Surah Al-Mursalat
Surah Al-Mursalat adalah surah yang terakhir dari Juz ke-29 dan merupakan surah terakhir dari surah-surah Thiwal Al-Mufashshal yang dimulai dari surah Qaf hingga surah Al-Mursalat.
Makna kata
Surah Al-Mursalat dari ayat pertama hingga terakhir termasuk surah Makkiyah berdasarkan pendapat jumhur ulama (1). Dan jika kita melihat surah ini, maka kita akan dapati bahwa nuansa surah ini sama dengan surah-surah Makkiyah lainnya yang isinya adalah pengingkaran serta bantahan terhadap orang-orang musyrikin yang mereka mengingkari adanya hari kebangkitan, kecuali satu ayat di mana Allah ﷻ berfirman,
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ارْكَعُوا لَا يَرْكَعُونَ
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Rukuklah,” mereka tidak mau rukuk.” (QS. Al-Mursalat : 48)
Pelajaran dari ayat
Sebagian ulama mengatakan bahwa ayat ini merupakan ayat Madaniyah karena shalat baru banyak dibicarakan tatkala Nabi ﷺ berpindah dari Mekkah ke Madinah. Akan tetapi hal ini dibantah oleh sebagian ulama bahwa ayat ini tetap termasuk Makkiyah, karena firman Allah ﷻ ini maksudnya adalah “Jika mereka diperintahkan untuk masuk Islam mereka enggan”, yaitu Islam diungkapkan dengan ruku’ (shalat), karena seseorang untuk bisa shalat dan rukuk, maka ia harus masuk Islam terlebih dahulu. Dan hal seperti ini pun sama dalam ayat-ayat yang lain seperti firman Allah ﷻ ,
وَقَدْ كَانُوا يُدْعَوْنَ إِلَى السُّجُودِ وَهُمْ سَالِمُونَ
“Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud pada waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukan).” (QS. Al-Qalam : 43) (2)
Surah Al-Qalam
Surah Al-Qalam juga termasuk surah Makkiyah. Dan ayat ini bercerita tentang orang-orang musyrikin yang diperintahkan sujud, maksudnya adalah diperintahkan untuk masuk Islam. Demikian pula firman Allah ﷻ dalam surah Al-Muddatstsir,
مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ، قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ
“Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?” Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat.” (QS. Al-Muddatstsir : 42-43)
Ayat ini
Ayat ini maksudnya adalah orang-orang musyrikin dahulu tidak shalat dan tidak beriman (tidak masuk Islam), sehingga menjerumuskan mereka ke dalam neraka Saqar. Oleh karenanya, pendapat yang lebih benar adalah surah Al-Mursalat dari awal hingga akhir turun sebelum Nabi ﷺ berhijrah atau dengan kata lain termasuk surah Makkiyah.
Surah Al-Mursalat
Surah Al-Mursalat juga dikenal dengan surah Al-‘Urf(3) sebagaimana firman Allah ﷻ ,
وَالْمُرْسَلَاتِ عُرْفًا
“Demi (malaikat-malaikat) yang diutus untuk membawa kebaikan.” (QS. Al-Mursalat : 1)
عُرْفًا adalah satu kata yang tidak terdapat dalam surah-surah yang lain. Dan para ulama terbiasa memberi nama sebuah surah dengan menyebutkan awal surah atau menyebutkan satu kata dari surah tersebut yang tidak terdapat pada surah-surah yang lain. Oleh karenanya para ulama juga menyebut surah Al-Mursalat dengan surah Al-‘Urf karena kalimat عُرْفًا hanya ada pada surah Al-Mursalat.
Dalil
Di antara dalil yang menunjukkan bahwa surah Al-Mursalat merupakan surah Makkiyah adalah perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Beliau berkata,
نَزَلَتْ وَالْمُرْسَلاتِ عُرْفاً عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةَ الْجِنِّ وَنَحْنُ مَعَهُ نَسِيرُ، حَتَّى أَوَيْنَا إِلَى غَارٍ بِمِنًى فَنَزَلَتْ، فَبَيْنَا نَحْنُ نَتَلَقَّاهَا مِنْهُ، وَإِنَّ فَاهُ لَرَطْبٌ بِهَا إِذْ وَثَبَتْ حَيَّةٌ، فَوَثَبْنَا عَلَيْهَا لِنَقْتُلَهَا فَذَهَبَتْ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وُقِيتُمْ شَرَّهَا كَمَا وُقِيَتْ شَرَّكُمْ
“Ayat ‘Warmusalaati ‘Urfaa’ turun kepada Nabi ﷺ pada malam Al-Jin(4) dan kami bersama sedang berjalan bersama beliau. Sampai ketika kami bernaung (untuk bersembunyi) di sebuah gua di Mina, maka turun ayat tersebut. Maka Nabi mengajarkan ayat tersebut kepada kami. Dan ketika baru saja ayat tersebut diajarkan kepada kami, tiba-tiba muncul seekor ular. Maka kami pergi untuk membunuhnya, akan tetapi ular itu kabur. Maka Nabi ﷺ berkata ‘Kalian telah selamat dari keburukan ular tersebut sebagaimana ular itu telah selamat dari keburukan kalian’.”(5)
Nuansa surah
Ini menunjukkan bahwa surah ini turun di Mekkah sebelum Nabi ﷺ berhijrah ke Madinah. Dan nuansa surah ini juga jelas berbicara tentang hari kiamat, tentang membantah orang-orang musyrikin yang mengingkari hari kiamat. Berbeda dengan ciri-ciri surah Madaniyah yang biasanya isinya berkaitan dengan fikih dan hukum-hukum.
