Makna Ayat
Makna Kata
Makna Ayat
Pelajaran dari Ayat
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ” Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari akhir, juka kepada qada dan qadar, baik dan buruknya, Maka sesungguhnya inilah keimana sebagaimana yagn dijelaskan oleh Nabi shallallaahu ‘alaih wa sallam ketika ditanya oleh Jibril tentang iman, belia bersabda: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ، وَالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ “Engkau beriman kepada Allah,malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan kepada hari akhir, juka kepada qadar, baik dan buruknya ”(1)
Sedangkan firman-Nya وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ “dan mengerjakan amal-amal yang saleh ” Maksudnya: Mereka telah mengerjakan amal-amal yang saleh. Sedangkan amal-amal yang saleh adalah yang dibangun di atas keikhlasan kepada Allah dan mengikuti syari’at Allah. Maka siapa saja yang beramal yang ia menyukutukan Allah dengan selain-Nya, maka amalan tertolak, sebagai mana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, yang baliau riwayatkan dari Rabnyabwa Dia berfirman: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ “Saya tidak butuh orang-orang yang syirik dari kesyirikan, maka siaa saja yang bermal suatu amalah yang ia menyekutukan ku dengan selaiku maka aku tinggalkan dia dan juga kesyirikannya ” (2) Adapun mengikuti dimaksudkan dengan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sesungguhnya barang siapa yang beramal dengan amalan tidak didasari syari’at Allah amaka amalnya itu batal juga tertolak, sebagaiamana sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ “ Barang siapa yang beramal dengan amalah yang tidak ada perintah dari kami maka itu tertolak”(3) Atas dasar itu, maka ibadah orang yang riya, ia beribadah kepada Allah tetapi ingin dipandang oleh manusia, dengan menampakkan ibadah sehingga orang-orang melihatnya lalu memujinya, sedangkan dia juga tidak ingin mendekatkan diri kepada manusia, ia tetap ingin mendekatkan dirj kepada Allah, tetapi ia ingin dipuji manusia atas perbuatan mendekatkan diri kepada Allah dan ibadahnya itu , maka orang seperti ini adalah muraii (orang yang riya) amalannya tertolak juga.begitu juga orang yang berbicara berupa quran atau dzikr dan mengeraskan suaranya agar didengarkan oleh manusia sehingga ia dipuji atas dzikrnya kepada Allah, ini juga orang yang riya, amalannya ditolak, karena ia telah menyekutukan Allah dengan yang lain-Nya (dalam ibadah). Ia ingin dipuji orang-orang atas ibadahnya kepada Allah, adapun beribadah untuk manusia maka dia adalah orang musyrik dengan kesyirikan akbar (terbesar), yakni (seperti) jika ia solat di hadapan sesorang dalam rangka mengagungkannya, bukan untuk Allah, ia ruku’ dan sujud untuk seseorang, maka dia adalah orang yang musrik dengan kesyirikan akbar yang mengeluarkan dari agama islam. Dan siapa saja yang membuat-buat kebid’ahan yang bukan dari agama Allah seperti jika mengharuskan ucapan dzikir-dzikir tertentu pada waktu tertentu, maka ini tidak akan diterima darinya. Meskipun ia berdzikir kepada Allah dengan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil namun ia membuatnya dengan cara yang tidak ada sumbernya dari sunnah (contoh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam) maka ini tidak akan diteriman di sisi Allah ‘Azza Wa Jalla, karena dia telah beramal dengan amalan yang tidak ada perintah Allah dan Rasul-Nya. Yang terpenting adalah bahwa Allah mensyaratkan keimanan dengan disertai amal saleh. Dengan demikian, kita tahu bahwa tidak selayaknya bagi kita selalu terfokus dengan akidah, kemudian kita mengatakan: Kami di atas akidah islam, di atas ini, di atas begini, dan tidak menyebutkan amal, karena mencukupkan akidah saja tidak cukup, harus disertai dengan amalan, maka selayaknya ketika anda mengatakan kami berada di atas akidah islam anda juga mengatakan: dan kami beramal saleh, karena Allah selalu menyandingkan antara iman yang mencakup akidah dengan amal saleh, sehingga seorang insan tidak kosong dari amal saleh. Adapun jika sekedar akidah saja maka itu tidak akan bermanfaat, seandainya seorang insan mengatakan: Saya beriman kepada Allah tetapi ia tidak beramal maka mana (bukti) keimanannya kepada Allah? Oleh karenanya pendapat yang rajih dari pendapat-pedapat para ulama bahwa orang yang meninggalkan shalat kafir keluar dari agama islam, kami telah menjelaskan dalil-dalilnya dalam sebuah buku kecil, tidak perlu diulangi penjelasannya di sini.
لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ :”bagi mereka surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; ” Maknanya: bagi mereka dari sisi Allah mendapatkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itu semua diperoleh setelah hari kebangkitan, sesugguhnya mereka akan memasuki surga surga yang di dalamnya terdapat kenikmatan yang tidak pernah dipandang mata, tidak pernah didengar telinga dan tidak pernah terbersit dibenak manusia. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ “Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang tersembunyi, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan. ” (QS. As-Sajdah: 17) Allah Ta’ala juga berfirman dalam hadits qudsi: أَعدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِيْنَ مَا لَا عَينَ رَأتْ وَلَا أُذُنَ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ "Aku menyiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh apa-apa yang tidak pernah dipandang mata, tidak didengar telinga tidak pula perneh terbersit di hati manusia” (4) karena di dalamnya terdapat kenikmatan yang tidak pernah tergambar di benak manusia. Allah Ta’ala menyebutkan bahwa di surga terpat pohon kurma, buah delima, buah-buahan, daging burung, madu, susu, air dan khamer, tetapi hakikat-hakikat itu semua tidak sama seperti apa-apa yang ada di dunia selamanya, karena kalau saja itu semua serupa dengan apa-apa yang ada di dunia, kita juga mengetahui apa yang tersembunyi bagi kita dari itu, tetapi itu semua jauh lebih besar dan lebih baik dari yang kita bayangkan. Buah delima meski kita tahu makna buah delima dan kita tahu bentuknya, tah rasanya dan memiliki biji-biji tertentu, tetapi tidaklah sama buah delima yang ada di akhirat dengan ini, yang di akhirat jauh lebih agung, baik dari sisi bentuk, warna juga dari sisi rasanya sebagai mana diucapkan oleh Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma: “ Tidak ada sesuatu di dunia ini yang ada di surga nanti melainkan hanya sekedar nama-namanya saja ” adapun hakikat-hakikatnya maka itu tidak diketahui Firman Allah Ta’ala: تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ "Yang mengalir di bawahnya sungai-sungai” Para ulama mengatakan: Di bawahnya maknanya: di bawah pepohonan dan istana-istananya, jika tidak begitu, sungai-sungai itu terletak di atas teras bagian atas, sungai-sungai tersebut sebagaimana dalam hadits-hadits tidak membutuhkan saluran dan tidak memerlukan adanya parit-parit, dalam menjelaskan sifat sungai-sungai tersebut Imam Ibnul Qayim mengatakan dalam Nuniyahnya: أَنْهَارُهَا فِي غَيْرِ أُخْدُوْدٍ جَرَتْ سُبْحَانَ مُمْسِكِهَا عَنِ الْفَيْضَانِ Sungai-sungainya tanpa parit ia mengalir. Maha suci yang menahannya (yaitu Allah) dari banjir. Sungai-sungai yang kita kenal membutuhkan lubang aliran atau parit yang mencegah melubernya air ke kanan dan kekiri, tetapi disurga nanti tidak lagi membutuhkan parit, ia akan engalir sesuai kehendak manusia: Yakni ia akan mengarahkan alirannya sesuai kehendaknya tanpa galian tanpa membuat parit. Dan sungai sungai dalam ayat ini juga ayat-ayat lainnya banyak, dijelaskan secara global. Tetapi dijelaskan secara rinci pada surat qital (perang) yaitu surat Muhammad, Allah berfirman: مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى “(Apakah) perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring ”(QS. Muhammad: 15) ذَلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيرُ "itulah kemenangan yang besar.” yang dimaksud adalah memperoleh surga dan segala kenikmatannya adalah keberuntungan yang besar. Yakni: dengannya keselamatan dari segala ketakutan dan memperoleh segala yang dicari, karena kemenangan adalah perwujudan dari diperolehnya sesuatu yang dicari dan hilangnya yang dibenci. Surga pun demikian, di dalamnya terdapat sesuatu yang dicari dan telah hilang semua segala yang ditakuti, penduduknya tidak akan menjumpai kematian, tidak akan sakit, tidak gundah dan tidak akan mendapat kesulitan. (1) Dikeluarkan Bukhari (50) dan Muslim (9) dari hadits Umar Radhiyallaahu ‘anhu (2) Dikeluarkan Muslim (2985) dari hadits Umar Radhiyallaahu ‘anhu (3) Dikeluarkan Muslim (1718) dari hadits Aisyah Radhiyallaahu ‘anha (4) Dikeluarkan Bukhari (3244) dan Muslim (2824) dari hadits Abu Hurairah Radhiyallaahu ‘anhu