Makna Ayat
Allah 'Azza wa Jalla berfirman, وَكَذَلِكَ "Dan demikianlah", de-ngan faktor-faktor dan pendahuluan yang sudah berlalu, مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الْأَرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ "Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri Mesir; (dia berkuasa penuh) pergi menuju ke mana saja dia kehendaki di bumi Mesir ini", dalam gaya hidup yang enak, kenikmatan yang luas dan jabatan yang terhormat. نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ "Kami melimpah-kan rahmat Kami kepada siapa yang Kami kehendaki", maksudnya ini merupakan bagian dari rahmat Allah bagi Yusuf yang Allah curah-kan kepada beliau dan sudah ditetapkan bagi beliau. Tidak hanya terbatas pada kenikmatan duniawi semata. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan Yusuf sendiri termasuk dari kalangan pembesar orang-orang yang berbuat baik. Di dunia beliau meraih kebaikan dan di akhirat beliau menerima kebaikan. Karena itu, Allah berfirman, وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ "Dan sungguh pahala di akhirat itu lebih baik", daripada pahala dunia لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ "bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa", yaitu bagi orang yang telah memadukan antara ketakwaan dan keimanan. Dengan ketakwaan, perkara-perkara yang diharamkan yang beru-pa dosa-dosa besar dan kecil ditinggalkan. Dan dengan keimanan yang sempurna, muncul pembenaran hati terhadap perintah Allah dan mengimaninya, yang akan diikuti oleh amalan-amalan hati dan amalan-amalan anggota tubuh lainnya, berupa ibadah-ibadah yang wajib maupun sunnah.
Pelajaran dari Ayat
A. Kecakapan Yusuf dalam pengelolaan. Beliau memegang kendali perbendaharaan negara sehingga kekayaan menjadi melim-pah bagi mereka. Akibatnya, orang-orang dari berbagai tempat ber-bondong-bondong ke Mesir untuk mencari bahan makanan. Karena mereka tahu adanya suplai berlimpah padanya. Bahkan kecakapan beliau, sampai tingkat bahwa beliau tidaklah menimbangkan bagi seseorang kecuali sesuai kadar kebutuhannya atau kurang darinya. Setiap yang datang tidak menerima lebih dari timbangan unta dan beban yang bisa diangkatnya.
B. Sesungguhnya Allah Mahaluas kemurahan dan kemuliaan-Nya, bermurah hati kepada hambaNya dengan (mengucurkan) kebaikan dunia dan akhirat, dan bahwa kebaikan akhirat itu mem-punyai dua faktor (yang mendatangkannya): keimanan dan ketak-waan, dan bahwa ia lebih baik dibandingkan balasan duniawi dan kerajaannya, dan bahwa seorang hamba seharusnya mendakwahi dirinya, dan menjadikannya merindukan balasan dari Allah. Jangan membiarkan dirinya dirundung kesedihan ketika menyaksikan hamba dunia bergelimang dengan nikmat dunia dan kelezatannya, sementara dia tidak mampu melakukannya. Akan tetapi, hendak-lah dia menghibur hatinya dengan pahala Allah di akhirat dan ke-utamaannya yang agung, berdasarkan Firman Allah 'Azza wa Jalla: وَلَأَجْرُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ "Dan pahala akhirat lebih baik bagi orang-orang yang beriman sedang mereka dalam keadaan bertakwa." (Yusuf: 57).
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.