Shalat maghrib
Surah Al-Mursalat adalah surah yang terakhir dibaca oleh Nabi ﷺ dalam shalat berjamaáh jahriyah sebelum beliau meninggal dunia, yaitu dalam shalat maghrib. Ketika Nabi ﷺ sedang sakit parah akan meninggal dunia, shalat jahriyah yang terakhir beliau imami adalah shalat maghrib, dan tatkala itu Nabi ﷺ membaca surah Al-Mursalat. Dan kita tahu bahwasanya pada waktu shalat maghrib, Nabi ﷺ biasanya membaca surah-surah Qishar Al-Mufashshal(6). Adapun surah-surah Tiwal Al-Mufashshal yang di dalamnya termasuk surah Al-Mursalat biasanya Nabi ﷺ baca pada saat shalat subuh. Adapun Aushat Al-Mufashshal(7) biasa Nabi ﷺ baca pada shalat-shalat subuh. Adapun yang disebut dengan surah-surah Mufashshal adalah surah yang terdiri dari surah Qaf hingga surah An-Naas. Intinya adalah ketika Nabi ﷺ sakit akan meninggal, beliau menjadi imam shalat maghrib dan membaca surah Al-Mursalat. Dan kita tahu bahwa ini bukanlah kebiasaan Nabi ﷺ .
Keterkaitan antara surat
Dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhu berkata,
قَرَأْتُ سُورَةَ وَالْمُرْسَلاتِ عُرْفاً فَسَمِعَتْنِي أُمُّ الْفَضْلِ امْرَأَةُ الْعَبَّاسِ، فَبَكَتْ وَقَالَتْ: وَاللَّهِ يَا بُنَيَّ لَقَدْ أَذْكَرْتَنِي بِقِرَاءَتِكَ هَذِهِ السُّورَةَ إِنَّهَا لَآخِرُ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ بِهَا فِي صَلَاةِ الْمَغْرِبِ
“Aku membaca surah ‘Walmursalati ‘urfaa’, maka Ummu Al-Fadhl istri ‘Abbas (ibuku) mendengarku membacanya. Maka dia pun menangis dan berkata ‘Demi Allah Wahai anakku, engkau telah mengingatkanku ketika engkau membaca surah ini. Sesungguhnya ini adalah surah terakhir yang aku dengar Rasulullah ﷺ membacanya pada shalat maghrib.”(8)
Ayat ini
Dan keterkaitan antara surat ini dengan yang sebelumnya adalah tatkala Allah pada surat sebelumnya (yaitu surat al-Muddattsir) berbicara tentang hari kiamat dan Allah menjelaskan bahwa Allah akan memasukkan orang-orang yang ia kehendaki ke dalam surga, dan orang-orang yang zholim ke dalam neraka, maka pada ayat ini Allah azza wa jalla bersumpah bahwa itu akan terjadi dan Allah menjelaskan kapan waktunya dan tanda-tandanya, sehingga Allah bersumpah bahwa semua yang terkandung pada surat sebelumnya pasti terjadi. (9)
Ayat ini
Allah ﷻ berfirman,
وَالْمُرْسَلَاتِ عُرْفًا، فَالْعَاصِفَاتِ عَصْفًا، وَالنَّاشِرَاتِ نَشْرًا، فَالْفَارِقَاتِ فَرْقًا، فَالْمُلْقِيَاتِ ذِكْرًا، عُذْرًا أَوْ نُذْرًا، إِنَّمَا تُوعَدُونَ لَوَاقِعٌ
“Demi yang diutus untuk membawa kebaikan, dan yang terbang dengan kencangnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyebarkan (rahmat Allah) dengan seluas-luasnya, dan (malaikat-malaikat) yang membedakan (antara yang baik dan yang buruk) dengan sejelas-jelasnya, dan (malaikat-malaikat) yang menyampaikan wahyu. Untuk menolak alasan-alasan (uzur) atau memberi peringatan. Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi.” (QS. Al-Mursalat : 1-7)
Ayat ini
Allah ﷻ membuka firman-Nya dengan sumpah terhadap lima hal. Terdapat tiga metode para ulama dalam menafsirakan lima ayat ini.
Metode pertama
Metode pertama, firman Allah ﷻ ini berkaitan dengan angin sehingga seluruh ayat-ayat tersebut Allah ﷻ bersumpah tentang angin. (10)
Metode kedua
Metode kedua, firman Allah ﷻ ini berkaitan tentang malaikat sehingga maksudnya seluruh ayat-ayat tersebut adalah Allah ﷻ bersumpah atas nama malaikat. (11)
Metode ketiga
Metode ketiga, firman Allah ﷻ ini berkaitan dengan angin dan malaikat. Ayat pertama hingga kedua maka itu berkaitan dengan angin, sedangkan ayat ketiga hingga kelima maka itu berkaitan dengan malaikat. Dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh Thahir Ibnu ‘Asyur dalam kitabnya At-Tahrir wa At-Tanwir(12), serta pendapat yang lebih kuat insyaallah.