Makna Kata Hisab
ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ " kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka."
Kami akan menghisabnya, Para ulama mengatakan: Cara menghisabnya bukan dengan berdebat, karena jika seorang insan didebat ia berarti akan disiksa, kalau Allah 'Azza Wa Jlla mendebatmu atas setiap hisab maka anda akan disiksa, andai anda dituntut pada sebuah nikmat dari nikmat-nikmat ini seperti penglihatan, anda tidak akan mungkin amalan apapun yang anda lakukan dapat mengimbangi nikmat pandangan, nikmat bernafas yang keluar dan masuk tanpa kesulitan dan beban sedikit pun, seorang insan berbicara dan tidur, makan dan minum, walau pun demikian, ia tidak merasakan nafas, dan tidak tahu betapa berharganya nafas kecuali setelah terkena penyakit yang menghalangi pernafasan, saat itulah baru menyadari nikmat Allah, tetapi selama dia sehat ia mengatakan: ini sesuatu yang bersifat alamiah, tetapi kalau saja dia terkena sesak nafas barulah ia sadar akan kenikmatan itu.
Cara Menghisab
Jika ia didebat, pasti akan di azab, sebagaiman Nabi 'alaihissholaatu wassalaam berkata kepada 'Aisyah: مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ هَلَكَ "Siapa saja yang didebat (saat hisab) akan binasa " atau bersabda عُذِّبَ "diazab"(1)
Proses Hisab
Namun proses hisab: ada pun orang yang beriman maka Allah Ta'ala akan bedua-duaan dengannya tidak ada seorang pun bersama mereka, mengikrarkan dosa-dosa, engkau telah berbuat ini, engkau telah berbuat ini, engkau telah berbuat ini sampai ia mengakuinya, Allah Ta'ala berfirman قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ "Sungguh telah aku tutupi atas mu di dunia dan aku mengampuninya untukmu pada hari ini"
Orang Kafir
Ada pun orang-orang Kafir: Mereka tidak dihisab dengan hisab ini, karena mereka tidak mempunyai kebaikan yang menghapus keburukan mereka, tetapi amalan-amalam mereka itu akan dihitung, dan mereka mengikrarkannya di hadapan alam dan mereka menghitungnya, dan akan diteriakkan di hadapan khalayak ramai: ُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ " Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim."(QS. Hud: 18)
Doa
Kita berlindung kepada Allah dari tidak memperoleh pertolongan-Nya. Dengan demikian, selesailah pembahasan tentang surat yang agung ini, surat ini adalah salah satu dari dua surat yang nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam membacanya di sholat-sholat berjamaah besar, Beliau senantiasa membacanya di dua sholat ied: سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى " Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi," dan هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ " Sudah datangkah kepadamu berita (tentang) hari pembalasan?" begitu juga saat sholat jum'at (2) . terkadang juga saat sholat dua ied beliau membaca ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيد " Qaaf. Demi Al Qur'an yang sangat mulia." dan اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ " Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan."(3) dan saat jum'at membaca surat al-Jumu'ah dan al-Munafiqun(4), beliau membacanya berganti-ganti antara surat-surat tersebut.
Doa Kita
Kita memohon kepada Allah Subhaanahu Wa Ta'ala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang wajah-wajahnya menikmati, ridha terhadap usahanya, dan memberi kita perlindungannya di dunia dan akhirat, sesungguhnya Dia maha kuasa atas segala sesuatu.
(1) dikeluarkan Muslim (2876) dari hadits Aisyah radhiyallaahu 'anha.
(2) dikeluarkan Muslim (878) dari hadits Nu'man Bin Basyir radhiyallaahu 'anhuma.
(3) dikeluarkan Muslim (891) dari hadits Abu Waqid al-Laitsiy radhiyallaahu 'anhu.
(4) dikeluarkan Muslim (2876) dari hadits Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhuma.