوْمَكَ أَنَّكَ مُنْكِرٌ لَهُ أَوْ أَنَّكَ كَارِهٌ لَهُ، قَالَ: وَمَاذَا أَقُولُ «فَوَاللَّهِ مَا فِيكُمْ رَجُلٌ أَعْلَمَ بِالْأَشْعَارِ مِنِّي، وَلَا أَعْلَمَ بِرَجَزٍ وَلَا بِقَصِيدَةٍ مِنِّي وَلَا بِأَشْعَارِ الْجِنِّ وَلَا بِاللَّهِ مَا يُشْبِهُ الَّذِي يَقُولُ شَيْئًا مِنْ هَذَا وَوَاللَّهِ إِنَّ لِقَوْلِهِ الَّذِي يَقُولُ حَلَاوَةً، وَإِنَّ عَلَيْهِ لَطَلَاوَةً، وَإِنَّهُ لَمُثْمِرٌ أَعْلَاهُ مُغْدِقٌ أَسْفَلُهُ، وَإِنَّهُ لَيَعْلُو وَمَا يُعْلَى وَإِنَّهُ لَيَحْطِمُ مَا تَحْتَهُ» قَالَ: لَا يَرْضَى عَنْكَ قَوْمُكَ حَتَّى تَقُولَ فِيهِ. قَالَ: فَدَعْنِي حَتَّى أُفَكِّرَ
Al-Walid bin Al-Mughirah datang menemui Nabi ﷺ . Kemudian Rasulullah membacakan Alquran kepadanya. Sepertinya Alquran itu melembutkannya (membuatnya tertarik). Kabar ini pun sampai kepada Abu Jahal(39). Ia pun datang menemui Al-Walid dan berkata, ‘Wahai paman, sesungguhnya kaummu ingin mengumpulkan harta untukmu’. Al-Walid berkata, ‘Untuk apa?’. Abu Jahal berkata, ‘Untuk diberikan kepadamu, karena engkau datang menemui Muhammad untuk menentang ajaran sebelumnya (ajaran nenek moyang)’. Al-Walid berkata, ‘Orang-orang Quraisy telah mengetahui bahwa aku termasuk yang paling banyak hartanya’. Abu Jahal berkata, ‘Maka ucapkanlah tentangnya suatu ucapan yang menjelaskan kepada kaummu bahwa engkau mengingkarinya atau membencinya’. Al-Walid berkata, ‘Apa yang harus aku katakan? Demi Allah, tidak ada seorang pun di antara kalian yang lebih paham dariku tentang sya’ir-sya’ir. Tidak ada yang lebih paham dariku tentang rajaznya (irama sajak) juga qasidahnya, juga sya’ir jin. Demi Allah, perkataannya sama sekali tidak menyerupai itu semua. Dan Demi Allah, ucapan yang diucapkannya itu manis, dan padanya ada kenikmatan. Sesungguhnya perkataannya itu, bagian atasnya berbuah dan bagian bawahnya subur. Ucapannya itu tinggi dan tidak ada yang mengunggulinya, serta bisa menghancurkan semua yang berada di bawahnya’. Abu Jahal berkata, ‘Kaummu tidak akan senang sampai engkau mengatakan sesuatu tentang Alquran’. Maka Al-Walid berkata, ‘Tinggalkan aku, biarkan aku berpikir’.”(40)
Makna Ayat
Dalam riwayat yang lain Al-Walid Ibnul Mughirah berkata,
فَوَاللَّهِ مَا هُوَ بِشِعْرٍ وَلَا بِسَحْرٍ وَلَا بهذْي مِنَ الْجُنُونِ، وَإِنَّ قَوْلَهُ لِمَنْ كَلَامِ اللَّهِ. فَلَمَّا سَمِعَ بِذَلِكَ النفرُ مِنْ قُرَيْشٍ ائْتَمَرُوا فَقَالُوا: وَاللَّهِ لَئِنْ صَبَا الْوَلِيدُ لتصْبُوَنَّ قُرَيْشٌ
“Demi Allah, apa yang dikatakannya bukanlah syair, bukan sihir, bukan pula kata-kata orang gila, tetapi sesungguhnya ucapannya itu benar-benar Kalam Allah.” Ketika segolongan orang-orang Quraisy mendengar ucapan Al-Walid Ibnul Mughirah itu, maka mereka menebar hasutan dan mengatakan kepada orang-orang Quraisy, ‘Demi Allah, jika Al-Walid masuk agama baru, benar-benar orang-orang Quraisy pun akan mengikuti jejaknya’.”(41)
Makna Ayat
Karena orang-orang Quraisy khawatir Al-Walid akan masuk Islam, maka sebagaimana riwayat sebelumnya, Abu Jahal datang untuk memprovokasi al-Walid sehingga Al-Walid pun terprovokasi untuk berfikir keras bagaimana cara mencela al-Qur’an dengan celaan yang menurutnya masuk akal dan logis. Inilah maksud dari ayat yang Allah ﷻ turunkan,
إِنَّهُ فَكَّرَ وَقَدَّرَ
“Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya).” (QS. Al-Muddatstsir : 18)
Makna Ayat
Maka Al-Walid tatkala itu berpikir tentang apa yang harus dia ucapkan tentang Alquran agar orang-orang tahu bahwa dia benci kepada Nabi Muhammad ﷺ (42), meskipun dia sadar bahwa Alquran itu benar. Agar dia tetap jaya dan tidak ditinggalkan oleh kaumnya. Karena perkara dunia mengharuskan dia untuk mencela Alquran. Al-Walid Ibnul Mughirah adalah orang yang cerdas, dia sadar bahwa jika dia mengatakan bahwa Alquran adalah sihir, sya’ir, atau perkataan orang gila, maka pasti tidak tepat.
Makna Ayat
Maka kemudian Allah ﷻ berfirman,
فَقُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ، ثُمَّ قُتِلَ كَيْفَ قَدَّرَ، ثُمَّ نَظَرَ، ثُمَّ عَبَسَ وَبَسَرَ
“Maka celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Sekali lagi, celakalah dia! Bagaimana dia menetapkan? Kemudian dia (merenung) memikirkan, lalu berwajah masam dan cemberut.” (QS. Al-Muddatstsir : 19-22)