Makna Kelapangan Dada
Allah subhanaahu Wa Ta'ala menjelaskan nikmat-Nya kepada nabi-Nya Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ " Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?," Pertanyaan di sini dijelaskan oleh para ulama: Itu adalah pertanyaan untuk penetapan, pertanyaan yang seperti ini sangat banyak dalam al-Quran.
Definisi Kelapangan Dada
Ditaqdirkan (maknanya) dengan fi'il madhi yang didahului dengan قَدْ [Qad: sungguh] maka adalam firman-Nya أَلَمْ نَشْرَحْ kandungan makna sebenarnya adalah: Sungguh kami telah melapangkan bagimu dadamu, karena Allah menetapkan bahwa Dia telah melapangkan dada beliau, beginilah setiap kali anda menjumpai iatifham taqrir (pertanyaan untuk menyatakan ketetapan) maka ditakdirkan dengan fi'il madhi (kata kerja lampau) yang didahuli dengan قَد [qad] sebab mengapa ditakdirkan dengan fii; madi karena kejadiannya telah sempurna dan terjadi, sedangkan sebab ditakdirkan dengan qad karena kata qad (sungguh) berfungsi untuk mengungkapan kepastian terjadi (suatu kata kerja), sedangkan dalam ucapan orang-orang قَدْ يَجُودُ البَخِيلُ [qad yajuudul bakhil: terkadang orang pelit menjadi dermawan] Qad di sini menunjukkan taqlil (jarang/terkadang), tetapi dalam firman Allah Ta'ala: ِ قَدْ يَعْلَمُ مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ " Sesungguhnya Dia mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). "(An-Nur: 64) qad dalam ayat ini berfungsi tahqiq tidak diragukan lagi.
Makna Kelapangan Dada
Allah Ta'ala berfirman: أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ ""Maknanya: Kami meluaskannya, kelapangan disini adalah kelapangan secara batin bukan secara bentuk nyata, kelapangan dada di sini kelapangan meneriman ketentuan Allah 'Azza wa Jalla, baik itu ketentuan syari'at dan agama-Nya dan juga ketentuan taqdir-Nya berupa musibah-musibah yang menimpa manusia, itu dikarenakan di dalam menegakkan syari'at mesti menyelisihi hawa nafsu, manusia akan mendapatkan beban dalam merealisasasikan perintah-perintah Allah, dan beban saat meninggalkan keharaman-keharaman Allah.
Contoh Kelapangan Dada
Karena itu adalah menyelisihi hawa nafsu, sedangkan jiwa ini selalu memerintahkan kepada keburukan, tidak lapang dalam menerima perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangannya, anda mendapatkan sebagian orang berat dalam melaksanakan shalat, sebagaimana Allah Ta'ala mengatakan tentang orang-orang munafiq: وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى " Dan apabila mereka berdiri untuk salat mereka berdiri dengan malas. "(An-Nisa: 142) di antara manusia ada yang ringan dalam mengerjakan solat, bahkan ia merindukan sholat dan menunggu-nunggunya,, sebagaimana Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ "Dan telah dijadikan penyejuk mataku di dalam shalat"(1)
Kelapangan Hati
Oleh karenanya, di dalam syari'at ini terdapat suatu yang memberatkan jiwa-jiwa, seperti menjauhi perkara-perkara haram. Sebagian orang condong untuk melakukan perkara-perkara yang haram, seperti berzina, minum khamer dan semisalnya, syari'at terasa berat baginya, dan sebagian manusia ada yang dibukakn dadanya untuk taat kepada syari'at dan menjauhi yang diharamkanoleh Allah.
Contoh Kelapangan Hati
Perhatikanlah Yusuf 'alaihissalaam, ketika diajak oleh istri raja, setelah menutup pintu, wanita itu berkata: Ini (diriku) untukmu, ia telah bersolek dengan baju dan rias terbaik, tempat itu pun aman tidak dimasuki siapa pun, pintu-pintunya pun tertutup, ia mengatakan: Ini untukmu. Yusuf mengatakan: Aku berlindung kepada Allah, beliau meminta perlindungan kepada Rabbnya, karena kondisi tersebut sangan menekannya, pemuda berduaan dengan permaisuri raja, tempat yang kosong dan aman.
