Berikut adalah teks yang telah diformat menjadi Markdown:
Makna Kata
Bacaan yang dilakukan oleh jumhur ulama ialah {#ash-shirāth#} dengan memakai SHAD. Tetapi ada pula yang membacanya {#sirāth#} dengan memakai SIN, ada pula yang membacanya {#zirāth#} dengan memakai ZA, menurut Al-Farra berasal dari dialek Bani Uzrah dan Bani Kalb.
Makna Ayat
Setelah pujian dipanjatkan terlebih dahulu kepada Allah SWT, sesuai bila diiringi dengan permohonan, sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis di atas, yaitu:
{فَنِصْفُهَا لِيْ وَنِصْفُهَا لِعَبْدِيْ وَلِعَبْدِيْ مَا سَأَلَ}
{#Separo untuk-Ku dan separo lainnya buat hamba-Ku, serta bagi hamba-Ku apa yang dia minta.#}
Merupakan suatu hal yang baik bila seseorang yang mengajukan permohonan kepada Allah SWT terlebih dahulu memuji-Nya, setelah itu baru memohon kepada-Nya apa yang dia hajatkan -juga buat saudara-saudaranya yang beriman- melalui ucapannya, "Tunjukilah kami kepada jalan yang lurus." Cara ini lebih membawa kepada keberhasilan dan lebih dekat untuk diperkenankan oleh-Nya; karena itulah Allah memberi mereka petunjuk cara ini, mengingat Ia paling sempurna.
Pelajaran dari Ayat
Adakalanya permohonan itu diungkapkan oleh si pemohon melalui kalimat berita yang mengisahkan keadaan dan keperluan dirinya, sebagaimana yang telah dikatakan oleh Nabi Musa AS dalam firman-Nya:
{رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ}
{#Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.#} (Al-Qashash, [28:24])
Tetapi adakalanya permohonan itu didahului dengan menyebut sifat Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh Zun Nun dalam firman-Nya:
{لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ}
{#Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.#} (Al-Anbiya, [21:87])
Adakalanya permohonan diungkapkan hanya dengan memuji orang yang diminta.
Makna Hidayah
{#Al-hidāyah#} atau hidayah yang dimaksud dalam ayat ini ialah bimbingan dan taufik (dorongan). Lafaz {#hidāyah#} ini adakalanya muta'addi dengan sendirinya. sebagaimana yang terdapat dalam ayat Q.S Al-Fatihah, [1:6]
Maka {#al-hidāyah#} mengandung makna "berilah kami ilham atau berilah kami taufik, atau anugerahilah kami, atau berilah kami," sebagaimana yang ada dalam firman-Nya:
{وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِ}
{#Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.#} (Al-Balad, [90:10])
Yang dimaksud ialah "Kami telah menjelaskan kepadanya (manusia) jalan kebaikan dan jalan keburukan."
Makna Shirathal Mustaqim
Adakalanya {#al-hidāyah#} muta'addi dengan {#ilā#} seperti yang ada dalam firman-Nya:
{وَهَدٰىهُ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ}
{#Allah telah memilihnya dan memberinya petunjuk ke jalan yang lurus.#} (An-Nahl, [16:121])
{فَاهْدُوْهُمْ اِلٰى صِرَاطِ الْجَحِيْمِ}
{#maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.#} (Ash-Shaffat, [37:23])
Makna {#hidāyah#} dalam ayat-ayat di atas ialah bimbingan dan petunjuk, begitu pula makna yang terkandung di dalam firman lainnya, yaitu:
{وَاِنَّكَ لَتَهْدِيْٓ اِلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ}
{#Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.#} (Asy-Syura, [42:52])
Adakalanya {#al-hidāyah#} ber-muta'addi kepada LAM, sebagaimana ucapan ahli surga yang disitir oleh firman-Nya:
{الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدٰىنَا لِهٰذَا}
{#Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini.#} (Al-A'raf, [7:43])
Makna yang dimaksud ialah "segala puji bagi Allah yang telah mem-beri kami taufik ke surga ini dan menjadikan kami sebagai penghuni-nya."
Makna Shirathal Mustaqim Menurut Imam Abu Ja'far Ibnu Jarir
Mengenai {#ash shirāthal mustaqīm#} menurut Imam Abu Ja'far ibnu Jarir semua kalangan ahli takwil telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan {#shirāthal mustaqīm#} ialah "jalan yang jelas lagi tidak berbelok-belok (lurus)". Pengertian ini berlaku di kalangan semua dialek bahasa Arab.
Makna Shirathal Mustaqim Menurut Para Ahli Tafsir
Telah diriwayatkan bahwa yang dimaksud dengan {#shirāth#} ialah Kitabullah alias Al-Qur'an. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Yaman, dari Hamzah Az Zayyat, dari Sa'id (yaitu Ibnul Mukhtar At-Ta'i), dari anak saudaraku Al-Haris Al-A'war, dari Al-Haris Al-A'war sendiri, dari Ali ibnu Abu Talib RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
{اَلصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ كِتٰبُ اللّٰهِ}
{#"Shirāthal mustaqīm adalah Kitabullah."#}
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir melalui hadis Hamzah ibnu Habib Az-Zayyat.
