AL-KAFIRUN (ORANG-ORANG KAFIR)
Pendahuluan: Makkiyyah, 6 ayat
Dalam surat ini Allah memerintahkan Rasul-Nya saw. agar mematahkan ketamakan orang-orang kafir yang ingin menyamakan diri dengan Rasulullah dalam menyerukan kebaikan. Rasulullah saw. tetap akan menyembah Allah, tiada Tuhan selain Dia, dan orang-orang kafir pun tetap menyembah tuhan-tuhan mereka yang tidak memberi mereka kebenaran. Mereka bebas mengikuti agama yang mereka warisi dari nenek moyang mereka, dan Rasulullah pun bebas memeluk agama yang diperkenan Allah untuknya.
Katakan, wahai Muhammad, Hai orang-orang kafir yang bersikeras dalam kekafiran,
109|2|aku tidak menyembah apa yang kalian sembah selain Allah.
109|3|Kalian pun bukan penyembah apa yang aku sembah, yaitu Allah semata.
109|4|Aku bukan penyembah seperti penyembahan kalian, karena kalian adalah orang-orang musyrik.
109|5|Dan kalian juga bukan penyembah seperti penyembahanku yaitu bertauhid.
109|6|Bagi kalian agama kalian yang kalian yakini, dan bagiku agamaku yang Allah perkenankan untukku.
AN-NASHR (PERTOLONGAN)
Pendahuluan: Madaniyyah, 3 ayat
Surat ini meminta Rasulullah saw. untuk bertasbih, memuji dan menyucikan Allah dari segala sifat yang tidak baik, ketika mendapatkan pertolongan dan kemenangan dari Allah, dan ketika melihat orang-orang mulai masuk memeluk agama Allah secara berbondong-bondong, karena kemapanan dan ketinggian derajat dan kesempurnaan yang Allah berikan kepadanya. Beliau juga diperintahkan untuk meminta ampunan Allah untuk dirinya dan bagi orang-orang beriman, karena Dia Maha Penerima tobat. Allah, memang, akan menerima pertobatan hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan.
Jika pertolongan Allah dan kemenangan itu telah datang untukmu dan untuk orang-orang Mukmin,
110|2|dan kamu melihat orang-orang masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong,
110|3|maka bersyukurlah kepada Tuhanmu dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Mintalah ampunan untukmu dan untuk umatmu, karena Dia, memang, sunguh Maha Penerima tobat hamba-Nya(1). (1) Surat ini menunjuk kepada peristiwa pembebasan kota Mekah. Penyebab langsung terjadinya pembebasan kota Mekah adalah pelanggaran suku Quraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah dengan melakukan penyerangan terhadap suku Khazâ'ah--yang sudah berada dalam lindungan Rasulullah saw.--dan membantu Banû Ka'b dalam aksi penyerangan itu. Ketika itu, Rasulullah melihat bahwa apa yang dilakukan oleh suku Quraisy dalam melanggar perjanjian tersebut mengharuskannya untuk melakukan pembebasan Mekah. Beliau pun segera mengumpulkan sebuah pasukan kuat yang terdiri atas 10. 000 ribu tentara. Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadan, tahun 8 Hijriah (Desember 630 M.). Rasulullah mewasiatkan pasukannya untuk tidak melakukan penyerangan kecuali dalam keadaan terpaksa. Dan, atas kehendak Allah, Rasulullah bersama pasukannya dapat memasuki kota Mekah tenpa terjadi perang. Begitulah, Nabi Muhammad memperoleh kemenangan yang amat besar dalam sejarah penyebaran Islam tanpa terjadi perang dan pertumpahan darah.
AL-MASAD (JERAT SABUT)
Pendahuluan: Makkiyyah, 5 ayat
Surat ini dimulai dengan pemberitaan tentang kebinasaan Abû Lahab, musuh Allah dan Rasul-Nya. Harta, kehormatan atau apa saja selain itu yang dimilikinya tidak berguna lagi. Di akhirat kelak, ia diancam akan dimasukkan ke dalam api neraka yang menyala-nyala dan membakar. Istrinya ikut pula menyertainya masuk ke dalam neraka. Allah memberikan kepadanya satu bentuk azab, yaitu dengan melilitkan seutas jerat ke lehernya untuk menyeretnya ke dalam neraka, sebagai tambahan siksa atas apa yang telah dilakukannya dalam menyakiti Rasulullah saw. dan mengganggu misi dakwahnya.
Binasalah kedua tangan Abû Lahab yang selalu digunakannya untuk menyakiti kaum muslimin. Ia pun binasa pula bersama dengan kedua tangannya itu.
111|2|Harta dan kehormatan yang ia usahakan tidak akan dapat mencegahnya dari azab Allah.
111|3|Ia akan masuk ke dalam api menyala-nyala yang dapat membakarnya.
111|4|Dan istinya, si penyebar fitnah di kalangan orang banyak, juga akan masuk ke dalam api neraka.
111|5|Di lehernya ada tali dari sabut untuk menjeratnya.
AL-IKHLASH (MEMURNIKAN KEESAAN ALLAH)
Pendahuluan: Makkiyyah, 4 ayat
Nabi Muhammad saw. pernah ditanya tentang Tuhannya. Maka, dalam surat ini, beliau diperintah untuk menjawab pertanyaan itu. Yaitu, bahwa Allah adalah Tuhan Yang memiliki segala sifat kesempurnaan, Tuhan Yang Mahaesa, Tuhan tempat kembali dalam setiap kebutuhan, Tuhan Yang tidak membutuhkan kepada siapa pun, Tuhan Yang Mahasuci dari sifat serupa dengan makhluk, Tuhan Yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, dan Tuhan yang tidak satu makhluk pun dapat menyerupai-Nya.
Mereka yang, dengan nada mengolok dan menghina, berkata, Gambarkan kepada kami tentang Tuhanmu, katakan kepada mereka, wahai Muhammad, Allah adalah Tuhan Yang Esa, bukan selain Dia, dan tidak ada sekutu bagi-Nya.