Makna kata
(وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا) wa dharaballahu matsalaa : “dan Allah membuat sebuah permisalan” yaitu dua orang laki-laki...
(أَبۡكَمُ) abkam : seorang yang terlahir bisu dan tuli, tidak bisa mendengar.
(لَا يَقۡدِرُ عَلَىٰ شَيۡءٖ) laa yaqdiru ‘alaa syai` : “tidak mampu berbuat apa-apa” tidak bisa memahami dan memahamkan orang lain.
Makna ayat
Firman-Nya “Dan Allah membuat sebuah permisalan” dua orang laki-laki” yaitu permisalan yang kedua pada ayat ini, Allah ta’ala berfirman : “Dan Allah membuat sebuah permisalan” yaitu “dua orang laki-laki, salah satunya bisu” kalimat Al-Abkam (bisu) terkadang juga menunjukkan bahwa orang itu tuli, karena kebanyakan orang bisu tidak bisa mendengar, “tidak mampu berbuat apa-apa” tidak bisa memahami orang lain karena dia tuli, tidak pula memahamkan orang lain karena dia bisu “dan ia adalah beban bagi walinya” yaitu keponakan pamannya, atau orang lain yang mengurusnya dari para kerabatnya yang menghidupi dan menjaganya, karena ia tidak mampu berbuat apa-apa. Firman-Nya “kemanampun ia mengarahkannya, ia tidak membawa kebaikan.” Kemanapun walinya atau keponakannya mengerahkannya untuk sesuatu, ia tidak membawa sesuatu, bahkan terkadang membawa petaka. Adapun kebaikan dan manfaat, ia tidak memperolehnya sama sekali.
Ini adalah permisalan bagi berhala-berhala yang disembah selain Allah, mereka tidak mendengar, tidak melihat, tidak pula paham apa yang dikatakan kepada mereka, tidak juga memahamkan para penyembahnya. Berhala-berhala itu butuh kepada mereka untuk membuat, meletakkan, membawa, dan menjaga berhala-berhala itu. Firman-Nya “apakah dia sama dengan yang mengajak kepada keadilan lagi berada di jalan yang lurus.” Yaitu Allah ta’ala, Dia mengajak kepada keadilan; tauhid dan istiqamah dalam segala hal, Dia-lah yang mengurus segala sesuatu, Dia-lah yang berada di jalan yang benar, menyeru manusia untuk meniti jalan itu sehingga mereka bahagia di dunia dan akhirat. Tentu jawabanya adalah tidak sama, maka bagaimana bisa kaum musyrikin menyembah dan setia kepada benda yang bisu yang tidak bisa melakukan apa pun dan meninggalkan penyembahan kepada Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, Yang Maha Kuat, Yang Maha Kuasa, yang menyeru mereka menuju kesempurnaan dan kebahagiaan di dua kehidupan mereka. Ini adalah perintah dalam konteks takjub, namun tidak mengherankan untuk kekuasaan Allah dan pengaturan Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.
Pelajaran dari ayat
- Penjelasan kesempurnaan seorang mukmin dan kekurangan seorang kafir.
- Penjelasan permisalan berhala-berhala yang mati serta kepayahan para penyembahnya dalam menjaga berhala tersebut, serta tidak adanya manfaat yang mereka dapatkan dari berhala-berhala itu. Serta permisalan Allah tabaraka wa ta’ala dalam keadilan, seruan-Nya kepada manusia kepada Islam serta menegakkannya, mengabulkan doa dan menjaga para wali-Nya, ilmu dan pendengaran-Nya yang mendengar doa para hamba-Nya, serta pertolongan, kemuliaan, dan kenikmatan untuk mereka di kehidupan di dunia dan akhirat, dan milik Allah-lah sifat yang tinggi, Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Tafsir arab belum tersedia untuk ayat ini.
Catatan Kata
Klik kata untuk pilih/edit. Hover kata bertanda untuk melihat catatan.
Catatan Paragraf
Klik tombol Catatan untuk pilih/edit. Hover tombol bertanda untuk melihat catatan.