Makna Kata
Makna kata {#malik#} memiliki beberapa arti, yaitu:
- Raja atau pemimpin
- Pemilik atau penguasa
- Tuhan atau Allah
Bacaan Nafi'
Menurut bacaan Nafi', harakat kasrah huruf KAF dibaca isyba' hingga menjadi {#malaki yaumid dīn#}.
Kedua Bacaan
Kedua bacaan tersebut (malaki dan maliki) masing-masing mempunyai pendukungnya tersendiri ditinjau dari segi maknanya; kedua bacaan tersebut sahih lagi baik.
Az-Zamakhsyari
Az-Zamakhsyari lebih menguatkan bacaan {#maliki#} mengingat bacaan inilah yang dipakai oleh ulama kedua Kota Suci (Mekah dan Madinah).
Hadis
Telah diriwayatkan dari Abu Hanifah bahwa ia membaca {#malaka yaumid dīn#} atas dasar anggapan fi'il, fa'il, dan maf'ul, tetapi pendapat ini menyendiri lagi aneh sekali.
Ibnu Syihab
Ibnu Syihab mengatakan bahwa orang yang mula-mula membaca {#maliki#} adalah Marwan (Ibnul Hakam).
Lafaz {#maliki#}
Lafaz {#maliki#} diambil dari kata {#al-milku#} seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya:
{اِنَّا نَحْنُ نَرِثُ الْاَرْضَ وَمَنْ عَلَيْهَا وَاِلَيْنَا يُرْجَعُوْنَ}
{#Sesungguhnya Kami memiliki bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kami-lah mereka dikembalikan.#} (Maryam, [19:40])
Lafaz {#maliki#} (2)
Lafaz {#maliki#} diambil dari kata {#al-mulku#} sebagaimana pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:
{لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ}
{#Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.#} (Ghafir, [40:16])
Pengkhususan Sebutan
Pengkhususan sebutan {#al-mulku#} (kerajaan) dengan {#yaumid dīn#} (hari pembalasan) tidak bertentangan dengan makna lainnya.
Ibnu Abbas
Ibnu Abbas mengatakan, {#yaumid dīn#} adalah hari semua makhluk menjalani hisab, yaitu hari kiamat; Allah membalas mereka sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing.
Ibnu Jarir
Ibnu Jarir meriwayatkan dari sebagian mereka bahwa tafsir dari firman-Nya, {#māliki yaumid dīn#} ialah "Allah Mahakuasa untuk mengadakannya".
Hadis Sahihain
Di dalam hadis Sahihain disebutkan melalui Abu Hurairah RA secara marfu':
{اَخْنَعُ اسْمٍ عِنْدَ اللّٰهِ رَجُلٌ تَسَمّٰى بِمَلِكِ الْاَمْلَاكِ وَلَا مَالِكَ اِلَّا اللّٰهُ}
{#Nama yang paling rendah di sisi Allah ialah seorang yang menamakan dirinya dengan panggilan Malikid Amlak. sedangkan tiada raja selain Allah.#}
Al-Qur'an
Di dalam Al-Qur'an disebutkan melalui firman-Nya:
{لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلّٰهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ}
{#Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Hanya kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.#} (Ghafir, [40:16])
Nama Lainnya
Adapun mengenai nama lainnya di dunia ini dengan memakai sebutan {#malik#}, yang dimaksud adalah "nama majaz". bukan nama dalam arti yang sesungguhnya.
Hadis Sahihain (2)
Di dalam sebuah hadis Sahihain disebutkan:
{مِثْلُ الْمُلُوْكِ عَلَى الْاَسِرَّةِ}
{#"...seperti raja-raja yang berada di atas dipan-dipannya (singgasana)."#}
Ad Dīn
{#Ad dīn#} artinya "pembalasan dan hisab", sebagaimana yang disebut di dalam firman lainnya, yaitu:
{يَوْمَىِٕذٍ يُّوَفِّيْهِمُ اللّٰهُ دِيْنَهُمُ الْحَقَّ}
{#Di hari itu Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya.#} (An-Nur, [24:25])
Hadis
Di dalam sebuah hadis disebutkan:
{الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهٗ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ}
{#Orang yang pandai ialah orang yang melakukan perhitungan terhadap dirinya sendiri dan beramal untuk bekal sesudah mati.#}
Khalifah Umar RA
Makna yang dimaksud ialah "hisablah dirimu sendiri", sebagaimana yang dikatakan Khalifah Umar RA. yaitu: "Hisablah diri kalian sendiri sebelum dihisab dan timbanglah amal perbuatan kalian sebelum ditimbang, dan bersiap-siaplah (berbekallah) untuk menghadapi peradilan yang paling besar di hadapan Tuhan yang tidak samar bagi-Nya semua amal perbuatan kalian," seperti yang dinyatakan di dalam Firman-Nya:
{يَوْمَىِٕذٍ تُعْرَضُوْنَ لَا تَخْفٰى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ}
{#Pada hari itu kalian dihadapkan (kepada Tuhan kalian). Tiada sesuatu pun dari keadaan kalian yang tersembunyi (bagi-Nya).#} (Al-Haqqah, [69:18])
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.