Kelapangan Hati dalam Hadits
Manusia tetap manusia, bisa jadi akan terbersit dalam dirinya untuk melakukannya, oleh karenanya Allah berfirman: وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَنْ رَأَى بُرْهَانَ رَبِّهِ "Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat petunjuk (dari) Tuhannya."(Yusuf: 24) Dalam hadits shahih dari Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ إِمَامٌ عَادِلٌ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِى الْمَسَاجِدِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ. وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ "Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan Allah: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah, lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid-masjid, lelaki yang diajak seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, ia mengatakan aku takut kepada Allah, dan dua orang yang saling mencintai karena Allah, berkumpul karena Allah dan berpisah karena Allah, lelaki yang bersedekah sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya dan lelaki yang mengingat Allah sendirian, lalu berlinang kedua matanya."(2) Yang menjadi bukti dalam hal ini adalah sabdanya: وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّى أَخَافُ اللَّهَ " lelaki yang diajak (berzina) seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan, ia mengatakan aku takut kepada Allah,"
Kelapangan Hati dalam Kehidupan Sehari-Hari
Kelapangan dada terhadap hukum syari'at, maknyanya adalah menerima hukum syari'at, ridha kepadanya dan menerapkannya, dan mengatakan: Kami dengan dan kami ta'at, engkau juga sering mendapati dirimu terbuka untuk beribada, engkau melakukannya dengan mudah, tunduk, tenang dan ridha, terkadang juga sebaliknya, kalau bukan karena takut akan dosa anda tidak akan melakukannya, jika keragaman kondisi hati seperti ini terdapan pada seorang saja bagaimana menurut anda perbendaannya dalam banyak orang.
Kelapangan Hati dalam Menghadapi Musibah
Sedangkan kelapangan hati menerima ketentuan takdir: Seorang insan yang Allah la[angkan dadanya dalam menghadapi kenyataan yang ada, anda akan mendapatinya ridha terhadap ketetapan dan takdir Allah, tenang dengannya, ia mengatakan: Saya seorang hamba, dan Allah adalah Rabb melakukan apa pun yang Dia kehendakiu, orang yang kondisinya demikian akan selalu senang, tidak akan gundah dan bersedih, dia merasakan pedih, tetapi tidak sampai membuatnya gundah dan bersedih.
Kelapangan Hati dalam Hadits
Oleh karenanya telah datang dalam hadits yang shahih, bahwa Nabi 'alaihishsholaatu wassalaam bersabda: عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَ "Betapa menakjubkannya urusan seorang mukmin, sungguh semua urusannya baik, ini tidak ada bagi seorang pun kecuali bagi seorang mukmin. Jika ia tertimpa keburukan ia sabar, maka ini baik baginya, jika ia tertimpa kesenangan ia mersyukur, ini baik baginya"(3)
Kelapangan Hati dalam Kehidupan Nabi Muhammad
Dari penjelasan tersebut, maka yang dimaksudkan dengan kelapangan hati adalah, keluasan dan kesiapannya menerima ketentuan-ketentuan Allah baik ketentuan syari'at dan ketentuan takdir, tidak merasa tertekan dengan hukum-hukum Allah secara mutlak, Nabi kita, Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam memiliki bagian besar di sini, oleh karenanya anda mendapati beliau adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah, dan orang yang paling gigih dalam melaksanakan ketaatan kepada Allah, yang terbanyak kesabarannya dalam menghadapi takdir-takdir Allah.
Kelapangan Hati dalam Menghadapi Ujian
Apa yang telah dilakukan oleh manusia kepadanya ketika beliau berdakwah? Berapa rasa sakit yang menimpa beliau? Sehingga rasa sakit beliau seperti rasa sakit dua orang dari kita digabungkan. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: Aku masuk menemui Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wasallam, sedangkan beliau sedang sakit, maka aku mengatkan: Ya Rasulullah, sesunggungnya engkau kesakitan sangat parah, beliau bersabda: أَجَلْ إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلَانِ مِنْكُمْ "Benar, Sesungguhnya aku merasakan kesakitan sebanging dengan dua orang yang kesakitan dari kalian"(4)
Kelapangan Hati dalam Menghadapi Maut
Ketika beliau merasakan sakit saat dicabut nyawa, hingga beliau meninggalkan dunia, beliau adalah orang yang paling penyabar. Kesabaran adalah derajat tertinggi tidak dapat diperoleh kecuali dengan adanya ujian kesabaran, sedangkan urusan yang datar begitu saja maka tidakmembutuhkan kesabaran, oleh karenanya kita dapatkan para nabi adalah orang yang terbanyak ujiannya, kemudian orang-orang yang saleh, kemudian orang yang semisal mereka.
Rujukan
(1) Dikeluarkan An-Nasa'iy (3939) dari hadits Anas radhiyallaahu 'anhu, dinyatakan shahih oleh al-Albaniy dalam shahihul-Jami' (3124)
(2) Dikeluarkan oleh Bukhari (660) dan Muslim (1031) dari hadits Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu.
(3) Dikeluarkan Muslim (2999) dari hadirs Shuhaib bin Sinan radhiyallaahu 'anhu.
(4) Dikeluarkan Bukhari (5648) dan Muslim (2571)