Makna Shirathal Mustaqim Menurut Para Sahabat Nabi SAW
Dalam pembahasan yang lalu -yaitu dalam masalah keutamaan Al-Qur'an- telah disebutkan melalui riwayat Imam Ahmad dan Imam Turmuzi melalui riwayat Al-Haris Al-A'war, dari Ali RA secara marfu':
{وَهُوَ حَبْلُ اللّٰهِ الْمَتِيْنُ وَهُوَ الذِّكْرُ الْحَكِيْمُ وَهُوَ الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ}
{#Al-Qur'an merupakan tali Allah yang kuat: dia adalah bacaan yang penuh hikmah, juga jalan yang lurus.#}
Telah diriwayatkan pula secara mauquf dari Ali RA. Riwayat terakhir ini lebih mendekati kebenaran.
Makna Shirathal Mustaqim Menurut Para Ulama
As-Sauri -dari Mansur, dari Abu Wa'il, dari Abdullah- telah mengatakan bahwa {#shirāthal mustaqīm#} adalah Kitabullah (Al-Qur'an).
Menurut pendapat lain, {#shiraathal mustaqiim#} adalah al-islam (agama Islam). Dahhak meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA yang mengatakan bahwa Malaikat Jibril pernah berkata kepada Nabi Muhammad SAW, "Hai Muhammad, katakanlah. 'Tunjukilah kami jalan yang lurus'." Makna yang dimaksud ialah "berilah kami ilham jalan petunjuk, yaitu agama Allah yang tiada kebengkokan di dalamnya".
Makna Shirathal Mustaqim Menurut Mujahid
Mujahid mengatakan bahwa makna ayat, {#Tunjukilah kami jalan yang lurus.#} (Al-Fatihah, [1:6]) adalah perkara yang hak. Makna ini lebih mencakup semuanya dan tidak ada pertentangan antara pendapat ini dengan pendapat-pendapat lain yang sebelumnya.
Makna Shirathal Mustaqim Menurut Imam Abu Ja'far Ibnu Jarir
Imam Abu Ja'far ibnu Jarir rahimahullah mengatakan bahwa takwil yang lebih utama bagi ayat berikut, yakni: {#Tunjukilah kami jalan yang lurus.#} (Al-Fatihah, [1:6]) ialah "berilah kami taufik keteguhan dalam mengerjakan semua yang Engkau ridai dan semua ucapan serta perbuatan yang telah dilakukan oleh orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat taufik di antara hamba-hamba-Mu", yang demikian itu adalah {#shirāthal mustaqīm#} (jalan yang lurus). Dikatakan demikian karena orang yang telah diberi taufik untuk mengerjakan semua perbuatan yang pernah dilakukan oleh orang-orang yang telah mendapat nikmat taufik dari Allah di antara hamba-hamba-Nya -yakni dari kalangan para nabi, para siddiqin, para syuhada, dan orang-orang yang saleh- berarti dia telah mendapat taufik dalam Islam, berpegang teguh kepada Kitabullah, mengerjakan semua yang diperintahkan oleh Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya serta mengikuti jejak Nabi SAW dan empat khalifah sesudahnya serta jejak setiap hamba yang saleh. Semua itu termasuk ke dalam pengertian {#shirāthal mustaqīm#} (jalan yang lurus).
Makna Shirathal Mustaqim Menurut Imam Tabrani
Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Fadl As-Siqti, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Mahdi Al-Masisi, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Zakaria ibnu Abu Zaidah, dari Al-A'masy, dari Abu Wa'il. dari Abdullah yang mengatakan bahwa {#shirāthal mustaqīm#} itu ialah apa yang ditinggalkan oleh Rasulullah SAW buat kita semua.
Makna Shirathal Mustaqim Menurut Seorang Hamba
Sesungguhnya seorang hamba tidak dapat membawa manfaat buat dirinya sendiri dan tidak dapat menolak mudarat terhadap dirinya kecuali sebatas apa yang dikehendaki oleh Allah SWT. Maka Allah memberinya petunjuk agar dia minta kepada-Nya setiap waktu, semoga Dia memberinya pertolongan dan keteguhan hati serta taufik. Orang yang berbahagia adalah orang yang beroleh taufik Allah hingga dirinya terdorong memohon kepada-Nya, karena sesungguhnya Allah SWT telah menjamin akan memperkenankan doa orang yang meminta kepada-Nya. Terlebih lagi bagi orang yang dalam keadaan terdesak lagi sangat memerlukan pertolongan di setiap waktunya, baik di tengah malam ataupun di pagi dan petang harinya.
Allah SWT telah berfirman:
{يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اٰمِنُوْٓا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ}
{#Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya.#} (An-Nisa, [4:136])
Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk beriman. Hal seperti ini bukan termasuk ke dalam pengertian meraih apa yang telah teraih, melainkan makna yang dimaksud ialah "perintah untuk lebih meneguhkan iman dan terus-menerus melakukan semua amal perbuatan yang melestarikan keimanan". Allah SWT telah memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengucapkan doa berikut yang termaktub di dalam firman-Nya:
{رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ}
{#Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau memberi petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).#} (Ali Imran, [3:8])
Abu Bakar As-Siddiq RA sering membaca ayat ini dalam rakaat ketiga setiap salat Magrib, yaitu sesudah dia membaca surat Al-Fatihah; ayat ini dibacanya dengan suara perlahan. Berdasarkan kesimpulan ini dapat dikatakan bahwa makna firman-Nya: {#Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.#} (Al-Fatihah, [1:6]) ialah tetapkanlah kami pada jalan yang lurus dan janganlah Engkau simpangkan kami ke jalan yang lain.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.